bc

Terpaksa Tinggal Bersama Bos

book_age18+
detail_authorizedAUTHORIZED
241
FOLLOW
1.4K
READ
revenge
possessive
sex
drama
comedy
sweet
humorous
office/work place
friendship
seductive
like
intro-logo
Blurb

Kemiskinan dan menjadi tulang punggung keluarga membuat Hestia bekerja di New York. Karena kepintarannya, dia terima menjadi sekretaris di perusahaan Salazar, salah satu perusahaan makanan terbesar di Amerika Serikat.

Awalnya, semuanya berjalan baik hingga sang atasan-Raven Ymir Salazar mengetahui latar belakang Hestia yang berasal dari kalangan kurang mampu. Hal itu menjadi alasan bagi Raven membuat kesepakatan dengan Hestia.

Tawaran tinggal bersama Raven.

Namun, Hestia menyadari jika pekerjaan barunya itu sangat sulit karena Raven adalah pria seksi yang membahayakan jantungnya.

Bisakah Hestia tidak terpikat pada pesona Raven hingga kontraknya berakhir?

chap-preview
Free preview
1. Menjadi Sekretaris
"Hestia, apa saja yang kau lakukan di sana? Kenapa belum juga mengirim uang? Apa kau tidak tahu kalau kami sangat membutuhkannya?”  Mendengar suara ibunya di seberang telpon tengah mengomel, Hestia hanya bisa meringis sambil menghela napas. Dia tidak tahu bagaimana menjelaskan keadaannya saat ini pada ibunya. Ditambah saat ini bukan waktu yang tepat untuk menerima telpon.  “Maaf, Bu. Tia belum bisa mengirimnya sekarang. Tia belum dapat pekerjaan tapi Tia janji kok, Bu pasti akan segera mengirimkannya,” ucap Hestia dengan sedikit malu. Dia malu karena apa yang baru saja dia katakan, sama denga napa yang dijanjikannya seminggu yang lalu. “Janji … Janji. Kami tidak butuh janjimu itu Hestia. Kau selalu janji akan mengirim uang secepatnya tapi sampai sekarang kami belum menerima apa-apa. Kau hanya bisa berjanji, kau piker kami di sini, bisa kenyang karena kau selalu berjanji?” teriak ibunya. Hestia sangat paham, kenapa ibunya marah tapi dia pun tidak bisa berbuat apa-apa, sudah berapa kali dia melamar tapi selalu ditolak. "Bu, Ibu tahu ‘kan kalau Tia belum dapat kerjaan? Uang yang Tia punya, Tia pakai buat bayar sewa rumah di sini serta biaya transportasi dan juga mengirim CV. Tapi jangan khawatir, Bu. Tia sekarang lagi wawancana, doain Tia agar keterima kerja.” Ya, hari ini dia ada jadwal wawancara untuk posisi sekretaris yang dilamarnya. Dia mendapatkan informasi itu dari salah satu teman apartemenya yang bekerja sebagai resepsionis. Saat melihat betapa megah dan terkenalnya perusahaan itu, dia pikir diterima menjadi petugas kebersihan pun tidak masalah baginya, asal dia mendapatkan pekerjaan. Namun, saat tahu jika ada lowongan untuk posisi sekretaris, tanpa ragu dia mengirimkan CV. Hestia berharap bisa diterima meskipun ia tidak memiliki pengalaman apa pun. “Aku punya peluang untuk pekerjaan ini, lagipula aku pernah mengikuti pelatihan di balai kota sebagai sekretaris walikota.” Sesaat, Hestia melirik seorang pelamar yang baru saja memasuki ruangan. Pelamar itu adalah pelamar ketiga. Alih-alih focus dengan apa yang akan ditanyakan di dalam sana, Hestia malah sibuk menerima telepon dari sang ibu. Walaupun tengah menerima telpon tapi dia tetap menjaga agar suaranya tetap pelan. “Tapi Bu, Tia yakin bakal keterima kerja, kali ini,” ucapnya menyakinkan ibunya jika dia akan diterima. Tiba-tiba, sinyal ponsel Hestia melemah, karena ponselnya cukup jadul. Agar mendapatkan sinyal, dia memilih pergi ke sisi pojok kantor yang sedikit jauh. “Tunggu sebentar, Bu. Tia tidak bisa dengar apa yang Ibu katakan!” ucapnya kemudian menyalakan pengeras suara agar bisa mendengar suara sang ibu dengan jelas. “Oh, sinyalnya sudah bagus. Jangan khawatir, Bu. Tia yakin akan mendapatkan pekerjaan ini. Peryacalah padaku, oke?” Naasnya, semangatnya itu seketika itu dipatahkan oleh ibunya.” Ha! Kau juga mengatakan hal yang sama sebelumnya, tapi kau masih tetap tidak diterima. Sudah berapa banyak wawancara yang kau lakukan tapi belum juga mendapatkan pekerjaan. Dua bulan, Hestia. Kau sudah ada di New York dan masih belum mendapatkan pekerjaan!” ucap ibunya dengan lantang. “Sepertinya, ayahmu dan aku membuang-buang uang untuk membiayai pendidikanmu. Makanya, ibu sudah bilang kalau mimpi itu terlalu tinggi, Hestia. Kau pergi ke New York tapi tidak mengalami kemajuan apapun. Kalau tahu begini, seharusnya kami tidak menjual ladan dan juga sapi hanya untuk membiayai pendidikanmu. Bahkan sapi lebih berguna daripada kau!” Kata-kata itu sangat sarkas menembus hati Hestia. Namun, saat menyadari jika dia menyetel ponselnya dengan speaker membuatnya sedikit menyesal. Apalagi beberapa pelamar menatap tajam ke arahnya. Dia tidak ingin memikirkan apa yang dikatakan ibunya, lagipula dia mulai terbiasa dengan kebiasaan ibunya yang suka mengomeli. Tidak dipungki jika apa yang dikatakan ibunya membuatnya sedih, padahal yang dia inginkan adalah dukungan tapi hal itu tidak didapatkannya. Dia merasa harapan serta kepercayaan dirinya untuk melakukan wawancara hilang. Dia ingin menyerah tapi tidak bisa. "Kau tidak punya pilihan, Hes. Kau pasti bisa,” monolognya menguatkan diri sendiri. "Nona Coronel?" Tiba-tiba seorang Wanita memanggilnya membuat jantung Hestia berdegup kencang. “Bu. Aku akan menelpon lagi, nanti. Mereka sudah memanggilku!” Tidak menunggu jawaban dari sang ibu, Hestia langsung mematikan panggilan secara sepihak. Wanita yang memanggil Hestia tersenyum kecil. “Anda tidak perlu membawa resume Anda lagi, kami sudah memiliki salinannya, okay? Kamu bisa masuk sekarang, semoga berhasil!” Hestia tidak tahu, apa dia harus senang saat Wanita itu mendoakan keberuntungan. Semoga diterima? Ataukah dia akan beruntung diterima? Darahnya berdesir keseluruh tubuh karena gugup. Padahal ini bukan kali pertamanya wawancara tapi dia tetap saja gugup. Kakinya sedikit gemetar berjalan memasuki kantor calon bosnya. “Selamat pagi, Pak—” Hestia menyapa pria yang ada didepannya. Untuk sesaat Hestia terpanah dengan penampilan pria itu. “Apa pria ini yang akan jadi bosku? Dia sangat tampan juga seksi, seperti model di majala dan TV! Kenapa tidak ada yang memberitahu jika yang mewawancara adalah orang seperti ini! Ini membuatku semakin gugup!” Sejujurnya, Hestia pikir yang akan menjadi bosnya adalah pria tua. Karena dengan nama belakangnya terdengar seperti orang kaya yang memiliki hoby bermain golf serta selalu menyediakan brendi di meja kantor. Sayangnya, apa yang dipikirkan salah. Bosnya itu terlihat sangat muda, bahkan dia bisa menebak usia mereka tidak terpaut jauh. "Ehm, selamat pagi, Pak. Saya Hestia Anya Coronel. Apa Anda akan mewawancarai saya hari ini untuk posisi sekretaris eksekutif," ia tergagap, terutama saat menyadari jika pria itu menatapnya. Pria itu mengangguk, memberi isyarat untuk duduk; tatapannya masih tertuju pada Hestia. "Silakan duduk, Nona Coronel,” ucapnya sedikit mengangkat sudut bibirnya. Pria itu duduk di kursi di seberang meja kantor, tersenyum canggung membuat jantung Hestia terus berdegup. Sial, Hestia tidak tahu apa yang terjadi sampai membuat jantungnya berdegup kencang. "Saya Raven Ymir Salazar, Presiden Grup Perusahaan Salazar. Saya akan menjadi atasan Anda, jika... Anda lulus wawancara." Pria itu memperkenalkan dirinya. Bahkan namanya pun membuat Hestia terpesona. Seketika Hestia merasakan kegugupan, tangannya menjadi dingin. 'Dia mengatakan jika aku lolos wawancara, sial! Rasanya aku seperti tidak punya peluang untuk mendapatkan pekerjaan ini!” gerutu Hestia. "Nona Coronel, saya telah membaca CV yang Anda kirimkan, dan melihat jika Anda lulusan terbaik di Universitas tempat Anda lulus. Sayangnya, nama universitasnya tidak familiar. Apa itu di kotamu?" tanya Raven. Hestia seketika menciut, dia hanya bisa menganggukan kepala pelan. Setiap kali ada yang menanyakan hal itu, itu pertanda jika dia tidak memenuhi syarat karena Universitasnya tidak terkenal. Dia menyadari jika semua perusahaan pasti menginginkan pelamar dari Universitas bergengsi. Bagi dirinya yang lulusaan Universitas tidak terkenal sangat tidak menguntungkan. Seringkali, meskipun tidak secara eksplisit dinyatakan pelamar haruslah lulusan dari universitas yang bagus, pelamar masih akan secara otomatis disaring. 'Sial! Tidak ada kesempatan sama sekali. Aku pasti gagal. Jika tidak mendapatkan pekerjaan ini, ya mau gimana lagi, aku harus pulang. Tidak! Itu tidak mungkin, pasti! Ayah pasti akan sangat marah.” "Hestia... Nama dewi hati," ucap Raven, sebelum sedikit menaikkan sudut bibirnya. Hestia mengerutkan kening. "Kau berusia 26 tahun..." Raven menatap sekali lagi. "Dalam resume ada jeda waktu cukup lama sebelum lulus, apa benar kau tidak memiliki pengalaman? Kenapa?" tanyanya dengan serius. "Pak, saya cuti kuliah di tahun ke-3. Dan ya, Pak. Saya tidak memiliki pengalaman karena baru saja lulus dan memutuskan untuk datang ke New York untuk mencari pekerjaan. Tapi, Pak, saya pernah magang sebagai sekretaris Walikota di kota kami, jadi saya tahu apa saja yang harus dilakukan oleh seorang sekretaris," jawab Hestia sambil tersenyum. Raven meletakkan resume Hestia. "Kau baru saja bilang jika tahu pekerjaan seorang sekretaris ‘kan? Bagaimana jika saya memberitahu jika pelamar sebelumnya adalah lulusan terbaik dari Universitar bergengsi di New York, dia bahkan memiliki pengalaman sebagai Sekretaris selama tiga tahun di perusahaan sainganku. Jadi, kenapa aku harus mempekerjakanmu dan bukannya dia?” tanya Raven sambil menatap Hestia. "U-um, ahh ...." Hestia kembali tergagap. Dia tahu jawaban dari pertanyaan, "Kenapa aku harus mempekerjakanmu?" tetapi ketika diikuti dengan "bukannya dia?" serta fakta orang yang dimaksud adalah seseorang yang lebih berpengalaman daripada dirinya. Dia tidak tahu harus menjawab apa. "Apa jawabanmu, Nona Coronel?" Raven bertanya lagi sebelum melihat jam tangannya. "Pak, Anda harus mempekerjakan saya karena saya bersemangat serta pekerja keras. Saya mungkin tidak memiliki pengalaman seperti itu, tapi saya akan meyakinkan Anda jika-" "Bukan itu jawaban yang saya inginkan," potongnya, menghentikannya. "Beri aku jawaban berbeda. Aku bosan mendengarnya. Jadi, beri saya jawaban yang membuatku puas. Kenapa harus mempekerjakanmu dan bukannya dia, yang memiliki pengalaman sebagai sekretaris di perusahaan saingan saya? Saya ingin jawaban yang serius dari Nona Hestia, terutama karena nama Anda adalah Dewi Hati, jawabannya harus berasal dari hati.” Sesaat Hestia menatap Raven sebelum kembali menundukan kepalanya, masih gugup, tapi juga mempertanyakan apa dia serius dengan apa yang dia katakan. "Apa Anda ingin jawaban yang serius, Pak?" tanya, dengan ragu-ragu. Raven tersenyum dan mengangguk. 'Baiklah! Tidak ada apa-apa! Mungkin harus mengutarakan pendapatku.” "Kenapa saya, bukan dia?" tanyanya seolah-olah dia tidak ikut dalam wawancara tersebut. "Ayolah, Pak! Kenapa mempekerjakan dia sebagai sekretaris Anda jika dia dulunya sekretaris perusahaan saingan? Bagaimana jika dia seorang mata-mata? Bukannya aku mencoba menyabotase atau semacamnya, tapi bagaimana jika dia tidak tega bekerja di sini? Tidak sepertiku, begitu saya berjalan melewati pintu gedung, saya berkata pada diri sendiri jika saya ingin bekerja di sini," lanjutnya, berbicara seperti sedang mengobrol dengan seorang teman. Senyum kembali tersungging di bibir Raven. "Dan kenapa tidak?" "Baiklah, Pak, kenapa tidak? Saat masuk, penjaga dan resepsionis bahkan menyambutku dengan senyuman. Staf HRD dan wnaita yang membantu kami para pelamar juga ramah. Tidak hanya itu saja, kami mendapatkan es the, kopi bahkan kue gratis. Kau tahu, Pak? Tidak pernah seumur hidupku, pelamar diperlakukan seperti itu. Kami sering kali harus membeli sendiri di luar karena kami bahkan tidak diberi air di perusahaan tempat kami melamar. Kami benar-benar mengira jika kami sedang menghadiri sebuah seminar, bukannya wawancara. Dan, kami sangat menghargainya. Sebagai pelamar, saya merasa dihargai. Saya ingin tahu bagaimana jadinya jika menjadi karyawan di perusahaan Anda ..." Raven mengangguk, "Jadi Anda merasa dihargai, itulah alasan Anda ingin bekerja di sini? Tapi mari kita kembali ke mantan sekretaris pesaing saya." Hestia meringis. Mereka kembali ke topik tentang Nona Perfect. Ia tak tahu bagaimana harus menjawabnya lagi. "Bagaimana jika, saya menanyakan pertanyaan yang sama pada pelamar lain, kenapa  kami harus mempekerjakan dia dan bukannya Anda, dan dia mengatakan dia lebih memenuhi syarat dan memiliki informasi tentang pesaing saya yang akan menguntungkan perusahaan saya?" tanyanya. "Oh, benarkah? Jika sepeti itu biarkan dia menjadi Sekretaris Anda, Pak. Saya akan pergi sekarang. Senang bertemu dengan Anda!” ucap Hestia sambil membelakangi Raven, tidak bisa dipungkiri jika dia sedikit berkecil hati. Padahal dia sangat membutuhkan pekerjaan. 'Apa lagi yang bisa kulakukan? Banyak pelamar lebih unggul dariku. Dia pasti memiliki informasi yang bisa ditawarkan? Sedangkan aku, tidak ada yang bisa kutawarkan. Jadi, mungkin lebih baik terima kenyataan jika tidak akan diterima di perusahaan ini. "Hei, kau mau ke mana? Kau belum menjawab pertanyaanku." "Pak, saya menyerah. Pekerjakan saja dia. Lagipula, dia sempurna serta lebih berpengalaman daripada saya," ucap Hestia putus asa sambil menghindari kontak mata dengan Raven. Raven tersenyum. "Hestia.” Suara Raven terdengar lembut memanggilnya tiba-tiba, membuat Hestia menoleh ke arah calon bosnya yang tampan. "Saya ingin tahu jawabanmu." Hestia menghela napas. "Saya rasa Anda sebaiknya tidak mempekerjakannya." "Kenapa?" "Karena jika dia melakukan itu di perusahaan sebelumnya, maka dia juga bisa melakukannya di perusahaan Anda." "Jadi, maksudmu dia bisa mengkhianatiku?" Raven bertanya dengan sedikit menyeringai. Hestia mengangguk. "Saya mengatakan ini bukan untuk merusak reputasinya tapi menurutku menawarkan hal itu pada Anda, itu salah. Hal yang berhubungan dengan perusahaan itu bersifat rahasia meskipun dia tidak lagi bekerja di perusahaan yang dulu, dia seharusnya tidak melakukan itu. Satu hal lagi, Pak. Saya tahu jika Anda tidak mungkin memperkerjakan orang seperti dia karena perusahaan ini tidak membutuhkan orang seperti itu, dan paling penting Anda bukanlah atasan yang seperti itu.” Raven terdiam, matanya masih menatap Hestia. Setelah menjawab, Hestia memilih memalingkan wajahnya, dia tidak yakin jika itu jawaban yang diinginkan oleh pria di hadapannya tapi dia sudah menerima jika tidak diterima menjadi sekretaris karena itu dia menjawab sesuai apa yang dipikirkannya. "Nona Coronel, menurutmu, apa yang akan terjadi dengan dirimu 5 tahun ke depan jika saya menerimamu menjadi sekretaris?”  tanya Raven membuat Hestia sedikit kebingungan, sesuatu yang tidak dimengerti kenapa ditanyakan jika dia tahu dia akan gagal? Hestia menghela napas sesaat sebelum menjawab meski dia tahu tidak punya harapan lagi. Dia terkadang berpikir tentang hal itu. Ia pernah membayangkan bagaimana keadaannya 5 tahun dari sekarang. "Lima tahun dari sekarang, Pak? Saya berharap memiliki rumah sendiri, mobil atau punya usaha. Tapi karena tanggungjawabku terhadap keluarga saya rasa itu tidak mungkin terjadi dalam 5 tahun ke depan. Jadi, saya piker saya akan tetap menjadi Sekretaris Anda karena saya membutuhkan pekerjaan ini untuk 5 atau 10 tahun ke depan. Ya, tapi itu tergantung apa saya masih hidup atau tidak," jawab Hestia sambil bercanda sebelum menatap Raven. "Oke, kalau begitu... Kau diterima," seru Raven. Mendengar perkataan pria itu, Hestia membeku sesaat, matanya membelalak, dia tuli untuk sesaat. “Apa itu benar?! Saya diterima?! Anda tidak bercanda, ‘kan?" "Tidak, saya serius. Kau bisa bekerja mulai besok," ucap Raven dengan tenang. Karena sangat gembira Hestia tanpa sadar memeluk Raven. “Pak, terima kasih. Terima kasih banyak. Anda tidak tahu betapa saya sangat membutuhkan pekerjaan ini jadi terima kasih banyak!” ucap Hestia dengan gembira sambil memeluk Raven. Raven terbatuk, membuat Hestia tersadar dengan apa yang telah dilakukan, ia segera melangkah mundur. "Maaf, Pak!" "Baiklah, kamu boleh pergi sekarang. Kau harus sudah sampai di sini jam 7:30 pagi, besok.” Raven mengingatkan Hestia sebelum membetulkan dasi dan kemejanya yang kusut. "Pak, meskipun saya harus datang jam 5 pagi, saya akan melakukannya. Saya yang akan membuka kantor, tidak menjadi masalah sama sekali," kata Hestia sebelum meninggalkan kantor dengan senang hati. Saat menutup pintu, Raven hanya tersenyum mendengar Hestia yang masih berteriak-teriak kegirangan.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.5K
bc

TERNODA

read
198.8K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
188.8K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
233.8K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
61.1K
bc

My Secret Little Wife

read
132.1K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook