2. Kesalahan di hari Pertama Kerja

2015 Words
Waktu menunjukkan pukul delapan malam. Hestia terlihat kegirangan saat mempersiapkan pakaian yang akan dipakai hari pertama kerja besok. Dengan sangat pelan, agar tidak berisik Hestia menyiapkannya karena dia berbagi kamar dengan tiga orang yang lain. Untungnya, dia mendapatkan ranjang susun paling atas, jadi dia memiliki privasi. Namun, meskipun ada pembatas di tempat tidurnya, ia tetap berjingkat-jingkat agar tidak mengganggu teman sekamarnya. Dua orang lainnya adalah perawat yang sedang bertugas dan sedang beristirahat, sementara yang satu lagi adalah dealer kasino, sedang bersiap-siap untuk pergi bekerja. Sambil berjingkat-jingkat, ia menghidupkan senter kecil untuk melihat barang-barang yang sudah disiapkannya karena besok hari pertamanya bekerja, ia perlu tahu bagaimana cara menganggarkan gajinya. “Gaji bulananku $30ribu. $3500 sewa rumah, lalu $2500 tagihan listrik dan air, jadi … $6000 saja deh. Ongkos kendaraan umum 1500,” gumamnya, sesaat ia berpikir. “Tidak, $2000 saja, mungkin aku harus naik taksi. Baiklah, jadi, $6000 ditambah $2000, total $8000. Lalu, $10.000 akan kukirimkan ke Ibu untuk biaya bulanan mereka, dan $5000 membayar utang ke Ibu, ditambah $2000 untuk pulsa. Jadi $30ribu – $25ribu sisa $5000 lagi untuk ditabung," katanya dengan gembira, hampir menjerit. Namun, kebahagiaannya seketika sirna saat mengingat sesuatu. "Oh, sial! Makanan, aku lupa! Bagaimana dengan itu? Apa aku tidak boleh makan? Dan juga beban." Dia meletakkan tangannya di dahi, Kembali melihat daftarnya, memikirkan daftar yang masih bisa disesuaikan karena dia yakin dengan gaji besarnya pun tidak akan cukup. "Akh. Bodoh amat. Terserah," gerutunya, ia menghentikan apa yang tengah dilakukan, melipat kertas dan menyembunyikannya di bawah bantal lalu menatap langit-langit. Senyum pun terbit, ia sangat bersyukur karena saat ia putus asa, tiba-tiba diterima bekerja. Ia tahu jika ini akan menjadi awal kesempatannya di New York. Lagipula gaji awalnya sangat menjanjikan. Jadi, apapun yang akan terjadi dia harus mempertahankan pekerjaan saat ini sampai mendapatkan pekerjaan dengan gaji lebih besar. Dia berharap bisa menabung untuk membelikan sapi baru untuk orang tuanya, bisa menebus yang digadaikan untuk pendidikannya. Hingga ia dapat membeli rumah dan tanahnya sendiri, memulai bisnis, mobil, dan apa pun yang ia inginkan. Dia tahu jika dia akan mencapai semua itu, mungkin tidak sekarang, tetapi suatu hari nanti. "Tuhan, terima kasih," bisiknya, lalu duduk dan mengambil ponselnya. Malam belum cukup larut, ia tahu jika ibunya masih terjaga. Dia masih belum memberitahu orang tuanya jika dia mendapat pekerjaan. Setelah beberapa kali berdering, suara ibunya terdengar di seberang telpon. “Bu, Tia diterima kerja,” serunya dengan pelan agar tidak membangunkan teman sekamarnya. “Aku keterima kerja,” ucapnya lagi dengan penuh semangat sangat bersemangat untuk berbagi berita itu. "Oh, itu kabar bagus kau sudah mendapat pekerjaan.” Dia tersenyum. "Lihat, Bu? Sudah kubilang, kita hanya perlu sedikit kesabaran,” seru Hestia lagi. "Itu sangat bagus. Aku pikir kau akan tinggal di New York tanpa mendapatkan pekerjaan. Jadi kapan kau akan mengirimi kami uang?” tanya ibunya membuat senyum Hestia menghilang saat itu juga. Dia menghela napas, "Saat gajian, di akhir bulan, Bu." "Akhir bulan? Itu sangat lama, Hestia. Adik-adimu mau makan, apa, huh? Apa kau mau membuat kami kelaparan menunggu uang kirimanan darimu akhir bulan? Tidak bisa kau meminta gajimu di awal? Cari jalan keluarnya, nak," perintah ibunya. "Bu, tidak baik jika meminta gajiku diawal. Tia bisa dapat reputasi buruk. Ini pertama kali aku bekerja di perusahaan.” Hestia mencoba menjelaskan dengan pelan, berharap ibunya mengerti. "Ibu rasa tidak. Lagipula mereka pasti memotongnya dengan gajimu ‘kan? Ibu tahu itu, Tia. Walaupun Ibu tidak sekolah tapi jangan pikir Ibu tidak tahu hal seperti itu. Jadi, cari cara agar kau mengirimkan uang secepatnya.” Ibunya bersikeras. Hestia terdiam. Dia tidak membuat alasan jika mungkin tidak bisa melakukannya. Dan seperti yang selalu dia katakan, "Baiklah, Bu. Tia akan melakukannya," ucapnya mengakhiri percakapan mereka. Setelah mengucapkan selamat tinggal, ia menutup telepon. Dia pikir memberitahu ibunya akan membuatnya bahagai, nyatanya tidak, malah yang didapatkan adalah masalah baru. Dia memiliki banyak kekhawatiran. "Huh. Kita pikirkan saja besok," bisiknya sebelum tidur. * Seperti yang dikatakan pada bosnya kemarin jika dia tiba di perusahaan pukul 5 pagi. Untungnya, Raven mendukungnya, saat dia tiba resepsionis memberi kunci padanya jadi dia memutuskan untuk naik dan melihat apa yang bisa dilakukan sambil menunggu sang atasan. Saat memasuki kantor, Hestia melihat sebuah meja kosong di luar. Dia tahu jika itu adalah meja kerja untuknya, jadi dia meletakkan barang-barangnya di sana. Selanjutnya, dia memasuki kantor Raven, dia terpukau dengan kondisi kantor itu yang sangat bersih, dia pikir tidak yang perlu dirapikan jadi dia berinisiatif untuk berkeliling. Matanya menghapal letak berkas yang mungkin akan diminta oleh Raven nantinya. Tidak lupa, dia menyalakan AC dan humidifier, serta menyemprotkan pengharum ruangan agar saat bosnya tiba, kantor terasa lebih segar. Setelah itu, barulah dia keluar membuat kopi di mesin pembuat kopi agar siap saat atasannya tiba. "Jadi kau sekretaris baru itu, ya?” Sebuah suara mengejukan Hestia terkejut, ia mencari asal suara itu melihat seorang Wanita tinggi mengenai pakaian kantor, cantik serta seksi karena belahan d**a terlihat, rambutnya ikal, riasannya tapi tengah berdiri berada diambang pintu. “Wah. Ruangan ini sangat wangi. Aku yakin pemiliknya akan terkesima. Bukan begitu?” Meskipun alis Wanita itu terangkat, dia tersenyum pada Hestia. "Selamat pagi. Ya, saya Hestia Coronel, sekretaris baru Pak Raven. Ada yang bisa saya bantu, Bu?" tanyanya, membuat wanita itu semakin menaikkan alisnya. "Nona Coronel, saya Kelly Anderson.” Wanita itu memperkenalkan diri, kini dia berdiri di depan Hestia. "Karena kau sekretaris baru di kantor ini. Kau harus tahu siapa saja yang harus dihormati. Ingat posisimu di sini sebagai sekretaris. Hanya sekretaris, jadi jangan coba-coba melakukan sesuatu pada Pak Raven karena dia sudah ada yang punya. Paham?” tanyanya sambil menyeringai. Hestia mengangguk, masih tersenyum. "Ya, jangan khawatir, Bu, saya tahu posisi saya di sini sebagai sekretaris dan saya akan tetap profesional, saya jamin itu." "Baiklah, itu bagus. Kalau kau melihat seseorang yang mendekati Pak Raven, segera beritahu saya, ya?" Karena perkataan wanita itu, Hestia mengangkat alisnya. Dia bertanya-tanya siapa wanita ini dalam kehidupan bosnya, tapi dia tidak bertanya lebih lanjut karena dia mungkin akan menyinggung perasaannya. "Selamat pagi, Nona Coronel.” Sebuah suara disertai ketukan kembali terdengar oleh Hestia. Dia melihat seorang wanita lain. Wanita yang baru saja dating terkejut melihat Kelly, sepertinya dia tidak menyangka akan melihatnya di sana. "Nona Kelly? Saya tidak tahu Anda ada di sini." "Selamat pagi, Sandra, saya juga mau pergi. Saya baru saja berbicara dengan Nona Coronel," ucapnya sebelum menatap Hestia. "Ingat perjanjian kita, Nona Coronel. Aku pergi sekarang, jangan sampai ada kesalahan," katanya lalu pergi. Hestia mengerutkan alisnya mendengar perkataannya. "Apa kau sudah membuat perjanjian dengan Nona Anderson?" tanya wanita itu padanya. Hestia menggelengkan kepalanya. "Saya tidak tahu. Kami tidak punya perjanjian apapun, tapi dia menyuruh saya untuk selalu mengingat posisi saya sebagai sekretaris dan memberitahunya jika ada orang yang mendekati Pak Raven." Karena perkataannya, wanita itu tertawa. "Ya ampun! Jangan pedulikan dia. Kelly memang seperti itu terhadap orang baru, terutama di sini, di kantor Pak Raven. Tapi Kelly berasal dari departemen keuangan. Kantornya berada di lantai 5, mereka cukup penasaran dengan sekretaris baru Pak Raven. Begitulah cara dia menyambut orang baru, jadi berhati-hatilah dengannya." "Ya ampun, saya kira dia pacar Pak Raven. Dia hanya seorang karyawan. Saya hampir percaya dia pacar Pak Raven.” "Saya pikir dia rekan kerja Pak Raven." "Apa? Oh, tidak, banyak orang yang menaruh hati pada Pak Revan, tapi dia masih lajang. Itu sebabnya banyak yang mendekatinya seperti Kelly, berharap mendapatkan kisah Cinderella," ucap Sandra sambil tersenyum. "Oh, I See. Baguslah kalau begitu," ucapnya sambil mengerutkan alisnya karena mengira itu tentang dirinya, lalu menarik kembali pernyataannya. "Maksudku, bagus kalau belum ada, tapi sepertinya mustahil Pak Raven tidak punya pacar? Dengan kekayaan dan ketampanannya? Tidak ada sama sekali?! Oh, tunggu, Mbak, ngomong-ngomong, siapa nama Anda?" tanya Hestia yang baru menyadari jika belum mengenal Wanita yang tengah bersamanya saat ini. Wanita yang diajaknya bicara tersenyum tipis dan menjabat tangan Hestia. "Saya Sandra Villarde, saya supervisor HR, dan juga menjadi sekretaris sementara Pak Raven saat sekretaris sebelumnya keluar." "Ya ampun! Dia adalah bagian SDM!” Mata Hestia membelalak, "Oh, Bu! Halo! Maafkan saya." "Tidak apa-apa, panggil saja Sandra. Ngomong-ngomong, kamu datang lebih awal." Dia melihat jam tangannya. "Tapi itu bagus, saya punya waktu untuk memberimu tur sebelum Pak Raven tiba," katanya, menyerahkan buku catatan kulit. "Ini jadwal Pak Raven selama seminggu penuh. Anda beruntung dia tidak memiliki banyak rapat hari ini, kecuali rapat dewan di sore hari." "Oke, Bu, dicatat," katanya sambil membuka buku catatan untuk melihat jadwal bosnya. Ia melihat hari ini tidak ada banyak janji temu, tetapi besok akan menjadi hari yang sibuk. Wanita itu menyerahkan sesuatu yang lain, "Dan yang ini panduan yang perlu ditinjau untuk pekerjaanmu, anggaran dasar serta peraturan perusahaan, yang ini beberapa catatan yang saya buat tentang Pak Raven," ujarnya sambil tersenyum lebar. "Ibu HRD sangat baik, dan dia bahkan memberikan catatan tentang Pak Raven. Ini akan sangat membantuku, terutama untuk menghindari kesan yang buruk terhadap beliau.” "Seperti yang kau lihat, di sana tertulis dia harus berada di kantor pada pukul 8 pagi. Dia tidak terlalu ketat soal keterlambatan, jadi tidak apa-apa jika terlambat. Saat jam pulang, jangan langsung pulang. Lakukan lembur meskipun dia tidak ada. Pak Raven baik, tapi sedikit ketat, dan tentu saja, perfeksionis." Dia mengangguk, "Oke, Bu, dicatat." "Dan jangan lupa kopinya setiap pagi. Dia suka yang kental dengan tiga sendok gula," instruksinya lagi, dan Hestia jelas mengangguk sekali lagi. Ia tidak menyangka bahwa bosnya menyukai kopi yang manis. "Di sini ada kantin. Karena masih pagi, kita bisa sarapan dulu, lalu aku akan mengajakmu berkeliling," ajaknya sebelum mereka meninggalkan ruangan. Saat berjalan, dia tidak tahu apa ini waktu yang tepat, tetapi wanita itu tampak ramah, jadi dia mengambil kesempatan itu. "Bu, saya tahu ini mungkin memalukan bagi saya bertanya, terutama karena ini adalah hari pertama saya bekerja, tetapi Bu, apa mungkin untuk mendapatkan gaji lebih awal. Ini keadaan darurat, saya benar-benar membutuhkannya." Mendengar perkataan Hestia, Sandra menghentikan Langkah kakinya, ia menatap Hestia sesaat. Dia tidak menduga pertanyaan itu yang akan ditanyakan Hestia. Menyadari hal itu, tentu Hestia menyadari kesalahannya. “s**t. Apa yang sudah kulakukan!” "Bu, sudahlah, lupakan apa yang saya katakan." Hestia segera meminta maaf. Wanita itu menggelengkan kepalanya, "Tidak, um... Hanya saja... ini pertama kalinya ada orang yang meminta gaji di hari pertama kerja." Kekehan kecil terlihat. "Itu juga yang saya pikirkan," kata Hestia dengan sedikit malu-malu, merasa ingin bersembunyi di bawah meja. "Itu tidak mungkin. Tapi karena Pak Raven atasanmu, kau perlu persetujuannya. Tunggu, aku punya formulir di sini," seru Sandra sambil membuka clipboard dan menyerahkan sesuatu. "Ini, minta dia menandatanganinya dan kembalikan padaku agar kami bisa memprosesnya dengan departemen akuntansi." *** Raven berjalan ke kantornya, saat dia membuka pintu, sekretaris baru langsung menyambutnya. Kesan pertama yang Raven dapatkan adalah baik, pakaian yang dipakai Hestia rapi tidak provokatif, sopan tapi juga tidak terlihat tertutup. Dia memakai tipis diwajahnya, kacamata yang dipakai pun cocok untuk postur wajahnya. Selain itu, Raven melihat senyum lebar di wajah Hestia. "Selamat pagi, Pak. Saya Hestia An-" "Ya, mengingatmu, kau tidak perlu memperkenalkan diri lagi,” potongnya, membuat Hestia terdiam. Hestia mengangguk sambal mengerucutkan bibirnya. Raven melirik jam tangannya. "Kau datang lebih awal. Ini baru jam 7:30." "Ya, Pak! Saya sudah mengatakan jika saya akan datang jam 5 pagi,” jawabnya. Raven mengerutkan keningnya tapi tidak bertanya lebih lanjut. Jarang sekali ada sekretaris yang datang lebih awal darinya. "Apa kau sudah bertemu Sandra?" "Ya, Pak," jawabnya dengan hormat. Raven mengangguk. "Apa dia mengajakmu berkeliling?" "Ya, Pak. Dia juga memberikan kartu identitas dan semua yang saya butuhkan untuk bekerja." "Baguslah kalau begitu." Raven berpikir sepertinya tidak salah jika dia memilih Hestia sebagai sekretaris. "Dan, Pak, saya menyiapkan kopi Anda, jadi silakan masuk, saya akan membawakannya," kata wanita itu, jadi dia berbalik dan masuk ke dalam. Saat Raven masuk, dia tidak menyangka dengan apa yang dilihatnya. Pendingin ruangan sudah menyala, dan baunya harum. Biasanya dia melakukannya sendiri. Dia duduk di kursi putarnya, dan tak lama kemudian dia masuk dan menyerahkan kopinya. "Pak, ini kopi Anda, seperti yang Anda suka," ucap Hestia, membuatnya penasaran. Dia menerima kopi itu dan menyesapnya, tetapi segera memuntahkannya. "Sialan! Ini kopi atau hanya gula?! Kenapa rasanya sangat manis?! Aku tidak mau ada gula di kopiku!" Raven berteriak, membuat Hestia tiba-tiba terdiam.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD