BAB 3 JEJAK YANG HILANG

1028 Words
Luna    Perut laparku terus berbunyi. Suaranya terdengar bagaikan teriakan cacing yang numpang hidup di dalam perut, berdemo minta makan. Aku tak mengerti, kenapa perutku terus merasa lapar sejak aku kembali ke bumi. Padahal, tadi pagi aku sudah mencuri makanan di rumah orang. Sebagai tambahan, aku juga mencuri beberapa ikan dari rumah-rumah lainnya, tanpa ketahuan.    Apa yang salah? Apakah ini efek dari makanan zaman sekarang, atau bagian dari adaptasi tubuh?    Aku juga merasakan kedua kakiku mulai pegal. Semakin lama berjalan, semakin jauh melangkah, kaki ini terasa sakit. Tubuh ini juga semakin lemas dan kepalaku terasa pusing. Sepertinya, aku butuh tempat untuk berdiam diri sejenak.    Baiklah, aku harus menemukan tempat untuk singgah. Tapi tunggu, ada apa dengan kakiku? Sepertinya kaki ini tak mau diajak kerjasama lagi. Kakiku benar-benar tak sanggup melangkah lagi. Bagaimana ini?    Di tengah kepanikan lantaran kaki yang sulit digerakkan, aku dapat merasakan bahwa seseorang sedang memerhatikanku. Jaraknya tak terlalu jauh. Hanya beberapa meter saja dari tempatku berdiri. Ketika aku menoleh ke arah yang kukehendaki, pandanganku bertemu dengan wajah seseorang. Dialah orang yang kumaksud. Seorang lelaki yang memandangku dari jauh.    Ketika pandangan kami beradu untuk beberapa detik, di saat itulah keseimbanganku hilang. Kakiku roboh hingga membuatku terjatuh ke tanah. Dan pandanganku berubah gelap. Aku tak tahu apa yang terjadi setelahnya.    ***    Sakti    Sepanjang aku membuka kedai di desa ini, baru kali ini aku menemukan penampakan luar biasa di seberang kedaiku. Kejadiannya tengah hari. Tepat saat posisi matahari berada di atas ubun-ubun. Mungkin, akan lebih lucu kalau ini kita sebut saja penampakan di siang bolong.    Dari teras kedai, aku menyaksikan seorang wanita berjalan sendirian dengan penampilannya yang tak karuan. Jika diperhatikan, wanita itu terbilang cukup menarik. Berkulit putih, dengan postur tubuh yang ideal. Tingginya sekitar 165 cm. Tapi, pakaiannya yang terlihat kotor dan compang-camping di beberapa bagian, membuatku bertanya siapa dan dari mana orang itu berasal? Belum lagi, luka-luka yang ada di wajahnya, serta rambutnya yang berantakan, itu membuatku semakin penasaran. Apa yang terjadi dengan wanita itu?    Namun, aku cukup terkejut ketika wanita itu tiba-tiba menatapku. Dia seperti tahu, kalau aku sedang memperhatikannya. Aku lebih terkejut lagi, saat kudapati wanita itu pingsan setelah menatapku. Sontak, aku berlari menghampirinya.    Ada sesuatu yang aneh, saat aku menolong wanita itu. Aku bisa merasakan ada energi lain selain energi manusia. Ini seperti energi yang bercampur. Seperti gabungan antara energi manusia dengan energi yang lain. Mungkin semacam energi siluman. Namun entah siluman apa. Aku tidak bisa mendeteksi aromanya dengan jelas. Yang pasti, ini sama persis dengan bau yang kucium di kedai tadi pagi. Siapa sebenarnya wanita ini? Apakah dia sedang dikendalikan sesuatu?    ***    Luna    "Dimana ini?" pikirku saat sadarkan diri. Aku melihat sekitar. Tidak ada orang selain diriku.    Kali ini, nampaknya aku sedang ada di dalam rumah seseorang. Rumahnya cukup sederhana. Hanya ada ruang tamu, dua kamar tidur, dapur dan kamar mandi. Rumah yang khas pedesaan.    Aku memaksa tubuhku untuk bangun dari posisi telentang di atas kursi panjang. Aku terduduk dengan sisa tenaga yang masih ada.  Badanku masih lemas, tapi kepalaku sudah tak terlalu pusing seperti sebelumnya.    Aku mengingat wajah itu. Ya, wajah seorang pria yang sempat kupergoki memerhatikanku dari jauh. Ah, mungkin dia yang menolongku. Mungkin ini adalah rumahnya. Aku sangat bersyukur dan harus berterimakasih. Pikirku.    "Permisi, apa ada orang?" tanyaku sembarang bersuara. Berharap ada yang menjawab.    Tak ada yang menyahut. Sampai akhirnya kupaksakan tubuhku untuk berjalan dan memeriksa seluruh ruangan. Tapi sia-sia. Aku tak menemukan seorangpun di sana.    Rumah ini seperti rumah yang lama ditinggalkan. Bau, pengap, berantakan, banyak debu dan sarang laba-laba di tiap tempat. Tapi isi rumahnya cukup lengkap. Ada banyak perabot yang memang diperlukan untuk sehari-hari.    Aku lantas segera membuka pintu supaya udara segar masuk ke dalam rumah. Begitu pintu itu dibuka, aku baru tahu, kalau ternyata rumah ini punya pekarangan yang cukup luas.    Oh, tidak. Aku mencium sesuatu. Baunya sangat enak. Bau yang sangat kukenal. Aromanya membuat perut laparku tiba-tiba keroncongan. Tanpa sadar, kakiku bergerak otomatis mencari sumber bau itu dengan mengandalkan ketajaman indera penciuman. Hidungku terus mengendus sampai tiba di sebuah rumah yang sepertinya tak asing bagiku. Serasa pernah ke sana.    "Dari sini baunya," gumamku di depan sebuah pintu yang setengah terbuka. Itu adalah pintu belakang sebuah rumah. Tepatnya rumah tetangga dari pemilik atau penghuni rumah yang kutempati.    Aku mengendap-endap di balik pintu. Persis seperti maling yang siap beraksi. Kuperhatikan suasana sekitar untuk memastikan tak ada orang yang melihat. Sepi. Bagus, ini waktu yang tepat.    Langkah berikutnya, kutajamkan penciumanku sekali lagi. Kupastikan tidak ada bau manusia di tempat yang menjadi target. Aman. Bau manusia sudah menjauh dari area yang kutuju.    Secepat kilat aku melesat ke dalam dapur rumah orang. Aku mendapatkan apa yang kucari. Itu adalah ikan goreng yang tak pernah kumakan selama tinggal di bulan. Ah, aku tak sabar untuk segera menyantapnya. Apalagi ikannya baru diangkat dari minyak panas. Sungguh nikmat sekali kelihatannya. Aku sampai menjilati bibirku sendiri, seperti menjilati sisa makanan yang tertinggal di sana.    Dengan rakus, aku pun segera menyantapnya dengan lahap, sambil berdiri di depan meja makan dengan tudung saji yang terbuka. Nikmatnya ikan ini sungguh membuatku lupa dan tidak awas pada sekitar. Ya, aku terlalu menikmati ikan goreng hangat itu. Hingga ... terdengar suara seseorang berkata, "Luna?!".    Tanpa pikir panjang, aku langsung kabur dengan ikan yang masih di mulut. Aku buru-buru kembali ke rumah dan mengunci pintu. Bersembunyi di dalam sana.    Apa tadi? Luna? Siapa yang dia panggil Luna? Apakah aku? Siapa dia? Bagaimana bisa dia mengenaliku?    ***     Ken    Aku yakin, aku tak salah melihat. Itu  adalah Luna. Aku masih bisa mengenalinya dengan baik. Namun yang membuatku bingung, bagaimana bisa dia ada di sini? Kenapa dia bisa ada di rumahku? Dan kenapa dia kabur waktu melihatku? Apa dia sudah tak mengenalku? Berbagai pertanyaan itu terus memburu di pikiranku. Ini bagaikan teka-teki yang harus dipecahkan. Daripada penasaran, lebih baik aku pastikan sekali lagi.    Barusan, aku melihat dia berlari ke rumah itu. Dia masuk ke dalam rumah. Apa dia tinggal disitu? Untuk memastikan, aku bergegas menyusulnya.    Aku berdiri di depan rumah itu. Melihat-lihat dari luar, berharap sosok Luna muncul di hadapanku. Ada yang aneh. Ini sudah petang, tapi bahkan yang tinggal di dalamnya tidak juga menyalakan lampu. Apa listriknya mati? Atau memang tak ada orang di dalamnya? Mungkinkah yang kulihat tadi itu hantu?    (*)    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD