Akal Busuk Tobias

1125 Words
Alea mendatangi kantor Tobias untuk meminta keringanan, setidaknya bukan membayar sebesar lima puluh tiga juta rupiah. Tiga puluh juta untuk pembayaran pertama, bulan depan akan ia lunasi. Seharusnya itu tak menjadi masalah mengingat Tobias pasti punya uang yang sangat banyak. Berdiri di depan lift, Alea berdiri sambil mengatur napas dan menyiapkan mental untuk menghadapi makhluk dingin dan kejam seperti Tobias. Saat lift terbuka, ia terkejut saat melihat Rendra yang sedang berdiri dengan membawa dokumen. “Kak Rendra!” ujarnya dengan mata membulat. “Alea, ada apa kamu kesini?” kata Rendra yang juga terkejut saat melihat Alea. “Aku mau ketemu Tobias nih.” Rendra keluar dan lift menutup sebelum Alea masuk. Keduanya berdiri di depan lift. “Ada perlu apa sama Tobias, sorry aku kepo hehe,” ujar Rendra, tiba – tiba merasa canggung tapi ia sangat penasaran dengan kedatangan Alea. “Tadi dia menelponku untuk memintaku membayar separuh, tapi aku lagi nggak ada uang, Kak. Maksudku aku ada uang tapi udah ngepos karena ada keperluan lain. Aku mau minta keringanan ke dia, aku siap bayar bulan depan,” kata Alea panjang lebar. Rendra menengadah sambil membuang napas. Sepertinya Tobias jadi gila setelah papanya meninggal, tidak biasanya ia melanggar ucapannya sendiri. “Aku akan mengantarmu ke dia,” katanya. “Nggak usah repot - repot, Kak. Aku bisa ketemu sama dia sendiri kok.” Alea menggeleng cepat, tak ingin mengganggu pekerjaan Rendra hanya untuk bertemu Tobias. “Nggak papa, lagian aku nggak ada kerjaan juga.” Rendra menekan tombol lift, tak lama kemudian lift terbuka. Ia menarik tangan Alea untuk mengikutinya masuk lift. “Kak Rendra nggak sibukkah? Padahal aku bisa sendiri lho. Cuma ketemu Tobias aja, kok.” “Alea, kenapa kamu memanggilnya Tobias padahal usianya sama denganku? Aku yakin kamu jauh lebih muda dariku.” Pertanyaannya yang begitu tiba – tiba membuat mata Alea melebar. “Karena dia jahat dan sok keren, jadi buat apa juga aku bersopan santun dengannya. Usianya memang lebih tua dariku, tapi dia lebih kekanak – kanakan dariku. BTW, kok Kak Rendra tahu aku jauh lebih muda?” Pertanyaan Alea membuat Rendra tersentak hingga terbatuk – batuk karena ludahnya sendiri. Ia memandang sekeliling lift dimana hanya mereka berdua yang ada di dalamnya. “Aku hanya menebak saja,” jawabnya. Alea mengangguk mengerti, ia merapikan anak rambutnya ke belakang telinga sambil tersenyum. Merasa senang karena ada yang mengakui kalau ia masih sangat muda. Usianya sudah dua puluh tiga tahun, tapi banyak orang yang menganggapnya masih anak SMA bahkan ada yang menyangka dia anak SMP. “Ayo, Alea,” ucapan Rendra membuatnya seakan kembali ke bumi. Alea segera mengikuti langkah Rendra menuju ruangan Tobias yang ada di ujung kanan lantai ini, dimana hanya ada tiga ruangan dimana salah satunya ruangan Tobias. Ruangan kantor Rendra di lantai ini berupa meja – meja besar dan panjang, ada juga meja panjang dan besar dengan bilik – bilik yang ada di pinggir ruangan. Sebuah ruangan panjang dengan tiga pintu ada di ujung kanan. Yang paling ujung adalah ruangan Tobias. Gadis itu melangkah di belakang Rendra. Lelaki itu bahkan membantunya membuka pintu tanpa mengetuknya. Alea berhenti sesaat lalu mengembuskan napas berat sebelum masuk ke ruangannya. Ia tahu begitu berbicara dengannya, emosi campur aduk akan menyedot banyak energinya. “Kenapa balik lagi?” tanya Tobias saat Rendra membuka pintu namun saat melihat Alea masuk, Tobias memandang Rendra seakan bertanya kenapa gadis itu datang kesini. “Halo Kak Tobias,” sapa Alea sambil tersenyum. Baik Rendra mapun Tobias sama – sama heran dengan sikap Alea yang berubah semanis madu. Bahkan Rendra menahan tawa melihat sikap Alea yang biasanya judes ke Tobias, tiba – tiba berubah seratus delapan puluh derajat. Tak hanya itu, Alea bahkan berkedip beberapa kali seperti wanita genit yang sedang menggoda lelaki. Nyatanya Alea memang sedang merayu Tobias hingga melakukan hal itu. “Apa maumu?” tanya Tobias setelah berdehem beberapa kali. Lelaki itu duduk dengan satu kaki menopang kaki yang lain. Menggerakkan mata ke kursi, sebuah kode agar Alea duduk di hadapannya. Alea segera melakukan perintah Tobias dengan duduk dengan hati – hati, seakan dia baru lulus dari sekolah manner. Alis Tobias terangkat, sungguh sebuah pemandangan bak menonton komedi situasi yang lucu. Ia segera tahu maksud kedatangan gadis itu, pasti meminta keringanan pembayaran. Sebuah hal yang ia anggap tak konsisten karena dulu ia menolak sembilan juta, seakan uang itu tak ada artinya. Tapi sekarang, ia datang untuk meminta keringanan … enak saja. “Jadi apa maksud kedatanganmu?” Tobias mempertegas pertanyaannya lagi, meski ia harus menahan tawa karena tahu maksud kedatangannya. Alea berpikir beberapa saat, menimbang – nimbang bahasa yang digunakan supaya terkesan tidak baik. Oh sial, ia tercipta sebagai perempuan yang blak – blakan. Ini pengalaman pertamanya harus bicara dengan sopan dan tidak memrpovokasi. Ayolah Elea, bayangkan saja Tobias sebagai Matias. Bukankah nama mereka hampir sama? Meskipun secara fisik mereka sangat berbeda. Matias memiliki kulit lebih gelap dan memiliki wajah dengan rahang keras, menunjukkan betapa ia mendapat tempaan hidup yang begitu sulit sebelumnya. Sementara Tobias memiliki wajah tampan dan meskipun tampak manis, tapi ia tahu di balik muka manisnya itu ada makhluk sejenis hantu jahat yang merasukinya. Alea mendesis bahkan matanya terpejam erat, sangat sulit mencari kata – kata yang pas untuk mengatakan maksudnya. “Hei, apa kamu dengar?” Tobias mengetuk meja, membangunkan Alea dari lamunannya. “Aku….” Rendra tahu kalau Tobias mempersulit Alea, ia berkali – kali membuat kode agar bosnya menghentikan lelucon yang sangat tak lucu ini. Bagaimana bisa ia seperti seorang senior yang sedang melonco juniornya di kampus saat kuliah. “Boss kupikir….” “Ren, tolong serahkan laporan ini ke manager!” perintah Tobias asal. Rendra mendongak sambil menghela napas berat, tahu kalau itu hanya akal – akalan Tobias saja. Ia bahkan melayangkan tinju di udara sambil mengumpat ke bosnya. Satu sudut bibir Tobias terangkat, senang melihat Rendra kesal hanya dengan perbuatan kecil saja. Ia sempat berpikir kalau Rendra tak memiliki kekurangan dan akan menjadi pribadi sekuat baja. Baja apanya? Dulu mungkin Rendra tak memiliki kekurangan, tetapi sekarang keadaannya berbeda. Semua lelaki yang berhubungan khusus dengan perempuan pasti akan memiliki kelemahan. Seperti mendiang papanya, Damien dan sekarang Rendra. Tobias berjanji takkan punya hubungan dengan siapapun agar tak memiliki kelemahan seperti mereka. “Kenapa masih disini? Cepat serahkan ke Ramos sekarang!” tegas Tobias sekali lagi. Tak ada yang bisa dilakukan Rendra selain melaksanakan perintahnya, yang artinya harus membiarkan Alea menghadapi Tobias seorang diri. “Cepat, tanganku capek memegangnya.” Tobias mengibas – ngibaskan dokumen, mau tak mau akhirnya Rendra menerimanya. Dengan langkah berat ia keluar ruangan Tobias menuju ruang manager yang ada di sebelah ruangannya. “Ini laporan dari Tobias,” kata Rendra kepada Ramos yang sedang sibuk mengetik di mejanya. “Laporan apa?” tanya Ramos sambil menerima dokumen itu lalu membukanya. “Ini bukan laporan, ini proposal lama yang minta Beauty Albino menjadi brand ambassador,” terang Ramos saat melihat dokumen yang dibawa Rendra. Sial! Ia sudah curiga kalau itu akal – akalan Tobias, hanya saja ia terkejut karena tiba -  tiba merasa seperti kerbau dicocok hidungnya. Rendra berkacak pinggang sambil melihat pintu lalu meniup udara. Sial!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD