Satu Keberuntungan

1325 Words
[Datanglah ke Copper Kettle Restaurant pada jam makan siang. Aku dan manajer konstruksi perusahaanku akan menunggumu disana. Kebetulan kami ada rapat di tempat itu jadi aku bisa membujuk Manajer konstruksi perusahaan untuk bertemu sekalian denganmu disana. Jangan lupa membawa semua hal yang bisa membuatnya tertarik padamu, oke?] Leona kembali membaca pesan yang di kirimkan Esme padanya tadi pagi. Leona melihat kembali ke arah jam yang ada di dinding kamarnya dan bergegas mengecek kembali penampilan dan semua barang yang harus dibawanya. “Oke, semua beres. Semoga hari ini merupakan hari keberuntunganku,” ucap Leona sambil berdoa di dalam hatinya. Leona mengambil ponselnya dan mengetik pesan untuk sahabatnya, Esme. [Aku akan kesana sekarang.] Leona mengirimkan pesan itu sambil berjalan keluar dari kamarnya. Tak berapa lama sebuah taksi yang tadi dipesannya tiba di depan rumahnya. Leona bergegas masuk ke dalam taksi itu dan melaju menuju ke tempat pertemuannya dengan Esme. Sekitar dua puluh menit kemudian, Leona tiba di restoran yang ditujunya. Leona bergegas turun dari taksi dan berjalan masuk ke dalam restoran itu. Leona mengedarkan pandangannya, berusaha mencari sosok Esme yang tadi mengatakan akan menunggunya disana. “Hai Leona, ayo ikut aku,” ucap Esme yang menemui Leonas entah dari mana. Esme menarik tangan Leona dan berjalan menuju ke meja dimana seorang pria paruh baya sedang menunggunya. “Perkenalkan, Pak. Ini Leona, seorang arsitek yang tadi tadi pagi saya ceritakan.” Esme memperkenalkan Leona pada Manajer Konstruksi di perusahaan tempatnya bekerja. Manajer Konstruksi itu berdiri dari tempat duduknya dan menyambut uluran tangan Leona ke arahnya. “Saya Leona.” “Saya Adam. Senang bertemu dengan anda. Silahkan duduk.” Leona dan Esme segera duduk bersebelahan menghadap ke arah Adam. “Esme sudah banyak cerita mengenai anda. Bisa saya lihat berkas-berkas anda dan contoh gambarnya?” ucap Adam langsung pada inti pembicaraannya. Leona bergegas memberikan berkas lamaran pekerjaannya lengkap dengan semua lembar penunjangnya serta beberapa gambar karya terbaiknya. Adam menerima semua berkas yang di berikan oleh Leona dan melihatnya dengan begitu serius. Leona dan Esme tampak tegang menunggu keputusan yang akan di berikan oleh Adam. Tak lama kemudian Adam terlihat menganggukkan kepalanya. “Anda menggambar ini sendiri?” tanya Adam. “Benar, Pak. Itu adalah hasil gambar saya sendiri.” “Baiklah, Leona. Keberuntungan sepertinya sedang berpihak pada kita. Kebetulan memang divisi saya sangat memerlukan tenaga arsitek tambahan untuk menengerjakan mega proyek yang sedang berjalan di perusahaan. Proyek ini benar-benar besar dan memiliki target waktu. Jadi saya benar-benar sedang membutuhkan tenaga kerja yang kompeten dan disiplin. Apakah anda sanggup untuk itu?” tanya Adam sambil menatap Leona. “Sanggup, Pak. Apakah ini artinya saya diterima bekerja?” tanya Leona dengan wajah tegang karena penasaran. “Jika anda menyanggupinya, anda sudah bisa masuk bekerja besok pagi. Datanglah ke kantor sebelum pukul 8 pagi. Saya akan menjelaskan semua detail pekerjaan anda di kantor besok.” Wajah Leona dan Esme berubah sumringah. Ingin rasanya mereka bersorak saat itu namun dengan sekuat tenaga mereka tahan. “Baik, Pak. Terima kasih atas perhatian dan kesempatan yang bapak berikan kepada saya,” ucap Leona begitu sopan. “Sama-sama. Kalau begitu saya pamit dulu. Sampai jumpa di kantor besok pagi, Leona.” Adam berdiri dari tempat duduknya. Leona dan Esme dengan cepat ikut berdiri dan menyalami Adam bergantian. “Esme, terima kasih. Berkatmu aku bisa mendapatkan pekerjaan ini.” Leona memeluk Esme. “Tidak, Leona. Ini atas kerja kerasmu sendiri. Pak Adam pasti menyukai hasil karyamu makanya dia mau menerima kamu. Aku begitu bahagia, Leona. Kita akan bekerja di perusahaan yang sama, walaupun berbeda divisi,” ucap Esme sambil tersenyum bahagia. “Sayangnya aku harus segera kembali ke kantor, Leona. Kita akan merayakan hal ini besok. Hari ini kamu istirahat dan bersiap untuk mulai bekerja besok, oke?” Esme mengambil tasnya dari kursi tempat duduknya. “Baiklah. Hati-hati dijalan, Esme.” Leona terduduk kembali begitu Esme menghilang dari pandangannya. Leona menutup wajahnya dengan kedua tangannya dengan ucapan syukur yang tak henti terucap dari bibirnya. “Aku harus segera pulang. Banyak hal yang harus aku persiapkan untuk besok.” Leona bergegas mengambil tasnya dan kembali pulang ke rumahnya. Leona terbangun di pagi hari. Semalaman pikirannya terus melayang kepada Andrew sehingga membuatnya sulit tidur. Leona sudah berusaha sekuat tenaga untuk menyingkirkan sosok itu dari pikirannya tapi dai selalu gagal. “Tidak!” teriak Leona histeris begitu melihat jam yang ada di dinding kamarnya. Hari pertamanya bekerja tidak boleh rusak dengan datang terlambat. Dengan setengah berlari Leona masuk ke dalam kamar mandi dan secepat mungkin membersihkan tubuhnya. Setelah itu Leona memakai baju yangs sudah di persiapkannya tadi malam sambil memesan taksi melalui ponselnya. Tidak lama kemudian sebuah panggilan masuk terlihat di layar ponselnya begitu dia selesai memesan taksinya. “No! Tidak sekarang, Andrew. Aku tidak punya waktu meladenimu!” ucap Leona begitu melihat nama kontak Andrew memanggil di layar ponselnya. Leona membiarka panggilan telepon itu berdering sampai beberapa kali hingga akhirnya berhenti. Leona sibuk mempersiapkan dirinya berangkat ke kantor. Leona meminum segelas air hangat dan mengambil sepotong roti dari atas meja. Tak lama kemudian taksi yang di tungguya datang. Leona segera masuk ke dalam taksi sambil memakan rotinya di jalan. “Agak ngebut ya, Pak,” ucap Leona sambil melihat jam yang ada di pergelangan tangannya. Beruntung pagi itu jalanan cukup lancar jadi Leona bisa tiba di depan kantornya lebih cepat dari perkiraannya. Leona masuk ke dalam kantornya. Leona mengedarkan pandangannya dan menatap takjup perusahaan itu. perusahaan itu begitu besar dan megah. Leona bingung harus kemana. Leona berusaha mencari orang yang bisa di tanyainya. Meja resepsionis yang ada di hadapannya kosong. Tiba-tiba Leona tidak sengaja menabrak seseorang karena Leona tidak fokus dengan jalannya. “Maaf,” ucap Leona spontan. Berbagai alat gambar yang ada ditangannya terjatuh. “Anda tidak apa-apa?” Seorang pria yang di tabrak Leona tadi membantunya mengambil barang-barang Leona yang terjatuh. “Aku tidak apa. Maaf tadi sudah menabrakmu. Aku sedang mencari ruangan kerjaku. Hari ini adalah hari pertamaku bekerja di sini. Kamu juga bekerja disini?” tanya Leona. Pria itu menganggukkan kepalanya sambil tersenyum dan memberikan barang-barang Leona yang tadi diambilnya dari lantai. “Syukurlah.” Leona menghelakan napas lega, “Aku Leona,” Leona mengulurkan tangannya memperkenalkan diri. “Dave.” “Bisakah kamu menunjukkan dimana ruangan divisi konstruksi, Dave? Petugas resepsionis sepertinya sedang sibuk,” ucap Leona. “Tentu saja. Aku akan mengantarmu sampai ke ruangan kerjamu,” ucap Dave tersenyum. “Terima kasih banyak, Dave.” Leona membalas senyum Dave. “Aku bisa membantumu membawakan ini.” Dave menunjuk ke arah alat menggambar yang sedang di pegang oleh Leona. “Tidak perlu, Dave. Aku bisa membawanya sendiri.” “Baiklah kalau begitu. Mari ikut aku.” Dave dan Leona berjalan menuju ke sebuah lift dan masuk ke dalamnya. Dave segera menekan sebuah nomor di dinding lift itu. Begitu pintu lift itu terbuka dan tiba di lantai dimana ruangan kerja Leona berada, Dave dan Leona segera keluar dari ruangan itu. “Ruangan Divisi Konstruksi ada di ujung lorong ini,” ucap Dave. Leona melihat ujung lorong itu kemudian tatapannya kembali pada Dave yang sedang berdiri di depannya sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. “Terima kasih atas bantuanmu hari ini, Dave. Kapan-kapan akan kita makan siang bersama. Aku traktir, Oke?” Leona mengedipkan sebelah matanya sambil tersenyum ke arah Dave. Dave berusaha menahan tawanya melihat tingkah lucu Leona di depannya. “Tentu saja. Aku sangat menunggu traktiranmu, Leona.” “Baiklah. Kembalilah keruanganmu, Dave sebelum kita berdua dihukum karena terlambat. Aku duluan ya. Sekali lagi terima kasih, Dave.” Leona tersenyum ke arah Dave kemudian berjalan cepat menuju ke ruanganya. Dave terus menatap Leona sampai menghilang. Tanpa sadar sebuah senyum merekah di bibirnya. Dave segera kembali masuk ke dalam lift dan berjalan menuju ke ruangannya. “Selamat pagi, Pak. Pagi ini bapak ada meeting dengan investor dari Singapura dan Malaysia. Siang dan sore nanti bapak jug ada meeting dengan PT Wicaksana Grup dan PT Dian Anugerah Grup.” “Baiklah. Persiapkan saja semuanya,” ucap Dave sambil masuk ke dalam ruangannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD