Jari yang menyentuh pipi Hazel bergerak turun, dengan gerakan yang disengaja lambat, melintasi garis rahangnya, ke leher yang berdenyut kencang. Ujung jarinya merasakan getaran nadi di sana—cepat, liar, seperti jantung kelinci yang terjebak. Hazel menahan napas. “Aku bukan milikmu untuk dijaga.” “Salah,” bisik Diego, sambil menundukkan kepalanya. Kali ini, bibirnya tidak mencari mulut Hazel. Dia menempelkan bibirnya di titik tepat di mana nadi Hazel berdegup kencang, di lekukan lembut antara leher dan bahu. Kulit Hazel menggigil di bawah sentuhan itu. “Kamu sudah jadi milikku sejak kamu tidak lari dari lift itu.” Lalu, dia mengecupnya. Bukan ciuman, tapi sebuah sentuhan hangat dan lembap yang bertahan. Lidahnya menyentuh kulit, ringan, merasakan keasinan dan aroma sabun mandi yang seder

