Kinar kaget saat mendengar kata-kata yang diucapkan oleh anak sembilan tahun itu, bagaimanapun dia tak habis pikir. Sebenarnya apa yang anak ini ketahui. Karena Aski saja tak mengatakan apa pun dan malah terkesan senang dengan kehadirannya di sini.
Kinar hendak berbisik di telinga Dion, tetapi bocah itu langsung menjauhinya dan menggandeng tangan Aski untuk mengikutinya keluar dari ruang bermain. Sang Adik menurut saja, walaupun tetap meminta Kinar untuk mengikuti mereka.
"Ikuti anak-anak dan awasi permainan apa saja yang mereka lakukan. Nanti, sebelum pulang, kamu harus laporkan semuanya ke saya sebagai evaluasi kinerja yang akan diserahkan ke Tuan Muda."
Kinar mengangguk dan mulai berjalan beberapa langkah di belakang anak-anak Tuan Rakasya. Kedua bocah itu tampak kasak-kusuk. Aski beberapa kali menengoknya dan kembali bisik-bisik dengan Dion. Seperti ada perdebatan di sana. Kinar yakin, kalau dialah yang menjadi bintang utama dari perdebatan antara kakak-adik tersebut.
Akan tetapi, dia masih penasaran dengan apa yang dikatakan Dion tadi. Sebenarnya apa alasan anak itu dengan kata-kata 'Nanti Mamah marah lagi'.
Kini jarak mereka semakin dekat, dan Kinar memutuskan untuk mensejajarkan langkahnya dengan kedua anak tersebut. Dion tampak terkejut ketika Kinar memutuskan berjalan di sampingnya.
Anak itu menghentikan langkah dan berbalik, lalu berlari memuju kamarnya. Kinar ingin mengejarnya, tetapi Aski langsung mencekal pergerakannya. "Jangan, Tante. Kak Dion lagi marah sama aku. Dia kalau kesal masuk ke kamar. Nanti biasanya kalau Papa pulang, pasti kita baikan lagi." Setelah mengatakan itu, Aski tampak murung.
"Oke, kalau gitu, tante boleh tanya sesuatu sama Aski?" Kinar tak tahan lagi dan mencoba mengorek informasi yang penting dari mulut anak kecil tersebut.
"Em, boleh aja, Tan."
"Yaudah, gimana kalau kita cari tempat duduk dulu? Aski mau di mana?"
"Taman dekat gerbang, aja, yuk, Tan?"
Kinar mengangguk dan mereka berjalan beriringanenuju taman yang terletak dekat pintu gerbang utama. Taman dengan berbagai tanaman hias dan rumput itu terlihat indah dipandang. Di tengahnya ada bangku melingkar yang bisa menampung sepuluh orang sekaligus. Sambil memegang bonekanya, Aski mengambil duduk lebih dekat dengan tanaman bunga anggrek. Sementara Kinar duduk di dekat bunga mawar.
"Jadi, Aski udah bisa cerita, sekarang?"
"Bisa. Jadi tadi Kak Dion bilang, kalau dia gak suka sama Tante. Karena Mama udah kasih pesan ke Kak Dion, kalau ada Tante-Tante yang mau jadi teman main kita itu, pasti jahat dan mau ambil Papah dari kita berdua. Makanya tadi Kak Dion, marahin aku karena udah dekat-dekat sama Tante." Aski menatap Kinar dengan sorot sedih. Hal itu membuat Kinar jadi semakin tak paham.
"Memangnya sudah banyak, ya, Tante-Tante yang mau jadi teman main kalian?"
Aski menerawang, dia meletakkan boneka di sampingnya, lalu kedua tangannya terangkat. "Ada segini Tante." Aski, menggerakkan sepuluh jarinya bersamaan.
Kinar menganga, jadi dia adalah orang ke sebelas. Kemudian akan segera menjadi alumni baby sitter mereka berdua. Kalau seperti ini akhirnya, kenapa juga mereka masih berani memasang lowongan kerja untuk profesi ini. Sungguh membuat kesal saja.
Aski kembali memainkan bonekanya dan dia tampak berceloteh sendirian tanpa memperdulikan Kinar yang sebenarnya adalah teman mainnya. Namun, semakin lama, anak itu tampak bosan. Dia meletakkan bonekanya di bangku. Kemudian matanya menatap Kinar.
"Tan, aku bosan. Gimana kalau Tante bacaain aku dongeng?"
Kinar menggaruk tengkuk tak gatal. Bagaimana bisa dia memberi penjelasan ke Kinar, kalau dia tak biasa melakukan ini.
"Tan, ayo. Bacain dongeng tentang Putri Salju. Soalnya, kata Papa, aku mirip sama Putri Salju."
Aski menatap Kinar dengan mata yang berbinar. Bocah kecil itu terlihat antusias.
"Em, tapi, Aski. Tante gak bisa ...."
Belum selesai Kinar berbicara, Aski sudah lebih dulu terlonjak dari bangku. Gadis kecil tersebut tampak kegirangan saat melihat sebuah mobil mewah memasuki gerbang dan menekan klakson beberapa kali. Seperti memberi kode ke Aski.
Anak perempuan itu, segera beranjak dari taman dan berlari kecil menghampiri mobil yang terparkir di depan pintu taman. Sementara Kinar merasa jantungnya semakin berdegup kencang memikirkan siapa orang yang ada di dalam kendaraan roda empat tersebut. Jangan-jangan dia adalah istrinya Rakasya. Sungguh Kinar ingin berlari dan sembunyi. Dia belum siap bersitatap dengan wanita itu.
Namun, Kinar sepertinya salah lagi. Dia sedikit lebih tenang saat mengetahui kalau penumpang mobil itu adalah Rakasya. Pria yang masih memakai setelan formal itu keluar dari mobil dan berlutut saat putrinya berlari dengan ancang-ancang akan memeluknya.
Rakasya, pria galak yang Kinar temui di kantor kemarin, sungguh berbeda. Dia tampak lebih hangat dan sangat sabar menghadapi Aski yang terus saja menempel dan menciumi seluruh wajahnya. Bahkan Rakasya tertawa saat Aski menggigit telinganya. Kinar ikut tersenyum, saat Rakasya melambaikan tangan kepadanya. Namun. senyum pria itu seketika pudar saat Aski membisikan sesuatu. Kemudian anak itu turun dari gendongan sang Ayah. Sebelum benar-benar pergi, Aski tersenyum dan melambaikan tangannya ke arah Kinar.
Kinar merasa inilah akhir dari masa bekerjanya. Dia menebak dalam hati, pasti gadis kecil itu baru saja mengadukan untuk memecat dirinya karena Dion juga merasa tak cocok.
Rakasya memasukkan tangannya ke saku celana. Dia berjalan perlahan mendekati Kinar. Setelah jaraknya semakin dekat Rakasya tersenyum sinis. Dia menghela napas kasar dan menggeleng.
"Apa saya harus cari baby sitter baru untuk anak-anak lagi, Kinar? Saya harap kamu yang terakhir. Namun. sepertinya Aski ... entahlah. Apa saya bisa mempercayakan mereka untuk kamu jaga."
Rakasya mengambil duduk di bangku taman. Dia duduk dengan santai di sana. Sesekali pria itu melihat jam yang melingkar di tangan kirinya.
"Duduklah!"
Kinar menurut dan duduk dengan menjaga jarak. Rakasya kembali menghela napas lelah.
"Kalau jauh begitu gimana kita bisa ngobrol, Kinaaar?" Tampangnya langsung kesal.
"Maaf. Pak." Kinar menggeser duduknya lebih dekat.
"Jadi, benar apa yang dikatakan Aski?" tanya Raksaya to the point.
"Maaf, Pak. Tapi saya gak ngerti apa yang dikatakan Dion."
"Hah? Tunggu dulu, memang apa yang dikatakan anak saya?"
Kinar terdiam dengan pertanyaan Rakasya. Jadi, bukan penolakan Dion yang dibisikan oleh Aski, melainkan hal lain. Jangan-jangan kejadian di rumah sakit.
"Pak, yang dikatakan Aski sebenarnya gak benar." Tanpa menunggu Rakasya menjelaskan, lebih baik Kinar memotong pembicaraan. Karena dia butuh pekerjaan ini dan belum bisa melepasnya hanya karena kejadian yang tidak disengaja sama sekali.
"Kamu ngomong apa? Ngaco aja!" Rakasya berdiri. "Sekarang ikut saya ke ruang baca. Saya mau kasih kamu pelajaran!"
"Tap ...." Kinar tak bisa menjawab karena Rakasya berjalan cepat memasuki rumah.
Dengan langkah gontai, Kinar mengekor bosnya ke tempat penuh buku miliknya.
Sesampainya di sana. Kinar terpana dengan ruangan yang memiliki banyak buku itu. Rak buku yang terbuat dari kayu itu di-design melingkar, lalu sebuah sofa single besar yang empuk dan sebuah meja, ada di tengah-tengah. Rakasya nampak berjalan di rak dekat jendela. Dia mengambil buku tebal berwarna biru.
"Ke sini, Kinar!" perintahnya.
Kinar mau tak mau mendekat, dia berdiri pasrah di depan Rakasya.
"Angkat tangan kamu!" pintanya.
Kinar menurut dan menengadahkan tangan. Rakasya meletakkan buku tebal itu di tangan Kinar. Mata gadis itu membulat sempurna dikala melihat sampul buku dengan saksama. 'Putri Salju dan Tujuh Kurcaci'.
"Ja-jadi Aski cerita ini, Pak?"
"Memangnya apa?"
"Astaga, saya bakal belajar yang baik, Pak. Terima kasih karena gak pecat saya."
"Belum ada penggantinya. Kalau ada yang lebih baik, kenapa tidak, kan?" Rakasya menaikan sebelah alisnya, dan tersenyum mengejek Kinar.
Kinar langsung berubah kesal dan menekuk wajahnya. Dia segera berbalik, hendak membawa buku itu. Namun, lantai kayu yang mirip dengan tangga itu, membuat dia hilang keseimbangan. Kinar tergelincir, bukunya terlempar. Saat tubuhnya hampir mencium lantai, Rakasya segera meraih tubuhya.
Akan tetapi, tubuh pria itu juga tak seimbang, dia bahkan ikut terjatuh dan menimpa tubuh gadis itu. Kinar meringis saat kepala belakangnya membentur lantai. Hal itu membuat Rakasya refleks menyelipkan telapak tangannya untuk melindungi Kinar.
"Sakit? Kenapa gak hati-hati, sih!" Rakasya terkejut sekaligus kesal.
"Sakit banget, Pak. Aduh!" Kinar mencoba bergerak, tetapi kepalanya terasa pening.
"Papa! Kenapa peluk-peluk Tante Kinar?!"
Kinar dan Rakasya kompak menengok ke arah suara. Di ambang pintu ruang baca, ada Dion yang sedang menatap lurus ke arah mereka. Raut wajahnya menyiratkan kekecewaan.
"Papa jahat!" Dion berbalik dan berlari.
Kinar yang panik, tak lagi memeperdulikan sakit di kepala, dia mendorong tubuh Rakasya dan berlari mengejar Dion dengan gerakan yang diiringi ringisan dari mulutnya. Rakasya yang baru sadar dengan keadaan aneh itu, segera menyusul.
Kinar hampir saja meraih tubuh Dion, tetapi gerakkannya berhenti ketika suara Aski terdengar riang dari arah ruang tamu.
"Asik! Mama udah pulang!"
"Di mana Papa?" Terdengar suara Nyonya Winda. Kinar segera berbalik arah, tetapi sepertinya dia telat. Karena suara ketukan sepatu sang Nyonya, semakin dekat terasa.