Kunjungan

1168 Words
"Kenapa ngeGas?! Kamu cemburu?!" ketus Ara menatap tajam pada Alya. Ia tak suka, Alya selalu saja ikut campur urusannya. Jika Kemarin-kemarin gadis itu selalu jadi sebab dirinya terlihat buruk, sekarang terang-terangan mengatai Ara tak bisa ambil sikap yang baik. "Ap-ap-apa anti bilang tadi?" gagap Alya yang tak menyangka Ara akan mengatakan hal itu di depan Gus Fatah. Gadis yang sudah menimbulkan banyak keagaduhan itu mencebik pada Alya. Fatah mulai mengerti apa yang terjadi. Jadi, ini maksud Ara di dalam mobil tadi, mempertanyakan ketertarikan dan kecantikan antara Ara dan Alya. Keduanya memiliki sifat yang jauh berbeda, antara langit dan sumur, gunung dan lautan. Merasa kasihan pada Alya yang wajahnya sudah semerah kepiting rebus karena malu, Fatah akhirnya berusaha menengahi. "Em, afwan. Ukhty-ukhty. Ini hanya masalah kecil. Tidak perlu dibesarkan dengan memancing emosi masing-masing kita. Lagi pula tidak enak dilihat santri jika ustaz dan ustazah yang jadi panutan malah ribut di depan umum. Alya menoleh melihat sekitar. Benar apa yang Gus Fatah katakan. Ia jadi malu berlipat-lipat, hingga tak mampu berkata-kata. Padahal aslinya dia gadis kritis dan berani, tapi Fatah membuatnya tak berkutik. Antara deg-degan, malu dan merasa rendah diri. "Yah, baiklah. Sepertinya ana harus pamit." Fatah mengucap melihat semua orang secara bergantian lalu menunduk. "Em, ya. Ya, Gus, silakan." Alya tak tahu harus bicara apa? Bahkan kata maaf karena saudarinya telah membuat masalah pun tak terucap. Ia terlampau gugup. Setelah mengangguk -tanda hormat- mengucap salam, Fatah meninggalkan kerumunan dan masuk kembali ke mobil. Tak lama mobil melaju meninggalkan penghuni pesantren Darul Falah yang sempat berbincang dengannya. "Ya Allah Gusti, gimana kaum hawa ndak klepek-klepek kalo model Gusnya begitu," ceplos Nur begitu mobil menghilang. Dua santri ikhwan geleng-geleng mendengar ucapan latah Nur, mereka akhirnya pergi karena tak perlu ada yang diurus. "Mbak Nur, ghodul bashar!" tekan Alya yang kemudian meninggalkan tempat itu. "Astagfirullah." Nur segera menutup mulutnya. Sedang Ara masih mematung, menajamkan pandangan pada Nur seakan siap memakannya. "Em, kenapa Ning?" Nur bertanya ragu. "Kamu berani ngehayalin dia, HERGH!" Ara meletakkan tangan di leher seperti akan memotong sebelum akhirnya ia pun kembali ke rumah. Nur terhenyak sebentar dan mengucap istigfar lagi karenanya. Dia paham sekarang ini Ara menunjukkan gelagat tengah jatuh cinta pada Gus Fatah, dan dengan beraninya mengekspresikan di depan semua orang tanpa rasa malu. _____ Ara memilin ujung khimarnya yang menjuntai di pangkuan. Ada perasaan gugup ketika Abi dan Uminya berdua sekaligus bicara serius. Sedang Alya duduk dengan tenang, ia sadar sedikit pun masalah ini tak ada sangkut paut dengannya. "Ara." Bu Nyai mengucap pelan. "Hem?" Ara mendongak dan menghentikan tangannya bergerak. "Umi dan Abi sudah dengar semuanya dari Mbak Nur. Umi minta maaf karena tidak bisa jaga kamu 1x24 jam, karena kesibukan di kelas dan di luar pesantren." Bu Nyai yang dikenal dengan Bu Nyai Khadijah itu memulai inti pembicaraan mereka. Bahkan, wanita bersahaja itu sanggup minta maaf pada anak tirinya karena tak sempat mendampingi terus-terusan. Meski kenyataannya, Ara sudah baligh dan berakal, usia di mana dia bisa menjaga diri dan mengambil sikap yang baik. Gadis itu tahu betul, sejak awal pembicaraan ini adalah mengenai dirinya yang susah diatur. Tapi menurutnya, bukan dia yang susah diatur, berubah 180 derajat dalam sekejap bukan hal mudah. Lebih ia harus memahami sifat banyak orang sekitar yang bertentangan banyak dengannya. Banyak aturan yang belum ia yakini sebagai kebenaran yang harus diikuti dan dilaksanakan. Ara perlu bukti bahwa semua itu benar! "Umi dan Abi tidak marah karena kejadian hari ini." Bu Nyai Khadijah tersenyum. Ia tak ingin menanam kebencian di hati Ara untuknya. "Tapi ... sepertinya kita harus banyak waktu lebih untuk saling berdiskusi. Em, bagaimana kalau mulai pekan depan kamu ikut kegiatan umi. Kebetulan Alya sedang skripsi, jadi dia sangat sibuk di kamarnya dan bolak-balik ke kampus. Nanti sekalian kita mampir universitas yang mau kamu pilih untuk kuliah." "Benar, abi setuju dengan Umi. Bagaimana Ara? Dengan begitu, kamu akan sibuk dan tidak perlu berbuat seperti yang sudah-sudah karena bosan di rumah." Kiai Asmun menimpali. "Umi, Abi. Terimakasih kalian sangat menyayangiku, walau kita baru ketemu. Ara tau niat kalian baik. Tapi ... bolehkah Ara mengungkapkan kemauan Ara selama ini." Gadis itu mengucap secara diplomatis yang membuat kedua orang tuanya mengernyitkan dahi, bertanya-tanya apa yang Ara mau? "Em, Ara sudah memikirkan masak-masak. Untuk tidak masuk universitas sebelum menikah. Jadi Ara mau nikah aja dulu." "Apa?!" Kiai Asmu dan istrinya melotot pada Ara. Bagaimana bisa usia Ara yang masih 17 tahun ingin menikah? Beda dengan Alya, gadis itu sudah cukup usia dan matang untuk memulai hubungan pernikahan. "Umi Abi kenapa terkejut? Kalian tidak tau, bertahun-tahun hidup di negara bebas dan berteman dengan remaja-remaja bebas. Aku harus menahan diri saat mereka berciuman di depan Ara, bahkan mereka sampai melakukan ...." Ara menggantung ucapannya melihat tiga orang yang melebarkan mata tanpa berkedip di depannya. Ia meringis ketika menyadari ucapannya sangat tak sopan. Kiai Asmun tergelak, dia harus mengenal Ara lebih dalam lagi. Begitu pun Bu Nyai dan Alya, keterkejutannya pada Ara seolah tak habis-habis. Gadis itu "Luar Biasa!" ______ "Kang ini lihat!" Fatah memperlihatkan agenda di ponsel pintarnya pada Afnan. Mereka tengah melangkah beriringan menuju ruang kerja milik Abinya Fatah. Afnan melongok melihat benda pipih di tangan sepupunya. "Em ...." Afnan manggut-manggut, mengerti bahwa saudaranya itu ingin diperhatikan betapa sibuk hari-harinya ke depan. "Coba fokus sama jadwal lusa." Fatah menyambung ucapannya seolah ada sesuatu yang sepupunya lewatkan. "Kenapa, Gus?" Afnan masih tak mengerti. "Ini! Jadwal ke pesantren Darul Mustofa untuk Tekhnical Meeting." "Iya, terus?" "Njenengan saja yang berangkat." "Lah, kok saya?" "Kang, kalau ana yang berangkat bakal ketemu gadis majnun itu lagi!" tekan Fatah sambil mengangkat tangannya, saking ia gemes pada Ara. Afnan tersenyum. "Majnun tapi cantik kan Gus??" Fatah terhenyak dengan godaan pria di sampingnya. Lalu tiba-tiba teringat bagaimana ia berdebar saat Ara menggodanya di mobil. Seketika pipi pria itu merah karena ada yang menghangat menjalar di sana. "Yang bener aja!" seru Fatih melawan pikiran liarnya yang tiba-tiba datang. Sungguh aneh! "Iya-iya Gus, saya bercanda! Tapi kan Gus ketua panitia, kehadirannya sangat diperlukan apalagi donatur hadir hari itu." Fatah menghela, sepertinya dia memang tak bisa menghindar. Hanya saja dia berharap perlindungan pada Allah atas godaan Ara yang mengerikan. ____ "Ehem." Abi Fatah berdehem sebelum memulai niatnya bicara serius pada Fatah dan Afnan. Fatah berusaha tenang, meski sepertinya ada yang tak beres dengan panggilan tak biasa ini. "Bagaimana kabar kalian?" Suara berat kiai pimpinan ponpes Alfalah itu bertanya. "Alhamdulillah baik." Keduanya menjawab bergantian. "Hem. Begini, Fath. Bukannya kamu sudah mengetahui kondisi pesantren milik kiai Asmun?" Fatah mengangguk. "Kami sudah sangat lama bersahabat, bahkan sejak sama-sama masih belajar di Kairo dulu." "Enjeh, Bi. Fatah sudah banyak mendengar kisah itu." "Bagaiamana menurutmu suasana di sana?" "Maksud Abi?" Fatah lanjut bertanya. "Em, maksud abi. Kalau kamu mengelola pesantren itu, apakah kamu keberatan?" Fatah mengerutkan kening, mencari tahu apa yang abinya inginkan dari narasi itu. "Abi dan Kiai Asmun menginginkan persahabatan itu berlanjut pada hubungan keluarga, jadi ... jika berkenan, ikutilah kemauan abi menikah dengan anak perempuan sahabat abi itu." DUARRRRR..... fatah melongo karena terkejut. Apa yang ditakutkan terjadi. Mungkinkah yang dimaksud anak kiai Asmun itu Ara? Atau.... Alya? BERSAMBUNG
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD