BAB 4 ROBOT CANTIK BERNAMA WULAN

1493 Words
Ken Sudah 30 menit aku menunggu di depan rumah yang gelap gulita. Rasanya seperti mau uji nyali di dalam rumah kosong yang lama tak berpenghuni. Tak berapa lama, lampu menyala dan yang ditunggu akhirnya keluar juga. Dia sempat berbalik badan, hendak masuk lagi saat melihatku. Tapi untungnya dia bersedia menghentikan langkahnya saat kupanggil. Aku segera menghampirinya yang tengah berdiri di depan pintu. Kupastikan sekali lagi bahwa dia adalah orang yang kukenal. “Luna?! Kamu Luna kan?” ucapku memastikan. Tapi Luna diam saja. Dia hanya mengamatiku. Dia malah kelihatan seperti orang bingung. Aku tersenyum senang. Aku sangat terharu karena pada akhirnya aku bisa bertemu lagi dengan Luna setelah sekian tahun tak ada kabar. Refleks, aku langsung memeluknya, mendekapnya erat-erat. Tapi dia malah mendorongku dengan sekuat tenaganya, sampai aku tersungkur ke belakang. Ia sendiri sampai kaget karena bisa mendorongku sekuat itu. “Maaf,” ucapnya menyesal. Lalu dia menyodorkan tangannya untuk membantuku bangun. Dan aku meraihnya. “Gak apa-apa,” ucapku, sambil menahan bokongku yang sakit lantaran beradu dengan lantai. “Apa kamu mengenalku?” tanyanya kemudian. Entah kenapa dia menggunakan bahasa formal dan bertanya seperti itu. Apa yang terjadi? Batinku kala itu. “Kamu gak ingat aku?” Luna menggeleng. “Serius?” Luna mengangguk. “Aku tidak tahu kamu siapa. Apa Luna adalah namaku?” Aku terkejut bukan main ketika mendengarnya. Apa yang terjadi? Apa dia hilang ingatan? Sejenak aku berpikir. Kuperhatikan Luna dari ujung kepala hingga ujung kakinya yang tak beralas. Dan aku baru menyadari bahwa dia sepertinya baru mengalami kecelakaan. Kepalanya diperban dan ada memar di dekat bibirnya. Rok selutut yang dikenakannya terlihat kotor. Ada beberapa bagian juga yang terlihat sobek. Penampilannya sungguh sangat mengkhawatirkan. “Apa yang terjadi sama kamu?” tanyaku begitu menyadarinya. “Aku?” Luna malah balik tanya. Ia kemudian tampak berpikir keras, mencoba mengingat sesuatu. “Aku kecelakaan. Aku bangun di pinggir jalan, lalu berjalan keliling kampung. Aku pingsan, dan tiba-tiba sudah ada di rumah ini,” begitu penuturannya. Aku lantas manggut-manggut memahami keadaannya. “Kepala kamu kenapa?” tanyaku kemudian. Spontan, Luna memegangi kepalanya. Sepertinya dia baru menyadari ada perban di kepalanya. “Siapa yang nolong kamu?” tanyaku lagi, penasaran. “Orangnya tidak ada di rumah. Aku ditinggal sendirian. Mungkin dia ada kepentingan lain,” jawabnya, berpikir positif. Terdengar sedikit aneh memang. Tapi barangkali sikap positive thinking Luna ada benarnya juga. Mungkin pemilik rumah sedang ada urusan di luar sana. “Jadi, apakah aku Luna?” tambahnya kemudian, mempertanyakan dirinya sendiri.   “Iya. Nama kamu Luna,” jawabku pasti. Senyum pun terlukis di wajah Luna. Dia tampak bahagia mendapatkan identitasnya. “Lalu kamu? Bagaimana bisa kamu kenal aku?” tanyanya lagi. Tanpa ragu, aku pun menjawab pertanyaannya. “Kita berteman. Aku mengenalmu dengan baik,” kataku. Jujur, ini adalah jawaban terbaik yang bisa kupilih untuk saat ini. Aku tidak mungkin membahas tentang masa lalu dan mengatakan yang sebenarnya. Begini saja sudah cukup. Setidaknya sampai ingatan Luna pulih. *** Aku kembali ke rumah setelah menemui Luna dan memastikan dia baik-baik saja ditinggal sendiri di rumah itu. Aku harus kembali karena sudah tiba waktunya untuk bekerja. Sebagai seorang freelancer di bidang IT, yang bekerja untuk perusahaan luar negeri, memang tidak membuatku terikat pada jam kerja. Akan tetapi, deadline tetap berlaku. Dan aku harus segera menyelesaikan tugasku. Sekembalinya di rumah, aku dibuat terkejut oleh kehadiran seseorang yang tengah melihat-lihat kumpulan post-it yang tertempel di dinding. Keberadaannya membuatku mematung di ambang pintu. “Kamu siapa?” tanyaku seketika. Yang ditanya lekas menoleh. Ujung matanya yang sipit, rambutnya yang panjang terurai, serta kimono yang dipakainya, membuatku serasa pernah melihatnya. Wanita itu tersenyum. Senyumnya begitu mengembang saat melihatku datang. Dia terkesan seperti sedang menungguku. “Hai, Ken!” sapanya kemudian. Membuatku agak terkejut karena dia tahu namaku. “Tidak baik masuk ke rumah orang tanpa permisi,” ucapku dengan tatapan dingin, tak mempedulikan sapaannya. “Silakan duduk!” kataku kemudian, mempersilakan dia duduk untuk menjelaskan kedatangannya. “Aku gak masuk dari pintu manapun,” kata wanita itu setelah duduk. “Maksudnya?” “Kamu mungkin gak mengenali aku, tapi ... coba perhatikan baik-baik,” pintanya kemudian. “Coba perhatikan aku dari ujung kepala hingga ujung kakiku. Apa kamu gak ngerasa ada yang aneh?” terusnya. Apa-apan ini? Baru kali ini ada seorang wanita tak dikenal yang dengan sukarela memintaku untuk memerhatikannya dari ujung kepala hingga kaki. Mau apa dia? Pikirku kala itu. Astaga, aku menyadari sesuatu. Ada yang hilang di rumahku. Robotku. Dimana robot itu? Aku lantas mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan. Aku juga memeriksa ruangan lainnya. Tapi robot itu tidak ada. Mungkinkah wanita itu telah mencurinya? “Yang kamu cari ada di sini, Ken,” seru wanita itu. Apa maksudnya? Apa wanita itu sedang bergurau? Saat ini aku sedang panik. Robot itu adalah satu-satunya benda berharga yang tak boleh hilang. Meski itu hanyalah produk gagal, aku selalu memperlakukannya layaknya barang antik yang bernilai tinggi. Itu salah satu hasil karya yang pernah kubuat. “Robot kamu ada di sini, Ken!” serunya lagi, sambil masih duduk manis di kursi tamu. Mendengar itu, aku yang pada saat itu sedang berada di kamar, langsung menghampirinya. Tapi nampaknya wanita itu berbohong. Wanita itu mempermainkanku dengan candaannya yang tidak lucu. “Dimana?” tanyaku segera. Ia lantas menatapku, dan menunjuk dirinya sendiri, tanpa mengatakan apapun. Sontak aku mengkerutkan kening. Tak mengerti apa maksudnya. Menangkap gelagatku, akhirnya wanita itupun berkata. “Aku robot itu,” ucapnya singkat. “Jangan becanda! Kamu yang menyembunyikannya kan? Kamu pencurinya,” tuduhku datar. “Aku tidak datang untuk becanda, Ken. Jika kamu bertanya siapa aku, dan kamu mau tahu di mana robot milikmu, maka jawabannya adalah aku. Aku adalah robot itu,” tuturnya tanpa ragu. “Jangan konyol. Itu sesuatu yang gak mungkin. Mustahil,” aku menolak pengakuannya. “Apanya yang gak mungkin? Banyak hal di luar nalar yang bisa saja terjadi. Iya kan?” Sekilas, aku menyadari sesuatu. Aku menyadari kimono yang dipakai wanita itu sama persis dengan yang kupakaikan pada robotku yang hilang. Baik motif ataupun warnanya. Tapi, tidak. Aku masih saja menolak petunjuk itu. Bisa saja dia mengambil bajunya dan membuang robotnya. Tapi aku tak mengerti dengan apa yang diucapkan wanita asing yang satu ini. Sekarang, dalam kepalaku aku berpikir bahwa wanita yang ada di hadapanku itu, barangkali adalah wanita gila yang sembarangan masuk rumah orang. Ya, mungkin saja dia orang gila yang nyasar ke kampung ini dan kebetulan masuk rumahku, karena sejak sore tadi aku membuka pintu depan. Aku pun menggeleng, seraya berjalan menuju pintu. Hendak mengusirnya. “Tolong pergi!” pintaku, dingin. Sambil memegangi gagang pintu. Siap ditutup setelah yang diusir keluar dari rumah. Namun bukannya pergi, wanita itu malah menebak apa yang ada di pikiranku. “Apa kamu pikir aku orang gila yang sembarangan masuk rumah orang? Enggak, Ken,” kata wanita itu, yang kini sudah berdiri sambil menatapku serius. Menyadari namaku disebut untuk kesekian kalinya, aku langsung menoleh kepada wanita itu. Lagi, seolah tahu apa yang ada dalam pikiranku, wanita itu lantas berkata. “Kamu pasti heran kenapa aku bisa tahu nama kamu, kan?” tebaknya kemudian. Kali ini aku hanya memandangnya saja. Berharap wanita itu akan langsung menjelaskan. Namun bukannya menjelaskan, wanita itu malah seakan ingin membuatku makin penasaran terhadapnya. “Bukan cuma nama, aku bahkan tahu banyak tentang kamu,” ujarnya. Karena melihatku hanya diam saja sambil memandanginya, wanita itu kembali meyakinkan. “Serius!” katanya. “Karena aku adalah robot itu. Aku selalu ada di rumahmu,” lanjutnya kemudian. Ragu, aku mencoba memastikan. “Jadi kamu ... benar-benar robot itu?” ucapku pada akhirnya. “Tentu. Akulah robot cantik itu,” jawabnya mantap. “Bagaimana mungkin?” pikirku tanpa mengatakannya. “Mungkin ini memang sulit dipercaya, tapi inilah kenyataannya. Inilah kebenaran yang kamu lihat. Bukannya kemarin juga kamu sempat lihat? Tapi kamu malah pingsan duluan,” tuturnya lagi. Benar juga. Itu artinya, yang kemarin kulihat sudah terkonfirmasi benar. Sudah valid. Terbukti bukan halusinasi atau mimpi belaka. Ini berarti, robotku benar-benar bisa berubah menjadi manusia. Tapi tetap saja tidak masuk akal. Bagaimana mungkin? Sulit sekali untuk mencerna kebenaran ini. Aku tidak sedang berfantasi kan? Batinku kala itu. “Ada banyak hal yang tidak masuk akal di dunia ini, bukan? Kamu gak perlu mengerti. Cukup terima saja keberadaannya,” perkataannya seolah menjawab pergulatan batinku. Aku tak menanggapi. Aku tak berkata sedikitpun. Aku sungguh kehilangan kata-kata untuk berkomentar. Tapi di kepalaku, tentu saja aku berusaha mencermati kalimat itu. Kalimat itu seolah menyulap ketidakpercayaanku pada hal-hal yang tidak logis dan ikut merasakan kebenarannya. Wanita itu lantas berjalan mendekatiku yang masih mematung di daun pintu sembari menatapnya. “Dengar, Ken. Aku hanya bisa berubah wujud di malam hari. Saat matahari terbit, aku akan kembali seperti semula. Menjadi robot cantik bernama Wulan. Oh ya, kamu kasih nama robot ini Wulan kan?” Aku mengangguk. “Kalau boleh tau, kenapa kamu kasih nama Wulan?” “Itu diambil dari nama seseorang,” jawabku datar. “Siapa? Pacarmu?” “Bukan urusanmu,” kataku sambil lantas menutup pintu, mengabaikannya dan segera menuju meja kerjaku. (*)    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD