Pria Dingin yang Memesona

953 Words
Nur mengacak khimar, bingung apa yang mesti diperbuat. Jika masuk ke dalam dan lapor pada Alya, ia akan telat masuk kelas. Berat menghadapi ustazah Fatimah, guru yang tak segan menghukum. Tentu saja Nur tidak mau distrap! Iya kalau kecurigaan pada Ara benar, bagaimana kalau hanya sebatas suudzon belaka? "Ah, mbohlah! Ayuk pergi Mbak Hil." Diraihnya lengan Hilda untuk segera pergi, karena waktunya semakin mepet. Ara tersenyum puas. "Baguslah. Hus ... hus!" "Astajim!" Ara menjerit saat seekor cicak jatuh tiba-tiba. "Crocodile!" "Hus! Ucap istigfar yang bener!" Alya yang baru ke luar dengan ransel di punggung menepuk pundak Ara dari belakang. "Huh!" Ara pun berjengit kaget. Dipegangi d**a sambil mengulang kalimat toyyibah tersebut. "Astagfirullahaladzim .... Huft. Untung gak kena kepala, dari dulu aku paling benci sama anak buaya!" "Cicak, Nenggg. Lagian sama yang gituan aja takut, katanya gadis penakluk," umpat Alya pada saudarinya. "Yah, manusia kan gak ada yang sempurna. Lah ini kamu mau ke mana, Sist? Rapi amat ...." "Ada panggilan dosen persiapan sidang skripsi. Kapan lagi bisa ketemu dosen sibuk. Mau ga mau aku yang harus ikut jadwalnya. Huft." Gadis dengan khimar ungu dan gamis warna senada itu membuang napas kasar, seolah tengah curhat pada Ara. "Lha terus, nanti rapat teknikalnya?" "Ya gak ikut." Meski ada pria yang diidolakan, bukan masalah bagi Alya tidak ikut berhadir. Toh, dia tipe wanita pemalu yang tak bisa berhadapan dengan laki-laki. "Kan masih ada ustazah Zakiyah dan Mbak-mbak lain. Kamu, awas ya. Jangan bikin ulah!" Ara tak menjawab. Ia hanya tersenyum. "Kurang kerjaan amat cari masalah saat ada pangeran," selanya pelan. "Ya, sudah pergilah! Hati-hati ya Kakakku!" Ia sungguh senang. Tuhan sepertinya sangat menyayanginya, hingga tak membiarkan Alya mengganggu. 'Kebetulan macam apa ini?' "Dih. Ya dah, assalamualaikum." Alya menyodorkan tangan. "Waalaikumsalam," jawab Ara tanpa menyambut tangan gadis yang berstatus mahasiswi itu. Alya tak juga menurunkan tangan, ia malah menggoyangnya agar Ara segera meraih. "Apa?" tanya sang adik menggerakkan kepala bertanya heran. "Salim! Cium tangan Kakak, adek Sayang. Itu namanya adab." "Cium? His, adab apaan??" Merasa dikerjai Alya dan direndahkan, Ara berbalik masuk. "Dasar." Alya mencebik. Ia turunkan tangan sebelum akhirnya pergi. Jangankan mencium tangan, menyalami pun tidak. Mengetahui kakak angkatnya akan pergi, gadis ABG itu pergi dengan perasaan senang. ____ Adzan ashar berkumandang. Usai sholat Ara segera bersiap dengan mengenakan pakaian syarinya. Agak merepotkan memang, tapi ia harus belajar jadi muslimah yang baik seperti kata keluarganya. Beberapa kali, ia menyingkap pergelangan gamisnya. Melihat benda yang melilit tangan dengan gelisah. Kepala gadis itu melongok beberapa kali ke jendela melihat parkiran. "Lamanya. Huft!" Menunggu itu memang sangat membosankan. Sekitar 30 menit mondar-mandir tidak jelas di depan jendela, akhirnya ia melihat sebuah mobil sport berwarna grey memasuki halaman rumah. "Yes. Datang juga pangeranku." Cepat melangkah setengah berlari turun dari rumah menghampiri sang pemilik mobil. Belum juga pria yang mengemudikan mobil turun, Ara sudah berdiri dengan gaya malu-malu. "Assalamualaikum, Gus," ucap Ara pada Fatah begitu ia membuka pintu. "Waalaikumsalam," jawab Fatah nyaris tak terdengar. Dengan sikap dingin, ia melepas kacamata hitam dan meletakkan ke dalam saku kemeja koko. Ara mencebik begitu Fatah berjalan melewatinya seolah dirinya tak ada. "Gimana kabarnya, Gus?" tanya Ara yang berjalan mengimbangi langkah lebar Fatah. "Apa pesanku sangat mengganggu? Jika ia harusnya kamu bilang. Jadi aku akan gunakan cara lain mendekatimu, Gus!" oceh Ara ke mana-mana. "Kenapa kamu diam saja? Ah ... pasti supaya terkesan dingin kan? Hem. Aku suka cowok dingin, karena biasanya cowok dingin itu kalau sudah takluk romantis bangettt," sambungnya lagi. Fatah berjalan lurus. Tak satu pun dari ucapan Ara yang ditanggapi. Pria dengan penampilan paripurna itu tahu betul, sekali ditanggapi kelakuan Ara akan makin menjadi. Bahkan dibiarkan pun, putri Kiai Asmun makin tak karuan kelakuannya. Jelas sekali gadis itu kualahan mengimbangi langkah Fatah yang jauh lebih lebar dan cepat, meski kenyataannya Fatah berjalan santai. Tubuh mungilnya bukan tandingan pria gagah putra tunggal Kiai Hanafi. Ara mencebik. Ia berhenti dan menghentakkan kaki. Ternyata Fatah mengambil langkah 'diam' menanggapi usahanya. "Okey, baik lah! Lihat sampai kapan kamu akan diam. Tapi ... Bukannya kata pepatah diam itu artinya setuju? Apa dia artinya tak marah dan juga jatuh cinta padaku? Hihi." Ara bicara konyol untuk menguatkan diri sendiri. Tak ingin kehilangan banyak waktu, gadis yang dipanggil Ning itu berlari masuk ke dalam rumah. Berganti pakaian yang sudah disiapkan sedari siang. Fatah yang sudah bebas dari Ara mendesah lega. Gadis itu kapan berhentinya? Bagaimana jika nanti Allah takdirkan mereka jadi saudara ipar, apa yang harus Fatah perbuat? Ia jadi kesal pada Afnan yang mengatakan tengah sibuk dan tak bisa menemaninya. Entah, sejak kemarin sikap Afnan terlihat berbeda dan terkesan menjauh. ________ Fatah merasa risih ketika seorang akhwat bercadar mengambil posisi duduk di dekatnya. Biasanya laki-laki dan wanita saat rapat duduk berseberangan agak menjauh, agar tidak terjadi fitnah yang tak diinginkan. Pria yang mengenakan kemeja dan jas koko itu sungguh tak menduga, jika pergaulan di pesantren Darul Mustofa bisa sebebas ini. Apa abinya sudah memikirkan masak-masak mengikat dua pesantren dengan perjodohan. Bukan hanya soal itu, jika ikhtilat saja tak bisa menjaga, bagaimana mereka akan mengajarkan Ning mereka tentang Islam. 'Loh kenapa ana malah mikirin Ara?' batin Fatah, ia jadi sering merasa aneh sendiri. Akhwat lain yang datang setelah perempuan bercadar itu juga heran dan saling pandang penuh tanya satu sama lain. "Ada apa dengan Ustazah Zakiah, tidak biasanya beliau begitu?" Bisik Irma, santriwati yang juga ditunjuk sebagai salah seorang panitia. Sari menggedikkan bahu menanggapi pertanyaan temannya. Dia sendiri juga heran kenapa Ustazah Zakiah bisa mengambil posisi di barisan ikhwan, bahkan bersebelahan dengan kursi Fatah selaku ketua panitia. Ia mulai curiga terhadap sesuatu, tapi kalau dilihat dari gamis yang dikenakan jelas sekali itu punya Ustazah Zakiah. Santriwati bercadar itu menepis prasangkanya. "Sebentar, deh. Mbak Sari ... itu badan Ustazah Zakiah agak kurusan," celetuk Irma. "Hem?" Apa yang sebenarnya terjadi? BERSAMBUNG
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD