Aldrich memijat kepalanya dengan decakan kesal dari mulutnya, "Ini sulit..."
Angela mengangkat kepalanya menatap Aldrich, "Apakah kau ingin menyerah?" tanya Angela membuat Aldrich hanya terdiam, pria itu tak menggubrisnya.
Tidak sama sekali...
"Apa yang kau risaukan, kau bisa berbagi dengan ku."
Aldrich menatap Angela, "Kita gagal melobi pihak Lorectra Group untuk menjadi investor pendukung agar kita dapat masuk dalam daftar lelang proyek besar yang akan datang."
"Apakah dengan MARC Group sebagai investor pendukung MC Company, itu tidak bisa?" tanya Angela semakin tak paham dengan situasi ini, karena biasanya segala proyek yang diambil hanya perlu persetujuan dan dukungan dari MARC Group.
"Karena kegagalan mega proyek itu, beberapa investor ternama mengalami kerugian besar dan MC Company yang membawa nama anak perusahaan dari MARC Group turut merusak citra perusahaan ku. Tidak ada yang berani mengambil resiko besar untuk kita yang dalam keadaan defisit mengambil proyek besar yang akan datang." jelas Aldrich membuat Angela mengangguk paham.
"Lalu, mengapa kau terlihat yakin akan mendapatkan dan memenangkan lelang proyek itu? Bukankah kau mengambil resiko disaat tahu akan kalah sebelum berperang?" tanya Angela membuat Aldrich mengangguk pelan.
"Hanya ini yang merupakan salah satu cara ku untuk mempertahankan perusahaan kontraktor ini dan mengembalikan citra MARC Group dalam bertanggung jawab atas anak perusahaannya."
"Dengan resiko yang besar?" tanya Angela memastikan.
"Dengan berbagai macam resiko dan hasil akhir apapun, aku hanya ingin berjuang dan mempertahankan perusahaan ini. 10.980 pekerja termasuk dirimu dan para pekerja lapangan yang terancam kehilangan pekerjaan karena kebodohan Ray Alexander." ucap Aldrich membuat Angela tak sanggup mengatakan apapun lagi.
Dengan uang proyek yang cukup besar, pasti sudah dapat dipakai untuk membangun bangunan agar memenuhi syarat kuat, awet, indah, fungsional dan ekonomis. Namun Ray Alexander lebih memilih menggunakan uang proyek itu secara pribadi dan memilih bahan-bahan untuk pembangunan yang sangat standar untuk menekan biaya. Angela sungguh tak menyangka selain bodoh, Ray Alexander juga sangat serakah.
"Bagaimana jika kau menggunakan cara kekeluargaan untuk melobi para investor? Kita hanya perlu 6 investor besar lainnya kan?" tanya Angela membuat Aldrich terdiam secara berpikir.
"Pertemuan santai disebuah klub malam rahasia di Southampton, kau memiliki akses kesana, bukan?"
Aldrich mulai mempertimbangkan ide Angela, "Buat pesta yang menyenangkan di malam hari dan perjamuan yang mengesankan di pagi hari. Kau bisa menunjukkan kepiawaian mu dalam melobi. Meyakinkan mereka mendapatkan keuntungan yang sepadan setelah proyek itu berhasil kau dapatkan.
"Aku rasa itu ide yang sangat bagus." ucap Aldrich membuat Angela tersenyum senang.
"Kau bisa mengandalkan otak cemerlang ku dikala pikiran mu buntu, aku bisa membantumu dengan menjadi tim kerja yang sempurna." ucap Angela terdengar menyombongkan diri.
"Aku akan meminta persetujuan kaki tangan ku terlebih dulu." ucap aldrich meraih ponselnya untuk menghubungi seseorang.
"Ya, ada apa Al?" sapa santai orang kepercayaannya diseberang sana membuat Aldrich mendengus pelan.
"Begini, mengenai Lorectra Group yang menolak proposal kerjasama dengan kami, bisakah kita mengundangnya kedalan sebuah pertemuan santai dan menyenangkan di resor ku yang berada di Southampton?" tanya Aldrich membawa hening diseberang sana.
"Menurutku ide mu tidak buruk, aku akan segera melobi mereka agar dapat menyesuaikan lokasi pertemuan dan berapa wanita penghibur yang harus dikirimkan serta"
Aldrich menganggukkan kepalanya, "Baiklah, Lorectra Group, Simimosa Team dan Parklean Company. aku membutuhkan konstribusi mereka untuk membantu ku, Jo"
"Jangan lupa, masukkan Gremlin Group dalam daftar tamu undangan." sela Angela yang menyimak percakapan Aldrich dengan rekannya itu.
"Gremlin Group?" tanya Aldrich menatap angela dan wanita itu mengangguk mantap.
"Aku rasa kita sangat memerlukannya."
"Ya Aldrich, Gremlin Group adalah perusahaan kotruksi yang berkompeten dan selalu membantu MC Group menyelesaikan proyek dengan sempurna selama ini. Hanya saja, entah mengapa si i***t Alexander tidak memakai jasa Gremlin untuk membantu pengerjaan proyeknya."
Aldrich menganggukkan kepalanya, "Baiklah, tolong secepatnya atur jadwal untuk kami, Jo. Aku akan menunggu kabar selanjutnya darimu."
"Baik itu kabar baik ataukah buruk?"
Aldrich memutar kedua bola matanya malas dengan godaan yang Jonathan lemparkan.
"Apa yang kau harapkan dariku jika mengatur waktu untuk pertemuan khusus saja, kau tidak bisa?" tanya Aldrich sinis.
"Jadi, apa yang sekretaris bersuara serak-serak basah mu itu dapat kerjakan untuk mu?"
"Hentikan omong kosong mu, Jonathan! Teriak Aldrich kesal dan tawa Jonathan memecah diseberang sana.
Angela melirik kearah Aldrich ditengah kesibukannya mengetik salinan tulisan bak cakar ayam pria itu. Tulisan jelek dan perangai yang jelek. Terlebih memiliki temperament yang buruk, mengalahkan perempuan yang sedang menstruarsi seperti dirinya.
Pria itu adalah Aldrch i***t Spanos. Nama tengah yang sangat sempurna untuk Aldrich Spanos.
"Hei, calm down Al. aku pasti akan segera mengaturjadwal pertemuan itu untuk mu. Jonathan Briks tak pernah gagal untuk itu. Ah ya, berarti aku juga perlu mempersiapkan lebih dari 6 orang untuk menemanimu tamu mu agar mereka tidak kelaparan melihat sekretaris seksi mu itu."
"Terserah kau saja, lakukan yang terbaik dan segera kabari aku." ucap Aldrich alas, Jonathan memang senang membuat darahnya mendidih, tak jauh berbeda dengan Angela.
Dasar troublemaker!
"Oh ya, apakah sekretarismu yang sekarang jauh lebih seksi dari Jane?"
"You better Shut up, Briks!" bentak Aldrich lantang dan matanya tanpa segaja menatap lirikan sinis Angela untuknya.
"Kau tahu, Al. Jane baru saja melakukan filler bibir. bibirnya seperti tersengat tawon. Hahaha!!" Jonathan menceritakan sekretaris yang senang menggodanya di MARC Group.
Menarik dasinya kesal, "Aku tidak bertanya dan tak ingin tahu sama sekali" desis Aldrich hendak mengakhiri panggilan telepon itu.
"Kau tahu, Betty boob perusahaan ini sedang bersiap untuk menyambut mu kembali dengan bibir seksinya. Hahahahaa!!!"
Pip!
"Sialan, Jonathan..." gumam Aldrich yang menatap Angela yang masih sibuk mengetik point-to-point strategi untuk rapat selanjutnya setelah mereka mendapatkan dukungan penuh para investor.
"Angela"
"Hem?" gumam Angela sebagai jawaban.
Aldrich berdecak pelan, "Terima kasih atas saran terbaik mu, orang ku akan segera melobi waktu untuk pertemuan tersebut. Kau juga harus mempersiapkan waktu mu untuk menemani ku."
Angela lantas mengangkat kepalanya menatap Aldrich dengan tatapan yang aneh, "Tentu saja aku harus menemanimu disemua pertemuan. Tapi ini pertemuan pribadi, bukankah terkesan aneh jika aku bersama mu? Setidaknya kau harus menyewa jalang untuk bermalam dengamu jika memang istri mu tidak memungkinkan ikut serta." protesnya membuat Aldrich tertawa.
"Oh Angela, bukankah sebagai tim kerja yang sempurna, kau harus selalu berada disisi ku? Saat kesulitan, aku butuh teman untuk berunding." ucap Aldrich memberikan alasan yang cukup masuk akal bagi Angela.
"Baiklah, kabari saja nanti. Aku pasti akan bersedia meluangkan waktu kapanpun itu untuk pekerjaan." ucap Angela mebuat senyuman nakal terbit di wajah Aldrich.
"Kau memang sekretaris yang pintar. Pintar memahami situasi, pintar menempatkan diri dan pintar menggoda. Lihat saja, kau bahkan memakai bantalan b****g hari ini untuk menggoda ku..."
Brak!
"Jaga mulut mu, Spanos!" teriak angela berdiri dari duduknya, berjalan bak model dengan irama ketukan High heels kearah Aldrich. Pria itu sepertinya tidak paham betapa sensitifnya wanita yang sedang menghadapi menstruarsi hari pertama.
Aldrich masih menatap angela dengan senyuman meremehkan yang khas dari wajah Spayol-Amerika nya yang menawan.
Angela mencondongkan tubuhnya menunduk hingga bibirnya menyentuh daun telinga Aldrich, "Kau tahu? Banyak manusia yang dapat binasa karena tak dapat menjaga ucapannya..." bisik Angela menarik tangan Aldrich menyentuh bokongnya.
"Woah, tiba-tiba aku merasa, takut..." ucap Aldrich lalu membelak kaget, "Apa yang kau lakukan, Angela?" teriaknya saat Angela membawa masuk kedalam rok span wanita itu, Aldrich berusaha menguasai pikiran mesumnya saat tangannya menyentuh kulit b****g Angela yang lembut berakhir menemukan tali g-string yang terselip di antara gundukan kenyal itu. Tiba-tiba Aldrich merasa begitu penasaran dengan warna benda yang paling beruntung itu. Terselip diantara gundukan b****g Angela yang indah.
Ugh! Envy with you girl!
Jeritan otak m***m Aldrich tiba-tiba buyar saat Angela menarik kerah bajunya, "Hati-hati jika berbicara, Presdir. b****g ku terangkat dengan sempurna berkat high heels baru ku." bisik wanita itu membuat Aldrich mengumpat dalam hati. Lebih dari empat hari belakangan ini, angela mengenakan sandal yang membuat tubuhnya terlihat imut dan menggemaskan. Aldrich benar-benar melupakan penampilan Angela sejak awal memang seperti sekarang.
Aldrich memamerkan barisan giginya tanpa dosa, "Maafkan aku, Angela. Aku hanya bermaksud menggoda mu tadi..."
"Berhenti menggoda ku, jika begitu!" bentak Angela memukul d**a bidangnya membuat Aldrich meneguk ludahnya kasar.
Angela hendak pergi, namun Aldrich menarik tubuhnya hingga terduduk diatas pangkuannnya.
"Lepaskan aku, Aldrich!" teriak Angela kembali memukul d**a bidang pria itu.
Aldrich menahan pinggang ramping Angela dalam pelukannya yang erat, "Kemana, sekretaris ku yang senang menggoda, hem?" tanya Aldrich menatap Angela dengan seksama.
"Kenapa? Apa kau kecanduan dengan godaan ku, Mr. Spanos? Mulai menjilati ludah mu sendiri?" tanya angela sinis dan Aldrich terkekeh ringan.
"Obat apa yang kau minum hingga segalak ini padaku?" tanya Aldrich tak melepaskan tatapan matanya dari mata indah Angela.
"Lepaskan aku, Mr. Spanos! Aku sudah sangat lapar!" teriak Angela kesal.
"Katakan padaku, obat apa yang kau minum malam tadi hingga menjadi begitu sensitif?" bisik Aldrich tak mau menyerah pada Angela yang begitu sensitif hari ini padanya.
"Aku meminum s****a! Sudah puas?" teriak Angela membuat Aldrich menggeleng sembari tertawa.
"Apakah ingin meminum s****a ku, sekarang?" bisik Aldrich menggoda Angela yang kembali memukul dadanya.
"Lepaskan, Spanos!" teriak Angela semakin mengancam.
"Oh Ayolah, Angela..." ucap Aldrich dengan suara beratnya mengecup leher jenjang Angela yang kini mendongak bagai kehilangan arah atas tujuannya untuk melepaskan diri.
"Nghh..." desah Angela saat Aldrich meremas payudaranya yang sensitif .
Tangan Aldrich pun meremas b****g Angela dan hendak menelusupkan jarinya kedalam sana.
Angela yang memejam menikmati cumbuan Aldrich sontak membelak, "Aldrich! kau menyenggol menstrual cup ku!" teriaknya refleks melayangkan tamparan kepada bosnya itu.
Plak!
"Angela!" teriak Aldrich tak terima.
"Bagaimana jika kau melepas menstrual cup ku?!" teriak Angela kesal.
"Aldrich berkedip tak mengerti, apa itu gelas menstruarsi? Kau sedang menstruarsi?" tanya Aldrich berkedip bagai i***t.
Wajah Angela menjadi merah padam karenanya, "Iya bodoh, kau tidak tahu bagaimana wanita yang sedang menghadapi haid hari pertama bisa membuatmu impoten!" bentak Angela kesal dan turun dari pangkuan Aldrich.
"Bagaimana dengan makan siang bersama?" tanya Aldrich merasa malu dan tak enak hati dengan Angela.
Angela menutup laptopnya dan membawa barang-barangnya, "Makanan ku sudah menunggu di meja kerja ku. Printout berkas akan ku kirimkan setelah makan siang." ucapnya ketus hendak keluar dari ruangan itu, namun suara Aldrich kembali menahannya.
"Angela, tolong pesankan kopi dan makan siang untuk ku." ucap Aldrich membuat Angela membuang napasnya pelan.
"Makanan apa yang kau inginkan?" tanya Angela memastikan.
"Sama sepertimu saja." ucap Aldrich tak tahu apa yang harus dia pesan.
"Smoke beef burrito?" tanya Angela memastikan.
"Ya, tolong kau yang antarkan kemari, ya?" ucap Aldrich memastikan.
Menghembuskan napasnya kasar, "Merepotkan, sekali!" teriak angela kesal. Segera keluar dari ruangan itu dengan bantingan pintu.
Blam!
Aldrich terperanjat, lalu menyunggingkan senyum.
"Dasar wanita yang sedang menstruarsi..." gumam Aldrich terkekeh geli.
Ini seperti pengalaman pertama untuknya, menghadapi wanita yang sedang menstruarsi. Sungguh sangat galak.
Aldrich pun tertawa mengusap wajahnya kasar, "Kau wanita pertama yang blak-blakan mengatakan sedang datang bulan padaku, Angela..."
"Hahahahaaa!!!" tawa Aldrich pun memecah. Mungkin pria itu memang sudah gila.
Sementara diluar sana Angela menepuk wajahnya yang memerah bagai tomat, "Aaah, aku malu, sekali..." gumamnya kesal. Angela seperti kehilangan muka di depan pria bodoh itu, sialan!
Aldrich selalu berhasil mengacaukan hidupnya....