Perjalanan pulang ke penthouse dilakukan dalam keheningan total yang lebih menusuk daripada amarah. Hazel duduk kaku di sudutnya, menatap keluar jendela yang gelap, seluruh tubuhnya masih bergetar halus—campuran antara sisa kenikmatan yang memalukan, kemarahan, dan luka karena diperlakukan seperti benda mati. Diego, di seberangnya, juga diam. Tapi diamnya berbeda; penuh dengan perhitungan dingin dan sesuatu yang lebih dalam, lebih gelisah, yang bahkan dia sendiri enggan akui. Begitu mobil berhenti di garasi bawah tanah, Hazel segera mendorong pintu dan melangkah keluar tanpa menunggu. Dia berjalan cepat meninggalkan Diego, langkah kakinya yang masih sedikit gemetar beradu dengan lantai marmer yang dingin. Diego mengikutinya dari belakang, tak buru-buru, memberi jarak. Tapi matanya tak le

