Bersaing dengan Adil

710 Words
"Allahu Rabb!" Bu Nyai terhenyak kaget saat membuka pintu. Ara berdiri persis di depannya. Kiai Asmun sontak melihat pada sang istri, apa gerangan yang membuat wanita itu terkejut? Pria paruh baya itu geleng-geleng, kenapa anak gadisnya tidak mengetuk pintu saja, atau memang sengaja menguping? Jika benar, itu sungguh perbuatan tidak terpuji. Ara harus digembleng pelajaran akhlak! Kiai Asmun mendesah. "Ara, tidak seharusnya kamu berdiri di situ. Ucapkan salam dan minta izin masuk." "Abi ... Ara tidak setuju jika Abi dan Umi meminta Kiai Hanafi untuk menikahkan Gus denganku." "Apa?!" Kiai Asmun dan istrinya menyeru tak percaya. Bukannya dari awal Ara sendiri yang meminta menikah dan calonnya hanya mau Gus Fatah? Ini sungguh reaksi yang aneh. Harusnya gadis itu berseru senang saat tahu mereka akan bicara pada abi Fatah bahwa Ara lah gadis yang akan dinikahkan. "Eum. Soal itu ...." Ucapan Ara tergantung. "Ayo, kita duduk dulu." Bu Nyai menggiring anaknya untuk masuk dan bicara dengan tenang. "Katakan Ara," ucap Kiai Asmun pelan begitu Ara sudah duduk di hadapannya. "Ara mau perjodohan ini terjadi secara adil. Ada Kak Alya, dia juga berhak untuk dipilih oleh Gus Fatah. Jadi ... Abi dan Umi harus adil dan tidak curang langsung menunjukku." Ara melihat abi dan uminya bergantian. Kini dua orang bersamanya makin bingung, jika mereka tak bicara pada Kiai Hanafi sudah pasti keluarga Fatah akan memilih Alya yang lebih segala-galanya dibanding Ara. "Biarkan Gus Fatah memilih. Ara akan berusaha dan berjuang dengan keras, agar calon suami Ara memilih calon istrinya dengan rela hati." "MaasyaAllah ...." Kiai mengucap bangga. Ada sisi baik dari iri Ara yang tak bisa dilihatnya selama ini. Abi Ara menatap pada sang istri yang juga tersenyum mendengar jawaban gadis mereka. "Tapi ... apa kamu yakin, Nduk?" imbuh Kiai Asmun. Ara mendesah. Tentu saja semua orang tak yakin bahwa dia bisa menaklukkan pangerannya, terlebih saingannya bidadari sesempurna Alya. Tapi jangan sebut Ara jika dia tidak memiliki kegigihan untuk keinginannya. Banyak hal yang mustahil bagi orang lain telah diwujudkan Ara. ____ [Aku tak seburuk bayanganmu, Gus! Itu kenapa dengan percaya diri aku berani mengejarmu. ? Bahkan jika harus disandingkan dengan Kak Alya, kamu tidak akan menyesal memilihku.] Fatah memijat pelipisnya membaca chat Ara begitu blokiran dibuka. Anak ini sungguh pede luar biasa. Namun, justru sikap nyeleneh Ara membuat Fatah seringkali terbayang padanya. Bukan karena jatuh cinta. Tapi gemas setengah mati! "Ehem." Afnan berdehem. Fatah tak biasanya memegang ponsel lama-lama begitu. Ia memukul-mukul tangannya, ingin memberi tahu anak Kiai Hanafi bahwa merasa pegal karena menunggu terlalu lama ponsel dikembalikan. Bukannya peka, Fatah justru menjauh membawa ponsel pergi dari hadapan Afnan. "Lho, lho, Gus!" serunya pada Fatah yang bayangannya semakin menjauh. Aneh sekali pria itu, biasanya juga tidak pernah tertarik pada ponsel. Sekarang malah membawannya pergi. "Ealah, njenengan kok jadi aneh sih, Gus." Afnan geleng-geleng. Langkahnya kembsli bergerak melanjutkan pergi ke tempat tujuannya begitu ke luar masjid. _______ "Hayo!" Ara berteriak dari balik dinding dapur ketika Nur dan satu santriwati lain akan kembali pulang ke asrama. "Allah, Allah, Allah!" Dua santriwati itu kaget karena perbuatan Ara. "Ya Allah, Ning. Gimana kalau jantung kami copot?" protes Nur memanyunkan bibir. "Sekarang copot gak?" Ara bertanya mengejek. "Ya, nggak sih. Itu kan cuma ungkapan saking kagetnya kami." "Ya udah. Berarti gak perlu ada pertanyaan kaya gitu. Bilang aja kaget kan, jadi kesannya gak berbelit-belit." Nur dan temannya geleng-geleng. Berniat meninggalkan Ara. Tak ada gunanya berdebat dengan Ara perihal tak penting. Mereka harus segera kembali ke asrama dan bersiap masuk kelas siang. "Eh, STOP!" Ara menghadang dua abdi dalem dengan tubuhnya. "Buru-buru amat, sih." "Kami ada kelas, Ning. Jadi kudu cepet balik." "Ya dah. Bentar," paksa Ara. "Aku mau tanya, ada gak panitia dari putri untuk acara Kompetisi Persahabatan?" "Ada, Ning. Namanya Ustazah Zakiah sama Mbak Sari ...," ceplos santri Hilda, santri yang sedari tadi bersama Nur. "Huss." Nur menutup mulut Hilda. Ia tidak boleh sembarangan memberi info pada Ara -seperti apa yang Ning Alya peringatakan- terlebih jika ada kaitannya dengan Gus Fatah. Mengingat kompetisi itu diketuai anak Kiai Hanafi. Mereka takut Ara akan bikin ulah. Namun, apa daya, Hilda sudah mengucap nama itu yang membuat Ara tersenyum licik. Hanya dengan berbekal nama, seluruh rencananya akan berjalan tanpa kendala. BERSAMBUNG Deuh, Ara. Apa lagi rencananya? ? Jangan sampai bikin ulah yang bikin Fatah ilfeel beneran dan campakin dia.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD