Tragedi bilik toilet

2186 Words
"Sishi, buruan bantuin ibu," pekik seorang wanita dari teras rumahnya, wanita itu hanya melongokkan kepalanya ke dalam agar suaranya dapat di dengar oleh seorang gadis yang sedang berdebat di dalam kamarnya. "Lo seharusnya tau diri dong, Albert itu jelas jelas cowok gue!" bentak seorang gadis berkacamata hitam. "Iya, gue tau, tapi gue terlanjur cinta sama dia, hiks hiks hiks, gue mohon relain Albert buat gue. Lo kan kaya, cantik, populer pasti banyak yang mau jadi cowok Lo." Gadis tanpa kacamata hitam itu menangis tersedu sambil menangkupkan kedua tangan di depan dan mengiba dengan setulus hati. "Apa Lo bilang? gue harus ngerelain Albert buat Lo setelah Lo ngerebut perhatian bokap gue? Lo harus tau kalau setelah bokap gue nikahin nyokap Lo, semua perhatian bokap gue jadi terbagi sama Lo, sodara tiri yang enggak gue pengenin! dan sekarang? sekarang Lo, pengen gue ngelepasin Albert buat Lo?" Dengan menahan emosi, gadis cantik itu berteriak dramatis, di balik kacamata hitamnya kedua mata indah iyu membola menatap gadis yang ada di hadapannya. "Gue enggak pernah, berniat ngerebut perhatian Bokap Lo, kebetulan aja orang tua kita nikah dan kita jadi saudara tiri, gue enggak pernah mempermasalahkan kalau Lo enggak mau anggep gue sebagai saudara," jawab gadis tak berkacamata itu, pandangannya sayu tidak ada niat untuk membalas hardikan yang tengah tertuju padanya. "Kebetulan? Terus Lo mau bilang kalau Lo ngerebut Albert dari gue juga kebetulan?" Gadis yang terlihat begitu emosional itu membetulkan letak kacamata di hidung mancungnya. "Sishi ...." Kembali pekikan itu terdengar dari luar kamar membuat gadis itu berdecak kesal. "Duh, apaan sih ibu ganggu orang lagi latihan aja!" gerutu gadis berkacamata hitam itu sembari meninggalkan cermin di lemari yang sedari tadi memantulkan bayangan dirinya sendiri. Gadis periang itu keluar kamar lalu melenggang cepat ke teras di mana sang ibu berada, ada beberapa orang lain di sana dan spontan orang yang sedang mengantri itu menahan tawa melihat penampilannya. "Apa, sih, Bu?" tanya gadis itu pelan menahan kesal karena menurutnya sang ibu sudah mengganggu aktifitasnya. "Ya ampun, Sishi! ngapain kamu pagi pagi gini di dalem kamar pake kacamata item begitu?" tanya sang ibu melihat tingkah anak gadisnya, Sishi hanya nyengir kuda sambil menaikkan kacamatanya hingga kini kacamata itu bertengger di atas rambutnya yang di jepit di belakang. "Pagi apanya, sih, Buk, ini udah jam sebelas siang," jawab Sishi ringan sembari berjalan lebih mendekat ke arah wanita yang sudah melahirkannya itu. "Nah, itu kamu tau udah siang, kenapa enggak bantuin Ibu? tuh, kamu potongin lontong biar cepet, bu Menik pesan lima bungkus, Bu Ani pesan tiga bungkus, Bu Yuli pesan dua bungkus," kata wanita bertubuh mungil seperti sang putri itu mengingat-ingat pesanan yang sudah ia terima sembari mengulek kacang tanah goreng, cabe dan teman-temannya sementara Sishi sudah melaksanakan tugas yang ibunya berikan. Itulah kegiatan Sishi jika sedang libur sekolah seperti hari ini, membantu sang ibu berjualan gado-gado di teras rumahnya. "Kamu tuh ngapain, sih, Shi?" tanya wanita yang sudah tidak terlalu muda tetapi belum bisa di bilang tua juga, baru empat puluh tahun usianya, mereka bisa duduk santai di sebuah kursi panjang yang ada di teras rumah sederhana itu setelah pelanggan gado-gado yang juga tetangga sekitar komplek perumahan itu pulang sambil membawa gado-gado pesanan mereka. "Lagi latian akting, Bu," jawab Sishi sambil memasang kacamata hitamnya lagi, sedikit merepotkan memang latihan memainkan dua tokoh berbeda karakter seperti yang sedang ia lakukan tadi, terlebih lagi dia harus melakukannya sembari membuka dan memasang kacamata hitamnya sebagai aksesoris. "Buat apa kamu latihan-latihan begitu? Ibu kan udah bilang, kamu enggak usah pengen-pengen jadi artis. Kamu sekolah aja yang bener, biar cepet lulus terus cari kerja. Walaupun kamu enggak bisa bantu biaya sekolah adik-adik kamu seenggaknya kamu bisa ngeringanin beban ibu dengan membiayai hidup kamu sendiri," kata sang ibu, Sishi hanya menghela napas pelan seolah sudah begitu hapal dengan apa yang selalu ibunya katakan setiap kali dia mengatakan ingin menjadi seorang pelakon seni peran. "Iya, Bu, Sishi tau keadaaan kita, Sishi juga sadar kalau kita bukan orang kaya makanya Sishi mau jadi artis dan mengangkat derajat keluarga kita," jawab Sishi sambil menaikkan kedua tangannya tinggi ke udara, sang ibu hanya menghela napas pelan. "Kamu pikir jadi artis gampang? Ibu tuh takut, sekarang banyak modus penipuan berkedok agensi, Sishi. Ibu takut kamu ketemu orang yang salah dan kamu di tipu sama mereka kamu di apa-apain sama mereka. Pokoknya ibu enggak ngasih ijin ya kalau kamu ikut-ikutan casting lagi!" Dengan tegas wanita itu memberikan peringatan. "Iya, Buk, iya. Tapi nanti sore Sishi minta ijin buat nganterin si Dini beli buku ya," kata Sishi dengan senyum manisnya merayu sang ibu, terpaksa berbohong lagi adalah satu-satunya cara bagi Sishi untuk mengikuti casting itu, jika tidak bagaimana pun sang ibu tidak akan mengijinkannya sementara casting sore nanti adalah hal yang begitu penting setelah dia kehilangan satu kesempatan yang jauh lebih baik karena Om-om bernama Adrian. "Beli buku beneran, ya, nanti Dini harus ke sini jemput kamu biar Ibu tanya kamu bohong atau enggak," jawab ibunda Sishi tegas, gadis itu tersenyum santai. "Iya. kalau enggak percaya kan Ibu bisa telpon Mamanya Dini, Mamanya Dini juga nitip novel katanya," jawab Sishi santai karena memang dirinya tidak sepenuhnya berbohong, Dini memang akan membeli buku dan Sishi hanya menebeng sepeda motornya sampai tempat casting saja. "Ya udah. sekarang kamu tungguin dagangan, Ibu mau masak sebentar lagi Bapak kamu pulang dari pangkalan," kata wanita itu seraya bangun dari duduknya. "Siap, Bos!" jawab Sishi sambil menaruh tangan di kening dan tersenyum karena telah berhasil mengelabui sang ibu, ada rasa bersalah yang gadis itu rasakan sebenarnya tetapi ia terpaksa harus berbohong. "Lepas itu kacamatanya, ntar dagangan kita enggak ada yang beli dikiranya yang jualan lagi belekan!" kata ibunda Sishi sebelum memasuki rumah, Sishi tertawa kecil sambil melepas kacamata hitamnya. Gadis itu kembali mengasah kemampuan aktingnya dengan berbicara menggunakan berbagai intonasi dan gaya berbicara di belakang meja yang di tutupi banner bertuliskan Gado-gado Bu Eni, enak, sehat, bergizi. *** "Kamu beneran mau aku anter sampe sini aja?" tanya Dini sambil menatap sebuah gedung, bukan gedung pencakar langit karena hanya terdiri dari beberapa belas lantai saja. Salah satu unit di gedung itu adalah tempat rumah produksi yang akan Sishi datang beroperasi. "Iya, enggak apa-apa, sana kamu ke toko buku aja. Biar enggak terlalu malem nanti kita pulang. Pokoknya siapa pun yang selesai duluan ngasih kabar, ya," jawab Sishi sembari merapikan rambutnya yang sedikit berantakan karena helm yang baru saja dia kenakan. "Oke. Kamu semangat, ya!" Dini mengepalkan tangannya tanda memberi sang sahabat semangat. "Aku tuh kayaknya udah overdosis semangat! Kamu doain aku aja deh, itung-itung ngewakilin doanya ibu," kata Sishi sambil tertawa kecil. "Mana bisa doa ibu di gantiin doa aku. aku aja masih banyak bandelnya!" jawab Dini tahu diri, gadis itu tertawa geli, "tapi tenang aja, sebagai sahabat yang baik aku selalu doain kamu kok." "Udah sana masuk, good luck, ya!" Kedua sahabat itu saling melambaikan tangan sebelum Dini kembali menjalankan sepeda motornya dan Sishi melangkah dengan penuh semangat memasuki gedung itu, langkahnya begitu ringan hingga gadis bertubuh mungil itu terlihat seperti melonjak-lonjak, rambutnya yang di kuncir kuda bergoyang-goyang persis seperti ekor kuda. Memasuki lobi gedung, lalu menoleh ke kanan dan gadis itu langsung melihat lift, ia sudah tahu jika tempat yang dia tuju berada di lantai sembilan maka gadis itu langsung menekan angka sembilan setelah memasuki lift, ada beberapa orang lain juga di dalam lift itu. "Atas nama Shizuka Davina, kan? silakan menunggu," kata seorang pegawai rumah produksi tempat Sishi mengonfirmasikan kedatangannya. "Pake nomer antrian, Mbak? kayak di puskesmas aja," kata Sishi setelah melihat beberapa formulir yang harus dia isi dan ada sebuah nomer antrian juga di antaranya. "Iya, karena setiap pembukaan casting selalu ramai peminatnya jadi ya harus di kasih nomer antrian biar rapi dan enggak rebutan," jawab wanita itu. "Aku nomer enam belas, sekarang udah nomer berapa?" tanya Sishi agar dia bisa memperhitungkan berapa lama dirinya harus menunggu. "Baru nomer sepuluh," jawab wanita itu sambil tersenyum. "Oh, ya udah. Terima kasih, mbak," ujar Sishi yang bergegas pergi karena sudah ada beberapa gadis lain yang datang dan ingin melakukan hal yang sama dengannya. Sishi duduk di kursi tunggu yang berderet memanjang bersama para gadis lain, ada beberapa pemuda juga di antaranya Gadis itu mengambil pulpen dari dalam tasnya dan mengisi formulir yang diberikan padanya tetapi belum selesai dia mengisi kertas itu, ekor matanya menangkap penampakan seseorang yang tidak asing baginya. Seorang lelaki berkaus hitam melintas di depannya membuat dirinya yang sedang menunduk untuk menulis mengangkat kepala dan menatap lelaki itu. "Itu kan dia!" gumam Sishi melihat sesosok lelaki yang telah membuatnya batal mengikuti casting peran pendamping kemarin dan terpaksa mengikuti casting peran pendukung sekarang. "Ngapain dia di sini? bisa kena sial lagi aku kalau ketemu dia!" sambung Sishi dalam hatinya, gadis itu tanpa pikir panjang bangun dari duduknya lalu berjalan mengikuti Adrian dari belakang. "Benaran kan itu dia, aku enggak salah liat. Aku beneran bisa sial!" kata Sishi lirih tanpa suara hingga tidak ada yang bisa mendengar, gadis itu mengintai dari balik dinding saat Adrian memasuki kamar mandi. Dengan berjalan mengendap-endap Sishi membuka pintu luar toilet lelaki dan membuka pintu itu sedikit, ia melihat Adrian buru-buru memasuki salah satu bilik toilet yang terlihat sepi itu hingga Sishi memberanikan diri untuk masuk. Gadis itu berjalan tanpa suara lalu melihat ke sekitar saat mendapatkan sebuah ide yang menurutnya brilian. Sishi sedikit berpikir lalu mendapatkan ide lebih banyak lagi, ia melepaskan kunciran rambutnya lalu mengikatkannya ke pegangan pintu toilet lalu menyematkannya ke sela kusen dengan pulpennya agar pintu toilet di mana Adrian sedang berada itu tidak bisa di buka dari dalam. "Aman," kata Sishi tanpa suara, gadis itu kembali melangkahkan kakinya tanpa suara dan kembali ke ruang tunggu. Beberapa menit yang lalu saat Sishi masih berada di depan gedung, acara pencarian bibit-bibit artis berbakat di sebuah rumah produksi sudah berjalan. Beberapa orang yang percaya diri dengan bakatnya dan memiliki tekad yang kuat sudah mulai menunjukkan bakatnya di depan beberapa orang memang kompeten memberikan penilaian, termasuk seorang lelaki tampan berkaus hitam. Lelaki itu terlihat santai menyaksikan beberapa peserta menunjukkan bakat aktingnya hingga ia merasakan sakit di perutnya, rasa sakit yang semakin lama terasa semakin memelintir perutnya itu akhirnya membuatnya menyerah. "Kris, aku ke toilet dulu, ya. Mules banget nih perut!" kata Adrian berpamitan pada rekan kerjanya. "Yaelah, mencret kamu? di kasih makan apa sih sama istri di rumah?" tanya lelaki bernama Krisna sambil tertawa meledeknya, Adrian hanya berdecak kecil karena kesal. Sejak menikah hingga detik ini pun Karin tidak pernah memberinya makanan, jangankan makanan yang wanita itu masak sendiri sekedar teh manis saja tidak pernah. Adrian berjalan cepat meninggalkan ruangan casting sambil memegangi perutnya, lelaki itu bahkan lupa membawa ponselnya. Adrian ingat tadi siang sebelum ke kantor dia mampir ke rumah makan milik seorang artis ternama yang menjual ayam geprek bersambal pedas itu yang membuat perutnya terasa melilit-lilit sekarang hingga lelaki itu harus menghabiskan waktu lama di kamar mandi hingga hajatnya benar-benar tuntas. Setelah merasakan perutnya sedikit membaik, Adrian kembali mengenakan celananya dengan benar lalu berusaha membuka pintu, lelaki itu mengerutkan keningnya saat pintu itu tidak bisa langsung terbuka. "Halo, ada orang di luar?" pekik Adrian yang merasa pintu itu terkunci, mungkin kuncinya rusak dan sialnya tidak ada yang menjawab panggilannya. Toilet itu memang khusus unit yang ia sewa saja hingga tidak begitu banyak orang yang menggunakannya. "Sialan, enggak bawa hape lagi," gerutu Adrian, lelaki itu tidak mau dengan konyolnya terkunci di kamar mandi akhirnya dia menarik lebih kencang handle pintu itu dan dengan keras pula pintu itu terbuka, seberapa besar sih kekuatan karet mengikat rambut? Adrian terhuyung ke belakang saat daun pintu yang dengan kencang ia tarik dengan kencang pula mengenai keningnya, suara cukup keras terdengar beruntung saat itu tidak ada orang lain di toilet itu jika ada pasti Adrian akan merasa malu. "Sialan!" kata Adrian sambil mengelus keningnya yang terasa sakit, tiba-tiba saja kening itu terasa lebih menonjol. Benjol. "Eh, apa ini?" kata Adrian melihat ikat rambut yang ada di pegangan pintu, "ada yang sengaja ngunci aku di kamar mandi?" Adrian keluar bilik toilet dan melihat lebih pasti, lelaki itu menjadi lebih yakin jika seseorang sengaja menguncinya saat melihat sebuah pulpen tergeletak di lantai, pasti terpental saat ia menarik paksa pintu tadi. Dengan begitu kesal Adrian mengambil pulpen berwarna merah dengan ulir putih itu, ada sebuah kertas lebel menempel di pulpen itu dan sebuah nama tertulis di sana. Sishi. "Kayak kenal nama ini!" gumam Adrian, dengan kesal lelaki itu mengambil ikatan rambut yang ada di pintu, ia ingin segera mengetahui siapa orang yang sudah berani menguncinya di dalam toilet, lelaki itu tersenyum saat melihat sebuah benda lain tergeletak di dekat pintu masuk toilet. Sementara Adrian berjalan dengan kesal sambil memegangi keningnya yang benjol semakin besar, di dalam ruang casting Sishi tersenyum lebar dengan hati gembira saat melihat semua orang ruangan itu bertepuk tangan usai melihat dirinya menunjukkan bakat. "Terima kasih, terima kasih," kata Sishi dengan gaya cerianya sambil sedikit membungkuk pada orang-orang yang terlihat senang melihat aktingnya, dalam hati gadis itu begitu optimis akan mendapatkan sebuah peran dalam film itu. Namun, suasana mendadak menjafi tegang karena semua yang ada di dalam ruangan terkejut saat pintu masuk ruangan itu terbuka dengan kencang dari luar dan menampakkan sesosok lelaki yang terlihat begitu marah dengan kening membesar dan memerah. "SIAPA YANG UDAH NGUNCI AKU DI TOILET?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD