Suhu Diatas Suhu

1808 Words
“Kamu baik-baik saja, Leona?” tanya Dave begitu Leona tiba di hadapannya. “Aku tadi ke kamar kecil kemudian berkeliling melihat gedung-gedung ini, malah keasyikan dan lupa dengan acaranya tadi.” “Tunggu dulu.” Dave mengernyitkan keningnya. Matanya mengecil dan fokus melihat ke arah bibir Leona, “Bibirmu bengkak dan terluka,” ucap Dave. Baru saja tangan Dave akan menyentuh bibir Leona, dengan cepat Leona menghidar dan mengalihkan wajahnya. “Ta-tadi aku tidak menabrak pintu di rumah karena terburu-brur berangkat tadi pagi. Tidak apa, Dave. Sebentar lagi luka itu pasti kering dan sembuh.” “Jangan menyepelekan luka, Leona. Sepertinya lukanya banyak dan dalam. Kita harus ke rumah sakit untuk mengobatinya. Leona terkekeh mendengar ucapan Dave. “Luka sekecil ini kenapa harus sampai ke rumah sakit, Dave? Tenang saja, besok luka ini pasti sudah kering.” Dave masih terus memperhatikan luka yang ada di bibir Leona. “Sebaiknya kita kembali ke kantor, Dave. Aku tidak ingin kembali diomeli karena terlambat,” ucap Leona sambil melihat ke arah jam yang ada di pergelangan tangannya. “Ini sudah waktunya makan siang, Leona. Aku ingin menagih janjimu kemarin.” Dave tersenyum nakal ke arah Leona. “Sekarang? Apa boleh kita makan siang tanpa kembali dulu ke kantor?” “Tidak akan ada yang memarahi kita, aku jamin. Ayolah, aku sudah sangat lapar.” Leona menggelengkan kepalanya, “Baiklah, ayo kita makan. Kamu yang pilih tempatnya. Oke?” “Siap, Cantik!” Dave mengerlingkan matanya ke arah Leona membuat Leona tak sengaja menggigit bibirnya untuk menahan tawa, yang akhirnya membuatnya meringis kesakitan karena mengenai luka yang ada di bibirnya. “Kamu tak apaapa, Leona? Kan sudah aku bilang kita memang harus ke rumah sakit untuk mengobati lukamu ini,” ucap Dave khawatir. “Aku tak apa, Dave. Aku hanya tak sengaja menggigitnya. Ayolah kita pergi sekarang sebelum jam makan siang kita berakhir.” Dave menuruti ucapan Leona dan berjalan bersama Leona menuju ke mobilnya. “Dave?” ucap Leona begitu mobil mereka melaju menuju ke sebuah restoran yang dituju oleh Dave. “Ada apa, Leona?” Dave melihat sekilas ke arah Leona kemudian fokusnya kembali ke jalan yang ada di hadapannya. “Kamu bekerja di Divisi apa? Kenapa kamu ada di tempat proyek tadi? Bukankah semua pegawai yang turun ke lapangan hanya dari Divisi Konstrusi?” tanya Leona. Dave tersenyum, menampakkan kedua lesung pipinya. “Apa kamu benar-benar belum mengetahuinya?” tanya Dave. “Tentu saja belum. Makanya aku bertanya.” “Kamu sudah berapa lama bekerja di perusahaan?” tanya Dave lagi. “Ini hari ketigaku bekerja disana.” “Wajar saja kamu belum tahu,” ucap Dave sambil menganggukkan kepalanya. “Maksudnya?” Leona bingung sambil mengernyitkan keningnya mendengar ucapan Dave. “Oh iya, apa kamu ada alergi makanan laut? Aku tahu dimana restoran seafood yang enak disekitaran sini.” “Aku tidak ada alergi makanan. Aku hanya alergi dengan laki-laki pembohong, mata keranjang dan sombong,” ucap Leona tanpa sadar. “Hey, kamu sedang membicarakan aku? Apa menurutmu aku laki-laki seperti itu?” ucap Dave setengah bingung mendengar ucapan Leona. “Sepertinya tidak. Ku harap begitu,” jawab Leona sambil terkekeh. Mobil Dave berhenti di sebuah restoran seafood dengan konsep sederhana namun asri. “Kita sudah sampai,” ucap Dave begitu selesai memarkirkan mobilnya. Leona dan Dave segera melepaskan seatbeltnya dan keluar dari mobil. Dave dan Leona berjalan masuk ke dalam restoran itu dan memilih tempat duduk di bagian pinggir. Seorang pelayan restoran datang dengan membawa buku menu restoran itu dan memberikannya ke Dave dan Leona satu persatu. “Saya pesan udang asam manis, cumi saus telur asin dan cah kangkung satu. Minumnya lemontea hangat,” ucap Dave kemudian menutup buku menu yang ada di tangannya, “Kamu pesan apa, Leona?” Leona masih melihat ke arah buku menu yang ada di tangannya, “Aku pesan ikan bakar dan cah kangkung. Minumnya sama aja.” “Baik. Mohon di tunggu.” Pelayan restoran itu mengambil buku menu yang di letakkan oleh Dave dan Leona di atas meja kemudian berlalu pergi. “Kamu sudah pernah kesini sebelumnya?” tanya Dave. “Belum pernah. Aku bahkan sangat jarang ke wilayah ini. Dulu aku lebih banyak di rumah dibandingkan keluar.” “Restoran ini laris banget. Makanannya enak tapi harganya gak semahal restoran seafood yang lain. Kamu pasti ketagihan makan disini.” “Aku yakin kok. Melihat menunya tadi juga sudah membuatku merasa lapar,” ucap Leona sambil tersenyum. “Oh iya, kamu sudah lama bekerja di perusahaan itu, Dave?” tanya Leona. “Aku? Lumayan lama. Sejak aku menyelesaikan pendidikan strata duaku, aku langsung bekerja disana.” “Wow, kamu pasti sangat pintar sampai mereka langsung mau merekrutmu,” ucap Leona kagum. “Tidak juga, Leona. Aku hanya sedikit beruntung. Jika di adu kecerdasan, mungkin saja aku kalah pintar dibandingkan kamu.” “Mungkin juga tidak,” balas Leona. Dave tersenyum sambil terus memandang Leona. Perempuan yang ada di depannya sekarang entah kenapa begitu mudah membuatnya tersenyum, bahkan tertawa lepas. Tak lama kemudian seorang pelanyan membawakan satu nampan yang penuh dengan makanan dan minuman pesanan mereka. “Selamat menikmati,” ucap pelayan itu sebelum akhirnya pamit pergi. “Baiklah, ayo kita makan,” ucap Leona yang sudah sangat ingin menyantap makanannya. Dave tersenyum melihat Leona yang begitu polos menyantap makanan yang ada di depannya tanpa pencitraan seorang wanita yang centil dan dibuat-buat. Leona begitu apa adanya namun sopan dan elegan. “Kenapa? Apa ada yang salah di wajahku? Apa ada makanan yang menempel di wajahku?” tanya Leona begitu sadar Dave memperhatikannya sejak tadi. “Tidak. Semuanya aman. Kamu masih sangat cantik seperti biasanya,” ucap Dave sambil tersenyum ke arah Leona. “Perlu kamu tahu, Dave. Aku punya alergi dengan laki-laki gombal. Kebanyakan dari mereka merupakan pembual yang dibungkus kata-kata manis.” “Sepertinya kamu punya pengalaman buruk dengan laki-laki, Leona. Tidak semua laki-laki begitu. Ada yang benar-benar tulus dengan perkataan manisnya. Bukan sebagai gombalan.” “Kalau begitu, jadilah laki-laki seperti itu, Dave,” ucap Leona sambil tersenyum kemudian kembali menikmati makanannya. Dave menganggukkan kepalanya kemudian mulai menikmati makanan yang sudah dipesannya. Mereka begitu menikmati makanan yang sedang mereka santap. “Aku ke toilet sebentar,” ucap Dave begitu selesai menikmati makanan mereka. Dave berjalan pergi menuju ke toilet. Leona menatap ke arah jalan. Pikirannya melayang ke kejadian tadi pagi. Tangannya tiba-tiba mengepal kuat. “Semudah itu dia membuat komitmen kemudian membatalkannya. Dia kira di dunia ini hanya tentang harga dirinya?” batin Leona. Leona menghelakan napasnya kemudian meneguk sisa minumannya untuk meredakan rasa sakit di hatinya. Tiba-tiba netra Leona menangkap sosok yang dia kenal sedang duduk tak jauh dari tempat duduknya. “Esme?” Baru saja Leona akan berdiri tempat duduknya hendak menghampiri Esme, tiba-tiba tatapan Esme berhasil menangkap gerakannya. Esme dengan cepat berjalan mengendap menuju ke meja Leona. “Kamu juga makan siang disini, Leona? Dengan siapa?” tanya Esme setengah berbisik. “Dengan teman sekantor kita juga. Kamu dengan siapa kesini?” Leona balik bertanya. “Aku sendirian. Pagi ini aku ribut besar dengan pacarku karena dia tiba-tiba memutuskanku. Dia mengatakan kalau dia akan melanjutkan study doktoranya ke luar negeri. Tapi ternyata dia bohong besar. Aku tadi pagi tak sengaja melihat percakapannya di sosial media dengan seorang perempuan. Mereka janjian akan makan siang di restoran ini. Dan itulah yang terjadi.” Esme melirik ke arah salah satu meja yang berjarak cukup jauh dari mereka. “Yang mana?” Leona bingung dengan maksud Esme. “Pria dengan kemeja biru dongker dan wanita dengan mini dress merah.” Esme menunjuk dengan lirikan matanya. “Astaga, dia begitu kelewatan! Sebentar akan aku labrak dia! Berani-beraninya dia mengkhianati sahabatku!” ucap Leona emosi. Esme segera menarik tangan Leona dan menuruhnya kembali duduk saat Leona akan berdiri dari tempat duduknya. “Aku punya ide yang lain,” ucap Esme. Leona menatap Esme dan mengikuti semua gerak geriknya. Esme berdiri dari tempat duduknya dan menegakkan tubuhnya sehingga bagian depannya yang memang berukuran besar terlihat lebih membusung dan seksi. Esme memang memiliki tubuh dengan aura tingkat keseksian yang erotis meski tanpa pakaian mini. Esme berjalan mendekati meja mantan pacarnya itu. “Sayang, dia siapa? Kamu tega sayang. Kita kan sudah tunangan. Hari pernikahan kita minggu depan dan sekarang kamu menggandeng wanita lain? Tega kamu!” ucap Esme dengan wajah sedih. “Dia siapa, Mas? Kamu udah tunangan? Kamu bilang kamu single. Dasar buaya!” ucap perempuan yang sedang bersama mantan Esme. Perempuan itu begitu marah kemudian segera berjalan keluar dari restoran itu. “Gila kamu ya!” ucap mantan pacar Esme pada Esme. “Duh duh, yang mau ke luar negeri ambil gelar doktoral malah apes di tinggal pergi pacarnya.” Esme menggelengkan kepalanya sambil menyindir mantan pacarnya. Mantan pacar Esme segera berlari keluar mengejar perempuan tadi. Esme tersenyum puas karena pembalasannya berhasil. Esme berjalan kembali ke meja Leona dengan wajah kemenangan. “Esme yang aku kenal memang tak pernah berubah. Keren dan mematikan,” ucap Leona sambil menggelengkan kepalanya. Esme tersenyum sombong sambil duduk di hadapan Leona. “TEh, temen kamu mana sih?” tanya Esme begitu duduk di kursi depan Leona. “Tadi ke toilet sebentar.” “Sakit perut kali dia. Masa lama banget ke toilet,” ucap Esme. “Saya sudah selesai kok,” ucap Dave tiba-tiba di belakang Esme. “Nah itu dia, panjang umur abis diomongin,” seloroh Leona begitu melihat ke arahh Dave. Esme langsung melihat ke arah belakang. Spontan dia berdiri dari tempat duduknya dan mengahadap ke arah Dave. “Selamat siang, Pak Dave,” sapa Esme memberikan hormat ke arah Dave dengan wajah ketakutan dan panik. “Kalian saling kenal?” tanya Leona bingung begitu mendengar Esme menyebut nama Dave, “Oh iya, tentu saja. Kan kita bertiga bekerja di satu perusahaan yang sama.” Esme melihat ke arah Leona sambil memberikan kode, “Dia presiden direktur kita, Leona,” ucap Esme sambil berbisik. “Apa? kenapa suaramu begitu kecil, Esme?” “Apa kita sudah bisa kembali ke kantor, Leona?” tanya Dave. “Oh iya, kita bisa terlambat. Ayo kita kembali ke kantor,” ucap Leona begitu tersadar dan melihat ke arah jam yang ada di pergelangan tangannya. “Bagaimana kalau kamu pulang bersama kami saja, Esme. Tujuan kita kan sama,” ucap Leona, “Tidak apa kan, Dave?” Leona melihat ke arah Dave. “Tentu saja tidak apa-apa.” “Ti-tidak apa-apa, pak. Saya naik taksi saja. Terima kasih banyak,” ucap Esme gugup. “Baiklah kalau begitu, kami duluan ya,” ucap Dave. “Si-silahkan, pak,” jawab Esme sambil memberi hormat. Leona memberi kode kenapa Esme tidak mau ikut dengannya, namun Esme hanya membalas dengan sebuah gelengan kepala yang membuat Leona semakin bingung. Leona dan Dave masuk ke dalam mobil dan melaju menuju kembali ke kantor mereka. “Leona ternyata suhu diatas suhu,” ucap Esme sambil melihat Leona yang semakin menghilang dari pandangannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD