3. Sesuatu Mendadak Mengeras

1117 Words
"Sial! Kenapa masih pagi sudah kacau!” Raven berteriak, membuat Hestia panik. Hal pertama yang dipikirkan Hestia hanyalah ketakutan dia akan dipecat. Apalagi ini hari pertama tapi dia sudah membuat kesalahan. Dia takut Raven sangat marah dan langsung memecatnya. Dia tidak bisa kehilangan pekerjaan yang baru saja didapatkan, jika dia dipecat dia tidak tahu harus mencari pekerjaan ke mana lagi. Jadi, meski dia sedih, bahkan hampir menangis, dia harus meminta maaf. "Maaf, Pak. Saya minta maaf. Pak... Saya akan membersihkannya," pintanya memohon pada Raven sebelum kembali fokus pada kopi yang tumpah. Hestia bahkan tidak mempermasalahkan kopi yang telah menodai blusnya. Ia bergegas mencari kain mengelap cairan yang tumpah dari lantai. Saat tengah membersihkan lantai, Hestia melihat sekilas bayangan dirinya yang membuatnya merasa kasihan pada diri sendiri. Bukan karena apa yang sedang dilakukan, tapi alasan kenapa hal itu terjadi. Dia sudah mengikuti saran dari Sandra menaruh gula di kopi bosnya tapi hal inilah yang terjadi. Bukankah Sandra tahu jika Raven tidak menyukai gula di kopinya? Tapi kenapa dia mengatakan jika Raven menyukainya? Apa Sandra sengaja agar dirinya dimarah oleh Raven? Dia pikir Sandra peduli karena Wanita itu memperhatikannya, nyatanya tidak. Dia tidak menyangka orang yang dipercaya melakukan hal seburuk itu padanya. Itulah sebabnya dia tidak bisa menahan air mata yang terus mengalir. Dia menyeka air mata di pipi, mencoba menghentikannya, tetapi dia yang tengah diliputi emosi yang kuat membuat air matanya mulai mengalir lagi. "Huh. Sekarang kau menangis?" tanya Raven sambil menghela napas kasar, terdengar jelas jika pria itu tengah kesal. “Berhenti meminta maaf dan lakukan sesuatu. Aku tidak suka sekretaris cengeng. Berdiri dan perbaiki dirimu. Dan satu lagi, kau itu sekretarisku kenapa kau malah bersih-bersih? Kau pikir kau petugas kebersihan?” ucap Raven sarkas, membuat Hestia terdiam. Hestia semakin panik, mendengar nada bicara Raven. Ia segera berdiri, menyeka air matanya, dan menatap Raven, dan berkata, "Maaf-" "Huh. Bukannya sudah kubilang berhenti minta maaf dan pergilah ke ruang rias, perbaiki dirimu!” teriak Raven. --- Raven sadar kepanikan Hestia saat Wanita itu berlari ke kamar rias, blus yang dipakai Hestia basah kuyup karena kopi yang tidak sengaja dia tumpahkan. Ia merasa bersalah karena membuat pakaian Hestia kotor. Kepalanya mulai pusing memikirkan jika Hestia mengundurkan diri, seperti sekretaris sebelumnya. Dia bahkan telah membuat 10 sekretaris sebelumnya mengundurkan diri karena takut. Kebanyakan dari mereka tidak bertahan satu hari bersamanya. Jadwalnya benar-benar berantakan, tapi Raven pun tidak ingin Sandra Kembali menjadi sekretarisnya. Raven melirik formulir yang terjatuh saat Hestia berlari ke ruang rias. Dia memungutnya, melihat itu adalah formulir penarikan uang. Dia segera menyimpan kertas itu dan melihat ke arah ruang rias. "Saya akan ke ruang rapat, kau menyusul ke sana, cepat!" teriaknya, dan ia tahu Hestia mendengarnya. Raven mengambil laptopnya dan meninggalkan kantor untuk pergi ke ruang rapat terlebih dahulu. Ia hanya berharap Hestia akan mengikutinya ke sana. Tidak seperti sekretarisnya yang lain yang tidak menyelesaikan pekerjaannya dan pergi begitu saja. Ia ingin menunggu Hestia, tapi bisa-bisa ia akan terlambat menghadiri rapat penting. --- Sedangkan di ruang rias, Hestia menatap dirinya di pantulan kaca. "Kamu bisa melakukannya, Hestia. Jangan putus asa, kau butuh pekerjaan ini kalau menyerah kau akan kelaparan," katanya pada dirinya sendiri sambil menatap bayangannya di cermin. Dibandingkan sebelumnya, saat ini Hestia merasa tenang. Dia hanya perlu menenangkan diri jika ingin mencapai sesuatu. Setelah kondisinya dianggap tenang, dia memutuskan untuk meyusul Raven, jika tidak ingin kehilangan pekerjaan. “Ah, blusku kotor,” keluhnya kemudian mengambil mantel yang tergantung di kursinya, kemudian memakainya, berusaha untuk menyembunyikan noda tersebut. Setelah itu barulah dia menuju ruang meeting. Dia tercengang saat masuk. Dia melihat atasannya sedang minum kopi di pojok ruangan, jadi dia menghampirinya. "Bagus, sekretarisku sudah datang. Mari kita mulai," ucap Raven sambil membawa cangkir kopinya dan duduk di ujung meja. Hestia terdiam, menyadari jika dia adalah satu-satunya orang yang ditunggu. Sangat memalukan. Ia bahkan ingin bersembunyi di bawah meja karena malu, terutama semua orang menatapnya, mungkin mengira dia tengah berusaha menjadi orang penting. Dia duduk di kursi kosong samping bosnya, tidak lupa mengeluarkan buku catatan serta ponsel, lalu menghidupkan alat perekam untuk merekam diskusi dalam rapat. "Catatlah notulen rapat ini," bisik Raven membuat Hestia mengangguk. "Lalu kita akan bicara setelah ini," tambahnya. Kalimat terakhir sang atasan membuat Hestia menjadi gugup, dia berpikir sesuatu yang buruk akan terjadi. "Dia mungkin akan memecatku! Hanya itulah yang terlintas dibenaknya. Pada saat itu juga, dia ingin menangis karena takut tapi menahan diri dan focus saja pada rapat berharap Raven tidak menyadari jika dia tengah memikirkan sesuatu. Rapat berlangsung dengan baik, selama rapat Hestia melakukan tugasnya dengan baik sebagai sekretaris. Selain merekam diskusi agar tidak ada yang terlupa, dia juga membuat catatan agar mudah untuk memindahkannya ke dalam laporan yang akan diberikan pada Raven. Dia melirik Raven tengah berbicara, terlihat jelas pria auranya sangat tidak biasanya, selain tampan, di mata Hestia, Raven sangat cerdas. Dia berpikir alasan bisnis bosnya sukses karena kecerdasan pria itu. Selama rapat berlangsung sepanjang hari, mereka membahas mengenai produk baru yang akan launching, bahkan mereka makan siang di sana juga. Makanan disajikan saat rapat berlangsung. Barulah pukul empat sore rapat berakhir. Satu per satu, semua orang meninggalkan ruangan. Hestia melipat buku catatannya sebelum melihat atasannya tengah berbicara dengan salah satu manajer di perusahaan. Setelah itu, Raven permisi dan menatapnya. "Ayo pergi, ada yang perlu aku bicarakan denganmu sebelum pulang,” ucap Raven sebelum meninggalkan ruangan tanpa melirik. Jantung Hestia berdebar-debar saat mengikuti Raven kembali ke kantor. Dalam perjalanan ke sana, ia berulang kali memikirkan apa yang akan dikatakannya, jika Raven memecatnya. Apapun yang terjadi, dia harus memohon agar pria itu tidak memecatnya, itulah yang dipikirkan Hestia. "Lebih baik memohon sebelum dia memecatku.” Hestia langsung berlulut mendekati Raven, bahkan sebelum pria itu sampai di kursi putarnya. “Pak, saya benar-benar minta maaf!” serunya. “Saya janji hal itu tidak akan terjadi. Saya tidak akan membuat kesalahan dalam menyiapkan kopi. Saya tidak akan terlambat untuk rapat!” lanjutnya dengan mata terpejam. Pada saat itu ia tidak ragu untuk memeluk kaki Raven untuk memohon. “Tolong jangan pecat saya! Saya butuh pekerjaan ini. Tolong jangan pecat saya,” pintanya. Hestia tidak peduli di mana wajahnya berada, sambil memeluk kaki Raven. Melihat apa yang terjadi membuat Raven tidak bisa berkata-kata, padahal bukan itu yang dia ingin bicarakan pada Hestia. Apalagi saat dia merasakan wajah Hestia tepat di tengah-tengah tubuh bagian bawahnya mulai terpengaruh. "Hes-" Raven mencoba memanggil nama Hestia, tapi pelukan itu semakin erat, dan kepalanya ditekan lebih dekat ke bagian tengah celananya. “Pak! Kumohon! Saya tidak akan melepaskannya sampai Anda mengatakan tidak akan memecat saya!" pintanya, sambil menekan wajahnya pada kaki Raven. Sampai Hestia merasakan sesuatu yang keras berdenyut di dalam celana Raven, yang dia rasakan dipipinya. Karena itu dia membuka mata melihat ke arah di mana pipinya tadi ditempelkan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD