Leona memegangi kotak dengan lapisan baldu berwarna biru di tangannya. Dibukanya kotak itu dan dilihatnya ke dalam isinya. Wajah Leona menyunggingkan sebuah senyuman di wajahnya tatkala netranya melihat sebuah dasi ekslusif dengan bordiran merk terkenal asal Prancis di dalam kotak itu.
Setelah puas melihatnya, Leona segera memasukkan kotak dasi itu ke dalam sebuah laci di meja riasnya. Leona melihat ke arah jam yang ada di dinding ruangan itu.
“Aku harus memasak untuk makan malam,” ucap Leona sambil berjalan ke dapur.
Leona mulai mengiris berbagai sayuran sampai tidak lama kemudian asisten rumah tangga mereka datang dengan tergopoh-gopoh mendekati Leona.
“Ada sebuah paket untuk Nyonya,” ucap Naomi, Asisten rumah tangga Leona.
Naomi menyerahkan sebuah paket berbalut amplop cokelat ke arah Leona.
“Paket untukku?” Leona melihat ke arah benda yang ada dihadapannya. Dengan cepat di letakkannya pisau dari tangannya dan mengambil paket itu.
Leona membuka paket itu dan mengeluarkan isinya. Keningnya mengernyit. Leona menggigit bibirnya menahan gejolak di hatinya. Ditutupnya kembali isi paket yang sudah dilihatnya.
“Bik, bisa gantikan aku memasak untuk makan malam? Ada hal yang harus aku urus.” Leona membuka celemek yang dipakainya dan meletakkanya di atas meja.
“Baik, Nyonya,” ucap Naomi.
Leona bergegas ke kamarnya. Mengambil semua barang-barangnya yang dibawanya saat pertama kali menginjakkan kakinya di kediaman keluarga besar Andrew dan pergi.
Malam hari, sekitar pukul sembilan malam Andrew kembali dari kantornya. Hari itu seharusnya dia pulang cepat untuk merayakan hari spesialnya bersama Leona, namun karena Leona sama sekali tidak menghubunginya, Andrew lebih memilih untuk pulang terlambat.
“Mungkin dia lupa dengan hari ini,” gumam Andrew sambil menyunggingkan senyum sinisnya sambil keluar dari mobilnya.
Andrew masuk ke dalam rumahnya. Dilihatnya ke sekitarnya, begitu sepi tanpa ada seorang pun di rumahnya. Asisten rumah tangga mereka memang hanya bekerja sampai sore hari, namun kemana Leona?
Andrew segera menaiki tangga menuju ke lantai dua dan membuka pintu kamarnya. Kosong!
“Kemana dia?”
Andrew membuka pintu kamar mandi namun tetap tidak menemukan istrinya, Leona. Wajah Andrew perlahan berubah serius. Tidak biasanya Leona pergi tanpa memberitahunya terlebih dahulu seperti ini.
“Kemana dia malam-malam begini?”
Netra Andrew menemukan secarik kertas di atas meja rias Leona. Dengan cepat di ambilnya kertas itu dan melihat isi yang tertulis diatasnya.
[Hai Andrew, maaf aku memberitahumu melalui surat ini. Tadi pagi aku menerima sebuah paket berisi sesuatu yang menyadarkan aku tentang siapa aku. Sebuah kado paling berkesan sepanjang usia pernikahan kita. Terima kasih Andrew. Aku berharap kado yang akan aku kirimkan padamu besok juga dapat menjadi kado yang paling berkesan bagimu selama menjadi suamiku. Happy Wedding Anniversary, Andrew.]
Andrew mengernyitkan keningnya begitu selesai membaca surat itu.
“Apa maksudnya?”
Andrew melihat sebuah amplop coklat berada tepat di bawah surat yang dibacanya tadi. Andrew mengambil amplop cokelat itu. Bagian depan amplop itu bertuliskan alamat lengkap rumah mereka dan nama lengkap Leona.
Andrew langsung membuka amplop itu dan mengeluarkan isinya. Mata Andrew membelalak sempurna begitu membaca isi dari kertas yang tadi ada di dalam amplop cokelat itu.
“Hamil? Bagaimana bisa?” ucap Andrew histeris.
Dengan cepat Andrew mengambil ponselnya dan menghubungi nomor kontak Leona namun nomor itu tidak aktif.
“Sial!” umpat Andrew.
Dihempaskannya berkas pemeriksaan kehamilan itu ke lantai dengan penuh emosi. Andrew melihat ke sekitarnya, baru disadarinya ternyata semua barang barang Leona sudah tidak ada ditempatnya.
Andrew berjalan menuju ke lemari baju Leona dan membukanya. Leona membawa semua baju-baju lamanya tanpa membawa satupun baju-baju mahal yang didapatnya begitu mendapatkan tahta sebagai nyonya Andrew.
Andrew menutup kembali pintu lemari itu dengan penuh emosi. Dengan cepat diambilnya ponsel dari dalam saku bajunya dan menghubungi orang kepercayaannya.
“David, segera cari orang untuk mencari keberadaan Leona sekarang juga! Kabari aku secepatnya. Terserah mau berapa orang yang akan kamu bayar untuk menemukannya!” ucap Andrew emosi begitu David mengangkat panggilan teleponnya.
“Baik, Pak,” jawab David yang tak lama kemudian diikuti oleh suara panggilan yang tertutup tiba-tiba.
Keesokan paginya Andrew bangun dengan kepala yang begitu pusing. Semalaman terjaga dengan pikiran yang penuh perdebatan membuatnya harus meneguk bergelas-gelas alkhol demi meredakan semuanya. Tiba-tiba Andrew mengingat sesuatu dan dengan cepat mengambil ponselnya dari atas meja nakas kemudian mengecek notifikasi yang masuk.
Wajah Andrew berubah begitu melihat tidak ada notifikasi yang masuk dari Leona. Andrew keluar dari kamar dan turun ke lantai satu sambil membawa serta ponsel di tangannya.
“Ada paket untuk Tuan,” ucap Naomi sambil menyerahkan sebuah amplop berwarna coklat ke hadapan Andrew yang baru saja mendaratkan tubuhnya di atas kursi makan.
Andrew membaca tulisan yang ada di halaman depan amplop coklat itu.
“Gugatan Cerai?”
Wajah Andrew mengeras. Segera di bukanya amplop itu dan membacanya. Begitu selesai membaca isi surat itu, Andrew langsung melempar surat itu ke atas meja dengan penuh emosi.
“Berani-beraninya Leona menggugat cerai aku!” ucap Andrew marah.
Andrew mengatur ritme napasnya yang berubah semakin cepat. Segera diambilnya ponsel yang tadi di letakkannya di atas meja dan menghubungi kontak Leona. Nomor itu masih belum aktif. Andrew mulai panas.
“Kenapa dia pergi tanpa bicara dulu denganku?” gumam Andrew.
Andrew berdiri dari kursi dan berjalan cepat menuju ke kamarnya. Dia masuk ek dalam kamar mandi dan segera membersihkan tubuhnya. Begitu selesai mandi, Andrew segera memakai pakaian kerjanya, bersiap untuk berangkat ke perusahaan milik keluarganya yang sekarang jatuh ketangannya.
Andrew mengambil jas yang tergeletak di lantai. Jas yang semalam dipakainya. Andrew merogoh kantong jas itu dan mengeluarkan sesuatu dari dalam.
Sebuah kotak perhiasan keluar dari dalam kantorng itu. Andrew tertegun sesaat memandang kotak perhiasan itu kemudian membukanya. Sebuah cincin berlian berwarna biru, blue moon yang di pesan khusus sejak tiga bulan yang lalu.
“Seharusnya cincin ini sudah melingkar di jarimu sejak semalam, Leona,” ucap Andrew lirih.
Andrew kembali menutup kotak cincin itu dan menyimpannya di laci meja rias Leona. Ketika Andrew baru saja meletakkan kotak cincin itu ke dalam laci meja rias Leona, Andrew melihat sebuah kotak mewah dengan lapisan baldi berwarna biru tepat berada di sebelah kotak cincin yang baru saja di letakkannya.
Andrew mengambil kotak itu dan membukanya. Di dalam kotak itu terdapat sebuah dasi mewah dengan bordiran merk terkenal asal Prancis dan secarik kartu ucapan.
Happy Wedding Anniversary, Andrew.
Andrew tersenyum getir begitu membaca pesan itu.
“Dia mengganti kado ini dengan sebuah surat gugatan perceraian untukku,” ucap Andrew sambil menutuo dan memasukkan kembali kotak dasi itu ke dalam laci, tepat di sebelah kotak cincin yang akan di berikannya pada Leona.