Realisme dan Kekalahan

981 Words

Pagi setelah Gala, kabut di atas Herlington terasa lebih tebal dari biasanya. Diego tidak pergi ke kantor. Sebaliknya, mobilnya berhenti di depan sebuah klub eksklusif di distrik finansial, tempat dimana Ethan Reed sering menghabiskan paginya. Tanpa permisi, Diego mendorong pintu ruang kerja pribadi Ethan. Sepupunya itu sedang berdiri di dekat bar kecil, menuangkan segelas whiskey untuk dirinya sendiri meski matahari belum tepat di atas kepala. "Sejak kapan kamu dekat dengan Hazel?" tanya Diego, langsung ke inti, tanpa basa-basi. Suaranya datar, tapi tekanan di udara berubah seketika. Ethan berbalik perlahan, segelas amber di tangannya. Sebuah senyum kecil, penuh dengan kepuasan yang sinis dan mengejek, merekah di bibirnya. Seolah-olah dia baru saja menemukan kartu truf terakhir di perm

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD