"Jawab, siapa yang udah berani ngunci aku di toilet!" kata Adrian sekali lagi dengan suara penuh penekanan.
Tidak ada yang bersuara karena jelas saja tidak ada yang merasa melakukannya, kecuali seorang gadis yang terlihat ketakutan, dia pun hanya diam di tempatnya berdiri, hilang sudah senyum ceria dan rasa senangnya usai mendapat banyak pujian tadi.
Suara pertama yang terdengar di ruangan itu setelah pertanyaan Adrian adalah suara Krisna yang langsung berdiri dari duduknya dan mendekati Adrian dengan kedua mata mendelik.
"Yan, kamu kenapa?" tanya Krisna sambil berusaha memegangi kening Adrian yang membesar seukuran mainan anak-anak yang sedang hits sekarang. lato-lato.
"Sakit, bego!" kata Adrian saat tangan Krisna spontan mendarat di kening lelaki itu, secara spontan juga Adrian menepis tangan sang sahabat yang juga merangkap menjadi asistennya.
"Enggak ada yang mau ngaku, siapa yang ngunciin aku di toilet?" kata Adrian, semua di ruangan itu masih diam saling pandang tidak mengerti.
"Siapa, sih, Yan? dari tadi kita semua di sini. Bisa aja kan pintu toiletnya macet, kuncinya rusak," kata Krisna mencoba menenangkan sang sahabat yang terlihat begitu emosi itu.
"Tadinya aku juga mikir kayak gitu, tapi ternyata aku nemuin ini di handle pintu, sama ini, sama ini," kata Adrian sambil menunjukkan tali rambut, pulpen san nomor antrian casting bertulis angka enam belas.
Sishi yang melihat ketiga benda yang Adrian beberkan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, lalu sedikit merenggangkan jari jarinya agar tetap bisa melihat Adrian dan Krisna yang berdiri berdampingan beberapa meter dari tempatnya berdiri karena rasa penasarannya.
"Apaan, tuh?" tanya Krisna penasaran dan rekan kerja mereka yang lainnya hanya diam memperhatikan, ada juga yang diam sambil menahan senyum geli melihat benjol di kening Adrian.
"Pintu toilet di iket pake dua benda konyol ini, dan ini pasti punya orang itu," kata Adrian sambil menunjukkan lagi nomer antrian yang masih dia pegang.
"Tuh, nomer enam belas baru selesai tampil," kata Krisna sambil menunjuk Sishi.
"Aduh!" gumam gadis itu lalu spontan ia menutup wajahnya lagi, Adrian menatapnya dengan tajam.
"Sini kamu," panggil Krisna membuat mau tidak mau gadis itu melangkah mendekat meski dengan hati yang di penuhi ketakutan dan penyesalan mengapa dia harus melakukan hal itu, sampai di depan Krisna dan Adrian pun Sishi masih menutupi wajahnya.
"Buka tangan kamu!" perintah Krisna, melihat gadis itu tiba-tiba bersikap aneh membuat Krisna ikut curiga kalau memang benar gadis itu yang melakukannya, "kenapa harus kamu tutupin muka kamu? Jangan-jangan bener kamu yang udah ngunci Adrian di kamar mandi!"
"Ya enggak mungkin bukan dia lah, buktinya udah ada. pulpen ini juga ada namanya!" kata Adrian menahan geram, Sishi menghela napas berat merutuki diri kenapa bisa sampe lupa jika pulpen miliknya selalu ia beri nama.
"Kenapa kamu ngunci aku di kamar mandi? jawab!" kata Adrian dengan satu kata terakhir yang di buat penuh penekanan, dan rasa kesal yang ada dalam hatinya membuat kata itu menjadi sebuah bentakan. Bukan hanya Sishi saja yang kaget tetapi beberapa orang lainnya juga termasuk Krisna yang sedari tadi sedang menatap heran ke arah Sishi.
"E ... itu ... itu karena—." Sishi menyingkirkan tangannya dari wajah dan Spontan membuat Adrian membelalakkan kedua matanya.
"Kamu? ternyata kamu!" kata Adrian yang begitu terkejut melihat wajah Sishi yang menatapnya dengan mata mengerjap-ngerjap terutama saat Adrian membentaknya.
"Kalian kenal?" tanya Krisna sambil menatap bingung kedua orang itu.
"Tuhan ... kenapa sih aku harus ketemu sama cewek pembuat onar ini terus," kata Adrian meratapi nasibnya.
"Loh, kok Om yang bilang gitu, sih? Justru aku yang harus yang bilang begitu, kenapa aku selalu harus ketemu sama Om, Om selalu bikin aku sial!" jawab Sishi sambil menatap Adrian dengan kesal, seketika tidak lagi terlihat mata jernih yang menyimpan rasa takut dan penyesalan tadi.
"Apa? bisa-bisanya Om bikin kamu sial. Om yang sial ketemu kamu, kamu inget pertemuan pertama kita bikin Om terlibat masalah, dan sekarang? liat apa yang kamu perbuat sama Om!" kata Adrian Sambil menunjuk keningnya yang benjol, Sishi menatapnya dan berusaha sekuat tenaga menahan tawa, tentu saja membuat Adrian semakin kesal, "apa sih mau kamu sebenernya?"
"Enggak, di liat dari sudut pandang mana pun Om yang bikin aku sial, aku jadi enggak bisa ikut casting peran penting gara-gara Om!" kata Sishi tidak mau kalah dan tetap pada pendiriannya kalau Adrian lah yang membuatnya gagal mengikuti casting pertama.
"Stop!" kata Krisna dengan nada bicara lebih tinggi dari kedua orang yang tengah berdebat itu membuat Adrian dan Sishi yang tengah berdebat dengan tatapan sengit itu sedikit terperanjat sementara rekan kerja mereka yang sementara menjadi penonton merasa perdebatan itu semakin seru.
"Apapun masalah kalian berdua, siapa pun yang udah bawa sial. aku mohon selesai di luar, casting kita belum selesai dan kita harus profesional!" kata Krisna sambil menatap Adrian, Adrian mendengus kesal menyadari sang sahabat benar.
"Tapi, aku belum tau hasil casting aku gimana," kata Sishi sambil menatap Krisna.
"Kamu di diskualifikasi!" kata Adrian begitu enteng sambil menatap sengit pada gadis itu.
"Loh, enggak bisa gitu dong! Emang Om siapa seenaknya gitu memutuskan aku di diskualifikasi!" jawab Sishi tidak kalah sengitnya, Krisna menggelengkan kepala lalu tersenyum geli.
"Silakan lanjutan pembicaraan kalian di luar, karena acara casting ini harus berlanjut!" kata Krisna tegas sambil mengacungkan jari ke arah pintu keluar.
"Pak, aku lolos audisi kan?" tanya Sishi sambil menatap Krisna dengan tatapan mengiba, lelaki itu hanya diam melirik Adrian.
"Kamu enggak denger kamu di diskualifikasi?" tanya Adrian menegaskan, lelaki itu berjalan ke arah pintu keluar sambil memegangi keningnya.
"Pak," panggil Sishi pada Krisna dan lelaki itu hanya menggedikkan bahunya, gadis itu segera mengejar Adrian.
"Om, tunggu!" Suara Sishi terdengar saat Adrian sudah berjalan menjauh dari pintu ruangan audisi dan Sishi baru saja keluar, spontan semua yang ada di ruang tunggu menatapnya tetapi tidak ia pedulikan.
Adrian tak acuh, seolah tidak mendengar panggilan gadis itu ia meneruskan langkah kakinya menuju pantry untuk mencari es batu dan mengompres benjol di keningnya. Sishi bingung beberapa detik lalu memutuskan untuk mengikuti langkah lelaki itu.
"Om," panggil Sishi saat ia berdiri di depan pintu pantry yang terbuka, Adrian yang sedang mengambil es batu di dalam kulkas sama sekali tidak peduli, ia mengambil handuk kecil di dalam kitchen set lalu duduk di kursi yang ada di sana.
"Om, iya deh. Aku minta maaf, aku ngaku udah ngunci Om di dalem toilet," kata Sishi dengan suara melunak, gadis itu melangkah pelan mendekati Adrian.
"Selain nyebelin kamu juga enggak bisa baca? di pintu itu tertulis selain karyawan di larang masuk!" kata Adrian dengan ketusnya, lelaki itu hanya melirik sekilas Sishi yang berdiri dengan wajah memelas.
"Om maafin aku kan? Om enggak akan bilang sama Bos Om buat enggak ngelolosin aku di casting ini kan?" tanya Sishi dengan cepat, Adrian kembali menatap gadis itu dengan tatapan tajam, tatapan itu seolah bersinar dan siap membuat apa sama yang di tatapnya meleleh hancur.
"Kamu pikir perbuatan kamu ini bisa dengan mudah di maafkan?" tanya Adrian sambil menunjuk keningnya, "apa perlu Om visum ke rumah sakit terus bikin laporan ke kantor polisi?"
"Jangan, Om, jangan! Aku bertanggung jawab kok, aku obatin ya!" kata Sishi spontan, dengan cepat gadis itu mengambil handuk berisi es batu yang Adrian letakkan di meja lalu berniat membantu Adrian mengompres keningnya sebagai bentuk pertanggung jawaban.
Namun, saking semangatnya Sishi hingga ia tidak bisa mengontrol kecepatan tangannya dan handuk berisi es batu itu mengenai kening Adrian dengan cukup kencang.
"Aduh!"
"Maaf, Om!"
Adrian menatap tajam kedua mata jernih Sishi dengan pergelangan tangan gadis itu berada di genggamannya, lelaki itu harus mendongak karena posisinya yang masih duduk sementara Sishi berdiri begitu dekat dengannya, kedua kaki Sishi bahkan menempel pada paha luar Adrian.
"Pergi dari sini, dan jangan pernah muncul lagi di hadapan Om!" kata Adrian tegas sambil menghempaskan tangan gadis itu.
Mendengar peringatan keras dari Adrian, emosi Sishi kembali naik ia lemparkan handuk berisi es batu yang masih di pegangnya ke atas meja lalu berkata,, "oke! kalau Om pikir karena Om karyawan di PH ini Om bisa bikin aku enggak lolos casting tapi Om harus tau, kalau aku gagal meraih cita-cita aku semua itu karena Om. Waktu itu aku gagal ikut casting gara-gara Om muncul di sekolah aku, sekarang aku gagal lagi gara-gara Om muncul di sini. Hidup aku sial gara-gara ketemu sama Om!"
Adrian mengambil handuk di atas meja lalu kembali mengompres keningnya sambil menatap Sishi keluar dari pantry sambil tersungut-sungut.
"Dasar cewek gila!"
***
"Hah? kamu gila, ya? bisa-bisanya kamu ngelakuin itu!" Dini terlihat begitu heboh tetapi juga tidak percaya kalau sang sahabat melakukan hal sekonyol tapi juga seburuk itu.
"Iya, aku juga sadar itu konyol banget sekarang, tapi kamu tau sendiri kan gimana rasanya jadi aku, aku tuh kecewa, sedih, marah tapi enggak bisa berbuat apa-apa waktu kemaren gagal ikut casting. Itu semua gara-gara dia!" kata Sishi, akhirnya Dini paham tetapi hanya bisa menenangkan sang sahabat dengan mengelus punggungnya, mereka duduk berdampingan di sebuah warung bakso pinggir jalan setelah Dini menjemputnya.
"Aku tuh panik, kalau ketemu sama dia kan aku sial. Makanya aku kunci dia di toilet, aku pikir setelah aku selesai casting baru aku bukain, eh lama kayak gini jadiannya! padahal aku yakin banget aku pasti lolos casting ini, semua tuh suka sama akting aku tadi!" sambung Sishi, Dini dengan setia mendengarkan sambil menikmati baksonya sementara bakso di hadapan Sishi belum tersentuh meski sudah nyaris dingin.
"Eh kenapa tadi kamu enggak manfaatin bakat akting kamu aja, pura-pura enggak tau gitu yang ngelakuin itu siapa," kata Dini sambil menatap Sishi, sang sahabat malah menghela napas berat.
"Ya enggak bisa lah, Din, aku tuh enggak bisa ngelak lagi. Jelas-jelas di pulpen itu ada nama aku, nomor antrian itu juga punya aku, kan ada datanya nomer enam belas atas nama Shizuka Davina. Emang bener nomer enam belas itu nomer sial!" jawab Sishi panjang lebar dengan kecepatan omelan yang melebihi kecepatan cahaya.
"Eh, bukannya nomer sial itu nomer tiga belas, ya?" tanya Dini dengan polosnya, Sishi hanya memutar bola matanya malas.
"Iya, kamu bener bukan nomer enam belas yang bikin aku sial tapi orang itu, Om Adrian yang bikin aku sial!" sahut Sishi, Dini hanya tertawa kecil melihat sang sahabat yang seolah tidak lelah mengomel sejak tadi.
"Aku mau buka i********: AD prodaction house ah, siapa tau ada info penting," kata Sishi sambil mengambil ponsel di dalam tasnya.
"Iya. Tapi makan juga penting kali, Shi. Biar kamu punya tenaga buat marah-marah lagi!" kata Dini, Sishi merasa sahabatnya itu benar lalu mengambil sebuah bakso kecil dan memakannya.
Sambil mengunyah Sishi membuka akun i********: yang dimaksudnya tadi dan kedua matanya mendelik melihat foto terbaru yang di unggah akun bercentang biru itu, dan saat dia membaca caption sontak gadis itu tersedak, terbatuk dan menyemburkan bakso yang sedang dikunyahnya.
"Sishi! apa-apaan sih jorok tau!" kata Dini yang terkena semburan Sishi, gadis itu mengambil tissue sambil cemberut lalu membersihkan lengan bajunya sementara Sishi mengambil es teh miliknya dan minum berusaha meredakan batuknya dan meredakan rasa terkejut di hatinya.
"Mati aku, Din! ternyata dia bukan karyawan biasa, dia owner PH itu!" kata Sishi sambil menunjukkan foto yang sedang dilihat pada Dini.
"Mampus! kalau kamu bermasalah sama dia artinya kamu bakal di tandai sama PH-PH yang lain!" sahut Dini membuat wajah Sishi semakin memelas.
"Terus aku harus gimana?" tanya Sishi lemas tanpa semangat.
"Kamu harus rayu dia, minta maaf."
"Hah? rayu?"