Salah jurusan

1841 Words
Adrian menjalankan mobilnya mengikuti langkah kaki Sishi, tidak mungkin juga dia turun dan meninggalkan mobilnya di jalanan, bisa menyebabkan kemacetan dan mendapat caci maki pengguna jalan yang lainnya dia apalagi kalau harus berurusan dengan pihak berwajib karena hal itu. Sedangkan gadis itu begitu takutnya dia hingga tanpa sadar langkah kakinya menjadi semakin cepat saja, Sishi menoleh dan berdecak kesal saat menyadari Adrian masih membuntutinya dengan mobil mewahnya itu. Sishi yakin betul kalau Adrian memang membuntutinya jika tidak bisa saja lelaki itu menjalankan mobilnya dengan cepat mengingat kalau jalanan tidak macet siang ini. Sishi menghela napas kasar lalu berlari beberapa saat dan memasuki sebuah angkot, tujuannya tentu saja agar Adrian tidak terus mengikut. Sishi berharap agar lelaki itu pergi setelah melihatnya memasuki sebuah angkot. "Sialan tuh, bocah!" gerutu Adrian saat melihat gadis yang sedang ia ikuti berlari lalu masuk ke dalam sebuah angkot, Adrian tersenyum miring dengan ide jahilnya. Akan dia buat Sishi tersiksa oleh rasa takutnya seperti dirinya yang kemarin seharian tersiksa karena obat kuat yang di minumnya, semua karena ulah Sishi. Adrian memutuskan untuk terus mengikuti angkot yang Sishi naiki itu agar gadis itu merasa ketakutan, Adrian sampai terkikik geli membayangkan wajah Sishi yang ketakutan di dalam angkot. Dan benar saja apa yang Adrian perkirakan di dalam angkot Sishi duduk dengan gelisah, sesekali menoleh ke bagian belakang dan selalu bisa melihat mobil Adrian di sana, angkot yang berjalan dengan kecepatan sedang dan sesekali berhenti untuk menaik turunkan penumpang membuat Adrian dapat dengan mudah mengikutinya. "ngapain sih, itu orang ngikutin terus? apa iya efek ramuan itu belum ilang juga?" ucap Sishi, tentu saja dalam hatinya, hati yang merasa gelisah karena Adrian tampak tidak ada niat untuk melepaskannya meski jarak yang mereka tempuh sudah begitu jauh. "Neng, nggak turun? trayek udah abis ini," kata sang sopir angkot membuat Sishi tersadar dari lamunannya dan menyadari memang hanya dirinya yang tersisa di dalam angkot itu. "Iya, Bang," jawab Sishi singkat. Gadis itu menarik napas dalam dalam lalu menghembuskannya pelan seolah sedang menghimpun kekuatan untuk menghadapi apapun yang akan terjadi. Sishi menuruni angkot lalu memberikan satu satunya lembaran uang yang tersisa di sakunya kepada sang sopir angkot yang setelah itu masih harus menunggu penumpang selanjutnya sebelum kembali jalan, di depan angkot tersebut ada beberapa angkot lain yang sedang melakukan hal yang sama. Jalanan pinggir taman kota itu menjadi tempat ngetem beberapa angkot berwarna biru telur asin dan jingga kemerahan. Sishi melirik ke depan dan ke belakang lalu menghela napas lega karena sejauh pandangannya ia tidak lagi melihat mobil Adrian tetapi ... gadis itu kini menyadari dirinya dalam masalah lain. Gadis manis berseragam sekolah menengah atas dengan rambut sedikit berantakan terikat asal itu memutuskan untuk memasuki taman yang tampak tidak terlalu terawat itu lalu duduk di sebuah tempat duduk yang terbuat dari semen, angin yang berhembus dan menyentuh kulitnya yang tidak terlalu putih karena sering tertimpa sinar matahari itu tidak terasa sejuk melainkan gersang tercampur paparan polusi asap kendaraan. Sishi mengambil botol air minum di dalam tas bahu yang ia pangku lalu meneguk airnya hingga tandas karena memang isi botol itu hanya tersisa beberapa teguk saja, tetapi tegukan terakhir yang Sishi lakukan hampir saja membuatnya tersedak. Bukan karena terlalu terburu buru minum tetapi karena munculnya seorang lelaki secara tiba tiba di hadapannya, begitu dekat hingga ujung sepatu Sishi dan ujung sepatu lelaki itu hampir bersentuhan. fix gadis itu tidak bisa kabur lagi. Sishi menoleh ke kanan dan ke kiri seolah mencari cari seseorang yang bisa ia mintai tolong atau tempat yang bisa dia gunakan untuk bersembunyi jika terjadi sesuatu padanya nanti. "Hay, Om," ucap Sishi sambil nyengir kuda mencoba menutupi kegugupannya tetapi tidak bisa apalagi saat itu Adrian menatapnya tajam sambil melipat kedua tangan di depan d**a, tubuh tinggi kekarnya tampak seperti seorang algojo di mata gadis itu. Adrian mengangkat satu alisnya tanpa sedikit pun tersenyum membuat Sishi semakin merasa takut. "Kenapa kamu lari?" tanya Adrian dengan suara tegasnya, Sishi berusaha tersenyum kaku. "Em ... itu ... aku takut," jawab Sishi dengan tergagap gagap. "Takut apa?" tanya Adrian lagi, masih dengan nada yang sama dan pandangan tajam yang sama juga. "Em ... aku ... aku takut ... aku takut di perkosa," jawab Sishi dengan polosnya, bahkan mengatakan hal itu saja jantungnya terasa hampir meledak karena rasa takut bercampur malu. Mendengar apa yang Sishi katakan Adrian berdecak kesal lalu mengubah posisi tangannya dari bersedekap di depan d**a menjadi bertolak pinggang menatap gadis itu, Sishi sesekali mendongak agar bisa menatap wajah Adrian lalu kembali menunduk karena takut. "Kalau pun kemarin Om perkosa kamu, itu semua salah kamu! Bukan salah Om!" kata Adrian dengan suara tertahan tetapi tetap terasa lantang di telinga Sishi, gadis itu mengangguk samar menyadari kesalahannya. "Iya, maaf," ujar Sishi pelan dengan nada bersalah yang kental terasa. "Terus kenapa sekarang kamu lari lagi?" tanya Adrian lagi, gadis itu kembali mendongak agar bisa menatap wajah Adrian mencari tahu apakah wajah itu masih terlihat seperti kemarin, gadis itu sedikit merasa lega karena kedua mata Adrian terlihat lebih jernih dari saat itu meski tetap saja terasa dingin. "Aku takut, aku takut efek ramuan itu masih ada terus Om sengaja cari aku buat minta pertanggung jawaban," jawab Sishi sambil menatap lelaki itu malu malu, Adrian berdecak kesal lalu mengalihkan pandangan sesaat sebelum kembali menatap Sishi meski pandangan itu sudah tidak setajam tadi. "Kalau pun efek obat itu bisa bertahan selama ini nggak akan Om cari kamu buat pelampiasan," jawab Adrian sambil menatap Sishi dari ujung rambut hingga ujung kepala dengan tatapan meremehkan, Sishi ingin marah merasa di remehkan tetapi gadis itu akhirnya merasa lega karena setidaknya dia tahu dirinya pasti bukan tipe Adrian. "Terus buat apa Om cari aku?" tanya Sishi lagi, gadis itu tentu saja tidak ingin berlama lama membicarakan tentang obat kuat itu dan segala efeknya lagi. "Enggak sengaja lewat depan sekolah kamu terus liat anak anak pada keluar," jawab Adrian lebih santai, lelaki itu bahkan mendudukkan dirinya di tempat duduk semen yang ada di sebelah Sishi gadis itu hanya sedikit melirik lalu mengalihkan kegugupannya dengan memutar mutar botol minum plastik yang masih di pegangnya dengan kedua tangan. "Terus?" tanya Sishi spontan yang sebenarnya ingin bertanya untuk apa Adrian memintanya menaiki mobilnya tadi, Adrian kembali menatapnya tajam membuat Sishi terdiam. "Terus terus, kamu nggak ada niat ngejelasin sesuatu gitu? bahkan minta maaf aja kamu nggak," omel Adrian sama persis seperti setiap kali memarahi Krisna saat lelaki itu membuat kesalahan kerja. "I—iya, Om, iya. Aku minta maaf, aku minta maaf buat semuanya buat kesalahan aku udah numpahin ramuan Om, udah ngunci Om di kamar mandi sama udah ngasih Om obat kuat itu," kata Sishi cepat sambil menatap Adrian tetapi saat menyinggung soal obat kuat Sishi tidak bisa menahan tawanya membuat Adrian kembali mendelik padanya. "Beneran Om, aku nyesel, kenapa aku bisa ceroboh banget," sambung Sishi, Adrian jadi terdiam melihat kesungguhan gadis itu yang terpendar dari kedua mata indahnya yang terlihat berkilau bagai berlian karena terpaan sinar matahari. "Om harusnya ngerti, aku tuh udah nunggu nunggu kesempatan kesting itu udah lama banget, eh, gagal gitu aja karena tabrakan sama Om di sekolah. Jadi waktu kesting kedua dan liat Om di sana aku takut banget gagal lagi gara gara Om makanya aku kunciin Om di kamar mandi. Aku udah sadar aku salah, terus kata temen aku Dini aku harus minta maaf makanya aku ke kantor Om buat minta maaf," kata Sishi dengan cerocosan khasnya, gadis itu terlihat lebih santai sekarang. "Jadi ngasih Om obat kuat ide temen kamu?" tanya Adrian cepat. "Enggak, itu ide aku. aku pikir isi ramuan itu ya obat kuat, eh, ternyata bukan," jawab Sishi tidak kalah cepatnya tetapi di akhiri dengan cengiran malu. "Aku minta maaf ya, Om, aku janji nggak akan ceroboh lagi mulai hari ini. kalau mau ngapa ngapain aku bakal mikir lama banget deh, walaupun aku udah nggak punya kesempatan buat jadi artis lagi," kata Sishi kalimat terakhirnya terdengar menyedihkan. "Emang kenapa kamu pengen banget jadi artis?" tanya Adrian sambil menatap wajah gadis itu. Ada cahaya yang tiba tiba menyala seperti cahaya lilin di ruangan gelap yang Adrian lihat sebelum Sishi menjawab pertanyaannya, "pengen tau akting aku bisa di terima industri hiburan dan penonton atau nggak." "Kalau nggak?" tanya Adrian lebih santai. "Aku bakal lebih keras belajar dan berjuang lagi, makanya yang aku butuhnya adalah kesempatan. Aku juga pengen kalau jadi artis kan aku bisa terkenal, bisa jalan jalan sambil kerja, bisa banyak duit juga," jawab Sishi dengan penuh semangat, Adrian tersenyum tipis mengingat kata Krisna kalau gadis itu memang memiliki niat sekuat baja. "Dunia hiburan tuh enggak cuma kayak yang sering kamu liat di TV aja, Shi. Dunia itu tuh keras, nggak semua seperti yang kamu bayangin," kata Adrian serius, seketika Sishi teringat kata kata yang selalu ibunya ucapkan. Kata kata larangan untuk mengejar cita cita menjadi seorang artis. "Aku tau, semua yang ada di dunia ini pasti ada sisi baik dan buruknya, terang dan gelapnya dan aku yakin sama diri aku sendiri kalau aku bisa. Aku bisa jaga diri dan bisa berjuang menaklukkan segala tantangan," jawab Sishi penuh keyakinan, Adrian tersenyum mendengarnya. Senyum yang sejak pertama kali bertemu baru kali ini Sishi lihat dan seketika membuat harapan dan semangat di hati Sishi kembali menyala. "Om, aku udah minta maaf dengan setulus tulusnya, berarti aku bisa dapet kesempatan lagi dong?" tanya Sishi dengan ceria dan penuh semangat. "Kamu emang udah minta maaf tapi bukan berarti Om udah maafin kamu," jawab Adrian dengan suara yang kembali terdengar datar dan hambar membuat senyum manis di wajah Sishi kembali hilang. "Yah, Om, maafin aku dong. Kasih aku kesempatan buat masuk management Om Adrian juga, ya, please ...." Sishi menangkupkan kedua tangan di depan dadanya memohon penuh pengibaan, Adrian hanya menatapnya dingin. "Dasar nggak tau diri, di kasih hati minta jantung, udah untung Om kasih kamu kesempatan buat minta maaf!" gerutu Adrian ia bangun dari duduk lalu menatap Sishi tanpa rasa iba sedikit pun, kembali menguap semangat dan harapan Sishi untuk menjadi seorang artis. "Udah sana pulang!" sambung Adrian ringan tanpa sedikit pun peduli tatapan mengiba gadis itu, Adrian mengerutkan kening saat tiba tiba raut wajah Sishi berubah sambil menoleh ke kanan dan ke kiri. "Kenapa kamu?" tanya Adrian penasaran, sebenarnya penasaran yang sudah ia rasakan sejak melihat gadis itu turun dari angkot tadi. Mengapa gadis itu tidak langsung ke rumah tetapi memilih duduk di taman sedangkan dia tengah ketakutan menghindari dirinya. "Ongkos aku abis buat bayar angkot tadi," jawab Sishi lirih dengan cengiran tipis di wajahnya, gadis itu merasa malu dan takut mengakuinya tetapi tidak ada pilihan lain. "Rumah kamu di mana?" Lelaki itu mendelik kaget mendengar jawaban Sishi, daerah yang berlawanan arah dengan tempat mereka berada sekarang. "Hah, rumah kamu di sana? terus kamu ngapain di sini?" tanya Adrian gemas dan sebal pada gadis yang selalu bermasalah itu. "Kan tadi aku asal naik angkot, aku takut di kejar kejar Om!" jawab Sishi membuat Adrian semakin semakin mendelik kesal pada gadis itu. "Sishi, Om jadi nggak percaya sama janji kamu buat nggak ceroboh lagi!" kata Adrian sambil menatap gemas gadis yang masih duduk di bangkunya sambil berdiri. "Ini kan salah Om juga kenapa Om bikin aku takut!" jawab Sishi menyalahkan lelaki di hadapannya. "Sishi!!!!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD