Andrew terdiam di kursi kerjanya. Ucapan Leona yang di dengar di telepon tadi cukup membuatnya tertegun. Tak ada nada sedih dalam setiap kalimatnya. Leona meminta perpisahan itu dengan intonasi yang begitu tegas.
“Bagaimana bisa dia melepas semua hal yang merupakan impiannya sejak dulu dengan segampang itu?” gumam Andrew.
Sebenarnya tidak ada alasan yang begitu kuat baginya mempertahankan posisi Leona sebagai Nyonya Andrew di rumahnya. Bahkan semua keluarganya pasti akan tersenyum begitu mengetahui rencana perceraian yang sedang mereka alami. Namun entah kenapa ada rasa sakit yang menyelinap di dalam hati Andrew.
Ya, Andrewlah satu-satunya orang yang paling kuat mempertahankan posisi Leona di dalam keluarganya selama ini. Tak dipungkiri ada rasa cinta yang tertanam di dalam hatinya. Wanita itu begitu memberikan kenangan yang sangat mendominasi dalam hidup Andrew. Itu yang membuat Andrew akhirnya luluh dan terus memperjuangkan Leona.
Tiba-tiba Andrew teringat sesuatu hal. Sesuatu yang merupakan penyebab kepergian Leona. Hal sepele yang tidak begitu berarti baginya namun tanpa disangka bisa membuatnya kehilangan Leona.
Andrew mengambil ponselnya dari atas meja dan menghubungi seseorang dari ponselnya itu. Beberapa kali deringan terdengar hingga akhirnya seseorang mengangkat panggilan teleponnya.
“Halo sayang. Aku sudah menduganya, kamu pasti merindukan aku kan?” ucap seseorang yang ada di ujung telepon.
“Kita harus bertemu. Temui aku di Rich Cafe jam 1 hari ini.” ucap Andrew.
“Kenapa tidak di apartemenku saja? Ayolah, biasanya kan kamu selalu kesini sayang.”
“Baiklah jika itu maumu.” Andrew menutup panggilan teleponnya dan bergegas keluar dari ruangan kerjanya.
Andrew masuk ke dalam mobilnya dan melajukannya menuju ke apartemen Dona.
Begitu tiba didepan pintu apartemen Dona, Andrew langsung menekan bel yang ada di pintu apartemen itu. Tak lama kemudian muncul sosok Dona dari balik pintu dengan masih memakai kimono tidurnya.
“Masuklah sayang,” ucap Dona sambil tersenyum.
Andrew menatap tajam ke arah Dona dan melangkahkan kakinya masuk begitu Dona membuka lebar pintu apartemennya.
“Kamu pasti merindukanku kan? Akupun merasakan hal yang sama, Andrew,” ucap Dona sembari memeluk tubuh bidang Andrew dari belakang begitu menutup pintu apartemennya.
Wajah Andrew datar. Tidak ada respon yang berarti darinya.
“Bagaimana kalau kita balaskan dendam kerinduan ini dengan sentuhan hangat? Kamu juga pasti merindukan hal itu kan sayang?” ucap Dona lagi.
Andrew langsung melepaskan dekapan Dona dari tubuhnya dan membalikkan tubuhnya mengahadap Dona.
“Kenapa kamu mengirimkan hasil pemeriksaan kehamilanmu pada Leona?” tanya Andrew sambil menatap tajam ke arah Dona.
Dona tersenyum sinis mendengar ucapan Andrew barusan.
“Kamu sudah mengetahui hal itu? Baguslah. Kamu pasti senang kan? Sebentar lagi kamu akan menjadi seorang ayah, Andrew. Itukan hal yang tidak bisa di berikan Leona padamu selama bertahun-tahun pernikahan kalian?” Dona menatap Andrew sambil bersedekap.
“Apa kamu yakin anak yang ada di dalam kandungan itu benar-benar anakku?” Andrew tersenyum sinis ke arah Dona, “Semua orang juga tahu bagaimana liarnya gaya hidupmu sejak dulu, Dona.”
“Tunggu dulu, kamu meragukan anak ini merupakan darah dagingmu?”
“Who knows?” Andrew menaik turunkan bahunya.
“Kita lakukan tes DNA sekarang agar kamu tahu kebenarannya!”
“Tidak perlu. Aku malas dan aku sama sekali tidak tertarik untuk itu. Gugurkan anak itu!”
Mata Dona membelalak, seolah tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
“Apa?” tanya Dona. Keningnya mengernyit menahan amarah.
“Gugurkan anak itu segera. Aku sama sekali tidak menginginkannya. Kamu kan sudah tahu sejak awal hubungan kita hanya untuk bersenang-senang. Tanpa komitmen. Aku tidak mau terikat denganmu hanya karena anak itu.”
“Kamu sudah gila, Andrew!”
“Kamu yang sudah gila, Dona! Kamu terlalu lancang mengirimkan bukti kehamilanmu pada Leona. Itu urusan kita berdua, bukan Leona!”
“Tentu saja ada urusannya dengan perempuan itu. Aku memang ingin dia tahu mengenai anak ini agar dia pergi. Dia harus tahu bahwa dia tidak pantas berada di sampingmu. Aku yang pantas, Andrew! Aku wanita yang bisa menyempurnakan hidupmu, bukan wanita mandul itu!” teriak Dona penuh emosi.
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Dona membuatnya sampai terhuyung dan hampir saja terjatuh ke lantai jika dia tidak cepat berpegangan pada dinding yang ada di dekatnya.
“Dia bisa hamil atau tidak bukan urusanmu! Gugurkan kandungan itu secepatnya dan pergilah dari hidupku. Aku tidak ingin berurusan denganmu lagi, Dona!” ucap Andrew dengan tatapan yang begitu tajam dan penuh dengan emosi.
Andrew berjalan menuju ke pintu dan membukanya. Namun ketika akan berjalan keluar, langkah Andrew terhenti dan dia kembali membalikkan tubuhnya.
“Ingat Dona, segera gugurkan anak itu dan pergilah. Bersikaplah seolah kita tidak saling mengenal. Jangan macam-macam denganku, Dona. Aku bisa berbuat apa saja yang aku inginkan. Pastikan semua hal itu terjadi secepatnya sebelum aku yang akan melakukannya sendiri,” ucap Andrew yang kemudian berjalan keluar dari apartemen Dona.
Tangan Dona mengcengkeram kuat mendengar ucapan Andrew barusan. Emosinya benar-benar mendidih, hatinya benar-benar teriris. Air matanya meleleh. Dona jatuh perlahan ke atas lantai. Tangisnya semakin kuat.
Andrew yang berjalan menuju mobilnya berusaha menegndalikan napasnya yang menggebu akibat amarahnya yang membuncah saat berada di dalam apartemen Dona tadi.
Andrew segera masuk ke dalam mobilnya. tangannya menggenggam kuat. Dalam semalam semua kehidupannya berubah.
Andrew menggeram sambil memukul kuat kemudi mobilnya untuk melampiaskan amarahnya. Tiba-tiba ponselnya berdering. Andrew segera mengambil ponselnya dari dalam saku jasnya dan melihat nama yang tampil di layar ponselnya.
“Ada apa David?” tanya Andrew begitu mengangkat panggilan telepon dari asistennya itu.
“Maaf, Pak. saya ingin mengingatkan kalau siang ini bapak ada meeting penting dengan PT Jaya Global Grup.”
Andrew memijat pelan kepalanya yang mulai terasa penuh dengan segala emosi.
“Kamu saja yang menghadiri meeting itu. Katakan bahwa saya sedang berada di luar negeri karena urusan keluarga mendadak. Ingat David, lakukan yang terbaik dan jangan ceroboh. Kita tidak boleh kehilangan proyek besar ini,” ucap Andrew.
“Baik, Pak.”
“Kamu sudah menemukan keberadaan Leona?” tanya Andrew lagi.
“Belum, Pak. Detektif yang kita sewa belum memberikan informasinya.”
“Pecat dia! Cari detektif lain yang lebih kompeten. Aku tidak membayarmu untu melakukan hal yang lambat dan bodoh, David!”
“Maaf, Pak. Akan saya laksanakan.”
Andrew menutup panggilan telepon itu dan memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku jasnya.
“Kenapa aku sampai lupa dengan meeting penting itu. seharusnya aku menyelesaikan meeting itu dulu sebelum bertemu dengan Dona. Aku tidak mungkin menghadiri rapat itu dengan perasaan kacau seperti ini,” gumam Andrew.
Andrew segera menghidupkan mesin mobilnya dan segera berlalu dari tempat itu.