Leona duduk di ruang makan rumah yang baru satu hari di sewanya itu sambil menikmati secangkir teh hangat. Tangannya sibuk berselancar di layar notebooknya. Sudah puluhan profil perusahaan kontraktor di bukanya untuk mencari lowongan pekerjaan. Setelah lelah menyebar lamaran pekerjaannya di laman online perusahaan-perusahaan itu, Leona menghelakan napas lelah kemudian mengambil teh lemonnya yang sudah dingin.
“Semoga saja aku segera mendapatkan panggilan kerja,” ucap Leona begitu selesai meneguk beberapa kali tehnya dan meletakkan cangkir yang ada di tangannya kembali ke atas meja.
“Seharusnya aku tidak terlena selama ini. Aku terlalu mempercayai pernikahan yang selama ini aku jalani akan berlangsung aman selamanya. Padahal Tuhan sudah berkali-laki memberikan sinyal-sinyal bahaya itu namun aku selalu mengabaikan dan menganggap semua kepahitan itu sebagai hal yang lumrah.” Leona mengusap kasar wajahnya, berusaha menetralkan penyesalan di dalam hatinya yang membuat kepalanya terasa panas.
Netra Leona melihat sesuatu di atas meja. Benda pipih berwarna rosegold yang berada tepat di sebelah notebooknya.
“Astaga, aku harus mengaktifkan ini. Bisa saja mereka menghubungiku langsung melalui telepon. Tidak harus melalui email kan?” Leona dengan cepat menyambar ponselnya dan mengaktifkan ponselnya yang sejak kemarin di nonaktifkannya.
Baru saja ponsel itu di aktifkan, sebuah panggilan masuk ke dalam ponselnya. Nama Andrew tampil di layar ponsel Leona membuatnya menegang perlahan.
Leona menggigit bibirnya, menimbang apa yang harus di lakukannya dengan panggilan telepon itu. sejujurnya saat ini dia benar-benar sedang tidak ingin berdebat dengan siapapun, terlebih dengan suaminya. Leona menutup matanya sejenak, menarik napas dalam kemudian memutuskan untuk mengangkat panggilan telepon itu.
“Halo?” ucap Leona.
“Akhirnya ponselmu aktif juga,” jawab Andrew. Masih jelas terdengar desahan napas lega dari ujung ponsel.
“Kamu sudah menerima berkas yang aku kirim?” tanya Leona.
“Apa maksudmu dengan semua itu, Leona? Kenapa kamu membuat keputusan tanpa membicarakannya dulu denganku?”
“Apa yang harus dibicarakan lagi? Soal bagaimana hebatnya Dona melayanimu di ranjang? Atau soal apakah kehamilan Dona baik-baik saja?” Leona terkekeh.
“Aku pikir semua sudah cukup jelas, Andrew. Aku bisa menerima semua perselingkuhanmu dengan puluhan wanita cantik di luar sana tapi tidak dengan kehamilan mereka karenamu. Tanda tangani berkas gugatan perceraian itu secepatnya agar semua ini segera selesai. Sampai bertemu di pengadilan, Andrew.” Leona menutup panggilan telepon itu sambil memejamkan matanya.
Tidak ada perceraian yang baik-baik saja sekalipun hal itu yang kita inginkan.
Leona meletakkan kembali ponselnya ke atas meja dan memijit kedua pelipis kepalanya yang terasa sakit. Tak lama kemudian dering ponselnya kembali terdengar.
“Ada apa lagi dengannya? Kenapa begitu keras kepala?” gumam Leona yang mengira Andrew kembali menghubunginya.
Leona mengambil ponselnya dan langsung mengangkat panggilan itu tanpa melihat nama yang tertera di layar ponselnya.
“Ada apa lagi, Andrew? Bukankah semua sudah jelas?” ucap Leona.
“Leona?” terdengar suara wanita di ujung telepon.
Leona tercekat dan langsung melihat ke layar ponselnya.
“Esme?”
“Apakah kamu baik-baik saja, Leona?” tanya Esme lagi.
“Ya, tentu saja. Maaf aku kira tadi Andrew yang menelponku.”
“Tidak masalah. Tapi Leona, kenapa kamu mencari lowongan pekerjaan? Apakah ada sesuatu yang terjadi?”
“Bagaimana kamu tahu?”
“Aku tidak sengaja melihat lamaran pekerjaanmu di ruang HRD perusahaan tadi.”
“Ya, aku lupa kalau kamu juga bekerja di perusahaan kontraktor,” Leona menepuk pelan kepalanya, “Aku akan bercerai dengan Andrew dan sekarang aku sudah keluar dari rumah itu.”
“Apa? bercerai? Kamu tidak sedang bercanda kan?”
“Aku serius, Esme.”
“Baiklah. Kirimkan alamat tempat tinggalmu sekarang. Aku akan segera kesana begitu jam pulang kantor,” ucap Esme.
“Baiklah. Aku memang sangat membutuhkanmu saat ini, Esme.”
“Tunggu kedatanganku nanti sore.”
Esme menutup panggilan telepon itu. Leona segera mengetik alamat rumahnya dan mengirimkannya pada Esme.
Sekitar pukul empat sore, bel rumah Leona berbunyi. Leona segera membuka pintu rumah kontrakannya dan melihat Esme di depan pintu rumahnya.
“Senang melihatmu datang, Esme. Masuklah.” Leona membuka lebar pintu rumahnya dan menutupnya kembali begitu Esme masuk ke dalam rumahnya.
“Duduklah. Aku akan membuatkan teh hangat untuk kita,” ucap Leona sambil mempersilahkan Esme duduk di sofa yang ada di ruang tamu.
“Aku rasa kita memang memerlukannya, Leona. Obrolan kali ini pasti akan terasa begitu panjang dan menguras emosi.” Esme tersenyum ke arah Leona sambil duduk di atas sofa.
Leona tersenyum getir sambil menggelengkan kepalanya kemudian berjalan ke dapur untuk membuatkan minuman mereka berdua. Tak lama kemudian, Leona kembali ke ruang tamu dimana Esme duduk menunggunya sambil membawa dua gelas iced lemontea dan meletakkannya di atas meja.
“Sudah berapa lama kamu tinggal disini, Leona?” tanya Esme memulai pembicaraan.
“Dua hari yang lalu. Tadi pagi aku mengirimkan surat gugatan ceraiku pada Andrew.”
“Tapi kenapa? Aku pikir kalian baik-baik saja.”
“Dona hamil. Dia mengirimkan surat pemeriksaan kehamilannya padaku.”
“Belum tentu itu karena Andrew kan?”
“Mereka memang ada hubungan spesial, Esme,” jawab Leona sambil mengambil gelas minumannya dari atas meja dan meneguknya beberapa kali. Menceritakan semua hal itu cukup menguras energinya.
“Astaga, jangan bilang kamu berusaha tegar sendiri menutupi perselingkuhan Andrew selama ini.”
“Andrew punya banyak teman wanita. Teman tidur lebih tepatnya. Aku bisa menerima semua itu namun tidak dengan kehamilan wanita lain.” Leona mengembalikan gelas yang ada ditangannya ke atas meja.
“Tentu saja! Semua wanita pasti tidak akan pernag rela dengan hal itu, Leona. Tapi tenang saja, kamu bisa mendapatkan separuh dari harta Andrew dengan surat pemeriksaan kehamilan yang dikirimkan Dona. Itu bukti yang sangat kuat, Dona.” Wajah Esme berbinar.
“Aku tidak mengharapkan itu. Aku hanya ingin memulai hidupku yang baru, yang lebih tenang. Tiga tahun pernikahan bersama Andrew membuatku lupa apa dengan kebahagiaan diriku sendiri. bahkan keluarga besarnya masih belum bisa menerimaku dengan baik meskipun aku sudah berusaha bersikap baik pada mereka.”
“Oleh karena itu kamu berhak mendapatkan separuh dari harta yang dimiliki oleh Andrew. Kamu sudah mengorbankan hidupmu dan waktumu yang begitu banyak untuk mereka, Leona,” ucap Esme.
Leona menatap Esme beberapa saat tanpa mengatakan apapun.
“Maaf aku tidak bermaksud membebanimu, Leona,” ucap Esme yang menyadari bahwa ucapannya telah membuat Leona terdiam.
“Tidak apa, Esme. Semua ucapanmu itu benar. Tapi aku masih belum berniat untuk melakukannya. Aku benar-benar ingin pergi dengan damai.” Leona tersenyum tipis.
“Oh ya, aku bisa merekomendasikanmu ke atasanku agar menerima kamu bekerja di perusahaan. Aku sudah mengatur janji dengannya besok. Aku akan mengirimkan lokasi pertemuannya dan jamnya. Jangan lupa membawa gambar hasil karya terbaikmu, oke?”
“Benarkah?” wajah Leona berbinar.
“Tentu saja. Aku tidak pernah berbohong padamu kan?”
“Sejujurnya aku masih ragu untuk mengajukan lamaran pekerjaan ini. Aku sudah bertahun-tahun tidak menggambar lagi sejak menikah. Aku takut kualitas kemampuanku menurun.”
“Aku yakin tidak. Kamu adalah seorang arsitek terbaik yang pernah aku temui dan kualitas itu telah mendarah daging di dalam tubuhmu, Leona. Percaya dirilah,” ucap Esme meyakinkan Leona.
“Baiklah. Kita akan bertemu besok. Terima kasih sudah membantuku, Esme,” ucap Leona sambil menatap sahabatnya dengan haru.
“Apapun untukmu, Leona,” Esme mengambil gelas minumannya dan meneguknya beberapa kali.