Jika Puji yang belakangan ini intens berkomunikasi dengan Ziva sungguh istri Elric, sumpah demi apa pun Ziva akan menganggap ini plot twist paling mindblowing. Bagaimana bisa kekonyolan ini terjadi?
Dalam kata lain, Ziva akan menjadi guru les piano anak dari mantan suaminya? Tapi memangnya berapa usia anaknya? Mengingat mereka bercerai lima tahun lalu, jelas sekali anak Elric tidak mungkin berusia lebih dari lima tahun. Intinya, apa pun hubungan Elric dengan Puji, menurut Ziva ini gila.
Meskipun masih tercengang, Ziva akhirnya masuk mengikuti Elric.
“Silakan duduk,” ucap Elric.
Serius, Ziva deg-degan setengah mati. Hanya saja, wanita itu berusaha bersikap biasa saja. Mungkin dengan duduk di sofa, Ziva bisa lebih tenang sehingga kini wanita itu perlahan mendaratkan tubuhnya di sofa empuk yang nyaman itu.
Ziva tak perlu kabur lagi seperti yang dilakukannya di pesta beberapa hari yang lalu. Ziva hanya perlu bersikap biasa saja. Bukankah menyembunyikan perasaan adalah keahliannya bahkan saat mereka masih menikah?
Terlebih, Ziva saat ini sudah move-on dari Elric sehingga tak ada perasaan apa-apa lagi selain deg-degan dalam porsi wajar. Ia yakin pertemuan mereka saat ini tidak akan berpengaruh pada upaya move-on yang sudah berhasil.
Tepat setelah duduk, mata Ziva refleks melihat beberapa foto yang terpajang di rak partisi di hadapannya. Tampak foto keluarga kecil yang sangat harmonis. Apa itu foto Puji? Masalahnya adalah ... kenapa pria-nya bukan Elric?
Sebenarnya apa hubungan Puji dengan Elric, sih?
Ziva benar-benar tak mengerti dengan semua ini. Ia sangat bingung.
“Maaf, Bu Pujinya mana ya?” tanya Ziva saat mulai merasa janggal. Bukannya apa-apa, apartemen ini terasa sangat sepi. Jika saja Elric bukanlah orang yang bisa dipercaya, Ziva pasti sudah merasa curiga.
Selain itu, Ziva ingin Puji segera muncul lalu mereka bicara berdua saja sehingga ia bisa mengabaikan keberadaan Elric, pria yang dengan susah payah Ziva lupakan tapi kini sekalinya bertemu ... mereka malah dipertemukan lagi dalam keadaan yang tak terduga.
Ya, Ziva pikir di pesta beberapa hari yang lalu, itu adalah terakhir kalinya pertemuan mereka setelah lima tahun. Namun, mereka malah bertemu lagi hari ini.
“Menurut kamu, kira-kira Puji ke mana, ya?” balas Elric. “Mungkin sedang menghabiskan waktu bersama anak dan suaminya,” lanjutnya, berbicara dengan santai.
Ziva mengernyit. “Hah? Maksudnya gimana? Kami janjian untuk bertemu di sini. Aku bahkan didaftarkan sebagai tamu, makanya bisa mengakses lift.”
Alih-alih menjawab, Elric hanya tersenyum. Hal itu membuat Ziva semakin heran.
Jadi....
Beberapa hari yang lalu, Bams mencari tahu banyak tentang Ziva, sesuai perintah Elric. Sampai kemudian, segala fakta terkuak bahwa selama ini mantan istri bosnya itu tinggal di Senjaratu.
Bams benar-benar berhasil merangkum segala detail informasi tentang Ziva selama lima tahun belakangan. Dan saat ini Ziva menjadi influencer lokal di Senjaratu yang followers-nya termasuk banyak. Bahkan, belakangan Ziva sudah mendapatkan tawaran-tawaran kerja sama dari brand yang lebih luas, bukan dari Senjaratu saja.
Selain menjadi influencer, Bams berhasil melacak kalau Ziva sudah satu bulan tinggal di Jakarta sebagai guru les piano anak-anak. Namun, tentang hubungan Ziva dengan Arda ... Bams gagal mendapatkan informasi yang lebih banyak sehingga Elric semakin terusik dengan hal itu.
Itu sebabnya Elric, Bams dan istri Bams—menyusun rencana untuk membuat Elric bisa bicara empat mata dengan Ziva di tempat nyaman. Bukannya apa-apa, Elric tak mau Ziva kabur lagi seperti saat di pesta, makanya ia mengatur pertemuan dengan se-niat ini agar mereka bisa bicara dengan aman dan nyaman.
“Jadi Bu Puji itu siapa? Kalian bersekongkol menjebakku?” tanya Ziva kemudian.
“Enggak usah panggil dia bu. Umurnya nggak beda jauh denganmu, dia istri Bams.”
“A-apa?!” Ziva sangat terkejut. Ia kembali menatap foto keluarga yang terpajang. Pantas saja foto prianya agak familier. Jadi itu Bams? Ya ampun, bisa-bisanya Ziva tak langsung mengenalinya sejak awal. Ziva memang tadi hanya melihatnya sekilas. Ia kurang jeli sehingga tidak sadar kalau pria yang ada di foto adalah Bams.
“Anaknya masih berusia setahun. Bahkan baru bisa jalan, tapi sudah didaftarkan les padamu,” ucap Elric lagi. “Sebagai gantinya, gimana kalau saya aja yang kamu ajarin?”
“Enggak nyangka banget. Aku beneran dijebak,” kata Ziva sambil menggeleng tak habis pikir.
“Itu dia yang menurut saya aneh. Kenapa untuk bertemu dan bicara denganmu, saya harus menjebakmu dulu?” balas Elric. “Kenapa kamu pura-pura nggak kenal saya? Kamu bahkan langsung kabur malam itu,” tambahnya.
“Jadi, aku dijebak hanya karena itu?” Ziva semakin tak habis pikir.
“Kamu bilang ... hanya karena itu?”
“Memangnya ada alasan lain lagi?”
“Kamu sungguh calon istri Arda?”
“Memangnya kenapa kalau iya? Toh apa yang terjadi antara kalian di masa lalu itu ... nggak ada hubungannya sama aku. Semua orang punya masa lalu dan bukan berarti seseorang dengan masa lalu buruk, punya masa depan yang buruk juga.”
“Apa dia ngasih tahu kamu tentang masa lalu buruknya itu?” tanya Elric kemudian. “Apa dia jujur pernah terlibat skandal yang menggemparkan?”
“Buat apa dia jujur? Memangnya keadaan berubah kalau dia jujur?” Ziva balik bertanya. “Lagian aku pun belum tentu terus terang kalau berada di posisinya. Tapi satu hal yang pasti, dia nggak tahu aku adalah mantan istrinya Mas Elric. Ah, jangankan Arda, temen-temen yang lain pun nggak tahu siapa aku, kan? Makanya malam itu nggak ada yang mengenali aku.”
Ziva masih berbicara, “Mungkin lain ceritanya kalau Bams melihat aku saat di pesta.”
“Kamu banyak berubah sekarang,” ucap Elric. “Padahal saya bicara begini demi kebaikan kamu. Tapi kamu masih ingin bersamanya setelah tahu apa yang terjadi?”
“Seperti yang aku bilang. Masa lalu biarlah berlalu,” jawab Ziva. “Bicara soal berubah, bukankah semua orang berubah?”
“Satu-satunya yang nggak pernah berubah itu perasaan Mas Elric padaku saat kita masih menikah dulu. Setelah beberapa bulan menikah, perasaan Mas Elric tetap sama, nggak ada yang namanya cinta untukku,” lanjut wanita itu, dalam hati.
“Berubahnya kamu itu sangat drastis. Pakaianmu bahkan cenderung lebih terbuka,” kata Elric.
“Benarkah? Aku rasa sejak dulu aku begini.”
“Mungkin setelah kita cerai. Karena saat kita masih menikah, penampilanmu nggak begini.”
“Terus masalahnya apa?” tanya Ziva kemudian.
Belum sempat Elric menjawab, getaran ponsel Ziva membuat pembicaraan mereka terjeda. Selama beberapa saat, Ziva merogoh ponselnya dari dalam tas. Nama Arda terpampang di layar. Namun, Ziva tidak langsung mengangkatnya.
“Kenapa?” tanya Elric yang penasaran.
“Arda menghubungiku.”
“Kamu serius masih menjalin hubungan dengannya?”
“Obrolan kita tadi seharusnya cukup untuk menjadi jawaban kalau kami memang masih menjalin hubungan.” Ziva sengaja mengatakan itu. Setelah mempertimbangkannya dengan singkat, ia pikir sebaiknya bersikap seolah dirinya menjalin hubungan dengan Arda.
Bukannya apa-apa, Ziva merasa jauh lebih baik menciptakan boundaries sejak awal. Dengan begitu ia tak akan melewati batas seperti dulu. Sekalipun Ziva sudah move-on, tidak ada salahnya berjaga-jaga. Ia takut terbuai lagi. Ia takut tertipu oleh sikap manis dan hangat Elric—kepedulian yang nyatanya bukan berasal dari cinta.
Maka dari itu Ziva hanya ingin waspada. Ia tak mau keliru seperti dulu, mengira Elric memiliki perasaan yang sama, padahal tidak sama sekali.
Ziva berkeyakinan jika dirinya tetap berpura-pura menjalin hubungan dengan Arda, bukankah itu bisa membuat Elric menjauh?
“Ziva, saya tahu kamu berhak melanjutkan hidupmu. Bahkan, kita baru bertemu lagi setelah lima tahun bercerai. Masalahnya adalah ... kenapa harus Arda?”
“Kalau pacarku bukan Arda, aku pikir Mas Elric nggak akan melakukan sejauh ini yang sampai harus menjebakku hingga sampai di sini. Iya, kan? Sekali lagi, kalau pacarku pria lain dan bukan Arda, Mas Elric nggak akan melakukan ini padaku, kan?”
Lagi, ponsel Ziva kembali bergetar lantaran ada panggilan masuk dari Arda. Jika tadi Ziva membiarkan sampai getarannya berhenti sendiri tanpa mengangkatnya, kali ini wanita itu sengaja menggeser layar ke warna hijau untuk menjawabnya. Sontak, Elric terkejut dengan apa yang Ziva lakukan.
“Ziva, akhirnya diangkat juga. Kamu baik-baik aja, kan? Aku kepikiran banget sama kamu waktu itu pulangnya gimana. Aku yakin kamu bingung banget. Maaf karena telah menyeretmu ke dalam masalah ini. Maaf juga karena aku seperti orang nggak bertanggung jawab. Serius, aku merasa bersalah banget.” Suara Arda yang berbicara panjang lebar langsung terdengar di seberang telepon sana. Dari nada bicaranya, jelas pria itu sangat merasa bersalah. Namun, yang terpenting Elric tidak mendengar suara Arda karena Ziva tidak me-loudspeaker-nya.
Volume speaker ponselnya pun sudah Ziva atur agar hanya telinganya yang menempel pada ponsel saja yang bisa mendengar suara di seberang telepon sana. Dengan begitu, Elric tidak ikut mendengar apa yang Arda ucapkan.
Arda kembali berbicara, “Aku mau kita ketemu. Aku mau jelasin semuanya—”
“Oke, kita memang harus ketemu,” ucap Ziva yang membuat Arda lega.
Sementara itu, Elric sangat ingin mencegah Ziva bertemu Arda. Sungguh, ia merasa sangat terusik. Firasatnya buruk. Makanya ia ingin Ziva sadar kalau seharusnya mantan istrinya itu jangan dekat-dekat dengan Arda.
Itu sebabnya saat Ziva sudah beranjak dari duduknya, hendak pergi ... Elric ikut berdiri, sengaja menghalangi jalan wanita itu. Ziva sontak mendongak, wajahnya menampilkan ekspresi penuh tanda tanya.
“Jangan pergi. Tetaplah di sini,” ucap Elric yang lebih mirip perintah.
“Jangan gila,” balas Ziva.
“Makanya jangan pergi.”
Apa keadaan mulai berbalik? Elric-lah yang sekarang jatuh cinta pada Ziva. Tapi, apa itu masuk akal? Memikirkannya saja sudah menyadarkan Ziva kalau dirinya hampir goyah. Bagaimana tidak, sikap Elric benar-benar seperti sedang cemburu!
“Mas Elric mengira masih berhak melarangku? Kita bukan siapa-siapa lag—”
Cup! Elric mencium bibir Ziva, hanya kecupan singkat tapi cukup untuk membuat Ziva tercengang. Sadarkah Elric dengan apa yang dilakukannya?
Dari sekian banyak kemungkinan, dicium oleh Elric setelah mereka bercerai adalah hal yang tak pernah Ziva bayangkan sebelumnya. Ziva sampai melongo saking terkejutnya.
“Apa yang Mas Elric lakukan?” tanya Ziva, saat ini jantungnya berdetak sangat cepat.
“Saya hanya sedang berupaya mencegah kamu bertemu Arda.”
“Apa Mas Elric bakal tetap begini kalau yang mau aku temui bukan Arda, melainkan pria lain?”
Elric tidak menjawab, melainkan kembali menghapus jarak antara dirinya dengan Ziva. Jika tadi sekadar ciuman singkat, kali ini ciumannya lebih lama dan intens. Ziva spontan memejamkan matanya, meresapi saat-saat Elric menjelajahi bibirnya.
Merasa disambut hangat dan tidak ada penolakan sama sekali, Elric pun semakin memperdalam ciuman mereka.
Elric pasti gila, bisa-bisanya mencium tanpa basa-basi. Namun, Ziva justru lebih gila karena tidak menghindari bahkan cenderung menikmati sentuhan bibir Elric pada bibirnya.
Apa-apaan ini?