Wedding Anniversary

1302 Words
Andrew menatap layar monitor laptop yang ada di depannya. Sudah hari ke lima sejak Leona pergi dari rumahnya. Ada perasaan gamang menyelimuti hatinya. Jari tangannya terus menekan tuts di keyboard tanpa tujuan yang berarti. Ketukan di pintu ruangannya berhasil membuatnya terkejut dan tersadar dari lamunannya. “Masuk!” ucap Andrew, kemudian memperbaiki posisi duduk santainya. Andrew melihat ke arah pintu ruangan kerjanya. Menantikan siapa yang akan datang masuk dari balik pintu itu. David membuka pintu ruangan kerja Andrew dan berjalan masuk dengan langkah yang tegap seperti biasa. “Ada apa?” tanya Andrew sambil menatap David engan tatapan sayu. Pikiran yang kusut membuatnya kurang bersemangat melakukan apapun. “Ada surat untuk bapak.” David menyerahkan sebuah surat dalam amplop coklat ke atas meja kerja Andrew. Andrew mendekatkan dirinya ke arah meja agar bisa melihat surat itu dengan lebih jelas. “Sepertinya itu surat panggilan dari pengadilan, Pak.” Wajah Andrew berubah. Dibacanya kop yang ada di bagian depan amplop coklat itu dan dengan cepat dibukanya isi surat itu. “Tentu saja mereka akan tetap meneruskan proses perceraian ini meskipun aku tidak menandatanganinya,” ucap Andrew sambil tersenyum getir. “Cari pengacara handal dari kantor firma ternama di Jakarta untuk mengurus proses perceraian ini sekarang juga!” perintah Andrew pada David. “Baik, Pak.” “Silahkan kembali ke ruanganmu.” “Saya permisi.” David membungkukkan sedikit badanny untuk memberikan hormat pada Andrew. David berjalan keluar dari ruangan Andrew. “Aku harus memenangkan mediasi itu. Leona tidak bisa memperlakukan aku seperti ini,” ucap Andrew sambil mengepalkan tangannya dengan kuat. Tiba-tiba ponsel Andrew berdering. Andrew mengambil ponselnya yang ada diatas meja kerjanya. “Mama?” Andrew membaca nama kontak yang tampil di layar ponselnya. “Ya ma?” ucap Andrew begitu mengangkat panggilan telepon dari mamanya. “Sayang, kamu tidak lupakan lusa hari apa?” tanya Renata, mamanya Andrew. “Lusa?” Andrew mengernyitkan keningnya, tangannya langsung menyambar kelender duduk yang ada di atas meja kerjanya. “17 September?” Andrew berusaha mengingat apa yang spesial dari tanggal itu secepat mungkin. Tiba-tiba salah satu tangannya menepuk pelan kepalanya begitu mengingat sesuatu dari tanggal itu. “Halo, Andrew?” ucap Renata karena tak kunjung mendengar jawaban dari anaknya. “Tentu saja ingat, Ma. Mana mungkin aku melupakan tanggal yang setiap tahun kita rayakan bersama.” “Good. Hotel Ritz Luxury, rabu malam jam 7. Jangan terlambat. Mama dan papa mengundang banyak orang penting. Anak satu-satunya mama dan papa ini juga akan menjadi pusat perhatian disana.” Andrew kembali memijat kepalanya dengan lebih kuat karena tiba-tiba terasa sangat sakit. “Tentu saja, Ma. Rabu malam, Hotel Ritz Luxury.” “Oh iya, jangan lupa ajak wanita mandul dan miskin itu. seluruh dunia tahu bahwa kami sudah memiliki menantu. Katakan padanya jangan membuat malu. Apa perlu mama mengirimkan tim salon langganan mama dan stylist terkenal untuk mendandaninya agak terlihat lebih berkelas?” Andrew menghelakan napasnya mendengar omelan mamanya yang terus merendahkan Leona bahkan sejak awal pernikahan mereka. “Please jangan memulainya lagi ma,” ucap Andrew yang kurang suka mendengar ibunya menghina Leona. “Baiklah. Terkadang mama heran dengan seleramu, Andrew.” Renata menutup panggilan teleponnya. Andrew meletakkan kembali ponselnya di atas meja. Diusapnya dengan kasar wajahnya dengan kedua tangannya sambil menghelakan napas. “Bagaimana kalau mereka tahu bahwa aku dan Leona akan bercerai?” “Bagaimana caraku membawa Leona ke acara itu? Tidak mungkin aku datang sendirian ke acara itu dan lebih tidak mungkin lagi jika aku tidak menghadiri acara itu.” Andrew melihat ke arah jam yang ada di pergelangan tangannya. Netranya tanpa sengaja kembali melihat ke arah amplop coklat yang ada di atas meja kerjanya, membuat pikirannya semakin kacau. Andrew segera mengambil kunci mobil dan ponselnya dari atas meja dan pergi keluar dari ruangannya. Andrew masuk ke dalam mobilnya. Sebelum melajukan mobilnya, Andrew mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang yang ada di bagian atas di daftar panggilan keluarnya. Dering demi dering berlalu. Tidak ada tanggapan dari kontak yang sedang di hubunginya. “Dia pasti masih sangat marah karena kejadian kemarin,” gumam Andrew sambil memasukkan ponselnya ke dalam saku jasnya. Andrew melajukan mobilnya ke rumah Leona. Begitu tiba di depan rumah Leona, Andrew segera menekan bel yang ada dipintu rumah itu. Namun tidak ada tanda-tanda kehidupan di dalamnya. “Kemana dia?” Andrew mendengus kesal. Andrew kembali mengambil ponselnya dan menghubungi Leona namun kembali tidak mendapatkan jawaban. Andrew menghelakan napasnya kemudian kembali masuk ke dalam mobilnya. Sekitar pukul sepuluh malam, Andrew melihat sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan rumah Leona. Tak lama kemudian Leona keluar dari mobil itu dan melambaikan tangannya ke arah orang yang sedang berada di bagian kemudi mobil itu. Sangat jelas terlihat bahwa itu merupakan postur tubuh seorang pria meski samar-samar terlihat dalam gelap. Leona membuka pintu rumahnya dan berjalan masuk ke dalam begitu mobil Dave pergi menjauh. Ketika Leona akan menutup pintu rumahnya, tiba-tiba tangan kekar Andrew menahannya dari luar. “Mau apa lagi kamu kemari, Andrew? Tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan. Pergi!” ucap Leona begitu ketakutan. “Tenanglah Leona. Aku datang bukan untuk berbuat seperti kemarin. Ada hal yang harus aku katakan padamu. Penting.” Leona menatap Andrew beberapa saat, berusaha mencari keyakinan atas ucapan Andrew. Tak lama kemudian Leona membiarkan pintunya terbuka lebar dan membiarkan Andrew masuk ke dalam rumahnya. “Sepuluh menit. Setelah itu pergilah,” ucap Leona sambil berjalan menuju ke sofa ruang tamunya. “Pembicaraan ini tidak akan memakan waktu lebih dari itu, Leona.” Andrew mengikuti langkah Leona dan duduk di sofa yang ada di hadapan Leona. “Lusa adalah hari perayaan pernikahan mama dan papa ke 35 tahun. Kamu tahu kan maksudku?” ucap Andrew. “Itu sudah bukan urusanku lagi.” “Jika aku datang ke acara itu tanpamu, itu berarti kamu akan melibatkan mereka pada urusan perceraian ini. Tentunya kamu tidak lupa bagaimana sifat mama dan papa kan?” Leona menatap tajam ke arah Andrew. “Kamu ingat dulu bagaimana mama dan papa menentang pernikahan kita, namun kamu dengan keras kepala memaksakan semuanya asalkan pernikahan ini tetap terjadi. Kamu masih ingat dengan janjimu pada mama bahwa tidak boleh ada perceraian setelah pernikahan ini terjadi? Mama dan papa sangat mengutamakan reputasi dan gengsi, Leona. Nama baik keluarga diatas segalanya.” Leona menghelakan napasnya begitu mendengarkan ucapan Andrew. Dia begitu menyesal sekarang pernah berbuat bodoh demi memperjuangkan impiannya hidup bersama dengan Andrew. “Datangla bersamaku di hari perayaan pernikahan mama dan papa. Aku akan menjemputmu lusa jam satu siang. Jika kamu memang memginginkan perceraian ini, makan kita harus melakukannya tanpa di ketahui oleh papa dan mama. Kita harus bersikap seperti biasanya di depan mereka,” jelas Andrew lagi. Leona masih terdiam. Wajahnya tampak bingung dan berpikir keras. Sepertinya dia memang tidak bisa menolaknya. Perkataan yang barusan di ucapkan oleh Andrew benar. “Baiklah. Kita akan datang bersama ke acara itu,” ucap Leona, “Sudah sepuluh menit. Kamu sudah bisa pulang sekarang.” Leona berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menuju ke pintu rumahnya. “Tak kusangka secepat itu kamu menemukan pria yang baru,” ucap Andrew sambil berdiri dan berjalan mendekati Leona “Sejak kapan kamu disini?” tanya Leona terkejut. “Sejak siang tadi. Tidak aku sangka kalian begitu menikmati waktu jalan-jalan kalian. Tak bisakah kamu menunggu sampai ketok palu perceraian kita?” Andrew tersenyum sinis ke arah Leona. Leona memejamkan matanya sejenak, berusaha menahan rasa kesal yang ada di dalam hatinya. “Silahkan keluar, Andrew. Aku ingin istirahat.” “Baiklah. sampai jumpa hari rabu, Leona,” ucap Andrew sambil tersenyum ke arah Leona kemudian berjalan keluar dari rumah itu. Leona segera menutup pintu rumahnya begitu Andrew menginjakkan kakinya di teras rumahnya. Andrew membalikkan tubuhnya dan menatap pintu rumah Leona beberapa saat kemudian berjallan menuju ke mobilnya. Leona terus mengintip dari balik tirai jendela rumahnya sampai mobil Andrew pergi. "Apa lagi ini?" batin Leona.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD