Salah Ramuan

1921 Words
"Shi, kamu ngapain?" tanya Bu Eni begitu keluar dari rumah dan melihat sang putri sulung tengah mengulek bumbu gado-gado, gadis itu hanya menoleh sekilas lalu kembali fokus pada cobek besar, menatap kacang tanah, cabe, gula merah, garam, sedikit terasi dan air asam jawa yang tengah ia uleg mengunakan ulekan batu yang bergoyang-goyang di tangannya menjadikannya sebuah bumbu lezat yang akan berbaur dengan aneka sayuran rebus, lontong dan juga tahu tempe goreng. Tidak lupa telur rebus yang akan menjadikannya gado-gado istimewa. "Lagi bikin gado-gado lah, Bu. Ibu kan masih jualan gado-gado, belum berubah jadi jualan seblak," jawab Sishi ringan tanpa menghentikan kegiatannya. "Iya, maksud Ibu, buat siapa kamu bikin gado-gado? Emang udah ada yang pesen? Kamu juga kan udah sarapan tadi, biasanya baru makan siang nanti," kata Bu Eni, wanita itu menatap wajah sang putri yang terlihat begitu ceria di pagi menjelang siang itu. "Oh, gado-gado ini buat Mamanya Nando, hari ini kita ada kerja kelompok di rumahnya Nando," jawab Sishi santai, gadis itu tengah memasukkan gado-gado yang sudah selesai dia buat ke dalam kotak sterofoam yang sudah di alasi potongan daun pisang. "Yaelah, ke rumah Nando aja pake bawa oleh-oleh segala kamu! kamu suka ya sama Nando? demen ya kamu sama Nando?" tanya Bu Eni sambil tertawa kecil melihat ekspresi wajah sang putri saat dia menjahilinya. "Idih, Ibu, apaan sih! Enggak lah, Nando kan bukan tipe Sishi!" jawab Sishi cepat, gadis itu memasukkan gado-gado yang sudah di bungkusnya ke dalam kantong plastik berwarna putih. "Alah! Emang tipe cowok kamu yang kayak apa? Nando kan udah mirip oppa-oppa korea tipe cowok idaman anak masa kini," sahut Bu Eni yang memang sudah mengenal pemuda teman sekelas Sishi yang beberapa kali pernah berkunjung ke rumah mereka. "Hah? Oppa korea? Ibu ngeliatnya dari mana, jangan dari balik ulekan dong, Bu!" kata Sishi sambil tertawa sang ibu jadi ikut tertawa karenanya. "Kamu ini! Jangan suka gitu ntar beneran suka tau rasa!" ejek Bu Eni sambil tertawa. "Ih, enggak ah! Ibu, nih apaan sih senengnya ngeledekin anak sendiri!" tukas Sishi yang saat itu melihat Dini datang mengendarai sepeda motornya dari ujung gang, "udah, Sishi berangkat ya Bu, tuh Dini udah dateng." "Iya, hati-hati ya kalian," pesan Bu Eni saat sang putri mencium punggung tangannya, wanita itu melambaikan tangan pada Dini yang berpamitan tanpa turun dari sepeda motornya karena mereka harus segera pergi. "Shi, kita jadi ke pasar?" tanya Dini, sahabat terbaik yang selalu membantu Sishi dalam segala misinya meski harus ikut-ikutan berbohong pada Bu Eni, termasuk hari ini, mereka memang ada tugas kelompok di rumah Nando tetapi Sishi sudah terlebih dahulu meminta ijin untuk datang terlambat karena dia sedang menjalankan sebuah misi penting. "Iya. kata kamu aku harus minta maaf sama Om Adrian, makanya aku harus sogok dia biar mau maafin aku. ya, paling nggak dia tau lah kalau aku beneran niat minta maaf," jawab Sishi yang duduk di boncengan sambil memegangi kantong plastik berisi gado-gado. "Iya, tapi kamu yakin ada yang jual ramuan di pasar ? kamu yakin kamu nggak akan salah beli ramuan?" tanya Dini lagi, tampaknya gadis itu sedikit ragu dengan ide Sishi yang menurutnya sebuah ide cemerlang itu. "Ada lah, waktu itu aku ikut bapak beli jamu pegel linu tempatnya nggak jauh dari pintu masuk pasar. Aku sih yakin ya, buat apa coba cowok yang belum terlalu tua kayak Om Adrian bawa-bawa ramuan kalau bukan ramuan itu?" Dini hanya diam lalu mengangguk pelan, gadis itu sudah tahu semua rencana Sishi dan tidak bisa tidak setuju karena sahabatnya itu begitu yakin. "Itu toko jamunya?" tanya Dini setelah sampai di dekat pintu pasar. "Iya, kamu tunggu di sini sebentar, ya!" Sishi segera berjalan ke toko jamu yang tidak begitu ramai itu dan sang sahabat dengan setia menantinya. "Cari apa, Neng?" tanya lelaki penjual jamu itu melihat kedatangan Sishi gadis itu agak malu mengatakannya tetapi demi sebuah kata maaf dari Adrian maka dia akan melakukan apapun. "Bang, ada ramuan obat kuat buat cowok nggak? Yang warnanya agak coklat terus siap minum? dalem botol gitu?" tanya Sishi sambil berbisik agar tidak ada orang lain yang mendengarnya, mendengar apa yang Sishi cari sang penjual jamu mengerutkan keningnya lalu menatap Sishi sambil menahan senyum membuat gadis itu salah tingkah. "Masih pagi, Neng. Udah cari jamu kuat aja," sahut penjaga toko jamu itu membuat seorang wanita yang juga ada di toko itu menatap juga sambil menahan senyum. "Itu bukan buat saya, Bang. Itu titipan," kata Sishi agar tidak terlalu malu. "Ya, ya. Titipan pacarnya, ya? emang Neng yakin enggak kualahan kalau pacarnya minum ini? ini efeknya dahsyat loh! aum ...." sang penjaga toko menirukan gaya macan mengaum sebagai gambaran dahsyatnya efek jamu itu, Sishi tidak lagi peduli dengan ledekan lelaki itu saat melihat botol kecil mirip botol minuman berenergi yang di pegangnya, sebuah cairan berwarna coklat mirip dengan ramuan yang Adrian bawa waktu itu. "Iya, Bang. Aku beli itu, berapa harganya," kata Sishi sambil mengambil uang dari saku celananya, uang saku yang selama ini ia sisihkan untuk keperluan tidak terduga seperti kali ini. "Ih, nggak sabaran banget udah pengen di aum ya?" ledek sang penjaga toko saat Sishi memberikan sejumlah yang yang ia sebutkan. "Makasih, Bang!" Sishi segera keluar dari toko membawa botol berisi ramuan yang ia beli dan segera mendekati Dini yang dengan setia menunggunya. "Ada?" tanya Dini dan dengan ceria Sishi mengangguk. "Ada, bener kan aku nggak salah ramuan yang waktu itu emang gini warna dan teksturnya," jawab Sishi sambil tertawa geli, Dini hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum lebar lalu mengantarkan Sishi ke tempat tujuannya. Tidak begitu lama mereka sampai di depan gedung kantor agensi Adrian, kantor yang terlihat lebih sepi dari biasanya. "Shi, emang kamu yakin kantornya nggak libur?" tanya Dini ragu. "Kantor Agensi mana ada liburnya, Din. udah kamu ke rumah Nando dulu ntar aku nyusul. Thanks ya!" kata Sishi sambil mencubit gemas pipi sang sahabat lalu meninggalkan gadis itu memasuki gedung, Dini langsung menjalankan sepeda motornya menuju rumah Nando seperti yang Sishi minta. Dengan tangan kanan menenteng kantong plastik berisi gado-gado dan botol ramuan Sishi melangkah ceria menuju kantor Adrian, gedung itu memang begitu sepi hanya ada beberapa orang saja yang berlalu lalang dan beberapa security yang berjaga. Kantor Adrian juga begitu lengang tidak seperti perkiraannya ternyata kantor itu juga libur di hari Minggu, Sishi berdiri di depan pintu yang tertutup hanya bisa menatap ke dalam karena pintu itu terbuat dari kaca. "Eh, itu Om Adrian," ucap Sishi spontan saat melihat lelaki itu melintas di dalam dan memasuki sebuah ruangan, dengan penuh semangat gadis itu mendorong pintu kaca di hadapannya, "ternyata nggak di kunci." Sishi langsung melangkah menuju ruangan di mana Adrian baru ia lihat masuk, tanpa sedikit pun beban Sishi mengetuk pintunya. "Masuk!" Gadis itu tersenyum lebar mendengar Adrian mempersilahkan dirinya masuk, ia segera menyelinap masuk dan berjalan mendekati meja Adrian. "Lama banget sih? udah laper tau!" gerutu Adrian, lelaki itu lalu membolakan kedua matanya saat melihat siapa yang berdiri di depan mejanya, bukan Krisna seperti yang dia kira. "Kamu? kok kamu bisa di sini?" tanya Adrian melihat gadis manis yang sedang tersenyum lebar padanya. "Kan tadi Om sendiri yang nyuruh aku masuk," jawab Sishi ringan. "Maksud saya, ngapain kamu di sini? Mau apa?" tanya Adrian lebih tegas dan juga gemas karena merasa Sishi selalu mengganggunya. "Santai aja Om ngomongnya, jangan pake urat gitu, ntar tambah laper loh. Aku ke sini cuma mau minta maaf kok," kata Sishi dengan nada lembut merayu, sebuah gaya bicara yang sudah sering dia lakukan setiap kali berlatih akting. Mendengar apa yang Sishi katakan Adrian hanya berdecak kesal, keningnya kembali mengerut saat melihat Sishi menaruh kantong plastik yang ia bawa di atas meja, tepat di depan Adrian hingga lelaki yang tengah lapar itu bisa mencium aroma wangi gado-gado yang terasa begitu menggoda, seketika cacing-cacing yang sedari malam belum makan itu menari-nari. "Aku beneran minta maaf, Om, tulus, nggak ada niat jahat atau niat buruk. Aku tau Om orang baik, Om pasti maafin aku kan," kata Sishi merayu, Adrian hanya menatap dingin wajahnya, "katanya Om laper, itu aku bawain gado-gado. Kalau Om maafin aku, Om makan gado-gado itu, ya." Adrian kembali berdecak kesal tetapi karena dia sudah tidak bisa lagi menahan rasa laparnya maka ia ambil bungkusan gado-gado di hadapannya, Sishi tersenyum melihatnya. Misinya berhasil. "Oke, aku maafin kesalahan dan kecerobohan kamu tapi bukan berarti aku bisa terima kamu di agensi saya ya!" kata Adrian sambil memakan gado-gado pemberian Sishi. "Yakin Om nggak bakalan nyesel kalau nggak terima saya? susah loh cari orang cantik dan berbakat seperti saya!" kata Sishi dengan penuh percaya diri hingga membuat Adrian tersedak mendengarnya. "Eh, Om kenapa?" tanya Sishi panik, sepanik Adrian yang mencari minum tetapi gelasnya kosong lelaki itu hanya menemukan botol ramuan di atas mejanya dan langsung meminumnya. "Eh, Om, jangan minum itu sekarang!" kata Sishi tetapi terlambat, Adrian sudah meneguk habis ramuan itu, rasanya yang manis madu meski agak aneh tidak membuat lelaki itu curiga saat meminumnya. "Emang ini apaan?" tanya Adrian sambil memutar-mutar botol kosong yang di pegangnya tetapi tidak menemukan merek apapun di sana. "Ehhmm ... itu, sebagai permintaan maaf karena udah bikin ramuan Om Adrian tumpah waktu itu jadi aku beliin ramuan yang sama, Om maafin aku kan?" Sishi menatap Adrian dengan pandangan memelas, lelaki itu menaruh botol kosong itu di atas meja dengan santai karena mengira yang dia minum benar benar ramuan yang sama dengan buatan ibunya waktu itu. "Kamu nggak denger yang Om bilang tadi?" tanya Adrian sambil kembali memakan gado-gadonya. "Om, tolong dong, jangan cuma maafin aku aja. kasih aku kesempatan juga buat masuk agensi Om. aku yakin banget aku bisa, aku cuma agak ceroboh aja, aku kan udah minta maaf," kata Sishi memelas, gadis itu masih berdiri di depan meja Adrian. Adrian hanya menggelengkan kepala, menikmati gado-gadonya dengan suhu tubuh yang ia rasakan semakin menghangat. lelaki itu bahkan menurunkan suhu pendingin udara ruangannya. "Om tau nggak kenapa waktu itu aku bisa nabrak Om di sekolahan? itu karena aku buru-buru mau bolos sekolah karena mau ikut casting, tapi aku malah nabrak Om Adrian, aku ngaku salah, aku minta maaf," sambung Sishi, gadis itu begitu berharap Adrian bisa berubah pikiran sedangkan Adrian sama sekali tidak mendengarkannya karena lelaki itu merasakan perubahan instan dalam dirinya. Ada yang terbangun tiba-tiba dan membuat sesak celana. "Aku minta maaf karena udah bikin ramuan Om tumpah waktu itu," sambung Sishi sambil menatap wajah Adrian yang lebih memerah lelaki itu tampak sedikit gelisah. "Ramuan, iya, ramuan!" Adrian bangun dari duduknya dan mendekati gadis itu, "ramuan apa yang kamu kasih ke Om barusan?" "Eemmm ... itu, itu ramuan yang kayak waktu itu tumpah kan? aku sengaja beli biar Om Adrian nggak marah," jawab Sishi, gadis itu menyeret langkahnya mundur karena Adrian semakin mendekatinya dari depan. "Emang kamu pikir itu ramuan apa?" tanya Adrian lagi, lelaki itu semakin blingsatan merasakan gejolak hasrat dalam dirinya tiba-tiba meninggi seperti gulungan ombak tsunami. "itu obat kuat lelaki kan? aku liat di toko jamu dan itu sama kayak ramuan yang waktu itu tumpah," jawab Sishi dengan entengnya, gadis itu agak terkejut saat punggungnya menempel di dinding dan tiba-tiba merasa takut karena Adrian menatapnya tajam lalu mengungkungnya dengan kedua tangan. Sishi terjepit antara dinding dan tubuh kekar Adrian. "Jadi kamu kasih Om obat kuat?" tanya Adrian, Sishi mengangguk takut. "Emang itu kan ramuan yang waktu itu Om bawa-bawa. Lagian aku kasih ramuan itu juga bukan buat di minum sekarang," jawab Sishi sambil berusaha keluar dari kungkungan Adrian karena rasa takutnya. "Ramuan waktu itu bukan obat kuat, Sishi!" kata Adrian geram, "dan sekarang kamu harus tanggung jawab!" "Bukan? tanggung jawab?" tanya Sishi kebingungan. "Aaaahhhh ... nggak ...." Sishi mendorong tubuh Adrian lalu berlari secepat kilat keluar dari ruangan itu. "SISHI ....!!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD