Efek obat kuat

2005 Words
Gadis manis itu mengerahkan semua tenaga yang dia miliki untuk berlari keluar dari ruangan Adrian, ia begitu takut lelaki itu mengejarnya untuk meminta pertanggung jawabkan perbuatannya seperti apa yang Adrian katakan tadi. Pintu berdaun kaca itu terhempas kuat lalu dengan cepat Sishi lari terbirit b***t membuat seorang lelaki yang semula hendak membuka pintu itu hampir di tabraknya. terang saja lelaki itu mengerutkan kening keheranan, ia masih memandang ke arah gadis yang sudah beberapa kali di temuinya itu berlari lalu memutuskan untuk segera masuk dan mencari tahu apa yang sedang terjadi. Krisna semakin heran saat memasuki ruangan kerja sahabat sekaligus teman baiknya itu, di dalam ruangan Adrian tampak gelisah, berjalan mondar mandir sambil menyugar rambutnya ke belakang lalu menahan tangannya di belakang kepala. "Kamu kenapa, Yan?" tanya Krisna sambil menaruh bungkusan nasi padang di atas meja yang ada di sudut ruang kerja itu, memang ada satu set sofa dan meja di sana tempat bagi Adrian menjamu para tamu bisnisnya. Adrian langsung menatap Krisna dengan tatapan tajam dan kesal. "Lama banget, sih! kemana aja?" sembur Adrian untuk meluapkan kekesalan yang tidak bisa ia luapkan pada orang yang seharusnya, ia tahu jika Sishi pasti sudah berlari menjauh sejauh jauhnya dari tempatnya berada sekarang. "Nyari makan, belum pada mateng makanya lama," jawab Krisna enteng, lelaki itu sudah duduk di sofa sambil menatap Adrian yang menurutnya terlihat aneh, "itu makan, katanya kelaperan. serem banget kamu kalau laper kayak singa!" Adrian berdecak kesal mendengar Krisna tertawa meledeknya. "Udah nggak laper!" jawab Adrian singkat dan Krisna semakin mengernyit bingung, pasalnya tadi Adrian lah yang menyuruhnya buru buru mencari makanan karena dirinya kelaparan. saat berangkat ke kantor tadi pintu kamar Karin masih tertutup rapat entah wanita itu sudah bangun dari tidurnya atau belum, kalaupun sudah bangun memang tidak pernah sekalipun Karin menyiapkan makanan untuk sang suami. "Kok bisa kamu enggak laper tiba tiba?" kata Krisna lirih, lelaki itu lalu mendapat jawaban dari aroma lezat gado gado yang masih sedikit tersisa Krisna menatap ke atas meja Adrian dan melihat kotak sterofoam wadah gado gado di sana. "Tunggu dulu, tadi aku liat Sishi keluar dari sini, terus ada makanan di atas meja, dia ke sini bawain kamu makanan?" tanya Krisna setelah menganalisa apa yang dia saksikan dan sisa sisa bukti yang ada, Adrian malah melotot menatap sang sahabat. lelaki itu lalu duduk di sofa yang ada di hadapan Krisna dengan meja sebagai pembatas mereka. "Nggak, dia ke sini bawa bencana!" jawab Adrian ketus. Tentu saja mendengar apa yang Adrian katakan mulut Krisna tidak bisa di cegah untuk secepat kilat bertanya, "bencana? bencana apa?" "Dia bilang ke sini mau minta maaf, bawa gado gado sebagai sogokan, sama ramuan yang udah dia tumpahin sebagai permintaan maaf. Tapi dia salah ramuan," kata Adrian berusaha menjelaskan meski sembari merasakan kepalanya berdenyut karena marah, juga jantung berdebar kencang pengaruh melonjaknya hormon yang di pompa ramuan yang tadi dia minum. oh iya, jangan lupakan si dedek kecil yang masih berdiri kokoh seperti monumen nasional di bawah sana. "Terus apa salahnya? kenapa kamu marah?" tanya Krisna menatap wajah Adrian yang sedikit memerah, jelas terlihat di kulit putih lelaki itu. "Masalahnya yang dia bawa itu bukan rebusan buah zuriat tapi obat kuat!" jawab Adrian kesal dengan suara yang meninggi tanpa dia tahan, kedua mata Krisan membola mendengarnya tetapi terlihat lelaki itu masih mencoba untuk mencerna perkataan mengejutkan dari sang sahabat yang baru saja dia dengar. "Obat kuat? Kok Sishi bisa ngasih kamu obat kuat?" tanya Krisna spontan meski ia tahu Adrian semakin kesal mendengar ucapan Krisna. "Dia kira aku Om Om m***m yang ke mana mana bawa obat kuat! sialan!" kata Adrian membuat Krisna begitu ingin menyembur tawa tetapi masih berusaha dia tahan meski perutnya sudah terasa keram. "Tunggu dulu!" kata Krisna sembari bangun dari duduknya lalu mendekati meja untuk mencari ramuan yang Adrian maksud tetapi tidak ada yang dia temui kecuali botol kosong di atas meja, "dan kamu udah minum ramuan obat kuat itu?" Krisna sudah tidak bisa menahan tawanya hingga tawa itu pecah terbahak bahak menggema memenuhi seluruh ruangan, tentu saja Adrian bertambah kesal lalu melempar temannya itu dengan sebuah bantal sofa yang ada di sebelah dan tepat mengenai wajah Krisna. "Gado gadonya pedes jadi aku minum, aku kira itu jus," jawab Adrian sebal, Krisna masih terkekeh walau tawanya sudah tidak membahana seperti tadi tetapi Krisna masih saja memegangi perutnya yang terasa kaku karena menahan tawa. "Sishi, Sishi, polos atau g****k sih itu bocah? Singa di kasih obat kuat yang makin kenceng ngaumnya!" kata Krisna sambil kembali tertawa terbahak bahak, "pantes tadi dia kabur, lari ngibrit, dia takut banget sama kamu." Adrian kembali mengacak rambutnya merasakan beberapa bagian tubuhnya tegang dan berdenyut, jantung dan itu.... "jadi sekarang ada yang bangun?" tanya Krisna yang sudah kembali duduk di tempatnya sambil menatap wajah Adrian yang merengut kesal karena Krisna malah terus meledeknya. "Efek obat kuat emang gitu kan? Bangun tapi mati rasa, mana dari yang aku pernah baca efeknya lama lagi!" sahut Adrian sambil tersungut kesal, Krisan berusaha menyudahi tawanya tetapi begitu sulit. lebih syulit dari melupakan Raihan. "Ya makanya efeknya lama karena si itu mati rasa!" jawab Krisna cepat, Adrian menghela napas putus asa. "Terus kenapa tadi itu si Sishi ketakutan gitu? kamu tunjukin itu 'yang bangun' sama dia?" tanya Krisna penasaran, Adrian mendelik kesal padanya. "Ya nggak lah! gila kamu ya! b******k b******k gini aku bukan p*****l!" sembur Adrian pada Krisna, Krisna hanya membulatkan bibirnya sambil manggut-manggut. "Emang ya itu cewek, selalu aja bawa sial. herannya selalu ada aja alasannya buat kita ketemu, bener bener bikin apes!" gerutu Adrian kesal, tetapi rasa kesalnya justru membuat wajah manis Sishi kembali terbayang. menyebalkan! Krisna kembali terkekeh geli, "tapi, Yan, kalo di perhatiin dia manis juga loh, aktingnya juga bagus padahal dia bilang otodidak, nggak pernah ikut kelas akting kayaknya emang bakat terpendam, dia juga gigih." "Tapi bawa sial buat aku!" sahut Adrian cepat sambil melirik bagian bawah tubuhnya yang masih terasa sesak dengan wajah memelas membuat Krisna yang melihatnya kembali tertawa geli. Adrian hanya diam dengan tatapan tajam membiarkan sang sahabat puas menertawakannya, memang hanya itu bukan yang bisa dia lakukan. Hingga tiba tiba Krisna menahan tawanya lalu berkata, "udah pulang sana, minta bantuan Karin buat nidurin si itu!" Adrian hanya berdecak kesal karena tidak mungkin melakukannya, Krisna juga tahu betul tentang itu dan dia hanya bermaksud meledek, bahagia sekali rasanya bisa tertawa di atas kebahagiaan sang sahabat yang sedang tersiksa. "Atau mau pesen di aplikasi Meochat, aja?" tanya Krisna menyebut nama salah satu Aplikasi kencan, lagi lagi Adrian hanya berdecak kesal lelaki itu lalu bangun dari duduknya dan melangkah pergi membuat Krisna mengikutinya dengan pandangan. "Mau ke mana? Cari Offline mana ada yang buka siang siang gini?" tanya Krisna sambil menahan tawa. "Toilet!" jawab Adrian ringan, ia tidak terlalu menanggapi ledekan temannya itu. "Mau sambil ngebayangin siapa?" tanya Krisna dengan suara agak keras karena Adrian hampir menghilang di balik pintu, tidak ada respon yang lelaki itu berikan. "Obat apa sih yang Sishi kasih? jadi pengen beli biar si Mama KO!" gumam Krisna sambil mendekati meja Krisna dan mengambil botol yang sudah kosong tetapi tidak mendapati tulisan ataupun merek di sana, lelaki itu melenguh kecewa, batal sudah angan angannya membuat sang istri tak berdaya. Sedangkan di luar .... Gadis itu berhenti di atas trotoar lalu menopang tangannya di atas lutut hingga tubuhnya sedikit membungkuk sambil mengatur napas, berlari dari ruangan Adrian ternyata membuatnya begitu lelah meskipun ia turun tetap menggunakan lift tetapi tetap saja dia takut Adrian mengejarnya. Sishi baru menghentikan langkah cepat penuh tenaganya saat merasa dirinya sudah cukup jauh dari kantor Adrian, lagi pula tempatnya berdiri sekarang begitu ramai, jika terjadi sesuatu dengannya dia bisa saja berteriak minta tolong dan pasti akan ada yang menolongnya. "Aduh ... Sishi, g****k banget sih! kalau gini Om Adrian nggak bakalan mau maafin kamu!" rutuk Sishi pada dirinya sendiri sambil memukul pelan kepala, pelan agak keras juga, sih, karena rasa kesalnya. Gadis itu kembali menatap gedung yang ada di belakangnya, ingin rasanya kembali meminta maaf untuk kesalahannya yang semakin banyak dan kali ini akan berusaha sebaik mungkin untuk tidak melakukan kesalahan tetapi dia takut efek obat kuat itu belum hilang dan Adrian akan hilang akal. Kini gadis itu merasa berkali kali lipat lebih takut pada lelaki itu. Sishi menghela napas panjang berusaha mengatur detak jantung agar kembali tenang lalu melambaikan tangan agar angkutan kota yang melintas berhenti dan bisa mengantarkannya ke rumah Nando di mana Dini sedang menunggunya. Kelompok kerja sekolah itu mengerjakan tugas dengan lancar seperti biasa di selingi canda tawa khas remaja dan curi curi pandang dari Nando pada Sishi yang di taksirnya sedangkan Dini merasa begitu penasaran karena sejak datang tadi Sishi sama sekali belum menceritakan apa apa, tentu saja Sishi tidak akan menceritakan memalukan itu di depan teman temannya. Hingga akhirnya tugas selesai dan semua berpamitan pulang, inilah waktu yang di tunggu tunggu oleh Dini. "Shi, gimana tadi? sukses kan minta maaf nya? terus gimana kamu bisa kan dapet peran?" Dini memberondong gadis yang duduk di boncengan sepeda motornya dengan pertanyaan yang sedari tadi membuat gadis itu benar benar merasa penasaran. Sishi yang mendapat pertanyaan itu menyadarkan kepalanya ke punggung sang sahabat dengan lemas, dia seperti bunga yang lupa di siram oleh pemiliknya, "sukses apaan, semua kalau balau!" "Hah? kacau balau gimana?" tanya Dini penasaran, gadis itu melambatkan laju sepeda motornya agar bisa mendengar cerita Sishi dengan lebih jelas. "Ternyata isi botol yang tumpah itu bukan obat kuat. Parahnya lagi Om Adrian langsung minum tuh ramuan yang aku bawa!" terang Sishi, Dini yang mendengarnya langsung menganga kaget, beruntung dia memakai helm dengan penutup wajah hingga angin tidak masuk ke dalam mulutnya secara berlebihan. "Terus?" tanya Dini begitu penasaran, ia yakin cerita itu belum selesai sampai di situ. "Terus Om Adrian marah sambil nahan konaknya, dia minta aku tanggung jawab," jawab Sishi apa adanya meski dia merasa malu membicarakan hal itu. "Terus?" tanya Dini lagi, kali ini dengan suara lebih dramatis. "terus aku lari, aku kabur dari ruangannya. Aku nggak mau dong di apa apain Om Adrian buat tanggung jawab," jawab Sishi dengan penuh semangat pembelaan diri. "terus?" Dini masih saja bertanya dengan dramatis. "terus aku yakin kalau sekarang Om Adrian nggak mungkin maafin aku!" jawab Sishi dengan yakin lalu kembali meleyot karena rasa putus asanya, ia yakin tidak akan pernah meraih cita cita menjadi seorang artis karena kesalahannya ini. "Sabar, ya, Shi. Ntar kita pikirin jalan keluarnya sama sama, tapi kamu jangan ngeyel lagi!" kata Dini menenangkan sang sahabat meski tanpa Sishi tahu gadis itu sekuat tenaga menahan tawa. *** Malam telah berlalu, Sishi menghabiskan waktu itu untuk merutuki segala kecerobohan yang sudah ia lakukan dan meratapi nasib yang ia rasa begitu menyedihkan hingga siang hari pun sudah terlalui dengan kesibukannya di sekolah. Pelajaran yang membuat otak keriting dan keceriaan teman temannya membuat Sishi dapat sedikit melupakan kesialannya kemarin, kesialan yang dia dapatkan karena ulahnya sendiri, tidak terasa bel tanda waktu belajar berakhir telah berbunyi, para siswa bersorak gembira kecuali Sishi, gadis itu hanya sedikit tersenyum. "Shi, kamu pulang sendiri, ya, aku di minta jemput Mama di toko," kata Dini sang sahabat sebangku. "Iya nggak apa apa, salam buat Mama kamu, ya," jawab Sishi kedua sahabat itu lalu berpisah di depan kelas, satu menuju parkiran dan yang satu menuju halte yang ada di depan gerbang sekolah untuk menunggu angkot. Sishi berdiri di depan halte bersama beberapa temannya lalu saat angkot yang akan di naiki teman temannya datang dan mereka pergi tinggallah Sishi sendiri menunggu angkotnya, gadis itu menunduk memainkan sebuah kerikil dengan ujung sepatunya yang sudah tidak baru lagi, gadis itu baru mengangkat kepala saat menyadari sebuah mobil berhenti di depannya tetapi mobil itu bukan angkot yang sedang di tunggu. Gadis manis itu memelototkan kedua mata saat melihat lelaki tampan di dalam mobil dengan kaca jendela terbuka sedang menatap dari mobil yang berhenti tepat di depannya. "Cepet masuk!" titah Adrian dengan suara berat dan tegas. "Enggak! Aku nggak mau, aku nggak bisa tanggung jawab!" kata Sishi cepat, secepat langkah yang dia ambil untuk pergi meninggalkan tempatnya berdiri secepat kilat. Melihat Sishi kembali berlari meninggalkannya Adrian merutuk kesal sambil memukul stir. "sialan!" gadis itu tidak tahu kalau sedari tadi dirinya sudah menunggu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD