"Ibu ngerestuin kamu, Nak. Apa pun pekerjaannya, yang penting halal dan kamu nyaman, ya." Kata Asih, ibunya Kinan. Wanita yang menggunakan jilbab panjang itu mengelus kepala anaknya dengan lembut.
Kinar mengangguk mendengar restu dari ibunya. Firman—ayahnya—yang terbaring di ranjang perawatan, ikut mengangguk merasakan senang. Setidaknya dia tak melihat raut murung dari Kinar lagi. Anaknya itu sangat baik, tidak pernah memikirkan kesenangannya sendiri. Apa pun itu selalu menomor satukan orang tua. Kali ini dia benar-benar membuktikan usahanya sudah berhasil. Mendapat kontrak kerja.
"Terus tadi kenapa kamu, kok, kesel pas masuk ke ruangan ayah?" tanya Firman. Dia memberi kode kepada istrinya untuk memutar tuas di depan ranjang agar bisa duduk. Asih mengangguk dan berjalan ke bagian depan ranjang, lalu memutar tuas, perlahan ranjang naik.
"Iya, Yah. Tadi aku ketemu anak kecil yang nyebelin banget. Dia panggil aku mamahnya supaya bisa nemenin dia ke dokter gigi doang," ucap Kinar, ketika berkata seperti itu, wajahnya langsung ditekuk, karena mengingat bagaimana perlakuan anak itu kepadanya. Belum lagi membayangkan cinta segitiga antara dokter gigi anak, ibunya Aski dan pria bernama Ronald. Kinar pusing tujuh keliling.
Ibu dan ayahnya tertawa mendengar penuturan Kinar yang diiringi mimik wajah anaknya yang tampak lucu itu. Sudah lama sekali mereka tak bisa berbincang lepas seperti ini. Beban hidup memaksa kehangatan keluarga menjadi dingin.
Harapan baru sudah bisa mereka gantungkan setelah mendengar Kinar bekerja. Sekarang, semua akan terasa lebih mudah.
***
Kinar sampai sepuluh menit lebih awal dari yang dijadwalkan oleh Rakasya. Gadis berhidung bangir itu berdiri tepat di depan sebuah rumah besar bergaya klasik dengan pilar-pilar putih yang menyangga bangunan kokoh itu. Pagar menjulang tinggi, uliran-uliran besi itu begitu gagah melindungi rumah mewah tersebut. Bangunan menakjubkan di hadapannya benar-benar menggambarkan orang kaya.
Kinar terdiam beberapa saat, dia menunggu intruksi selanjutnya yang katanya akan dikirim Rakasya sebentar lagi. Rakasya bilang, dia sedang ada meeting. Jadi, Kinar harus sabar menunggu.
Sambil menunggu, Kinar memilih bercermin untuk memastikan penampilannya tidak berlebihan. Dia mengasuh anak, jadi dandanannya harus soft dan dia wajib jadi orang yang paling menyenangkan hari ini. Demi menggaet perhatian anak kecil yang mau dia asuh.
Tadi pagi saja, semua bajunya yang ada di lemari, gadis itu keluarkan. Satu per satu baju dari kaos oblong sampai baju batik dia coba pakai dan mencocokannya di cermin. Pilihannya jatuh pada bajun lengan panjang berwarna soft pink dan celana bahan hitam panjang. Rambutnya ditata serapi mungkin.
Selang sepuluh menit, Kinar mendapat chat masuk dari Rakasnya. Pria itu menyuruhnya untuk menunjukkan KTP ke security yang sejak tadi memandanginya dari ujung rambut sampai kaki, mungkin curiga untuk apa orang yang berpenampilan biasa saja berdiri di depan rumah majikannya yang mewah. Kinar merasa kalau dia dinilai sebagai pengantar proposal kegiatan masyarakat kelas menengah. Dia merasa begitu rendah diri dengan pikirannya sendiri.
Setelah menunggu cukup lama untuk verifikasi, Kinar akhirnya menerima kartu identitasnya khusus di rumah ini. Security bernama Deden itu manggut-manggut dan mempersilakan gadis beralis tebal itu untuk masuk ke pos.
"Sebelum masuk ke rumah, tas-nya saya periksa dulu, ya, Mbak," ucap security muda itu dengan nada suara yang sangat tegas. Sangat professional. Padahal Kinar orang yang cukup santai menanggapi orang baru, tetapi tidak berlaku untuk petugas di depannya yang kini tampak serius mengeluarkan semua isi tas yang berisi sedikit barang.
Pria cepak di hadapannya kembali mengangguk. Sepertinya mengangguk adalah gestur favoritnya semenjak bertemun Kinar. Pria itu memberikan kembali tas kepada Kinar dan mengajak gadis itu untuk keluar pos, lalu berjalan mendekati pagat.
Petugas keamanan tersebut menekan bel di depan pagar, lalu besi kokoh itu terbuka dengan sendirinya. Tidak ada orang yang membukanya dari dalam, tetapi sistem yang melakukannya.
Dia merasa sangat takjub sekaligus tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Sebuah pagar terbuka sendiri, dan bangunan yang sejak tadi terlihat samar kini terpampang nyata dengan segala kemewahannya di kedua mata Kinar.
Rumah itu nampak mirip dengan kastil di negeri dongeng. Banyak pilar besar yang menyangga. Ini lebih pantas disebut Mansion Tuan CEO Rakasya.
"Mbak, masuk aja. Nanti di pintu depan rumah, ada kepala asisten rumah tangga namanya Ibu Susi," kata security itu sambil mempersilakan Kinar masuk dan dia kembali menutup pagar dengan sekali tekan bel.
Senyum Kinar terbit layaknya mentari pagi. Dia membayangkan banyak hal sambil melangkah mendekati depan rumah. Matanya menangkap sebuah objek yang sangat indah. Dia melihat seorang wanita semampai dengan rambut disanggul dan baju serba hitam.
Wanita itu tampak lebih tua dari dirinya meskipun fisiknya terlihat masih segar bugar. Tidak dapat ditolak lagi, orang itu pasti yang dimaksud oleh security tadi. Ibu Susi, kepala asisten rumah tangga.
Dengan langkah kecilnya, Kinar mendekat. Kepalanya menunduk tanda segan. Wanita itu melihatnya dengan jelas, tetapi tidak mengatakan apa pun. Dia hanya memandang objek di hadapannya dengan tajam.
Karena tidak ada kemajuan, Kinar mulai buka suara. Gadis itu berkata, "Selamat pagi, Bu. Perkenalkan saya Kinar, pengasuh anak Pak Rakasya," ucap Kinar hati-hati.
"Sudah ada janji sebelumnya dengan Tuan muda?"
"Tuan muda?" tanya Kinar balik.
"Tuan Rakasya Suwantoro. Beliau adalah Tuan muda di rumah ini, Tempat kamu bekerja nanti," katanya tanpa perlu mengalihkan pandangannya ke tubuh Kinar yang mulai salah tingkah.
"Iya, Bu. Maksut saya Tuan muda. Saya sudah ada janji temu, tetapi Pak, eh, Tuan muda, sedang meeting. Beliau meminta saya untuk datang lebih dulu." Kinan menjawab dengan hati-hati. Dia juga masih belum bisa untuk memandang bagaimana ekspresi dari Bu Kepala ART yang ada di hadapannya. Kinar terlalu takut dan tidak mau ada perdebatan hanya soal janji temu.
"Baiklah, silakan masuk." Sang kepala ART membuka pintu dan mempersilakan Kinar untuk masuk. Sementara dia masih berdiri di depan pintu.
Kinar mengikuti perintahnya. Degup jantungnya terdengar lebih kencang ketika melangkahi pintu yang megah di depannya. Kinar sudah masuk sepenuhnya, tetapi langkahnya terhenti ketika mendengar perkataan Bu Susi.
"Bila berbicara dengan saya, jangan pernah jelalatan. Hari pertama kamu sudah tidak sopan!"
Kinar membeku dan merasa bodoh. Dia sadar sudah melakukan kesalahan. Harusnya kita melakukan kontak mata dengan orang yang kita ajak bicara. Dia benar-benar merasa tidak enak hati sekaligus malu.
Bu susi mendahuluinya. Ketukan sepatu hak tinggi milik wanita kurus itu bagaikan palu yang berulang-ulang menghantam di kepala Kinan. Bikin sakit kepala.
Karena takut membuat kesalahan yang lebih parah. Terutama terhadap jejeran guci besar yang tertata di pojok tembok membuat Kinar menelan ludah berkali-kali. Takut tersenggol dan pecah. Dia yakin gajinya satu tahun pun tak akan sanggup untuk menganti barang mahal itu.
Bu susi berhenti di depan sebuah pintu bercat putih. Kemudian dia memutar kunci dan membukanya perlahan. Sekali lagi dia memandang Kinar dan memberi kode untuk gadis itu agar masuk ke dalam.
Dengan langkah cepat Kinar segera mendekat sangat dekat sampai mereka hampir bertabrakan.
"Perhatikan langkahmu, Kinar!"
"Maaf, Bu."
"Masuk!"
Kinar memandang ruangan yang baru saja dia masuki bersama Bu Susi. Dia takjub karena ruangan ini berisi beberapa kursi dan sebuah proyektor yang menyala dan dipantulkan ke tembok besar di seberangnya.
"Ambil duduk di tengah," kata Bu Susi memberi perintah. Sementara dia duduk di seberang Kinar dekat dengan sebuah meja dan lemari kayu yang besar.
Kinar tidak mau membuat kesalahan dan langsung duduk dengan tenang di kursi yang ditunjuk Bu susi. Kemudian proyektor memantulkan gambar yang membuat Kinar menautkan alisnya.
Di sana ada gambar Rakasya, seorang wanita—yang Kinar pikir istrinya—dan dua orang anak, satu laki-laki, dan satu perempuan.
Bocah perempuan yang membuat Kinar ingin salto saat ini juga. Wanita yang ada di sana juga sangatlah tidak asing untuknya.
"Aski?" kata Kinar, terkejut. Dia sampai berdiri dari kursi dan perbuatannya itu membuat Bu Susi bergegas mendekatinya.
"Kamu kenapa teriak-teriak?" tanya Bu Susi sedikit kesal.
"I-itu anak dan istri Pak Rakasya?" Kinar bertanya dengan raut wajahnya yang masih terlihat panik. Sementara Bu Susi sibuk untuk menetralkan perasaannya melihat tingkah Kinar yang urakan dan asal bicara.
"Iya, mereka satu keluarga. Ada apa, sih, jangan buat keributan, Kinar!" Nada bicara Bu Susi meninggi. Dia tak mau ada suara keras di mana pun. Kinar benar-benar menghancurkan mood-nya yang sedang naik turun akibat kejadian keributan tadi malam antara Tuan Muda dan istrinya yang diantar pria lain.
"Maaf, Bu. Tapi saya hanya refleks bertanya. karena saya pernah bertemu mereka di rumah sakit. Jadi, saya pikir ...."
Belum selesai dia berbicara, Bu Susi lebih dulu memotong pembicaraan. "Kamu di sini gak diwajibkan menjadi pemikir. Tapi menjadi pekerja. Jadi, bekerja saja yang giat."
Kinar menelan ludah sekali lagi. Bu susi benar-benar marah. Tak ada pilihan lain lagi dan dia kembali duduk, lalu mendengarkan dongeng asal muasal keluarga Rakasya.
Kepala Kinar tetap pusing karena memikirkan semua kebetulan ini. Dia sampai tidak fokus melihat presentasi dari Kepala ART lagi setelah melihat kenyataan yang terpampang nyata di depan.
Kinar merapalkan doa dalam hati. "Jangan sampai Aski dan ibunya tahu. Semoga aja mereka lupa."