BAB 20 EFEK PATAH HATI

1351 Words
Ken Aku kembali ke kebiasaan lama. Saat matahari terbit, aku segera beranjak tidur. Tidak ada lagi menunggu Luna berangkat kerja. Tidak ada lagi menyapa dia di pagi hari. Mulai sekarang, aku tak perlu lagi melakukan itu semua. Aku hanya perlu menjalani rutinitasku seperti sedia kala. Seperti saat Luna belum muncul di kehidupanku. Bagaimanapun situasinya, aku adalah Ken. Aku tetaplah seseorang yang mengisolasi diri di desa ini. Tidak terhubung dengan manusia lain, bila tak ada perlunya. Itu saja sudah cukup bagiku. Kuharap, hidupku tak pernah terusik lagi oleh yang lain. Terutama oleh makhluk asing seperti Luna. Luna Hari itu, tidak biasanya Sakti bangun lebih siang. Namun meskipun telat bangun, urusan sarapan tetap harus tepat waktu. Kala itu, begitu bangun Sakti langsung menuju meja makan. Tapi sayang, saat tudung saji dibukanya, dia justru tak mendapati apa pun. Dilihatnya meja makan itu kosong dan bersih dari sisa-sisa makanan semalam. Sakti pun mulai protes dan menghampiriku yang tengah terbaring lemas di dalam kamar. “Meja makannya kenapa kosong?” omel Sakti sembari mendorong pintu kamarku yang kubiarkan setengah terbuka. “Kamu sakit?” tanyanya kemudian begitu melihatku berbaring tak berdaya. Dia tak jadi protes. Aku tak menjawab. Aku hanya melihatnya sebentar. Rasanya, untuk bicara saja tak ada tenaga. Badanku terasa sakit semua. Sakti lantas memeriksa kondisiku. Dia memeriksa suhu badanku, kedua mataku, dan juga lidahku. Dia sudah seperti seorang dokter saja. Melihat wajahku yang pucat dan berkeringat dingin, Sakti bergegas memberiku obat dan sarapan seadanya. Dia memberiku sepotong roti yang kebetulan masih ada di lemari. Dia menyuruhku memakan itu sebelum meminum obatnya. Dengan lemas, aku memaksa diri untuk duduk di tempat tidurku. Lalu mulai memakan roti itu. Ditemani Sakti yang duduk di ujung tempat tidur. “Masih enak kan? Rotinya hampir kadaluarsa,” ungkap Sakti saat aku mengunyah makanan itu. Spontan aku langsung memasang ekspresi panik sambil meliriknya. “Hehehehe ... gak ada makanan lagi. Stok makanan sudah habis,” ucapnya sambil tertawa lebar. Wajahnya terlihat sedikit berdosa karena terpaksa memberikan makanan itu padaku. “Gak apa-apa. Ini bahkan gak ada rasanya,” ucapku datar. Terpaksa bicara walau mulutku terasa ngilu. Lalu aku menelan makanan di mulutku. “Masa sih?” Sakti lantas memeriksa kemasannya. Dia melihat tanggal kadaluarsa yang tertera pada kemasan. “Kadaluarsanya masih besok, kok. Masa ngaruh ke rasanya?” “Bukan salah makanannya. Lidahku yang bermasalah. Sudah dua hari lidahku mati rasa,” aku menjelaskan, sambil lanjut mengunyah obat penurun demam yang sudah jelas rasanya pahit. Sakti pun terlihat agak ngeri melihatku mengunyah obat bagaikan mengunyah permen yang super manis. Jelas saja, bagiku pahit atau manis tak ada bedanya. Semuanya sama saja. Sama-sama hambar. “Andai saja hatiku seperti ini, mungkin sekarang aku baik-baik saja,” ucapku kemudian. Entah kenapa kalimat itu muncul begitu saja di kepalaku. “Maksud kamu apa?” nampaknya Sakti belum paham apa yang kumaksud. “Andai yang mati rasa adalah hatiku,” ungkapku tanpa ragu. “Ternyata, kondisi hati bisa memengaruhi segalanya ya?” ucapku lagi. Meminta pengakuan atau persetujuan. Lantas, Sakti menarik kesimpulan. “Jadi ceritanya ini efek patah hati?” “Aku gak bilang gitu,” aku menyangkal, walaupun memang begitu adanya. “Yang terjadi sama kamu, itu bukan karena patah hati saja. Tapi juga karena kekuatanmu perlahan hilang,” jelas Sakti. “Begitu ya?! Apa ini akan berlangsung lama?” “Ini hanya sementara. Seiring waktu, lidahmu bisa pulih kok.” “Syukurlah, aku masih bisa menikmati makanan lezat lagi,” ungkapku setelah mendengarnya. Aku merasa sedikit lega. “Gimana sama hidung kamu?” tanya Sakti setelahnya. Dia memastikan indera penciumanku. “Hidungku masih baik. Aku masih bisa mencium sesuatu dalam jarak jauh, walaupun gak terlalu kuat,” jelasku. “Apa kemampuan ini juga akan menghilang?” aku penasaran. “Bisa aja. Tapi sebenarnya, kemampuanmu bisa kembali asalkan kamu mau melepaskan perasaan itu,” ungkap Sakti. Jujur, aku senang mendengar kabar ini. Tapi ini juga membuatku merasa ragu. Bukannya tak mau melepaskan, aku hanya merasa akan sangat sulit dilakukan. “Apa aku bisa? Setelah semua yang terjadi, bagaimana dengan hidupku ke depannya? Apa aku bisa bertahan hidup? Apa aku akan bahagia?” keluhku seketika. Merasa tak yakin akan dapat melakukannya. “Jangan cemaskan sesuatu yang belum terjadi. Masa depan itu masih misteri. Kita gak pernah tahu apa yang ada di depan sana. Kita gak pernah tahu, Tuhan dan semesta punya rencana apa buat kita,” kata-kata Sakti terdengar seperti motivasi. “Kamu benar,” aku mengakui. “Yang terpenting, hiduplah dengan sebaik-baiknya di masa sekarang. Gak perlu menoleh ke belakang, gak perlu mengkhawatirkan masa depan. Fokuslah pada diri sendiri dan jangan terganggu oleh hal-hal yang tidak penting, yang tidak ada gunanya,” petuah bijak Sakti mulai keluar. Sikapnya saat ini tidak mencerminkan sebagai seorang polisi siluman yang tegas, melainkan guru bagi jiwa-jiwa yang baru menjadi manusia. “Hidup ini kan ... gak melulu soal percintaan. Tapi juga tentang kualitas diri dan berbuat baik kepada sesama, dan masih banyak lagi hal positif lainnya yang bisa dilakukan,” sambungnya. “Sekarang aku kasih tau, kalau orang lain gak bisa ngasih kebahagiaan, maka bahagiakanlah dirimu sendiri. Jangan dulu berpikir untuk membahagiakan orang lain sebelum kamu membahagiakan dirimu sendiri,” terusnya lagi. Sungguh bijak, tapi ada benarnya juga. Membuatku mendefinisikan ulang tentang kehidupan. Membuatku memahami ulang tentang dunia manusia. “Baiklah, aku mengerti sekarang,” responku setelah Sakti berhenti bicara. “Kamu ... gak lagi curhat kan?” tanyaku hati-hati. Sedikit curiga, barangkali dia curhat colongan. “Aku lagi memotivasi kamu. Bukan curhat colongan,” jawabnya tegas. Sikap tegasnya mendadak kembali, padahal tadi lemah lembut dan perhatian. “Iya, iya. Aku paham,” kataku buru-buru. Berharap dia tak akan mengomel meski demi kebaikan. “Ya udah, tidur sana! Aku harus ke kedai,” kata Sakti kemudian. “Emang aku mau tidur. Motivasi pagimu membuat kepalaku makin pusing,” komentarku sambil lantas merebahkan diri lagi. Siap untuk mengistirahatkan diri. Sakti lalu menghela napas. “Padahal, aku sudah harus kembali ke kota. Malah kamu sakit,” ucapnya setelah itu. Mengeluhkan kondisiku. “Aku minta maaf.” “Bukan salahmu. Gak usah merasa bersalah. Aku cuma mengatakan situasinya aja.” “Kapan kamu pergi?” tanyaku ingin tahu. “Nanti sore,” jawab Sakti. “Nanti sebelum pergi, aku akan minta Sekar buat nemenin kamu selama sakit,” katanya lagi. “Ya udah, tidurlah. Jangan banyak pikiran,” sarannya sebelum pergi. Sakti pun menghilang di balik pintu kamarku. Selepas Sakti berangkat ke kedai, aku berpikir keras. Ya, aku tidak tidur dan tidak menuruti saran Sakti. Pikiranku terus menimbang sesuatu. Bertanya-tanya sendiri bagaimana sebaiknya. Tindakan apa yang harus kulakukan dan keputusan apa yang harus kuambil. Setelah berpikir keras, aku pun sampai pada keputusan itu. Pada keputusan yang sudah bulat dan tak bisa diganggu gugat. “Bisakah ... kamu membawaku pergi?” tanyaku saat Sakti kembali. Aku sengaja menunggunya sejak tadi. Bahkan, aku sudah mengemas barang-barangku yang sekiranya perlu dibawa. Aku merasa, ini adalah keputusan yang paling tepat. Seperti kata Ken, aku membutuhkan tubuh ini untuk hidup. Tapi, aku tidak pergi untuk memenuhi keinginan Ken. Aku hanya sedang berusaha melindungi diriku sendiri. Itu saja. “Dengan kondisi begini?” Sakti memastikan. Jelas aku mengangguk mantap. Meyakinkan Sakti dengan keputusanku. “Aku udah merasa lebih baik sekarang. Aku udah cukup kuat buat pergi,” jelasku penuh harap. Aku sangat berharap, Sakti tidak menolakku. “Jangan bohong! Wajah kamu masih kelihatan pucat. Istirahat aja. Lain kali aku jemput kalau memang mau pindah,” kata Sakti. “Gak bisa. Aku harus pergi sekarang,” aku bersikeras. Aku berharap, Sakti memahami situasiku. Bagiku ini sangat darurat. “Kamu hanya perlu bersembunyi di dalam rumah dan gak keluar jika Wulan datang mencarimu,” usul Sakti, menasihati. Tapi, untuk kali ini aku terpaksa harus keras kepala. Aku bersikeras pada keinginanku. “Aku janji, gak akan ngerepotin kamu selama di jalan,” aku masih berusaha meyakinkan. “Aku harus pergi sekarang juga. Kamu boleh turunkan aku di mana aja. Yang penting, bawa aku pergi dari desa ini,” kataku lagi, setengah memohon dan memaksa. Lantas, Sakti melihat bahwa aku juga sudah berkemas. Aku sudah siap untuk pergi. Sakti pun lantas bertanya. “Memangnya kamu mau ke mana?” (*) 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD