Bertemu

1006 Words
“Yasudah mbak adira langsung ke atas ya, pak rehan udah nunggu khusus buat mbak." Adira terkejut mendengar ucapan pak usman, “Pak kok malah di tungguin? bukannya pak rehan mau ke AS?" ujar adira memastikan. “Awalnya sih gitu, tapi karena mbak buat ulah. Dan mobilnya belum selesai jadi bapak mau ketemu mbak sekarang juga." Adira menghela nafas nya berat, “Pak kalau pak rehan mukul saya gimana?" adira merapatkan tubuhnya pada buk munaroh. Buk munaroh mengelus pundak adira, “Mbak tenang bapak baik kok," ujarnya sembari menatap ke arah atas. “Pak usman mana wanita itu?" Tiba-tiba saja seseorang muncul dari arah dalam, Dia menatap adira, “Apa anda orang yang tuan tunggu?" ujarnya. Adira menatap pak usman takut, kenapa sangar sekali orang-orang yang bekerja disana. “Iya ini mbak adira, tolong di antar ya ke atas. saya masih ada pekerjaan lain." Pria itu mengangguk, “Ayo," ujarnya mengangguk ke arah adira. adira mengikuti langkah kaki pria itu, keringat dingin mulai mengucur deras di pelipis wajahnya. matanya awas menatap ke sekelilingnya, rumah itu begitu dingin. “Silahkan masuk, tuan ada di dalam. jangan membuat onar jika mau pulang dengan selamat," ujar nya menatap adira dengan tajam. adira mengangguk sembari menatap ke arah pintu yang masih tertutup, “Apa tuan juga ikut masuk?" ujarnya melirik ke arah pria itu. “Tidak," jawabnya singkat. Ceklek “Masuk," ujarnya mempersilahkan adira masuk ke dalam. Adira melangkahkan kakinya masuk ke dalam, jantung nya yang semula biasa saja kini mulai berdebar tak beraturan. Saat di dalam adira tak mendapati siapapun, melainkan hanya alat-alat olahraga. ehem! Adira berbalik dan mendapati rehan sudah berada di belakangnya sedang mengelap keringat, “Kau sudah sampai?" ujarnya dingin sembari berjalan mendahului adira. “Tuan, tolong lah saya. saya benar-benar tidak memiliki uang untuk mengganti kerugian itu." Rehan duduk di sofa yang ada di ruangan itu, “Lalu," ujarnya tersenyum miring. Adira menunduk, “Berikan saya pekerjaan tuan, agar saya bisa melunasi semua hutang itu," bujuk nya. Rehan menyenderkan punggungnya dan menatap ke langit-langit ruangan, “Sayangnya aku tidak tertarik memberi mu pekerjaan," ujarnya. Adira menghela nafas berat, “Lalu saya harus bagaimana tuan?" adira berjalan semakin mendekat ke arah rehan. “Apa yang bisa kau lakukan untuk ku?" ujar rehan yang berhasil membuat adira kebingungan. “bersujud" Adira menatap rehan tak suka, “Apa maksud anda?" ujarnya mulai emosi. Rehan kembali menegakkan punggungnya, “Kau tidak paham?" rehan menarik sebelah alisnya, “Kurasa kau tidaklah bodoh untuk memahami maksud ku," rehan bangkit dari duduknya dqn berjalan ke arah adira. Kini rehan dan adira sudah berdiri berdekatan, jarak mereka tinggal beberapa centi saja. Rehan membungkukkan badannya membuat wajah mereka semakin dekat, “Bersujud agar aku memberi mu pekerjaan," bisik rehan. Adira memundurkan tubuhnya, “Sampai mati saya tidak akan bersujud pada manusia hina seperti anda!" teriak adira sembari menunjuk wajah rehan. melihat keberanian adira rehan lantas tersenyum miring, “kau yakin?" ucapnya seperti meremehkan. “Tentu, jika kau tak ingin memberikan keringanan padaku aku tak masalah. kau yang akan rugi, jika kau melaporkan ku pada pihak berwajib itu justru menguntungkan ku karena dengan begitu aku tidak perlu bekerja untuk mencari makan." prok prok prok! Rehan bertepuk tangan, “Kau benar-benar berani, sayangnya aku tidak tertarik untuk melaporkan mu." “Begini saja," Rehan berjalan mengitari adira sambil menopang dagunya, “Turuti kemauan ku tadi maka semua hutang mu ku anggap lunas, bagaimana?" ujarnya. Adira berbalik menatap tajam rehan, “Jika itu kemauan anda, maka jangan harap hutang itu akan lunas," adira berjalan keluar meninggalkan rehan yang entah memikirkan apa sekarang. ceklek! Brak! “Loh mbak adira, kenapa apa ada masalah?" buk Munaroh menghampiri adira dengan perasaan khawatir. Adira menggeleng dia memegang tangan bu munaroh,“Saya gapapa kok buk, kalau begitu saya pamit pulang dulu. terimakasih ya buk untuk tumpangan nya," adira langsung berlalu meninggalkan bu munaroh tanpa mendengar jawabannya. bingung melihat keanehan itu bu munaroh lantas berjalan turun ke bawah, “Bapak, ada lihat mbak adira ndak?" ujar bu munaroh menatap ke sekelilingnya. Pak usman yang tengah mengelap mobil lantas menggeleng, “Ndak buk memang kenapa toh?" ujar pak usman. “Nah itu dia pak, ibu bingung mbak adira keluar dari ruang olahraga bapak tapi mukanya kayak nangis gitu lo. ibu jadi khawatir," ujar bu munaroh. Pak usman yang ingin menjawab langsung menutup kembali mulutnya, “Tuan," sapanya sembari menunduk sopan. “Eh tuan," ujar bu munaroh juga. Rehan tampak merapikan baju santai nya, “Antar saya ke bengkel pak," ujar rehan dan langsung masuk ke dalam mobil. “Udah buk bapak antar tuan dulu, nanti lagi kita bahas soal neng adira," ujarnya yang di balas anggukan oleh bu munaroh. Di lain tempat kini adira sedang duduk seorang diri menangis, “Dunia memang kejam ya, bapak ibu kenapa gak bawa adira sih," gumam nya. Adira menatap ke arah danau yang begitu tenang, “Orang kaya memang keterlaluan, mereka melakukan apapun yang mereka mau. Bahkan meminta untuk orang lain bersujud padanya," adira menggeleng dan menyeka air matanya. “Baiklah adira semangat, kau pasti bisa ayo cari pekerjaan yang baik dan lunasi hutang-hutang mu," ucapnya dalam hati menyemangati dirinya sendiri. Adira bangkit dari duduknya dan berjalan pergi dari area danau, biasanya dia akan berlama-lama disana untuk mengingat kenangan bersama orang tuanya. tapi kini itu tidak mungkin dia lakukan, jika terlalu lama dia akan tiba di rumah kontrakan nya larut malam karena kini dia harus berjalan kaki sampai kesana. 2 jam berlalu, kini adira tiba di rumah kontrakan nya tapi apa ini kenapa semua barang nya berada di luar? “Buk kenapa barang saya di luar?" ujarnya pada pemilik kontrakan. “Kamu saya usir," ujarnya santai sambil melempar pakaian adira. Adira memungut pakaiannya, “Saya udah bayar kontrakan buk kenapa di usir?" ucapnya tak Terima. pemilik kontrakan itu memutar bola matanya malas, “Nyicil dan sering telat, sekarang ada yang mau isi dan udah bayar dua tahun ke depan jadi udah kamu pergi dari sini," wanita itu langsung pergi setelah mengatakan itu membuat tubuh adira luruh. “Hiks hiks apa lagi ini, kenapa berat sekali ujian hidup ku."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD