Hestia memandangi gerbang perumahan yang dilewati, itu membuatnya terpukau karena sangat besar dan megah. Rumah itu bukan hanya sekedar rumah tapi sangat mewah, bahka memiliki taman yang luas.
"Ini sangat besar. Aku tidak percaya Pak Raven tinggal ditempat ini. Hhhm. Kupikir hanya perlu membersihkan unitnya, tapi ini—sangat besar untuk ditinggali,” katanya, dan supir taksi melirik ke arahnya.
“Apa bosa Anda kaya, Nona?” tanya pria itu, dijawab anggukan oleh Hestia. “Ini sangat ekslusift karena itu kami diminta untuk memberikan izin. Saya pernah mengantar penumpang ke sini tapi tidak sering karena orang kaya biasanya tidak naik taksi. Jadi, saya yakin bos Anda orang kaya.”
Hestia mengangguk, tersenyum. "Sepertinya begitu," jawabnya pelan, tapi ia juga bertanya-tanya apa ia harus menjawab pertanyaannya.
'Orang ini mungkin tidak akan menculikku, kan? Dan meminta uang tebusan pada Pak Raven? Karena aku yakin dia tidak akan membayarnya’
Hestia mengelengkan kepala menyingkirkan pikiran itu. Meskipun dia sudah gugup. Akhirnya, dia melihat papan nama menunjukan jalan di mana rumah atasannya berada. Pak, belok kiri dari sini,” seru Hestia. Sopir taksi mengikutinya, tidak lama kemudian ia melihat alamat yang diberikan padanya. “Pak, ini bayarannya, terima kasih!”
Setelah membayar, dia turun sambil membawa beberapa bahan pembersih yang dibelinya. Dan saat dia berdiri di depan rumah Raven, dia sekali lagi takjub dengan apa yang dilihatnya. Rumah itu sangat besar, rumah dua lantai bergaya modern, memiliki taman luas, bahkan hampir seluruh rumah itu terbuat kaca tapi bagian dalam tidak terlihat.
"Wow! Kaya sekali!" serunya sambil memasukkan kartu ke pintu gerbang dan membuatnya terbuka.
Mata Hestia berbinar-binar. Biasanya dia hanya melihatnya di televisi sekarang dia bisa melihatnya di depan matanya sendiri. Sejak dia tiba di New York, yang ia lihat hanya Gedung-gedung dan kompleks apartement. Dia bahkan tidak tahu jika ada tempat seperti ini di New York. Tempat yang dipersiapkan dengan baik ini berada di jantung kota, dikelilingi oleh gedung-gedung bertingkat. Tempat ini tampak seperti surga di tengah kebisingan kota.
Saat dia masuk, lagi-lagi dibuat terkesima karena disambut oleh mobil sport Raven. “Wah!” serunya, dia belum pernah melihat mobil-mobil seindah itu sebelumnya. Tidak hanya itu saja, saat dia masuk lagi-lagi dia memekik pelan. “Oh, wow!” lampunya tiba-tiba menyala. Dia tidak menyangka lampu-lampu itu menyala dengan otomatis jadi dia sangat kagum.
Untuk sesaat, Hestia berkeliling, dia menyadari jika interior di tempat itu sangat indah bahkan menakjubkan di matanya. Perabotan mahal, seakan-akan semua yang ada di dalam sengaja di tata. Ada TV besar di depan hampir seperti teater. Tidak hanya itu saja, dia sangat terpukau dengan akuarium besar di tengah rumah.
"Ini akuarium atau terarium?" Akuarium itu tidak berisi air, tetapi pemandangan di dalam sangat indah. Tampak seperti hutan di dalam rumah. Terdapat bebatuan yang disusun sangat rapi, ada kabut yang datang dari samping sehingga di dalamnya terlihat sangat bagus, membuat siapa saja yang melihatnya menjadi rileks.
“Berapa kalipun aku melihatnya, ini sangat luar biasa. Orang kaya memang beda. Mereka bisa membawa hutan dalam rumah sendiri, oh-ular!” teriaknya saat melihat seekor ular dalam akuarium. Ular itu tidak terlalu besar, tapi jenisnya berbeda dengan luar yang pernah ia lihat di pedesaan.
Beberapa kali Hestia mengelus dadanya, mencoba menenangkan diri dari keterkejutan. “U-ular itu tidak bisa keluar ‘kan?” tanyanya sambil menyelidiki, jika ada tempat ular itu keluar dari akuarium.”
"Meong."
“Akh!” Hestia memekik saat seekor kucing menyapu kakinya. Dia pikir itu adalah ular, terutama warnanya tidak biasa. Desain bulunya menyerupai bulu ular. Tetapi, ia pernah melihat kucing seperti ini di media sosial, jadi ia tidak terlalu panik.
"Hai, kau lucu sekali," katanya.
"Meong... meong..." Kucing itu mengeong, jadi dia berlutut untuk mengelusnya.
"Apa kau lapar? Ayo makan,” seru Hestia sambil berdiri, dia pergi ke dapur untuk menemukan makanan kucing karena tadi dia sudah melihatnya. Ada tempat makan otomatis, jadi dia tidak perlu memasukkan makanan ke dalamnya.
"Oh, kau sudah punya makanan," serunya pada kucing itu sambil mengelusnya. Kemudian kucing itu pergi dan pergi ke pohon di sisi ruang tamu untuk bermain.
“Rumah Pak Raven sangat indah. Tidak heran jika dia selalu terlihat segar. Rumahnya indah, dan nyaman. Aku harap bisa memiliki semuanya suatu saat ini. Huh, baiklah, ayo kita bersih-bersih.” Hestia sekali lagi melihat ke sekeliling ruangan.
Melihat kondisi rumah itu, Hestia mengerutu. “Sepertinya tidak ada yang perlu dibersihkan, rumah ini sangat rapi,” gumamnya sambil memutuskan naik ke lantai atas. Di lantai atas pun tidak ada yang perlu diperbaiki, rumah Raven terawatt dengan baik tapi dia mengenal Raven yang sangat teliti. Karena itu Hestia memperhatikan debu di setiap sudutnya. Kotoran di bawah peralatan dan karpet yang sepertinya belum pernah dibersihkan oleh layanan kebersihan yang disewa sebelumnya.
“Jadi, ini alasan kenapa Pak Raven meminta untuk dibersihkan lagi. Mungkin aku harus mulai dari lantai atas terus ke lantai bawah agar lebih mudah.”
Hestia mulai membersihkan lantai dua. Area penerimaa tama, ruang baca yang merangkap ruang kerja, ruang olahraga di lantai dua. Ruangan yang berisi barang-barang bosnya yang belum tersentuh di lantai dua adalah tempat yang dituju. Dia membuka ruangan itu, saat masuk dia disambut oleh aroma bosnya. Dia tersenyum, ada campuran wangi bayi serta parfum mahal.
Matanya mengamati ruangan itu, tidak terlalu berantakan tapi perlu dirapikan. Mungkin karena bosnya berkemas saat perjalanan, karena itu tidak sempat dibersihkan bahkan beberapa pakaian berserakan.
Dia memungutnya satu per satu sampai ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Itu adalah pakaian dalam berenda berwarna merah muda. Dia memungutinya dengan dua jari karena jijik.
"Bagaimana dia memakai ini?
Hestia mengerutkan alisnya, "Tunggu? Apa ini milik pacarnya?" tanyanya, kemudian segera tersenyum ketika dia ingat. "Atau ini milik Boss?" Senyumnya melebar saat ia mengambil sebuah bra berenda merah muda dari lantai. "Wow, Tuan Raven memang galak! Dia punya celana dalam dan bra seperti ini? Punya saya hanya dari Soen," tambahnya sambil melipatnya.
Saat membereskan pakaian yang berserakan, ia tidak bisa menahan senyim karena membayangkan atasanya Raven mengenakan pakaian seperti itu. Dia memikirkan Raven yang memakai pakaian wanita. Meskipun begitu, dia ikut senang.
“Aku senang jika Pak Raven menemukan kebahagiannya.”
*
Raven melihat ada notifikasi dari rumahnya jika seseorang baru saja masuk. Sebenarnya, notifikasi sudah ada sejak tadi tapi dia baru menyadarinya. Salah satu alasan dia memasang kamera CCtv karena dia ingin memantau rumah terutama kucing peliharaannya, Peach. Dia ingat meminta Hestia mencari petugas kebersihan untuk membersihkan rumahnya lagi tapi saat melihat siapa yang tertangkap kamera dia terkejut.
Dia melihat Hestia tengah mengepel lantai rumahnya, bukan memakai kain pel tapi memakai kain lap.
“Apa yang dilakukan wanita itu?” tanyanya sambil mencoba untuk menelpon Hestia tapi tidak ada jawaban, dia pikir jika wanita itu tengah sibuk, jadi Raven mamatikan panggilan dan memeriksa kamera mencari Hestia. Dia memanggil wanita itu dari kamera tapi tidak ada yang menyaut.
Dia melihat Hestia di ruang tamu tengah tertidur seolah-olah kelelahan setelah bersih-bersih. Di sampingnya bahkan terlihat Peach yang tidur membuat Raven mengerutkan kening, karena dia tahu jika kucingnya biasanya sangat tidak suka dengan orang lain. Melihat itu membuat Raven tersenyum.
Setelah sampai dia akan berbicara dengan Hestia.
***
Saat tiba di rumah, Raven tidak mendapati Hestia di manapun. Dia sadar jika wanita itu sudah pulang. Seharusnya dia kembali besok tapi dia sangat tidak nyaman menginap di hotel Bersama Glen terutama karena di sana banyak wanita jadi dia memutuskan segara pulang.
Raven berkeliling memeriksa bagian rumah yang biasanya terlewatkan oleh tukang bersih-bersih yang dia sewa. Dia terkesan dengan pekerjaan Hestia, dia akui setiap sudut rumahnya terlihat bersih bahkan bawah karpet pun dibersihkan. Peach, kucingpun tampak segar dan wangi.
Dia menggendong Peach naik ke lantai atas, mendapati kamarnya sudah rapi. Pakaian yang berserakan di lantai yang dibuat Glen pun sudah tidak ada lagi. Namun, dia terkejut saat mendapati di atas sofanya terdapat pakaian dalam merah muda.
"Sialan! Milik siapa ini?" umpat Raven, sambil mengingat celana dalam yang dilempar Glen dari tas, yang mungkin milik salah satu wanita. "Pria sialan itu!"
***
“Pak, ini bayarannya!” seru Hestia sambil menyerahkan uang pada sopir taksi, saat turun dia melihat orang-orang yang tampak sangat kacau.
Dia penasaran apa yang terjadi, bahkan terlihat beberapa orang tengah sibuk bergegar. Hestia berpikir jika terjadi pekelahian di jalanan di dekat tempat yang dia sewa. Dia berjalan menuju gang yang mengarah ke gedung apartemen tempat dia tinggal, tetapi gang itu ditutup, dan petugas polisi memblokir jalan.
"Pak, apa boleh saya masuk? Saya tinggal di sana,” seru Hestia pada seorang petugas polisi.
Polisi itu menggelengkan kepala. "Tidak bisa, Nona. Sampai api selesai dipadamkan kami tidak mengiinkan siapapun masuk, sekalipun itu penduduk."
Mendengar hal ini, jantung Hestia berdegup kencang. Dia menutup mulutnya dan melihat ke arah area di mana asap tebal muncul. Dia tersentak, menyadari jika apartemennya sendiri terbakar.
"Tidak! Tidak mungkin!" serunya mencoba masuk ke dalam gang, tapi seperti yang sudah diduga, polisi menghentikannya.
Saat semua orang menyelamatkan barang yang bisa diselamatkan, Hestia tidak bisa melakukan apapun. Semua barang-barangnya ada di apartement.
Kakinya lemas, dia terjatuh ke tanah sambil menutupi wajahnya. Air matanya tidak bisa ditahan, mengalir begitu saja karena dia tidak tahu harus berbuat apa. Dia tidak harus pergi ke mana, sebagian uangnya ada di apartement. Uang yang harus dikirim ke keluarganya.
"Hestia!" Dia mendengar suara Danica, membuatnya menengok.
Danica bergegas menghampiri, kekhawatiran terlihat jelas di wajahnya.
"Danica... apartemen kita terbakar," tangis Hestia.
Danica mengangguk. "Aku sudah menelponmu tapi kau tidak menjawabnya. Kebakaran terjadi dari kamar sebalah, terdengar ledakan lalu semua orang dievakuasi. Api melahap semua ruangan. Kami semua panik dan keluar.
Hestia menutup wajahnya dengan telapak tangan, dia tidak tahu harus melakukan apa. Dia juga tidak membaca pesan Danica karena baterai ponselnya hampir habis.
“Barang-barangku, semuanya terbakar.”
“Aku tahu, Hes. Aku juga tidak membawa apapun. Aku hanya membawa tas kerja dan meninggalkan sisanya. Mungkin aku akan tinggal Bersama pacarku untuk sementara. Bagaimana denganmu? Di mana kau akan tinggal? Tunggu, apa kau ingin aku bertana—”
Hestia menggelengkan kepalanya. "Aku tidak apa-apa. Aku bisa mengurus diriku sendiri. Aku punya tempat untuk dituju. Aku akan baik-baik saja."
***
Hestia menangis sampai air matanya tidak keluar lagi. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan, apalagi hari sudah laur tapi dia tidak tahu harus pergi ke mana mala mini. Sebenarnya, bukan itu yang dia pikirkan, melainkan barang-barang serta uang yang tersisa. Dia tidak punya pakaian yang dipakai. Satu-satunya pakaian yang dia miliki adalah pakaian yang dia kenakan saat ini. Dia tidak tahu harus memakai apa besok.
Walaupun sedikit, dia masih punya uang membayar sewa rumah. Tapi jika dipikir-pikir, dia harus berhemat karena gajian masih lama. Diab isa menginap di motel tapi dia tahu itu akan menguras uangnya, belum lagi harus membeli pakaian untuk dia pakai. Jika menyewa apartement baru, dia membutuhkan uang muka untuk deposit. Dia perlu meminjam uang, tapi dia tidak mungkin meminjam uang pada ibunya karena dia tahu jika ibunya mengandalkan uang yang dikirimnya.
“Aku tidak boleh tinggal di motel, itu hanya membuang uang,” ucapnya sambil melihat kea rah jalan.
‘Apa harusnya aku tidak tidur dan terjaga sampai tidur? Aku bisa mandi di kantor. Aku akan memikirkan semuanya besok.’
Hanya itu yang bisa dia katakana pada dirinya sendiri untuk menenangkan diri. Meskipun dia berpikir semuanya akan baik-baik saja, dia tahu itu tidak semudah yang dipikirkannya.
Tiba-tiba ponselnya berdering. Untung, dia baru saja mencharger ponselnya di toko terdekat. POnselnya berdering lagi, saat dia memeriksa siapa yang menelpon itu adalah ibunya. Dia tidak menjawab karena tahu apa yang akan dikatakan ibunya. Setelah beberapa saat pesan pun masuk, dia benar, itu adalah pesan meminta uang.
Lagi-lagi Hestia menutup wajahnya lagi, dia tidak bisa menahan air mata. Dia tidak tahu apa yang dilakukan, dia merasa sendirian. Tidak memiliki siapapun yang bisa dimintai bantuan disaat seperti ini.
Teleponnya berdering lagi, dia menjawab tanpa melihat siapa yang menelepon karena dia tahu itu adalah ibunya. Pada saat itu dia tidak bisa menahan tangisnya saat menjawab.
“Ibu, tolong jangan sekarang. Tia tidak bisa mengirim uang saat ini. Saat ini, Tia sangat sulit. Apartement Tia kebakaran, Bu. Semua barang-barang Tia ada di sana. Tia tidak punya apapun untuk dipakai, Tia bahkan tidak tahu harus tidur di mana malam ini. Tia tidak punya siapa-siapa untuk dituju.”
"Di mana kau?"
Hestia berhenti menangis, yang didengarnya bukan suara ibunya. Dia segera menyeka air mata.
"Pak Raven?"