Telepon paralel di ruangan Leona berdering. Leona segera mengangkat telepon itu bahkan sebelum deringan pertama berakhir.
“Ya, Pak?” ucap Leona begitu mengangkat panggilan di telepon paralel ruangannya. Telepon itu memang hanya terhubung langsung dengan atasannya, Pak Adam Dirgantara, yang kemarin merekrutnya masuk ke perusahaan itu.
“Leona, ke ruangan saya sekarang ya,” ucap Adam.
“Baik, Pak.”
Leona meletakkan gagang teleponnya dan berjalan keluar dari ruangannya menuju ke ruangan Manajer Konstruksi. Begitu tiba di depan ruangan Adam, Leona segera mengetuk pintu itu dan menunggu sampai terdengar suara persetujuan dari Adam di dalam ruangannya.
“Masuk.”
Leona membuka pintu ruangan Adam dan berjalan masuk ke dalam ruangan itu.
“Bapak memanggil saya?” tanya Leona begitu tiba di dekat meja kerja Adam.
“Tugas yang saya berikan tadi pagi sudah selesai?”
“Sudah, Pak.” Leona menganggukkan kepalanya dengan mantap.
“Bagus. Ini ada tugas satu lagi. Saya ingin kamu menyelesaikannya hari ini juga karena besok semua investor akan langsung meninjau ke lokasi proyek. Bagaimana? Bisa kan?”
“Bisa, Pak.” Leona kembali menganggukkan kepalanya dengan mantap.
“Baiklah. Kamu bisa kembali ke ruangan kamu.”
“Saya permisi, Pak.”
Leona membungkukkan badannya memberikan hormat kemudian berjalan keluar dari ruangan itu menuju ke ruangan kerjanya. Leona tersenyum sambil membawa setumpuk berkas yang harus di kerjakannya.
Leona mendaratkan tubuhnya di atas kursi kerjanya begitu masuk ke dalam ruangan kerjanya. Baru kali ini dia begitu bahagia mendapatkan setumpuk tugas yang bertubi-tubi dalam satu hari. Kalau dulu pasti dia bakal menggerutu dengan beban pekerjaan seberat ini.
“Aku benar-benar merindukan momen ini selama bertahun-tahun,” gumam Leona sambil terus tersenyum.
Leona mengambil salah satu berkas yang tadi dibawanya dan mulai mengerjakan tugasnya. Tiba-tiba pintu ruangannya terbuka dan wajah Esme muncul dari balik pintu.
“Tentu saja, hari pertama yang sangat bersemangat. Kamu tidak lapar? Ayo kita makan siang.” Esme berjalan masuk dan mendekati meja kerja Leona.
“Sepertinya aku sudah sangat kenyang dengan menyantap ini,” ucap Leona sambil menunjukkan setumpuk tinggi berkas yang tersusun rapi di meja Leona.
Esme menggelengkan kepalanya, “Sepertinya kamu di rekrut untuk di jadikan tumbal proyek, Leona. Maafkan aku.”
“Justru aku harus banyak berterima kasih padamu. Aku malah merasa sangat bahagia dengan ini semua. Aku seperti menemukan nyawaku kembali setelah bertahun-tahun mati suri.”
Esme terkekeh mendengar ucapan Leona.
“Baiklah, aku tidak akan mengganggu kebangkitan nyawamu hari ini. Aku akan meminta office girl untuk mengantarkan makan siangmu.”
“Kamu memang sahabat terbaik di dunia, Esme. Seandainya kamu laki-laki pasti aku sudah menikahimu,” ucap Leoan sambil tersenyum.
“Tidak mungkin. Kamu kan sangat tergila-gila dengan Andrew sejak dulu. Aku pasti kalah dengannya begitu dia berada di hadapanmu.”
Leona terdiam. Sennyum lepasnya berubah menjadi kaku begitu mendengar nama Andrew. Salah satu alasan Leona begitu senang mendapatkan setumpuk pekerjaan dengan deadline singkat adalah agar dia bisa melupakan pikirannya sementara dari Andrew, laki-laki yang masih terikat pernikahan dengannya.
“Maafkan aku, Leona. Aku tidak bermaksud membuatmu sedih dengan menyebut nama itu,” ucap Esme yang menyadari perubahan ekspresi di wajah Leona.
“Tidak apa, Esme. Seiring waktu aku pasti bisa melupakannya.”
“Tentu, pasti kamu bisa.” Esme tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, “Baiklah, aku keluar dulu. Tunggu saja makan siangnya pasti akan di antar secepat mungkin.”
“Terima kasih, Esme.”
Leona dan Esme saling melempar senyum. Esme kemudian berjalan keluar dari ruangan Leona. Berselang sepuluh menit kemudian seorang office girl datang dan memberikan Leona sepaket makanan yang telah di titip oleh Esme. Leona menyantap makan siangnya dengan cepat kemudian melanjutkan pekerjaannya kembali.
Jam demi jam berlalu, satu persatu tugas terselesaikan. Leona memijat lembut tengkuknya untuk meghilangkan pegal yang baru terasa. Leona melihat kesekitarnya, semua karyawan sudah pulang. Lampu setiap ruangan sudah mulai dipadamkan karena sudah tidak berpenghuni. Hanya lampu ruangannya yang masih terang benderang.
Leona menghelakan napasnya sambil tersenyum. Tubuhnya yang lelah pasti akan membuat tidurnya lebih lelap malam ini, batin Leona.
Tak lama kemudian, Leona mendengar langkah demi langkah yang semakin lama semakin terdengar jelas.
“Apakah itu petugas keamanan?” batin Leona sambil melihat fokus ke luar.
Netra melihat sesosok manusia sedang berjalan menuju ke ruangannya. Leona dengan cepat meengambil barang apapun yang ada di dekatnya untuk melindungi diri.
“Kamu belum pulang?” ucap seseorang sambil membuka pintu ruangan Leona.
Leona menghelakan napas lega.
“Aku harus lembur menyelesaikan tugasku. Kenapa kamu masih dikantor? Kamu lembur juga?” tanya Leona.
Pria yang tadi membuka pintu ruangan kerja Leona menganggukkan kepalanya dan tersenyum sambil berjalan masuk ke dalam dan berdiri di dekat meja kerja Leona.
“Aku pikir kamu sudah harus pulang, Leona. Ini sudah mulai larut malam.”
“Aku tahu. Tinggal satu berkas lagi setelah itu aku akan pulang.” Leona melihat ke arah pakaian yang di kenakan oleh pria itu sambil mengernyitkan kepalanya, “Maaf, aku lupa namamu. Dimana nametag kerjamu?” tanya Leona.
“Dave. Aku meninggalkan nametagku di dalam tas,” ucap Dave sambil tersenyum ke arah Leona.
“Oh iya, Dave.” Leona menganggukkan kepalanya.
Dave menatap Leona yang kembali fokus dengan pekerjaannya.
“Jika kamu ingin pulang, tak apa Dave. Aku sebentar lagi juga selesai,” ucap Leona sambil sesekali melihat ke arah Dave.
“Tak apa, akan aku tunggu. Toh kan sebentar lagi juga selesai kan? Tidak baik seorang perempuan sendirian di kantor tengah malam seperti ini.”
“Hari ini sudah dua kali aku berhutang budi padamu, Dave.”
“Berarti kamu berhutang makan siang dan makan malam padaku,” jawab Dave.
Netra Leona langsung menatap ke arah Dave.
“Baiklah. Tapi aku belum bisa menepatinya minggu ini. Aku punya banyak sekali tugas, dan mungkin akan lembur sampai proyek ini selesai.”
Dave menganggukkan kepalanya, “Tidak masalah. Jika kamu sudah punya waktu langsung hubungi aku. Bisa kamu masukkan nomor ponselmu?” Dave memberikan ponselnya ke hadapan Leona.
“Tentu saja.” Leona mengambil ponsel itu dan mengetik nomor ponselnya di layar ponsel Dave kemudian memberikannya kembali pada Dave.
Dave segera menyimpan kontak Leona sambil tersenyum kemudian menelpon nomor kontak itu. Ponsel Leona yang ada di atas meja menyala dan berdering.
“Itu nomorku,” ucap Dave.
“Baiklah. Akan aku simpan nanti.”
Leona dengan cepat membereskan meja kerjanya begitu berkas terakhir selesai.
“Aku sudah selesai. Ayo kita pulang,” ucap Leona sambil mengambil tasnya dari atas meja.
Leona dan Dave berjalan keluar dari ruangan itu dan turun dengan menggunakan lift menuju lobi kantor.
“Kamu pulang naik apa, Leona?” tanya Dave begitu mereka tiba di depan lobi kantor.
“Taksi. Aku akan memesannya sekarang.”
“Aku rasa kamu tidak bisa memesannya lagi jam segini. Lagipula terlalu bahaya menaiki kenadaraan umum sendirian larut malam begini, Leona. Bagaimana jika aku antar kamu pulang?”
Leona menatap Dave beberapa saat, “Apakah akan ada traktiran makan pagi setelah makan siang dan makan malam tadi?” ucap Leona.
Dave tertawa lepas mendengar seloroh yang diucapkan oleh Leona barusan, “Bisa jadi. Itu kalau kamu mau.”
“Aku akan naik taksi saja. Aku takut tidak bisa membayar hutangku yang itu.”
“Tidak, Leona. Aku hanya bercanda. Aku tulus. Tapi tetap mengharapkan makan siang dan makan malam yang tadi.”
Kali ini Leona yang tertawa dengan begitu lepas.
“Kalau begitu tunggu disini. Aku akan mengambil mobilku sebentar.”
Leona menunggu tepat di depan pintu keluar kantor. Tidak lama kemudian sebuah mobil mewah datang kearahnya.
“Mobil ini sama nilainya dengan mobil yang dimiliki oleh Andrew. Aku sangat tahu seberapa fantastisnya harga mobil ini. sepertinya bekerja di perusahaan ini cukup menjanjikan,” batin Leona.