BAB 21 PERGI TANPA KATA

1489 Words
Sakti Selama menjadi polisi siluman, aku tak pernah sekalipun ikut campur dalam urusan para pelanggar. Semestinya, selain menertibkan, memberi peringatan, serta mengawasi gerak-gerik siluman, aku tak boleh terlibat dalam apa pun yang dilakukan siluman. Namun kali ini, pada kasus Luna, hanya pada kasus Luna, aku melakukannya. Aku sendiri tidak tahu, kenapa aku melakukannya. Kalau boleh jujur, aku hanya mengikuti kata hatiku saja. Namun bukan Sakti sang polisi siluman, kalau semuanya tidak jelas dan tidak logis bagiku. Maka aku pun mulai bertanya-tanya. “Kenapa aku melakukan semua ini?” batinku sebelum meninggalkan rumah. Lalu hati kecilku punya jawaban sendiri. “Polisi Siluman juga makhluk Tuhan, yang bisa membuat kesalahan,” batinku kemudian. Lantas, aku segera masuk mobil dan menyalakan mesin. Tak lama setelah itu, Luna yang baru selesai mengunci pintu rumah menyusulku. Di depan mobil, gelagatnya menunjukkan ada keraguan untuk pergi. Dia mulai memerhatikan rumahku, lalu memerhatikan rumah sebelah, rumah Ken. Cukup lama dia memandangi rumah Ken. Aku sampai harus membunyikan klakson agar dia cepat masuk. Pasalnya, sore cepat berlalu dan kami tidak boleh sampai terlalu kemalaman. Luna menoleh saat aku membunyikan klakson. Dia lantas segera masuk dan duduk di kursi depan, di samping kemudi. “Kamu yakin mau pergi sekarang?” tanyaku untuk kesekian kalinya. Aku harus memastikan ulang karena Luna terlihat berat meninggalkan rumah.   Luna mengangguk. “Aku harus pergi,” ucapnya kemudian. Seolah memaksa diri dengan keputusannya. “Kamu gak mau ketemu sama Ken dulu?” tanyaku lagi. Barangkali dia ingin pamit dan bertemu untuk terakhir kali. “Buat apa? Gak usah,” jawabnya singkat. “Ayo pergi, sebelum aku berubah pikiran!” kata Luna, sambil lantas memasang sabuk pengaman. Aku pun segera mengemudikan mobil. Meninggalkan desa penuh kenangan bagi siluman kucing di sebelahku. Sepanjang perjalanan, Luna diam saja. Dia tidak tidur, tidak juga berbicara. Aku tahu, badannya masih lemas sehingga membuatnya malas untuk melakukan apa pun. Tapi, dia memaksa pergi seolah tak punya waktu lagi. Dan hal ini membuatku penasaran dengan alasan di balik keputusannya memilih pergi saat ini juga. Sebagai pembuka percakapan, aku menyerahkan amplop kepada Luna. “Apa ini?” tanya Luna saat amplop itu kusodorkan di atas tangannya. Meminta dia untuk mengambilnya. “Ini gajimu selama bekerja di kedai,” jelasku. Amplop berisi uang ini berhasil mengubah ekspresi wajah Luna dalam sekejap. Dengan senang hati, ia menerimanya. Dia bahkan memeriksa berapa jumlahnya. Sambil memegangi uangnya, Luna berkata. “Ini uang pertama yang kudapatkan setelah kembali ke bumi,” ungkapnya senang. Terlihat, senyumnya mengembang dan seolah lupa dengan masalah yang sedang dialaminya. “Tentu saja. Itu hasil kerja kerasmu,” komentarku seketika. “Rasanya aku gak percaya bisa menghasilkan uang sendiri,” ungkapnya lagi. Tersenyum tiada henti sambil memandangi uang itu. Dia lalu mengibas-ngibaskan lembaran uang tersebut. Sungguh, tingkahnya seakan dibuat lupa pada permasalahan pribadi yang begitu serius. Ternyata, uang memang bisa mengubah suasana hati 180 derajat. “Dengan uang itu, kamu mau pergi ke mana?” tanyaku kemudian. Seketika wajah Luna berubah lagi. Dia kelihatan bingung sekarang. “Ke mana saja,” jawabnya pendek. “Ada tempat yang mau dituju?” Luna menggeleng. Dia pun mulai berpikir ke mana dirinya harus pergi. Aku menghela napas. “Aku sudah menduga bakal kayak begini,” ucapku kemudian. Memahami jalan pikiran Luna. Aku paham betul, jelas Luna tak punya tempat tujuan. Pengetahuannya tentang daerah di bumi masih sangat terbatas. “Udah aku bilang, kamu bisa turunkan aku di mana aja. Yang penting jauh dari desa itu,” tegas Luna, mengingatkan kembali. “Aku punya uang sekarang. Jadi, gak ada yang perlu dikhawatirkan. Iya, kan?” terusnya kemudian. Berusaha membuatku untuk tidak mengkhawatirkannya. “Oke lah kalau begitu. Kamu mau aku turunkan di mana? Daerah perkotaan atau masih pedesaan?” “Di mana aja. Tempat yang menurut kamu baik buat aku,” jawabnya lagi. Benar-benar tanpa tujuan. “Tapi aku gak bisa nemenin cari tempat tinggal ya,” kataku. “Iya, gak apa-apa. Aku bisa urus sendiri.” “Yakin?” “Yakin dong. Kan aku bukan manusia. Jadi gak perlu khawatir,” ucapnya bangga. “Justru karena kamu bukan manusia makanya aku gak yakin,” responku seketika. “Tapi, ya sudahlah. Suka-suka kamu aja. Yang penting aku udah ngasih tau kamu batasan apa aja yang boleh dan tidak boleh dilakukan,” kataku. “Lagian, kenapa mendadak sih?” pancingku setelahnya. Luna pun mulai menjelaskan alasannya. “Aku gak punya pilihan lain. Bukankah kamu bilang, aku gak boleh punya perasaan lebih terhadap manusia?” tanya Luna.   “Iya, itu benar.” “Maka dari itu, aku buru-buru pergi. Semakin cepat, semakin baik. Aku harus berada jauh dari orang yang kucintai. Aku harus melupakan Ken. Aku harus bisa hidup tanpanya. Seperti katamu, aku hanya perlu fokus pada diriku sendiri. Aku ingin punya pengalaman yang baik sebagai seorang manusia,” ungkap Luna berterus terang. “Aku keren, kan?” tanyanya di ujung kalimat. Aku pun lantas mengacungkan jempol ke arahnya. “Ya udah, tidurlah! Nanti aku bangunkan kalau udah sampai,” saranku. Aku tahu, badan Luna butuh istirahat. Dia pun mengikuti saranku. Mulai tertidur di tempat duduknya. Beberapa jam kemudian, mobilku sampai di area parkir gedung apartemen. Luna yang sudah cukup lama tertidur, sepertinya mulai menyadari kalau mobil ini telah berhenti. Lantas, dia pun bangun. “Udah sampe ya?” tanyanya kemudian. “Iya, udah sampe,” jawabku sambil meregangkan kedua tangan setelah menyetir berjam-jam. “Di mana ini?” tanya Luna lagi, sambil melepaskan sabuk pengaman. “Di tempatku.” Lantas Luna merasa bingung. “Kenapa kamu bawa aku ke sini? Bukannya aku minta turunin di tengah jalan?” “Kamu pikir aku setega itu? Ngebiarin kamu tanpa tujuan di tempat yang asing bagimu? Nona siluman, dunia sudah berubah. Tidak seperti di zamanmu saat belum ke bulan. Itu akan membahayakanmu,” tuturku. Luna pun hanya diam mendengarku bicara. “Ayo, turun! Kita bahas kelanjutannya di rumah,” kataku setelah itu.   Luna pun turun lebih dulu. Sementara di dalam mobil, sebelum turun aku bergumam. “Aku benar-benar melakukan kesalahan.” *** Ken Sejak petang, aku merasa ada yang salah dengan rumah sebelah. Aku tak melihat mobil Sakti terparkir di halamannya. Lampu luarnya juga tak menyala. Sepertinya tak ada orang di dalam sana. Sekilas, aku teringat permintaanku terhadap Luna. Aku sempat memintanya untuk pergi membawa lari tubuh Wulan sejauh mungkin. Lantas, aku jadi penasaran sendiri. Untuk memastikan, aku pun mengunjungi rumah itu.  Kuketuk pintu rumah itu, namun tak ada jawaban. “Permisi!” seruku di sela ketukan pintu. Tak ada yang menyahut. "Luna! Sakti!" panggilku untuk lebih memastikan. Namun tetap tak ada sahutan. Juga tak ada yang datang.   Kulihat, lampu di dalam juga tak ada yang menyala. Keadaannya sangat hening. Seperti sebelum-sebelumnya. Membuatku jadi yakin bahwa rumah ini kembali tak berpenghuni.    Tak lama setelah itu, muncul seseorang dari belakangku. Dia membuatku terkejut karena hampir tertubruk olehku yang baru berbalik badan untuk meninggalkan rumah itu. Kata orang, dia adalah Niko, kepala desa di sini. Kata orang juga, dia adalah teman baiknya Sakti, investor dari kota yang punya peran penting dalam membangun desa ini, yang tak lain adalah tetanggaku. "Cari siapa?" tanyanya kepadaku.    "Pemilik rumah," jawabku pendek. "Apa mereka sedang pergi?" tanyaku basa-basi.    "Mereka pindah ke kota tadi sore," terang orang itu.    "Oh, begitu rupanya," kataku sesingkat mungkin. Sedangkan dalam hati, aku merasa sangat lega.    "Ada yang mau disampaikan? Biar saya hubungi nanti," katanya lagi.    "Tidak perlu. Tidak usah. Saya pamit dulu," ucapku undur diri lebih dulu.    Lantas, aku berlalu meninggalkan Niko yang datang untuk menyalakan lampu luar dan mengambil kunci rumah yang sengaja disimpan pemiliknya di suatu tempat. Rupanya, pemilik rumah memintanya untuk mengambil kunci rumah itu.   Saat keluar dari halaman rumah Sakti, aku dikejutkan lagi oleh keberadaan Wulan yang berdiri mematung di balik pagar rumah Sakti. Aku tidak tahu sejak kapan Wulan berdiri di situ. Satu yang pasti, Wulan telah mendengar semua percakapan singkatku dengan Niko. Dia telah mendengar berita tentang kepindahan Luna dan Sakti.   “Kamu baik-baik aja?” tanyaku cemas. Aku tahu ini kabar buruk bagi Wulan. Dia jelas tak menginginkan ini terjadi. Dia tak pernah mengharapkan kejadian ini berlangsung.   Seketika, tubuh Wulan ambruk. Dia terduduk lesu di pinggir jalan, tepat di hadapanku. Pandangannya kosong dan ia terlihat syok. Wulan tak pernah menyangka bahwa Luna akan melarikan diri dengan tubuhnya. Melihat itu, aku tak bisa berbuat apa-apa. Di satu sisi aku merasa bersalah, sedangkan di sisi lainnya, aku sangat bersyukur karena Luna mau mendengarkanku.   Selang beberapa detik, Wulan bangkit dari duduknya. “Nggak. Aku pasti salah dengar,” ucapnya tiba-tiba. Lantas ia berlari ke rumah Sakti untuk memastikannya sendiri. Spontan aku mencegahnya dan memaksanya kembali ke rumah, karena di sana masih ada Niko. Niko tak boleh melihat Wulan. Mereka tak boleh bertemu. Keberadaan Wulan tetap harus kusembunyikan dari orang-orang di kampung, ataupun di desa ini.   “Luna!” teriak Wulan seketika. “Lepasin aku! Aku mau cari orang itu,” Wulan meronta-ronta. Dia berusaha melepaskan diri dari aku yang susah payah menyeretnya mundur. “Luna!” teriaknya lagi. Membuatku terpaksa harus membekap mulutnya supaya ia tak bersuara.   (*)
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD