Setelah gigitan itu, ada perubahan di udara. Ketenangan Diego yang mencekam tadi berubah menjadi sesuatu yang lebih padat, lebih membebani. Hazel masih berdiri di tempat, sementara Diego mengamatinya dengan mata yang mengkalkulasi setiap getaran otot di wajahnya. "Kamu belajar dengan cepat," ucapnya, suara rendah yang merayap di kulit Hazel. "Tapi pelajaran malam ini belum selesai." “Aku menunggu, Diego….” bisik Hazel tanpa ragu. Tangannya yang tadi menggenggam erat kini melonggar, beralih dari pegangan menjadi usapan di lengan Hazel. Gerakannya turun, menyusuri siku, lalu pergelangan tangannya. Sentuhannya ringan tapi pasti, menandai setiap inci kulit yang dilewatinya. Hazel menahan napas. Dia tahu ke mana ini akan berujung. Dan yang paling mengerikan—di balik semua ketakutan dan keb

