Hazel membuka matanya jauh sebelum sinar pertama menyelinap di balik tirai tebal. Kamar masih diselimuti kegelapan pekat, sunyi, hanya dipecah oleh napas teratur Diego yang masih tertidur nyenyak di sampingnya. Sensasi pasca-keintiman yang akrab itu kembali menyergap: sebuah gelombang kesal dan penyesalan yang pahit. Guilty pleasure. Dia menyesal—tentu saja—namun tanpa keraguan sedikitpun, dia tahu akan mengulanginya lagi dan lagi. Itulah yang membuatnya semakin kesal: betapa tubuh dan jiwanya telah kecanduan pada kehancuran yang ditawarkan pria ini. Tapi pagi ini, ada tekad baru yang menggantikan kepasrahan. Hazel tidak akan lagi menjadi sekadar mainan di tangan Diego. Dia akan mengubah perannya. Dari objek yang dimainkan menjadi pemain. Dia akan membuktikan, jika ada keinginan antara m

