Hazel menyaksikan sosok Sebastian Quinn menghilang di balik kerumunan jas hitam dan gaun malam. Detak jantungnya berdebar kencang, mengalahkan alunan musik orkestra yang lembut. Nama itu—Quinn—bergema di telinganya seperti mantra yang terlupakan. Tanpa pikir panjang, kakinya bergerak sendiri. Dia menyusuri tepi ruangan, matanya menjelajah kerumunan, mencari rambut cokelat gelap dan bahu yang santai itu. Semua rencana Diego, semua ancaman terselubung tentang kakeknya, semua ketakutannya sendiri terhadap masa lalu—semuanya tiba-tiba terasa kecil dibandingkan dengan kesempatan nyata yang sedang berjalan menjauh darinya. Dia melihatnya, sedang berbicara dengan seorang pelayan yang membawa baki sampanye di dekat pintu teras yang terbuka. Hazel mempercepat langkahnya, hampir tersandung karena

