Kecelakaan

1026 Words
“Emm tuan maaf, apa boleh saya bertanya?" pak usman melirik rehan dari kaca spion dengan harap cemas. “Silahkan pak," ujar rehan yang masih fokus pada tablet nya. “Eumm begini tuan soal neng adira, dia itu anu tuan..." “Saya tau," rehan melirik ke arah luar jendela, “Dia itu anak yatim piatu kan pak?" ujar rehan sembari memutar pandang ke arah pak usman. Pak usman mengangguk,“Iya pak, boleh tidak pak beri keringanan. kasihan, mana masih kecil," bujuk pak usman. Rehan tak menanggapi ucapan pak usman itu, dia kembali mengotak atik tablet nya seperti sedang mengerjakan sesuatu. sesampainya di bengkel rehan langsung turun dan menemui pemilik bengkel. “Huh kasihan neng adira," gumam pak usman menatap kepergian rehan dengan sendu. Hanya berselang 15 menit rehan sudah kembali terlihat, “Kita langsung pulang pak," ujarnya yang di jawab anggukan oleh pak usman. “Saya tidak mau tau pak," Rehan menutup tablet nya, “sebelum saya berangkat ke Amerika saya mau bapak membawa wanita itu pada saya!" ujarnya tegas. Pak usman yang mendengar itu lantas terkejut, “Tuan, tuan tidak berniat untuk melakukan sesuatu kan?" ucapnya ketakutan. “Itu urusan saya pak, bagaimanapun caranya saya mau hari ini lebih lambat besok dia harus ada di hadapan saya." Mendengar perintah itu pak usman tak dapat lagi menolak, takut jika terlalu ikut campur malah berdampak pada dirinya. Bagaimanapun Rehan sudah banyak membantunya. ********************************************** Di lain tempat kini adira sedang berjalan seorang diri di bawah rintik hujan, sudah lewat 2 jam lebih dia berada di jalanan tapi sampai sekarang dia bingung harus kemana. Adira menghentikan langkah kaki nya, ia menjatuhkan tubuhnya di atas air yang menggenang hingga pakaiannya basah seketika. “Hiks hiks, kenapa pak buk kenapa adira sendiri? kenapa tidak ajak adira ikut bersama kalian?" lirih nya menengadah ke arah langit. “Apa aku mati saja? dengan begitu aku tidak akan lagi merasa susah," gumam adira mulai memikirkan hal negatif. Tin tin! Adira memutar pandangan nya, melirik ke arah belakang dimana mobil berlalu lalang. adira bangkit dari posisinya dan berjalan ke tengah jalan, “Maaf Pak buk, adira udah gak kuat," lirih nya sambil merentangkan tangan nya dan memposisikan dirinya di tengah. Terlihat dari beberapa meter di depan nya, sebuah mobil yang kecepatannya lumayan tinggi datang menghampiri. Tin tin! Adira menutup matanya, terdengar suara ban mobil yang terseret akibat pengemudi berusaha mengerem agar tidak terjadi kecelakaan. Brak! Tabrakan tak dapat di hindari. ********************************************** “Hiks hiks!" “Mbak adira ya allah," buk munaroh langsung memeluk tubuh adira yang sedang menangis itu. Adira menatap buk munaroh, “maafin adira buk," adira membalas pelukan buk munaroh dengan tangisan semakin kuat. “Kenapa jadi begini mbak?" tanya bu munaroh. “Adira mau..." “Kau ingin bunuh diri begitu? " Tiba-tiba saja rehan sudah berada di hadapan mereka, dan memotong ucapan adira. adira menunduk dalam, dia merasa dirinya adalah orang yang benar-benar menyusahkan. pengacau dan pembuat musibah. “Maaf" Hanya itu yang terucap dari bibir adira, mendengar ucapan itu rehan tak langsung menjawab. Rehan melipat kedua tangannya, “Sekarang akibat perbuatan mu yang tidak berfikir itu orang lain terluka bukan begitu?" ujar rehan menatap adira kesal. “Hiks hiks!" adira kembali menangis sembari menutup wajahnya, “Aku benar-benar tidak tau harus melakukan apa," isaknya. Bu munaroh yang paham kondisi adira lantas mengelus pundak nya, berusaha memberikan ketenangan padanya. “Permisi," seorang perawat menghampiri mereka, “apa tuan yang menjadi penanggung jawab pasien?" ujarnya membuat adira terkejut. Adira menggeleng, “Bukan tapi saya mbak, saya yang bertanggungjawab atas pasien," ujar adira sembari bangkit dari duduknya. Sang perawat lantas mengangguk, “Kalau begitu silahkan urus administrasi nya ya mbak, pasien harus segera di operasi!" Adira kembali terpaku, biaya operasi? gumam nya pilu. ********************************************** flashback Adira menutup matanya, sebentar lagi dirinya akan ikut menyusul kedua orang tuanya. tak ada lagi masalah, tak ada lagi kesulitan dia akan tenang meskipun dia yakin Tuhan tidak akan mengampuninya. Tinnnnnnnn Brak! Adira membuka matanya sesaat setelah mendengar suara dentuman keras itu, di depan matanya terlihat mobil yang harusnya menabrak dirinya kini malah berada di pembatas jalan. itu berarti sang sopir membanting stir untuk mengelak menghindari dirinya. Tak lama banyak orang-orang datang kesana menolong sang sopir, terlihat dari tempat nya berdiri sopir tersebut mengalami luka parah akibat tabrakan keras itu. Kini disini lah adira kini, berdiri di hadapan pihak rumah sakit bagian administrasi. “Ini mbak semua rincian biaya nya," sang perawat memberikan selebaran kertas pada adira. adira membaca setiap kata di dalam kertas itu, hingga matanya tertuju pada total biaya. “50 juta," gumam nya terkejut. “Mbak tolong selamatkan bapak itu, saya pasti akan melunasi semua biayanya!" adira mencoba meminta keringanan. sang perawat menghela nafas berat, “Maaf mbak saya hanya petugas disini, dan tidak punya hak memutuskan sesuai prosedur nya anda harus melunasi semua itu agar pasien dapat di tangani." “saya lunasi sekarang," Rehan meletakkan credit card nya di atas meja di hadapan adira. Adira menatap rehan dengan wajah yang memerah, “Ini semua karena anda, jika anda punya rasa kemanusiaan sedikit saja tidak mungkin ini semua terjadi!" Adira langsung pergi setelah mengatakan hal itu pada rehan. Sedangkan rehan menatap kepergian adira dengan pandangan entahlah, begitu datar dan tidak menjawab apapun. ********************************************** Akhirnya setelah melakukan berbagai rangkaian kini korban kecelakaan bisa di tangani, bukan hanya biaya operasi bahkan rehan juga memberikan mobil baru pada pengemudi itu. “Terimakasih tuan, anda benar-benar dermawan," ujar istri sang sopir pada rehan. Rehan mengangguk, kemudian ia menatap ke arah pintu, “Ada yang ingin bertemu dengan bapak," ujarnya. tak lama berselang, buk munaroh berikut pak usman dan tentunya adira masuk kesana. melihat kedatangan ketiga orang itu, sopir itu langsung mengenali adira. “Kamu, kamu bukannya perempuan yang berdiri di tengah jalan itu?" ujarnya sembari berusaha untuk duduk dari posisi tidur nya. Adira menunduk tak berani menjawab. “Oh jadi ini perempuan itu, gara-gara kamu bapak saya hampir mati!" Tiba-tiba saja putri dari pasangan itu menghampiri adira dan memarahinya. Adira lantas mengangkat wajahnya, “Saya benar-benar minta maaf!" lirih adira begitu tulus. Wanita yang sepertinya seumuran adira itu menatap sinis adira sembari berkacak pinggang, “Kalau bukan karna tuan rehan mungkin bapak udah di kuburin sekarang, dasar perempuan sial!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD