Mungkin karena saking bahagianya dengan kehadiran putra sulungnya, Harja hampir saja lupa bahwa ada Sindi yang masih duduk di kursi makan di apartemennya. “Oiya, Bayu. Ini Sindi,” ujar Harja yang gugup. Bayu tertawa kecil, dia sudah mengenal Sindi, dan Sindi yang juga tertawa. Tampaknya Sindi sudah bisa menguasai dirinya dan lebih santai. Bayu berdiri mendekati Sindi dan menyalaminya. “Cium dong, aku ini calon mama tirimu,” ujar Sindi dengan gaya khasnya. Bayu mencium punggung tangan Sindi sambil menahan tawa, mengingat kembali pertemuan pertamanya dengan Sindi di kantor Sindi dan perbincangan akrabnya. “Ah, aku baru sadar kalo kalian memang saling mengenal,” decak Harja, menepuk dahinya. “Sudah sarapan, Bayu?” tanya Sindi, dia mengakui Bayu yang semakin tampan dan tegap dibandingka

