Terbayang-bayang

1210 Words
Alya menghempaskan tubuh ke ranjang. Ada amarah dalam d**a. Kenapa ia begitu kejam pada Ara? "Astagfirullah." "Astagfirullah." "Astagfirullah." Gadis yang merasakan hawa persaingan itu mengucap beberapa kali sambil memegangi d**a. "Bagaimana ini? Kenapa mulutku jahat sekali hanya karena cemburu? Bagaimana jika Ara melihat pada sikap dan penampilanku lalu salah mengartikan keduanya. Ya Allah ... apa aku minta maaf saja, agar dia tak berpikir buruk bahwa 'percuma menutup aurat jika mulut tajam menyakiti orang lain.' Padahal mau dia baik, atau khilaf berbuat buruk, tetap saja ketika dia memilih Islam wajib berpakaian seperti ini." Alya merutuki kebodohannya. Padahal sudah berusaha keras mengajak Ara untuk taat pada aturan Islam, tapi kini usaha itu dia hancurkan sendiri. "Ishhh. Aku benci cemburu!" Direbahkan tubuhnya memeluk guling dan menenggelamkan kepala di sana. Alya teramat menyesal. ____ Fatah berusaha sekuat tenaga melepas tali yang terlilit di tubuhnya. Nihil. Tenaga yang ia miliki tak cukup kuat. Dari mana Ara punya keberanian sebanyak ini hingga bisa menculiknya? Cinta Ara sudah BUTA! "Lepaskan!" seru Fatah memberontak, menggoyangkan badan kekarnya kiri dan kanan. Hingga rambut yang kuyub keringat menutupi wajah tampannya berkali-kali. Ia bahkan tak mengerti sejak kapan semua pakaian rapi yang tadi dikenakan untuk mengajar terlepas dan menyisakan kaos oblong yang basah dengan keringat. Ara berjalan semakin mendekat dengan senjata di tangan. Gadis berusia 17 tahun itu tampak jauh lebih dewasa dengan t-shirt putih, celana jeans dan sabuk yang mengikat tubuhnya. Rambut yang biasa tergerai kali ini diikat tinggi. Penampilannya sudah persis Agen intellegent yang sedang bertugas akan mengeksekusi musuhnya. Gadis itu tersenyum miring. Tak lama suara tawa menggema dari ujung pintu masuk ruangan asing tempat Fatah terikat. "Kang Afnan?!" seru Fatah tak percaya lelaki yang ada di sana. "Ap-apa kalian sekongkol?!" "Hahaha," tawa Ara dan Afnan bersahutan. "Ana gak nyangka Kang!" Wajah Fatah memerah marah. Tak sangka jika lelaki yang paling dipercaya setelah abinya berkhianat. "Sudahlah!" Ara tersenyum sinis. "Katakan saja sekarang, kamu menikah denganku atau dikubur tanpa ada yang tau?" Pisau sudah menghunus. Beberapa kali Fatah merasa ngilu setiap kali Ara menggesekkan ujungnya ke kulit. "Tidak! Lepaskan!" Fatah berteriak kencang. "Gus, Gus. Bangun!" Afnan menepuk pundak Fatah agar pria yang mengigau itu tersadar. "Allah!" Pria dengan wajah oriental itu terbangun. "Mimpi apa to, njenengan, Gus?" Afnan ikut terkejut sampai harus meninggalkan tumpukan tugas milik santrinya. "Audzubikalimatillahi taamati min syarri maa kholak." Fatah menggumamkan doa ketika mimpi buruk, ia membalik bantal sebelum menyahut. Entah, kenapa bisa bermimpi buruk? Padahal Fatah tidak merasa nonton film horor atau thriller dan sejenisnya. Apa karena sejak kalimat perjodohan itu, ia jadi sering terbayang Ara yang notabene adalah anak kandung Kiai Asmun. "Afwan jika ana mengganggu, Kang." "Ndak juga, Gus. Cuma harusnya sebagai anak Kiai, njenengan harusnya tidur di rumah di atas kasur empuk. Bukan terus-terusan tidur di matras keras milik ustaz magang di sini." Afnan mematahkan perasaan tak nyaman Fatih. Sepupunya itu memang bandel. Lebih suka tidur di kamar santri-santri senior yang akan lulus dan tinggal di asrama para ustaz sebelum mereka benar-benar jadi ustaz sungguhan. "Lah, njenengan aja suka di sini. Apa ana ndak boleh? Walo bagaimana ana juga jomblo kesepian." Fatah berusaha tersenyum meski masih syok dengan mimpinya. "Ya, wes lah. Terserah njenengan saja." Afnan kembali sibuk dengan tugasnya. Sudah pukul 02.15 tapi pria ramah itu belum juga tidur karena banyak sekali tugas. Belum lagi suasana hatinya yang dipaksa move on kala sedang cinta-cintanya pada seorang gadis. Belum pernah ia mencintai wanita sedalam Ning Alya yang bahkan sudah membayangkan masa depan dalam bingkai pernikahan. Fatah ingin bangkit, tapi urung karena masih terlalu dini menunaikan qiyamul lail. Merasa tak perlu ada yang dibahas malam-malam begini, ia kembali merebahkan tubuh. Matanya berkedip pelan, pikirannya masih melayang pada Ara dan Afnan. Mungkin kah gadis polos dan tengil seperti Ara bisa berbuat hal sebesar itu, belum lagi Afnan. Pria yang selama ini selalu melindungi dan mengalah. Sejak kecil, Afnan adalah sahabat sekaligus kakak. Bahkan, saat Fatah melakukan kesalahan, seringkali pria itu pasang badan mengakui kesalahannya. Hingga eyel-eyelan, dan berakhir hukuman bagi keduanya dari kiai. Anak Kiai Asmun, tidak di dunia nyata, atau mimpi sekali pun, berbuat semena-mena dan semaunya sendiri. Lagi pula mana mungkin dia akan menikah dengan gadis berusia 17 tahun? Jika perjodohan terjadi, kedua orang tua mereka pasti menjodohkannya dengan Alya. Lebih dewasa, lebih matang ilmu dan akhlaknya. "Ara ...." ceplos Fatah mendesah nama gadis yang mengusik pikiran. "Hem? Gus?!" Afnan sontak mendongak melihat ke arah matras di mana Fatah terbaring. Sadar keceplosan, cepat-cepat ia memejamkan mata dan mebgeluarkan suara dengkuran kecil. Tak ingin Afnan berpikir macam-macam dan membuat dirinya malu telah menyebut nama seorang gadis. ________ "Apa yang membuat Abi risau?" Istri Kiai Asmun menangkap kecemasan di wajah suaminya. "Abi bingung, Mi. Tidak sampai hati rasanya mengabaikan kemauan Ara. Sudah sangat lama dia terpisah dari keluarga kandungnya dan hidup tanpa kasih sayang seorang ayah. Jika abi ada di posisi Ara, mungkin ... abi bisa sangat membenci ayah kandung abi. Umi tau sendiri, bagaimana kerasnya kehidupan di luar sana. Bagaimana sedihnya saat dia diperlakukan berbeda karena bukan anak kandung?" "Kenapa Abi bicara begitu? Bukankah dia bilang dia tumbuh dengan baik karena diasuh keluarga baik-baik. Ara bahkan difasilitisi setiap liburan ke Indonesia." "Iya, Mi. Abi bersyukur soal itu. Abi juga bersyukur Ara masih gadis. Allah menjaga kesuciannya meski hidup di negara bebas, semua itu karena dia bertemu keluarga yang baik." "Lalu, kenapa Abi masih risau?" "Karena keluarga baik itu bukan abi, Mi. Bukan abi yang memberinya banyak kebaikan dan perlindungan. Umi bisa bayangkan, jika abi menolak kemauannya. Padahal dia baru seminggu di sini." "Jadi?" "Mari kita ubah rencana awal perjodohan dengan anak sahabat abi." "Lalu Alya? Walau bagaimana Abi sudah janji menyayannginya seperti anak kita sendiri." "Apa Umi sudah bicara padanya?" "Ya, belum. Hanya clue saja. Dengan menyebut nama Gus Fatah." "Bagus. Kalau gitu Umi belum bicara dengannya secara jelas. Mari kita bicarakan dengan keluarga Kiai Hanafi." Bu Nyai Khadijah mendesah. Apa yang bisa ia perbuat? Keputusan Kiai Asmun adalah yang terbaik, entah untuk keluarga atau pun yayasan dan pesantren. ______ Usai kajian subuh, Fatah menyempatkan diri menemui Afnan. Ada sesuatu yang mengganjal hati sejak semalam. Begitu bertemu ia 'mepet' pada Afnan, hingga pria itu merasa heran. "Ada apa, to, Gus? Pasti ada maunya ini," tanya Afnan yang memeluk kitab tebal di d**a. "Kang, mana ponselnya?" "Ponsel?" Dahi Afnan sampai berkerut, tidak biasanya anak Kiai Hanafi itu menanyakan ponsel. Pagi-pagi begini pula. "Iya, ana harus memeriksa sesuatu." Tidak pikir panjang Afnan mengambil ponsel di kantong, yang hampir ia bawa ke manapun. Karena bisa jadi akan bertemu moment terbaik Gus Fatah, dan bisa buat motivasi followernya. "Ini." Diserahkan benda pipih di tangan. Cepat Fatah meraih dan mengusap layar untuk melihat sesuatu. Afnan diam, meski ia heran. "Lho, lho. Kok ndak ada pesan atau panggilan dari anak Kiai Asmun, Kang?" "Maksudnya Ning Suee itu?" Fatah mengangguk beberapa kali. Tadinya ia berharap ada sesuatu yang Afnan sampaikan tentang chat dari Ara, tapi sejak kemarin Afnan tak membicarakan gadis itu. Ia merasa ada yang berbeda saat tak mendengar kabar darinya. "Sudah saya blokir, Gus! Ngganggu njenengan saja. Apalagi Kiai Hanafi bilang njenengan akan dinodohkan dengan Ning Alya." "Astagfirullah, Kang. Kan ana ndak da minta memblokir nomernya. Soal perjodohan itu lagi pula belum deal, masih sekadar niat Abi dan Kiai Asmun, juga tanya-tanya di antara kami." Dahi Afnan semakin mengerut, apa Fatah punya hati pada gadis 'suee' itu? BERSAMBUNG
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD