Sakti
Handphoneku berdering tepat saat kutemukan catatan kuno yang sedang kucari. Itu adalah catatan penting yang memuat tentang legenda, cerita rakyat, serta sejarah peradaban umat manusia di negeri ini. Biasanya, aku akan menggunakan catatan kuno itu untuk melihat detail kejadian yang pernah terjadi di masa lampau.
"Halo!" aku mengangkat telepon. Terdengar suara di seberang sana menyahutku buru-buru. "Sakti, Kedai Camsun kemalingan," terangnya langsung ke inti permasalahan.
Itu adalah Niko. Teman sekaligus kepala desa termuda yang memimpin sebuah desa maju di pesisir pantai. Kedaiku kebetulan berlokasi di desanya. Jika ada hal penting terkait kedaiku, maka Niko akan langsung turun tangan dan menjadi informan pertama bagiku.
"Hah? Kok bisa?" tanyaku heran. Bagaimana tidak? Pasalnya, meski kedaiku ada di desa terpencil, aku sudah melengkapinya dengan sistem keamanan yang paling mutakhir. Jadi akan sulit bagi para pencuri untuk bisa masuk ke dalamnya.
"Aku juga gak tau gimana caranya orang itu bisa masuk, sampai akhirnya gak sengaja menekan tombol darurat yang langsung terhubung ke rumahku," Niko menjelaskan. "Tapi, aku melihat sesuatu yang aneh di CCTV. Sebaiknya kamu cepat kesini," tambahnya.
Aku mengiyakan sebelum akhirnya sambungan telepon dimatikan. Aku juga sempat meminta Niko untuk tidak terlalu khawatir dan segera kembali istirahat, karena aku baru bisa kesana besok pagi. Ini masih tengah malam. Butuh waktu sekitar tiga jam untuk aku bisa sampai di desa itu. Haruskah aku kesana dengan menggunakan kecepatan cahaya? Supaya bisa sampai lebih cepat? Itu jelas tidak mungkin. Aku masih berada di dunia manusia. Jadi semuanya harus nampak masuk akal.
Keesokan paginya, aku langsung meluncur ke desa Maju. Ketika memasuki kawasan desa yang areanya bisa dibilang cukup sepi dan rawan kecelakaan, aku melihat sekelompok orang yang sedang berkerumun. Saat mobilku melintasi mereka, saat itulah aku tahu kalau mereka sedang mengerumuni sebuah mobil yang baru kecelakaan. Tampaknya mobil itu baru saja menabrak batu besar yang ada di depannya.
Tunggu, aku mendadak ingat sesuatu. Itu mobil yang sama persis seperti yang ada dalam mimpi dan penglihatan anehku. Seketika aku langsung menginjak rem. Mobilku berhenti mendadak, beberapa meter setelah melewati sedan hitam yang rusak itu.
Aku bergegas turun dan menghampiri kerumunan masa. "Permisi Pak, ini kecelakaan apa ya?" aku bertanya kepada salah seorang warga yang terlibat dalam kerumunan yang berjumlah kurang lebih sepuluh orang.
"Ini loh, Dik. Mobil ini nabrak batu besar itu. Tapi anehnya, penumpangnya gak ada. Gak tau hilang ke mana," kata pria paruh baya itu.
Pria itu juga menjelaskan bahwa tidak ada yang tahu persis kapan dan bagaimana kejadiannya. Keberadaan mobil itu baru ditemukan tadi pagi saat seorang warga hendak menuju pasar. Mereka juga tidak menemukan keberadaan korban atau identitas apa pun yang ada di dalam mobil. Satu-satunya yang bisa digunakan sebagai petunjuk adalah plat nomor kendaraan, untuk melacak siapa pemiliknya.
***
Ken
Lantai yang dingin mulai terasa di pipi dan tanganku. Itu membuatku terbangun dari ketidaksadaranku. Aku mendapati diri tertidur di lantai, lalu mencoba bangun dan mulai mengingat.
Ingatanku menampilkan robot buatanku yang berubah wujud menjadi manusia. Aku sadar apa yang baru saja terjadi, dan mataku langsung tertuju kepada robot itu.
Robot itu, terlihat seperti biasanya. Masih terpajang rapi di sudut ruangan di antara dua kursi. Lengkap dengan pakaian kimononya. Tidak ada yang aneh dan tidak ada yang berubah. Semuanya masih utuh setelah kupastikan.
Lantas, apakah yang terjadi tadi malam itu mimpi? Atau ... halusinasi? Entahlah, aku sendiri masih bingung. Aku belum bisa memastikan apa yang telah kulihat, apakah itu nyata atau tidak nyata. Yang pasti, aku cuma khawatir kalau itu adalah khayalan atau fantasi yang muncul akibat terlalu lama mengurung diri.
Pletaaak ... Sesuatu berbunyi dari arah dapur. Sepertinya itu gagang sapu yang jatuh ke lantai.
Aku bergegas ke dapur untuk memeriksa. Benar saja, aku menemukan sapu tergeletak di lantai. Tak hanya sapu, tempat sampah juga terguling dan sampahnya berserakan. Makanan di meja makan juga habis tanpa sisa, hanya menyisakan dua kepala ikan beserta tulangnya. Semua berantakan. Seperti ada orang yang masuk ke rumahku diam-diam. Sungguh, ini terlalu pagi untuk seorang pencuri masuk ke rumah orang.
Apakah itu pencuri kesiangan atau pencuri kelaparan?
***
Sakti
Sesampainya di Kedai Camsun, aku langsung memeriksa keadaan sekitar. Tidak ada tanda-tanda bekas pencurian ditemukan disana. Mungkin sudah dibereskan oleh Niko. Aku lantas memeriksa sistem keamanan yang sudah terkomputerisasi. Itu juga aman. Tidak ada tanda-tanda pembobolan atau kerusakan yang terjadi. Semuanya masih aman terkendali. Hanya saja, aku mencium bau sesuatu yang tidak pernah kucium sebelumnya. Mungkinkah kedai ini baru dikunjungi sosok misterius? Untuk tahu jawabannya, aku harus menemui Niko.
Masih sekitar jam delapan pagi. Aku mengunjungi Niko di kantor desa. Kebetulan, dia sudah menungguku di sana sejak 15 menit yang lalu. Tanpa basa-basi, dia pun langsung menjelaskan tentang kejadian semalam.
"Apa aja yang hilang?" tanyaku di tengah percakapan.
"Gak ada. Hanya bahan makanan yang berserakan. Mungkin malingnya kelaparan," jawab Niko seraya menunjukkan foto bukti di galeri smartphonenya.
"Aku rasa, malingnya bukan orang," cetusku setelah melihat foto itu.
"Aku pikir juga gitu."
"Kamu lihat apa di CCTV?"
"Sesuatu yang jatuh di atap kedai."
"Apa itu kucing hitam?" tebakku asal.
Pandangan Niko langsung berubah. Dia terlihat heran sekaligus takjub dengan tebakanku yang 100% benar. "Gimana kamu bisa tau? Kamu bahkan belum lihat CCTVnya."
"Cuma intuisi," jawabku singkat.
Lantas, Niko menunjukkan rekaman CCTVnya. Ini adalah rekaman CCTV yang kami pasang di salah satu tiang di seberang kedai. Dari CCTV ini, terlihat jelas ada kucing hitam yang jatuh ke atap kedai. Kucing itu lantas berjalan menuruni atap.
Aku dan Niko lantas menduga bahwa mungkin kucing itu masuk lewat saluran udara yang ukuran lubangnya cukup untuk dilewati tubuh si kucing. Setelah berhasil masuk, barulah ia mengacak-acak bahan makanan yang ada di sana.
"Kalo dipikir, gimana bisa ada kucing yang seolah jatuh dari langit? Apa kucing itu jatuh dari pesawat atau gimana?" Niko mulai menunjukkan keheranannya.
"Anggap aja begitu," jawabku setengah becanda.
"Itu bukan kucing jadi-jadian kan?" tanyanya lagi, masih penasaran, sekaligus malah mulai curiga.
"Mana aku tau!" kataku seraya mengangkat bahu. "Emang, masih ada ya yang begituan? Ini kan udah zamannya teknologi canggih," aku tanya balik.
Dan Niko pun tak bisa memberikan jawaban. Aku tahu betul, Niko yang masih berumur 31 tahun, adalah pemuda desa yang berpikiran maju, dan sangat realistis. Ia cenderung tidak percaya hal-hal yang berbau mistis dan tahayul. Meski terkadang, rasa penasarannya muncul di saat-saat tertentu.
Apa jadinya jika kuceritakan kepadanya bahwa saat ini dia sedang berhadapan dengan sesuatu yang mistis dan tidak masuk akal?
(*)