BAB 19 JADI MANUSIA ITU RUMIT

1378 Words
Sakti “Permisi! Ayam bakar!” terdengar suara pengantar makanan dari luar. Aku yang sedang fokus memeriksa laporan keuangan, sejenak harus menghentikan dulu pekerjaanku. Lantas, aku mengambil pesananku yang sudah datang. Setelah urusanku dengan layanan pesan antar selesai, aku segera mencari keberadaan Luna. Kuedarkan pandangan ke seluruh penjuru halaman, bahkan hingga ke jalanan. Namun sosok yang kucari tak juga nampak. Bahkan tak ada juga di rumah Ken. “Ke mana anak itu?” pikirku seketika. Bukannya khawatir, hanya saja orang ini sudah lalai dari tanggung jawabnya. Tanpa pikir panjang, aku pun kembali masuk untuk menikmati ayam bakar itu. *** Ken Setibanya di rumah, aku mendapati Wulan duduk termenung di teras. Dia memandang hampa entah kepada apa. Mungkin, dia berpikir kalau aku masih ada di dalam rumah. Mungkin dia belum berani untuk masuk dan menemuiku lagi. Aku paham betul, sejak dulu Wulan memang tidak bisa melihatku dalam kondisi terpuruk. Dia akan otomatis mundur dan sedikit memberi jarak jika kondisi atau situasiku sedang tidak baik. Bukan untuk pergi, dia hanya memberikan ruang untuk aku menenangkan diri. Dia akan kembali setelah aku merasa baik dengan sendirinya. Pada kasus ini, aku yakin dia pun begitu. Dia tidak berubah sama sekali. Wulan mengangkat wajahnya dan melihatku. Dia baru menyadari kalau selama ini aku tidak berada di dalam rumah. Aku baru saja kembali. Lantas, Wulan langsung berdiri begitu melihatku. “Kamu habis dari mana?” tanyanya kemudian. Aku yang sejak tadi memandanginya dalam diam, lantas segera menghampiri Wulan. Aku langsung mendekapnya, memeluknya erat-erat tanpa bicara. Wulan tentu merasa aneh dengan sikapku yang tiba-tiba seperti ini. Dia berusaha mendorongku, tapi aku memeluknya lebih erat lagi. Belum mau melepas. Dia pun hanya diam, membiarkan dirinya dipeluk olehku. “Maafin aku! Maaf karena tidak mengenalimu,” ucapku dalam hati. “Maaf, karena aku terpaksa harus menahanmu. Aku gak mau kehilangan kamu lagi,” terusku masih di dalam hati. Seakan dapat mendengar isi hatiku, Wulan pun balas memelukku. *** Sakti Lama sekali Luna pergi. Aku bahkan sudah selesai dengan makan malamku, tapi dia belum kembali juga. Kalau tidak ingat dia, satu porsi lagi pasti sudah kuhabiskan. Wanginya itu loh, menggoyang lidah dan membuatku ingin nambah. Beruntung, kali ini aku sedang baik hati. Lebih tepatnya sedang sadar diri. Tidak boleh terlalu kenyang supaya tidak mengantuk. Laporan keuangan kedaiku masih menunggu untuk diperiksa. Kembali ke laporan keuangan, ternyata malah membuatku jadi tidak fokus bekerja. Aku jadi teringat Luna dan mengkhawatirkan keberadaannya. Aku jadi ingat, kemarin malam ada Wulan yang menguping pembicaraan kami. Mungkinkah ini ada kaitannya? Mungkinkah terjadi sesuatu dengan Luna? Aku sudah siaga di depan pintu. Sesekali aku melihat ke luar, barangkali sosok yang kutunggu telah datang. Tapi ternyata belum. Yang kutunggu tak juga nampak batang hidungnya. Bahkan siluetnya saja tak kelihatan di ujung pandang. “Ke mana dia pergi semalam ini?” aku mulai mengomel, sambil mondar-mandir tidak jelas. Merasa tidak tenang. “Ah, nyebelin! Bikin khawatir aja,” kataku lagi, sembari memaksa diri untuk duduk di kursi. Aku menarik napas dalam-dalam. Lalu, kuhembuskan perlahan. Kuatur napasku supaya lebih tenang. “Tenang, Sakti. Dia bukan manusia. Ngapain kamu cemaskan dia?” ucapku, menenangkan diri. Seketika aku sadar bahwa apa yang kulakukan sudah tidak benar. Aku adalah polisi siluman. Aku tidak boleh mencampuri urusan para siluman. Aku cuma berhak untuk menertibkan mereka saja. Tapi, apa yang kulakukan sekarang? Kenapa aku jadi cemas berlebihan? Apa aku baik-baik saja? Aku terdiam sejenak. Aku coba memahami situasinya. Ada yang salah dengan diriku. Dan aku baru menyadarinya. Selang beberapa menit, daun telingaku mendadak bergerak. Aku menangkap suara langkah seseorang menuju rumah. Tak lama, terdengarlah suara orang bersin di halaman. Bersinnya terus-menerus, sehingga membuatku bergegas menghampirinya. “Dari mana aja? Pergi gak bilang-bilang,” kataku begitu tahu kalau itu adalah Luna. Sebagai jawaban, Luna malah hampir menyembur wajahku dengan bersinnya yang belum berhenti. Untungnya aku langsung sigap menghindar. Aku memalingkan wajah dan menutupi dengan tangan. Alhasil, wajahku selamat, tapi punggung tanganku yang jadi korban. Kena semburannya. “Gak sopan! Kamu mau bikin aku ketularan ya?” omelku seketika. Sembari mengelapkan kedua tanganku ke baju Luna. “Maaf!” sesal Luna yang lanjut bersin lagi. Tangannya lantas menutupi mulut dan hidungnya kali ini. “Kelamaan di luar, tuh! Makanya keserang flu,” komentarku sambil memastikan kondisi tanganku sudah kering atau belum. “Terserang apa? Flu?” tanya Luna yang nampaknya baru pertama kali mendengar kata itu. “Itu satu jenis penyakit yang menyerang manusia. Gejalanya bersin-bersin, hidung tersumbat, kepala pusing, demam dan ...,” aku menghentikan kalimatku. Kulihat Luna mau bersin lagi dan aku siap menghindar. Aku langsung jongkok untuk menghindari semburan keduanya. Tapi ternyata tidak jadi. Luna pun hanya menggosok hidungnya dengan telunjuk. Kemudian, Luna menerangkan kondisinya. “Tapi yang terjadi padaku cuma bersin saja dan ... ini,” Luna menunjukkan sesuatu di telapak tangannya. “Apa itu?” spontan aku bertanya. Penasaran dengan apa yang dia tunjukkan. “Ini kumis kucing. Belakangan aku sering bersin sambil menemukan ini. Kumis kucingku mulai rontok. Apakah ini efek dari memiliki tubuh manusia?” jelas Luna yang dilanjutkan dengan pertanyaan yang sebenarnya juga membuatku bingung. Belum tahu jawabannya. “Sepertinya itu bukan gejala flu.” “Apa ini pertanda kalau kekuatanku akan menghilang?” “Sepertinya begitu. Kekuatan yang menghilang, biasanya ditandai dengan bagian tubuh yang ikut hilang atau melemah,” jelasku terus terang. Lantas Luna tersenyum getir. Sambil memandangi kumis kucing yang ada di telapak tangannya. “Kamu belum jawab pertanyaan aku,” kataku mengalihkan topik percakapan. “Pertanyaan yang mana?” “Kamu habis dari mana? Kusuruh ambil makanan, malah menghilang kelamaan,” omelku lagi, meminta penjelasan. “Maaf, aku pergi gak bilang dulu. Aku habis ngomongin hal penting sama Wulan dan Ken,” jelas Luna. Raut wajahnya berubah murung. Matanya terlihat sendu, dan ia tampak tak bersemangat. Lantas, Luna pun duduk di teras. Seperti biasa, dia mulai memandang langit. “Kenapa lagi sekarang?” tanyaku begitu melihat tingkah lakunya yang mulai meresahkan. Luna cuma melirikku sebentar, lalu kembali melihat langit. Terlihat sangat lesu. “Kamu selalu tau apa yang terjadi denganku,” ucapnya tiba-tiba. Dia mengira aku akan tahu yang terjadi padanya tanpa dia bicara. Konyol sekali jalan pikirannya itu. “Aku bukan paranormal. Aku cuma bisa membedakan mana yang manusia dan mana yang bukan,” jelasku supaya Luna tak salah paham. “Kalo kamu gak ngomong, ya aku gak akan tau. Gak akan paham,” terusku setengah kesal dengan cara berpikirnya. “Jangan bilang, kalian habis ngebahas kisah cinta segitiga ya?” tebakku kemudian. Dengan polos, Luna pun bertanya. “Cinta segitiga? Apa itu?” Refleks aku menepuk jidatku sendiri. Aku lupa, siluman kucing ini belum tahu banyak istilah dalam percintaan manusia. Dia kekurangan kosakata terkait hal asmara. Aku sendiri yang tidak mengajarinya karena kurasa dia tidak membutuhkan itu sebagai manusia baru. “Itu kisah cinta di mana ada tiga orang yang terlibat di dalamnya. Kamu, Ken, dan Wulan,” terangku kemudian. “Begitu. Terserah apa namanya. Sekarang, Ken dan Wulan sudah tahu siapa aku,” ungkap Luna dengan nada pasrah. “Serius? Maksud kamu, mereka tau kamu bukan manusia?” aku memastikan. “Gak hanya itu. Bahkan, mereka juga tau kalau ini adalah tubuh mantan pacarnya Ken. Kamu tau siapa mantannya? Itu adalah Wulan. Wulan, robot milik Ken yang bisa berubah wujud jadi manusia, dialah pemilik tubuh ini. Lucu kan?” ungkap Luna dengan nada lirih. Terdengar ada nada keputusasaan dan kekecewaan yang ia sembunyikan dari balik suaranya. “Lalu mereka minta kamu buat balikin tubuhnya?” tebakku lagi. “Wulan minta aku buat balikin tubuh ini. Tapi tidak dengan Ken. Dia minta aku buat pergi dan membawa lari tubuh ini,” ungkapnya lagi. Terlihat, mata Luna mulai berkaca-kaca. Dari tadi dia menahan rasa sedihnya. “Aku harus gimana? Ini bahkan belum 100 hari. Kekuatanku sebagai siluman juga mulai pudar. Apa aku akan kehilangan semuanya begitu saja?” tanyanya lagi. Sekarang, mata dan pipi Luna sudah mulai basah oleh air matanya yang tak terbendung lagi. “Sudah aku bilang, jadi manusia itu rumit. Harusnya, waktu itu kamu gak milih buat jadi manusia. Sekarang kamu udah terlanjur membuat keputusan,” kataku tanpa bermaksud apa-apa. Aku hanya mencoba mengingatkan bahwa setiap pilihan ada konsekuensinya. Bahwa setiap keputusan harus dipertanggungjawabkan. Mendengar itu, Luna malah menangis sejadi-jadinya. Tangisannya terdengar kencang seperti anak kecil yang minta dibelikan mainan. Entahlah. Tidak bisakah dia menangis dengan lebih elegan? (*) 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD