BAB 18 JANGAN KEMBALIKAN TUBUHNYA

1119 Words
Luna Tak ada hal yang paling kutakutkan selain rahasia terbesarku diketahui orang-orang, terutama Ken. Sebisa mungkin aku menyembunyikan identitasku yang bukan manusia dan pura-pura menjadi Luna. Aku sangat menyukai Ken. Aku jatuh cinta padanya. Jantungku selalu berdebar lebih kencang tiap kali bertemu dengannya. Dan aku sulit berhenti memikirkannya saat tak berinteraksi dengannya. Aku sungguh menyayanginya. Dan aku ingin memilikinya. Walaupun aku tahu, bahwa ini tidak boleh. Aku tahu ini melanggar aturan. Tapi, aku siap kehilangan segenap kekuatanku asalkan bisa selalu bersama Ken. Toh, ini juga adalah kesempatan hidupku yang terakhir. Jadi aku tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Namun, kini hal yang kutakutkan telah menjadi kenyataan. Ketika itu terjadi, aku merasa bahwa takdir tak berpihak lagi padaku. Ken sudah tahu segalanya. Ia tahu segala hal yang terjadi antara aku dan Wulan. Ia telah mendengar semua percakapan di antara kami. Ya. Ken tahu karena rupanya, diam-diam ia membuntuti Wulan saat melihatnya menemuiku. “Ken?” ucapku saat Ken menarik tanganku. “Sssttt!!!” ucap Ken seketika, memberi isyarat supaya aku tak bersuara. Setelah memastikan Wulan lewat dan jauh dari posisi kami, akhirnya Ken melepaskan tanganku dan mengatakan sesuatu. “Selama ini, aku pikir aku udah berubah jadi mata keranjang. Menyukai dua orang dalam waktu yang bersamaan. Menyukaimu terang-terangan, dan menyukai Wulan diam-diam,” ungkap Ken berterus terang. Sungguh, aku tak tahu bahwa ternyata dia juga menyukai Wulan. “Tapi ternyata enggak. Hati aku gak pernah salah. Orang yang aku suka, tetap orang yang sama. Hanya karena aku tahu kalau Wulan adalah orang yang sudah meninggal dan kehilangan tubuhnya, maka aku lebih memilih kamu. Tapi aku sadar, perasaan itu murni karena salah paham. Perasaan aku ke kamu, itu karena aku berpikir kalau kamu adalah Luna,” kata Ken. “Aku bisa jelasin, Ken!” kataku buru-buru. Aku bisa menebak ke mana arah pembicaraan Ken. Dan aku tak mau itu terjadi. “Aku belum selesai,” cegah Ken segera. Dia pun melanjutkan apa yang ingin disampaikannya. “Setelah aku tahu kalau Wulan adalah Luna yang sebenarnya, dan kamu bukan siapa-siapa, aku merasa perlu untuk meluruskan ini. Perasaan aku ke kamu, itu cuma ilusi aja. Itu gak nyata. Jadi, kamu gak perlu memberikan jawaban apa pun sama aku. Pertanyaanku yang kemarin, kamu gak perlu menjawabnya. Anggap itu gak pernah terjadi,” lanjut Ken. “Tapi aku suka sama kamu. Aku cinta sama kamu,” ungkapku pada akhirnya. Aku tak bisa lagi membendung kalimat itu untuk keluar dari mulutku. “Buang perasaan itu. Perasaan itu bukan milik kamu,” pinta Ken yang menurutku terlalu kejam. Ken memang benar. Ini adalah perasaan tubuhnya Luna. Tapi dia tidak mengerti bagaimana sulitnya aku setelah memiliki tubuh mantan kekasihnya. Aku juga harus beradaptasi dengan kondisi hatinya terhadap Ken. Dia pikir, membuang perasaan itu mudah? Egois sekali permintaannya itu. “Sebagai gantinya, aku akan bebasin kamu dari permintaan Wulan,” tambahnya kemudian. “Maksud kamu apa?” aku tak mengerti. Aku sungguh tak bisa menebak apa yang Ken rencanakan. “Ini adalah kompensasi sekaligus permintaan yang sama-sama akan menguntungkan. Jadi, aku rasa kamu gak akan menolaknya,” katanya lagi. Kalimat Ken sungguh sangat berbelit-belit. Membuatku pusing tujuh keliling. “Kamu mau minta apa lagi dari aku?” tanyaku kesal. Aku merasa dipermainkan. “Tetaplah berada di dalam tubuh Luna. Jangan kembalikan tubuhnya sama dia. Dan pergilah ke tempat yang jauh. Kamu bisa kan?” Konyol. Tak bisa dipercaya. Sungguh, ini benar-benar di luar dugaanku. Ken meminta padaku untuk tidak mengembalikan tubuh Wulan, padahal ia sangat mencintainya. Rasanya sangat aneh. Aneh sekali sehingga mendorongku untuk menanyakan alasan atas permintaan itu. “Kenapa kamu mau aku ngelakuin itu? Aku bisa aja, balikin tubuh ini kapanpun kalau aku mau. Apalagi Wulan sudah tahu kalau ini adalah tubuhnya.” “Karena aku sangat mencintainya. Kalau kamu kembalikan tubuhnya, maka aku akan kehilangan dia untuk kedua kalinya. Bahkan untuk selamanya. Dia gak akan hidup lagi di dalam robot itu, dan pergi selamanya. Aku gak mau itu terjadi,” ungkap Ken lagi. Membuatku bertanya jauh di dalam relung hati. Sebesar itukah perasaan dia kepada mantan pacarnya, sehingga sampai harus bersikap egois? Aku hanya diam. Alasan itu seakan menegaskan bahwa perasaan Ken terhadap Wulan lebih dari segalanya. Sebuah perasaan yang bukan main-main. Namun jauh di dasar hatiku, perasaan yang kumiliki terhadap lelaki yang satu ini juga tak main-main. Bahkan perasaan ini telah membuatku melewati batasan yang ditentukan untukku, melupakan asal-usul tentang diriku. “Lagipula, kamu butuh tubuh itu kan? Kamu gak akan bisa jadi manusia lagi tanpa tubuh itu. Jadi aku mohon, lakukan aja seperti yang aku mau!” pinta Ken sekali lagi. Ia benar-benar memohon padaku. Memohon dengan kejam. Aku tetap diam. Namun dalam diamku, tentu ada hati yang amat terluka. Hatiku tercabik. Perasaanku luluh lantak. Aku merasa terkhianati. Diberi harapan, lalu dipaksa keluar dari harapan itu. Dia yang memintaku, tapi dia juga yang meninggalkanku. Dan untuk pertama kalinya, aku menilai bahwa manusia itu kejam. Sungguh kejam karena telah membuatku terluka dalam, sampai mataku terasa perih dan mulai bercucuran air mata. Aku tak kuasa lagi menahan sakitnya. “Kamu ngerti kan, maksud aku? Aku harap, kamu bisa pergi secepatnya,” lanjut Ken, memastikan. Aku tak menjawab. Aku menunduk melihat tanah. “Oke, aku anggap kamu mengerti,” tutup Ken sebelum dia beranjak pergi. “Tidak bisakah kamu menyukaiku saja?” ungkapku lagi. Aku mencoba menahan langkah Ken, sebelum dia terlalu jauh. Aku sungguh menginginkannya. Aku tak bisa membayangkan jika harus hidup berjauhan dengannya. Ken tertegun sejenak. Tanpa menunggu Ken berbalik, aku meneruskan ungkapan hati terdalamku. “Aku sangat menyukaimu. Tidak bisakah kamu berada di sisiku saja?” Ken berbalik menghadapku. Tiga detik ia tak mengatakan apa pun. Lalu setelahnya, ia menjawab pertanyaan itu. “Tidak bisa,” jawabnya halus. “Karena kita berbeda. Karena kamu bukan manusia,” dia menegaskan. “Kalau aku bukan manusia, lalu apa bedanya dengan Wulan? Dia juga bukan manusia. Dia hantu gentayangan.” “Kamu salah. Jelas ada bedanya. Gimanapun juga, jiwa Wulan adalah manusia. Dia hanya kehilangan tubuhnya dan hidup di dalam robot milikku. Sedangkan kamu, meski kamu hidup di dalam tubuh manusia, atau sekalipun tampak seperti manusia, tapi jati dirimu tetaplah siluman. Bukan manusia,” tegas Ken lagi. Seketika kalimat itu telah membungkam mulutku untuk tidak mengatakan apa-apa lagi. Aku hanya mampu menatap Ken dengan penuh kekecewaan. Dan untuk pertama kalinya, aku merasa kalau Ken sangat jahat. Aku merasa Ken menjadi kejam dan egois. Baik terhadap diriku, maupun Wulan. Ia melakukan itu, demi dirinya sendiri. Ken memutar arah dan berlalu begitu saja. Ia meninggalkanku dalam pekatnya malam. Sementara itu, mendadak keseimbanganku roboh. Kedua kakiku kehilangan tenaganya. Seluruh persendiannya terasa lemas sehingga aku tak dapat menahan tubuhku sendiri. Lunglai, aku pun terjatuh lemas di tempatku berdiri. Meratapi kekecewaanku pada seseorang. Dalam tangis. Dalam gelap malam dan gelap hati seseorang. (*) 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD