bc

Baby Sitter Tuan CEO

book_age16+
3.2K
FOLLOW
53.5K
READ
family
maid
drama
sweet
bxg
regency
cheating
slice of life
nanny
naive
like
intro-logo
Blurb

Kinara Anjani baru saja mendapat pekerjaan yang tidak pernah terpikir olehnya. Menjadi Baby Sitter anak dari seorang CEO galak. Namun, di tengah proses bekerja, dia megetahui rahasia besar sang Istri CEO yang berselingkuh. Kinara diancam bahkan hampir di lenyapkan demi menjaga rahasia ini. Bisakah Kinara menjalani pekerjaannya dengan semua ancaman sang Nyonya?

chap-preview
Free preview
Diterima Kerja
Gadis dengan rambut sebahu itu, Kinara Anjani, mencium punggung tangan ibunya dengan lembut. Dia meminta restu dan doa untuk pergi mencari pekerjaan. "Semoga dapat, ya, Kinar," kata ibunya sambil mengelus kepala anaknya. "Iya, Bu. Doain aku, ya," ucap Kinar, lalu keluar rumah. Hari ini dia akan memasukkan lamaran pekerjaan yang telah dibuat ke beberapa perkantoran. Harapannya hanya satu, bisa membantu pengobatan ayahnya yang sedang rawat inap karena sakit diabetes. Sehari-hari Kinar dan sang Ibu hanya mengandalkan penghasilan sebagai pedagang nasi uduk. Namun, semenjak ada pesaing baru yang dagangannya lebih beragam, pelanggan mulai meninggalkan mereka. Modal yang awalnya tipis sampai habis tak tersisa, tetapi pengeluaran tak pernah berhenti. Terpaksa ibunya menjual cincin kawin yang sangat dipertahankan. Demi melancarkan usaha Kinar mencari kerja. Harapan besar dia gantungkan kepada putri keduanya itu. Mengingat, putri pertamanya tak mau membantu dengan alasan tak diberi ijin oleh suaminya. *** Kinar menyusuri pedestrian yang asri, sesekali dia menengok ke beberapa bangunan kantor untuk melihat apakah ada tanda lowongan pekerjaan atau tidak. Ketika gadis berhidung bangir itu hendak berbelok, ekor matanya menangkap sebuah objek yang dicari-carinya sejak tadi. Sebuah kertas putih ukuran sedang tertempel di pos sekuriti di depan bangunan tersebut. Setengah berlari dia menuju ke sana. Saat sampai di depan pos, Kinar berhenti untuk menetralkan napasnya. Kemudian mengambil cermin kecil di dalam tas. Dia berkaca, melihat riasan ala kadarnya apakah masih membalut wajahnya atau tidak. Setelah memastikan semuanya rapi. Gadis berpakaian formal itu mengetuk pos sekuriti. "Pak, saya mau melamar pekerjaan. Ini surat lamarannya." Kinar memberikan amplop coklat ke seorang sekuriti bertubuh tinggi di dalam pos itu. Sang sekuriti menerima dengan ramah dan mempersilakan Kinar untuk masuk lewat pintu kecil di samping pos. "Hari ini ada walk in interview. Jadi, Mbak langsung masuk saja dan bilang ke resepsionis, ya." Sekuriti ber-name tag Aldi, berkata sambil mempersilakan Kinar masuk lebih dalam. "Baik, Pak. Terima kasih." Usai menukarkan KTP dengan kartu pengunjung, Kinar masuk dengan degup jantung yang tak beraturan. Baru kali ini dia mengikuti Walk in interview. Persiapannya sangatlah pas-pasan. Dia pun tak tahu, posisi apa yang kosong di kantor ini karena tak ada info di pos. Saat ingin bertanya perihal posisi apa yang dibutuhkan kepada petugas keamanan tadi, orang yang dia ingin tanyai tadi ijin undur diri terlebih dahulu, karena ada tamu. Kinar memutuskan melangkah dengan pelan. Sesampainya di depan resepsionis, gadis dengan kulit langsatnya itu langsung mengutarakan niatnya. Seorang wanita yang berdiri di depannya tersenyum manis dan mempersilakan Kinar duduk di ruang tunggu. Belasan menit berlalu, satu per satu pelamar sudah dipanggil ke dalam. Saat keluar dari ruangan itu, ekspresi yang terlihat semuanya sama, 'Kesal'. Kinar semakin takut dan tak percaya diri. Ingin bertanya pun rasanya tak pantas. "Kinara Anjani, silakan masuk." Saat namanya dipanggil, Kinar langsung memasang senyum terbaiknya dan masuk ke ruangan interview. Suasana tegang menyelimutinya saat di dalam. Sebuah ruangan besar dengan interior yang terkesan kaku, berwarna hitam dan putih. Udara juga sangat dingin, mungkin suhu AC dipasang serendah mungkin. Namun, Kinar baru menyadari kalau suhu dingin ini bukanlah berasal dari AC, tetapi dari sesosok pria yang sedang memandangnya dengan tajam di seberang. Pria berambut hitam, yang sedang memegang surat lamaran beramplop cokelat. Dia memiliki aura tak bersahabat, malah terkesan galak. Tampak dari matanya yang tajam, serta tulang rahang yang terlihat kokoh itu. "Silakan duduk, Kinar," perintah wanita yang memanggilnya tadi. "Terima kasih." Kinar duduk dengan hati-hati. Sangat hati-hati. Gadis itu berusaha supaya bangku yang hendak diduduki tak bergerak apalagi berdecit, karena tatapan pria di depannya masih tak beralih melihatnya. Sangat menakutkan dan mengganggu, serta mengintimidasi. "Dira, tinggalkan saya berdua dengan Kinara." "Baik, Pak." Sejak tadi Kinar memperhatikan kelangsungan interview. Wanita yang bernama Dira itu tak pernah sekalipun meninggalkan ruangan. Namun, kenapa saat gilirannya, wanita itu harus pergi dari sini? "Kamu pikir saya mau berbuat apa?" Suara berat pria di depannya menginterupsi lamunan Kinar. Refleks Kinar salah tingkah dan mendadak gugup. Mungkin bila dia berkaca, wajahnya pasti pucat kekurangan darah. "Berani-beraninya kamu melamar posisi ini dengan pengalaman kerja yang nihil," katanya dengan nada tidak ramah sama sekali, malah terkesan ketus. "Kamu tahu? Posisi ini urgent sekali untuk kelangsungan hidup saya." Pria berkulit eksotis itu memajukan duduknya, seperti memberitahu kalau ini sangatlah penting. Kinar merasakan hal yang aneh dengan kata-kata pria di depannya. Matanya memindai ke segala arah dan dia baru menyadari kalau di meja besar di depannya itu terpajang sebuah papan nama bertuliskan CEO Rakasya Suwantoro. Jadi, pria galak yang terus mengoceh tentang pengalaman kerja Kinar itu bernama Rakasya Suwantoro. Nama unik yang baru kali ini dia tahu. "Saya tidak akan membayar orang bekerja di sini hanya untuk melamun!" Pria itu berkata dengan nada yang datar, tapi entah kenapa terasa seperti bentakan. Kinar kembali pada kesadarannya setelah berkutat dengan nama seorang pria di depannya. "Ma-maaf, Pak. Saya benar-benar butuh pekerjaan ini. Saya siap dengan semua tugas yang diberikan, Pak," jawab Kinar, dia tak berani menatap pria yang tiba-tiba memarahinya seperti anak kecil. Rakasya tersenyum sinis, dia memajukan duduknya dan kembali memandangi Kinar lebih dalam, tanpa berkedip. "Baiklah, pekerjaan ini sangat menguras waktu dan tenaga. Saya butuh seorang baby sitter untuk anak-anak saya di rumah." Kinar menganga mendengar penuturan Rakasya. Dia merasa kalau kantor ini tak bergerak dibidang asuh mengasuh anak. Semua orang berpakaian formal, dengan dasi dan celana bahan. Buat apa mengasuh anak dengan pakaian seperti itu? Bukankah itu merepotkan? Kinar juga baru sadar dengan raut wajah para pelamar yang keluar ruangan. Mereka semua memasang tampang ditekuk. Pasti semuanya merasa tertipu dengan lowongan yang diberikan. "Lho, kok, kamu bengong lagi? Kamu bersedia atau tidak? Saya tak punya banyak waktu!" katanya lagi, kini pria itu bersedekap. "Pak, apa saya gak salah dengar, bukankah jelas-jelas tertulis di pos sekuriti kalau perusahaan ini buka lowongan?" tanya Kinar. Dia gemas dan tentunya dia sadar sudah kurang sopan. Akan tetapi, mau bagaimana lagi? Dia memang tak punya pengalaman apa pun sebagai pengasuh. Sejujurnya, Kinar tidak suka anak kecil. Menurutnya, makhluk mungil itu merepotkan dan jahil seperti tetangganya yang kebetulan berumur tujuh tahun. Kinar bergidik bila harus bekerja sebagai pengasuh anak seorang pria galak. Salah sedikit dia bisa habis. Namun, kalau pekerjaan ini menjanjikan, sepertinya dia tak punya pilihan. Mau ke mana lagi mencari kerja? Apalagi hanya lulusan SMA. "Makanya baca yang teliti. Kamu tidak usah permasalahkan gaji. Perbulannya saya jamin kamu bisa tenang. Untuk bulan pertama, gaji kamu sebesar lima juta. Selanjutnya akan ada kenaikan berdasarkan kinerja kamu yang akan dievaluasi oleh istri saya. Bagaimana, kamu tertarik, bukan?" Lima juta untuk bulan pertama adalah suatu pencapaian untuk Kinar. Dia pernah bekerja di toko roti dengan gaji setengahnya saja. Jam kerjanya juga gila-gilaan. Kalau dia menjaga anak seorang yang kaya, tentunya dia akan bekerja di rumah mewah dengan semua fasilitas yang tak kalah 'wah' pastinya. "Bagaimana Nona Kinara Anjani? Apa anda bersedia?" tanya Rakasya, sekali lagi, ada penekanan di setiap kata yang pria itu lontarkan. Kinar terdiam sesaat. Kemudian dia mengangguk setuju. Rakasya tersenyum penuh kemenangan. Dia seperti mendapat lotre. "Oke, tanda tangan di kertas kontrak ini!" Setelah membaca terlebih dahulu dengan saksama, Kinar akhirnya menandatangani surat kontrak itu. Dia langsung dipersilakan untuk keluar ruangan. Namun, baru beberapa langkah dari pintu, Rakasya berjalan di sampingnya. Sekarang mereka beriringan keluar kantor. Kinar memilih diam saja. Dia merasa aura bosnya sedang tidak baik. Sejak tadi pria itu tak pernah lepas menatap layar ponsel. Rahangnya tampak mengeras seiring ibu jari yang terus men-scroll layar sentuh ponselnya. Kinar bergidik dengan sikap dingin Rakasya. Dia terus berdoa semoga semasa dia bekerja nanti, Rakasya tidak ada di rumah untuk mengawasinya. Keduanya sudah sampai di depan kantor. Kinar langsung menuju ke pos sekuriti dan menukarkan kartu pengunjung dengan KTP miliknya. Aura tak enak kembali menyelimutinya ketika menyadari kalau Rakasya masih saja berjalan di dekatnya. Pria itu juga berhenti di pos sekuriti, membuat para anggota keamanan di dalamnya berdiri serempak. Mereka semua terlihat tegang saat mendapat tatapan tajam dari boss-nya itu. Rakasya berhenti di depan mading yang ada di pos sekuriti. Dia menatap kertas putih berisi pengumuman lowongan kerja yang ditempel. "Pantas saja semua pelamar menolak pekerjaan yang kosong. Ternyata kalian tidak menempelkan kata Baby Sitter di pengumuman itu!?" Rakasya memegangi dahinya, kesal. "Maaf, Pak. Tapi Ibu melarangnya. Jadi kami ganti sama yang biasa aja," kata Pak sekuriti yang baru saja memberikan KTP milik Kinar. "Yang jadi boss di sini siapa?!" tanya Rakasya, dengan nada tinggi. "Bapak Rakasya, " jawab semuanya serempak. "Ya sudah, kalau kalian masih aja nurut sama istri saya. Minta gaji sama dia!" "Ya Allah, jangan Pak. Maafin kami pak." Tiga orang berseragam itu menghampiri Rakasya dan meminta maaf. Mereka berebut memegang tangannya. Merasa risih, Rakasya mundur menjauh. Dia menarik napas dalam dan membuangnya kasar. "Jangan diulangi lagi!" katanya, lalu berbalik dan masuk ke mobil mewahnya. Kinar masih terdiam sampai sebuah tepukan mendarat di pundaknya. "Mbak, nerima pekerjaan itu atau nolak?" tanya Pak sekuriti dengan name tag Yanto, itu. "Terimalah, Pak. Lumayan gajinya besar. Saya pulang, ya, Pak. Kata Pak Rakasya kerjanya mulai besok." "Tapi, Mbak, dibetah-betahin aja, ya. Soalnya ...." Pak Yanto menggantung ucapannya, wajahnya tampak tak berminat untuk menjelaskan lebih jauh. Kinar penasaran dan bertanya, "Kenapa, Pak?" "Pokoknya disabar-sabarin aja kalau kerja di sana, ya. Semangat Mbak, semoga betah." Tanpa mau mendengarkan perkataan Kinar lagi. Pak Yanto dan yang lain langsung masuk Pos dan menutupnya rapat. Kinar makin merasa tak enak perasaan kalau ada info yang sepertinya mencurigakan ini. Namun, semua ini dia lakukan demi orang tua. Apa pun rintangannya dia harus terus berjalan. "Semangat Kinar!" katanya, menyemangati diri sendiri. Kemudian pergi meninggalkan kantor aneh ini karena dia harus pergi ke rumah sakit menjaga ayahnya.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
192.9K
bc

TERNODA

read
201.1K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.8K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1K
bc

Kali kedua

read
221.0K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
21.9K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
33.1K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook