Sinar matahari pagi menyelinap di antara celah tirai tebal, melukis garis-garis emas di atas seprai sutra yang berantakan. Hazel membuka mata. Kesadarannya kembali perlahan, diikuti oleh serangan memori yang membuat dadanya sesak. Dia sendirian. Sisi ranjang di sebelahnya kosong. Bantal itu hanya menyimpan lekukan bekas kepala, dan seprainya yang dingin saat disentuh. Ruangan yang luas itu sunyi, terlalu sunyi, seolah malam penuh badai yang baru saja berlalu hanyalah ilusi. Dia bergerak, dan sensasi tubuhnya yang telanjang sepenuhnya di bawah selimut membuat darahnya membeku. Semuanya kembali berkelebat—sentuhan kasar yang berubah lembut, ciuman yang menghisap jiwa, desahan panas di kulit, dan kelemahan memalukan yang membuatnya menyerah sepenuhnya. Dia menutup mata lagi, rasa malu yan

