SS5 - Really want you, Angela...

1521 Words
Beberapa hari kemudian... "Sudah seminggu berlalu dari rapat terakhir, tapi sampai hari ini Mr. Spanos belum mengadakan rapat lanjutan." Jason mengungkapkan rasa bingungnya. "Apa rencana pengambilan proyek besar itu dibatalkan?" tanya Brenda salah seorang sekretaris kepala staf perencanaan prusahaan merasa khawatir. "Jika tak ada proyek sama sekali, meski kita semua menyelesaikan proyek yang tersisa dengan baik, aku khawatir dengan terjadinya penyusutan karyawan" ucap Isabelle mendapat anggukan rekan-rekan kerjanya. "Iri sekali rasanya melihat pegawai tetap dari MARC Group, mereka tetap terlihat sibuk dengan kesibukan mereka masing-masing. Tanpa perlu memikirkan bagaimana nasib perusahaan ini nantinya."  "Kalian tahu? Sepertinya Spanos gagal bernegosiasi dengan pihak sponsor.” ucap Julian tiba-tiba duduk diantara para karyawan yang terlihat semakin cemas. “OMG! Jika dia menyerah, lantas bagaimana nasib perusahaan kita?”  tanya Brenda semakin cemas. “Penyusutan pegawai memungkinkan terjadi dan yang paling menyeramkan adalah perusahaan ini akan ditutup atau di lebur menjadi satu dengan MARC Group. Semua pegawai akan mengalami penyesuaian hingga kehilangan pekerjaan.” “Termasuk dirimu dan mulutmu yang senang menyebar gosip?” tanya Angela membuat Julian terkesiap. Tersenyum canggung seraya menggaruk kepalanya, “Aku hanya menyampaikan prediksi Angela, bukannya gosip.” sanggah Julian. Angela memutar kedua bola matanya malas, “Tim inti dari MARC Group bekerja dengan confident membantu untuk mengikuti lelang proyek, apakah kalian hanya ingin berada disini saja dan bergosip?” tanyanya kesal. “Oh Angela, untuk apa kita berlomba mengikuti lelang proyek sementara perusahaan kita jelas tidak memiliki sokongan yang cukup?” tanya Isabella dengan sinis. “Masalah investor menjadi masalah atasan. Kalian hanya perlu menunggu dan bekerja tanpa cemas, percayalah padaku kita semua akan mendapatkan proyek itu.” Angela menegaskan ucapannya. Julian menatap Angela dengan tatapan remeh, “Apakah kau kemari sebagai juru bicara Presdir untuk menenangkan kami semua?” Angela mendengus kesal, “Ini cafeteria,bukan tempat mu untuk menjadi kompor yang menimbulkan rasa takut hingga semangat kerja para karyawan menurun.” “Hei Angela, berhenti memarahi ku. Aku disini hanya membicarakan kemungkinan-kemungkinan yang terbaik dan terburuk.” ucap Julian membuat Angela menghembuskan napasnya kasar. “Apakah kalian bisa fokus untuk menghadapi pekerjaan kalian daripada memusingkan hal-hal buruk yang akan terjadi?” tanya Angela kepada para tim persiapan proyek baru itu. “Tapi apakah ada kemungkinan kita mendapatkan proyek itu, Angela?” Angela mengangguk yakin, “Percayalah, rapat lanjutan akan kembali diadakan minggu depan. Kalian semua harus semangat dan terus membangun kerja sama bersama tim kerja lainnya. Jangan pikirkan mereka dari MARC Group, otomatis akan mendominasi proyek ini. Mereka semua berada disini untuk membantu kita mempertahankan MC Company, mengerti?” “Terima kasih sudah membuat kami merasa sedikit lega, Angela.” ucap Brenda tulus. Menepuk pundak rekan kerjanya itu, “Kita semua adalah tim yang sempurna. Kita harus bekerja sedikit lebih keras untuk hasil yang memuaskan.” ucap Angela membuat kelima orang pekerja pekerja disana tersenyum optimis. “Terima kasih banyak atas dorongan semangat darimu Angela.” ucap Jason tulus. “Ya, kita semua harus berpikiran positif dan produktif. Dan kau jangan hanya menebar berita negatif.” ucap Angela penuh ancaman pada Julian. “Ah Angela, aku sungguh meminta maaf padamu.” ucap Julian menyesal. Angela tersenyum kecut, “Hargai kerja keras semua orang, Julian. Mengadakan negosiasi bersama investor disaat defisit seperti ini tidaklah mudah.” “Ah ya, seharusnya aku menjaga ucapan ku.” Ucap Julian menyesal. Angela tersenyum seraya menepuk ringan pipi Julian, “Lain kali hati-hati dengan prediksi mu.” Ada bias memerah di wajah Julian, pria itu memalu. “Angela!” teriak seorang pelayan cafeteria memanggil Angela dengan nampan berisi pesanannya. “Terima kasih, Alfred...” ucap Angela dengan senyuman manisnya. “Mengapa tidak menyuruh Yohana?” tanya pelayan cafeteria itu menanyakan office girl. Angela tersenyum manis, “Rasanya sangat bosan hanya duduk diam, aku hanya ingin berjalan ke cafeteria sesekali.” “Oh Angela, melihat mu setiap hari pun aku mau, kau benar-benar memberikan semangat untuk orang lain.” ucap Alfredo membuat Angela tersenyum malu. “Tugas mu adalah menyiapkan hidangan yang semua orang pesan, bukannya menggoda” ucap Julian tak suka. Angela menoleh kepada pria itu, “Selagi aku merasa tidak terganggu, no problem Julian.” Tersenyum manis kepada pelayan itu, “Terima kasih, Alfredo...” “Ah ya aku harus kembali ke ruangan ku. Semuanya ayo bekerja lebih semangat lagi!” ucap Angela berjalan meninggalkan cafeteria itu.   Julian pun mengikuti langkah Angela, “Apakah kau marah padaku, angel?” tanyanya membuat Angela menoleh kearahnya. “Mengapa aku harus marah padamu?” tanya Angela membuat Julian tersenyum malu. “Aku hanya ingin memastikan kau tidak marah padaku.” “Aku hanya tak suka sikap mu yang terkesan memprovokasi. Sebagai kepala humas, produktivitas dan keharmonisan para karyawan harusnya bisa lebih kau perhatikan. Jangan menciptakan kesenjangan hingga karyawan mengkotak-kotak kan tempatnya dalam satu tim. Kau mengerti maksud ku, kan?” tanya Angela membuat Julian menganggukkan kepalanya. “Lain kali aku akan berhati-hati dalam berbicara.” “Ya, kau harus melakukannya.” ucap Angela tersenyum manis. “Angela, apakah nanti kita bisa pulang bersama?” tanya Julian membuat angela menggelengkan kepalanya. “Sayang sekali, sepertinya malam ini kami akan lembur. Bagaimana jika lain kali?” tanya Angela membuat Julian mengangguk setuju. “Aku akan menagihnya.” ucap Julian seraya membantu menekan tombol lift khusus untuk angela. Angela tersenyum manis, “Aku pasti akan senang hati menerima ajakan mu...” bisik Angela membuat Julian tersenyum malu. “Selamat bekerja, Angel.” Angela tersenyum senang saat pintu lift tertutup, menatap bayangan dirinya di pintu besi lift. Setelan kantoran dengan blazer berwarna coklat s**u dan blouse berwarna cream serta rok coklat tua yang lumayan pendek dengan sedikit belahan di ujungnya membuat kaki jenjangnya yang seksi terlihat begitu sempurna. Angela menghembuskan napasnya melihat nampan yang berisi dua gelas es kopi untuknya dan Aldrich. Sebungkus snack dan main dish yang merupakan sepiring beef steak with mushroom sauce kesukaannya. Sesungguhnya Angela tipe wanita pemakan segala makanan yang lezat. Angela terkesiap saat dia keluar lift melihat Aldrich duduk dimeja kerjanya seraya bersedekap. “Apa yang kau lakukan disini?” “Mengapa lama sekali?” balas Aldrich kini berjalan membuka pintu ruangannya. Angela masih berdiri dengan kedua tangan yang memegang nampan, “Sudah kubilang, aku pergi memesan makanan ke cafeteria.” jawabnya malas. “Ayo masuk.” ucap Aldrich membuat Angela menatap pria itu tak mengerti. “Ambil saja makanan mu, aku akan makan disini” “Masuk kataku, Angela!” tegas Aldrich terdengar memerintah dan tak ingin di tolak. Angela memutar kedua bola matanya, berjalan masuk kedalam ruangan pria gila itu. “Es kopi?” tanya Aldrich melihat Angela meletakkan Americano iced coffee dihadapannya. “Kita butuh minuman segar.” ucap Angela menyeruput coffee late seraya duduk melipat kakinya. Aldrich tersenyum seraya meminum kopinya, “Ya, rasanya es kopi tidaklah buruk.” ucap Aldrich membuat Angela mengangguk setuju. “Sure, aku makan dulu, ya. Ah aku benar-benar sudah lapar sekarang...” ucap Angela membuat Aldrich tersenyum. “Silakan, selamat makan Angela.” ucap Aldrich bersambut lambaian tangan Angela. “Kemari lah, kita makan bersama.” ucap Angela sambil membuka bungkusan snack yang berisi kentang goreng. Aldrich pun duduk disisi Angela, “Kau terlihat sangat menyukai daging...” ucapnya membuat Angela berpikir sejenak. “Begitukah?” tanyanya dengan wajah tanpa dosa. “Ya, pepperoni pizza, smoke beef burrito, beef burger, beef lasagna, beef spaghetti dan hari ini beef steak.” ucap Aldrich mengabsen apa menu yang telah mereka makan bersama beberapa hari ini. Ya, Aldrich selalu memesan makanan yang sama dengan Angela beberapa hari ini. Aneh sekali... “Apakah kau tidak suka?” tanya Angela membuat Aldrich tersenyum menikmati sepotong steak nya. “Aku suka, hanya takjub saja, wanita diet memakan daging setiap harinya.” ucap Aldrich membuat Angela menatapnya sinis. “Aku memang membutuhkan sumber protein untuk makan siang ku. Jika kau ingin menu yang lain, kau bisa memesan yang lain” tegas Angela kesal. “Kau ini mengapa begitu sensitif, apakah masih menstruasi?” tanya Aldrich membuat pipi Angela memerah disela kunyahannya. “Mengapa kau berisik sekali...” desis Angela kesal. “Aku sangat menyukai wanita karnivora.” ucap Aldrich menaik turunkan alisnya saat melihat Angela memakan makan siangnya dengan begitu cepat. “Pemakan daging dan pintar mengulum daging...” lanjutnya membuat Angela menatap sinis padanya. “You better shut up, Spanos!” bentak Angela kesal. “Oh, apakah statement ku salah?” tanya Aldrich dengan alis terangkat sebelah. “Makan saja, jangan banyak bicara! Aku selesai.” ucap Angela hendak berdiri dari duduknya, namun Aldrich menahan tangannya. “Temani aku makan, Angela...” ucap Aldrich menarik Angela hingga terjatuh kedalam pelukannya. “Kau ini sebenarnya ingin makan atau memakan ku?” bisik Angela menatap Aldrich dengan tatapan menggoda. Meneguk ludahnya kasar, “Aku bertanya padamu, apakah statement ku tadi salah?” tanya Aldrich dengan suara beratnya. Angela menatap pria itu dengan tatapan angkuh, “Apakah itu sebuah kode bahwa kau ingin merasakan kuluman ku pada daging mu?” tanyanya seraya mengusap paha Aldrich seduktif. Aldrich meneguk ludahnya kasar, jujur saja beberapa waktu belakangan nalurinya sebagai seorang pria sangat menginginkan Angela. Aldrich mengukung tubuh mungil nan seksi Angela di sofa empuk itu, “Jika aku menginginkannya, apakah kau bersedia melakukannya?” Angela tersenyum menang, “Apakah sekarang kau sudah menjilat ludah mu sendiri?” tanyanya membuat Aldrich menatap matanya dalam. “Oh ya, aku sangat menginginkan mu, Angela...” ucap Aldrich melumat bibir Angela dan lumatan itu berbalas singkat saat Angela berhasil melepasnya. “Aku tidak suka mengulum p***s suami orang...” bisik Angela sarkas membuat Aldrich tersenyum manis. “Apakah aku harus mengirimkan sejumlah uang ke rekening mu?” tanya Aldrich membuat Angela tersenyum sinis. “Kau pikir uang mu mampu menaklukkan ku?” tanya Angela menatap Aldrich penuh tantangan. “Lalu, apa yang dapat membuatmu ingin mengulum p***s ku...” bisik Aldrich tepat di depan bibir Angela. “Buat aku berteriak karena bibir seksi mu ini...” ucap Angela membuat Aldrich tersenyum senang. “Apakah ini sebuah lampu hijau?” “Menurut mu?” tanya Angela membuat Aldrich tersenyum senang. “Deal?” tanya Aldrich kemudian. Deal...” ucap Angela menyambut lumatan bibir Aldrich dengan senyuman menang yang tergambar di sudut bibirnya. Angela merasa senang karena telah berhasil membuat Aldrich bertekuk lutut menginginkannya dan menjilat ludahnya sendiri Semua pria memang sama saja... 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD