Cewek Gigih

1148 Words
"Astagfirullah! Hampir saja jantung ana copot!" Fatah memegangi d**a yang turun naik karena terkejut. "Ana? Bukannya nama kamu Gus Fatah? Kok ana? Pinkish banget namanya? Heh." Ara tersenyum mengejek. Fatah mendecih kesal. "Turunlah, Ukhty!" pintanya tanpa menanggapi ocehan gadis itu. Ara mengeratkan tangannya di d**a. Ia membuang pandangan sejenak ke arah lain, lalu kembali menatap wajah Fatah untuk melihat ekspresi pria itu. Fatah mendesah. Ia terus memutar otak bagaimana caranya gadis ini bisa turun tanpa paksaan. Jangan sampai ada yang memergoki mereka tengah berduaan sekarang, gawat kalau jadi gosip. Bisa-bisa abinya memintanya mengclearkan dan bertanggung jawab menikahi Ara. Lelaki yang dikenal santun itu menggeleng bergidik membayangkan efek buruk dari kejadian sekarang. "Kenapa kamu selalu menghindariku? Apa Alya lebih cantik dariku??" Ara bertanya santai tanpa mengubah posisi duduknya sedikit pun. "Alya?" tanya Fatah menautkan alisnya. "Siapa?" "Alya! Anak angkat Kiai Asmun. Dia kan keliatan cantik, yah walaupun aslinya gak ada apa-apanya dibanding anak Kiai Asmun yang asli." "Ehem." Fatah berdehem, mendengar gadis di depannya terlalu percaya diri bicara tak penting dan tidak segera ke luar dari mobilnya. Lagi pula ia tak kenal Alya jadi tidak perlu menanggapi ucapan Ning Ara. Ara meringis. "Ya, baiklah. Aku akan ke luar wahai calon suamiku. Tapi lekas jawab, biar aku bisa minta abi buat atur pernikahan kita." Ara meletakkan kepala di kursi yang Fatah duduki dengan posisi memeluk benda itu. Pria itu melotot gelagapan dibuatnya, alis tebal dan rapi milik Ara naik turun. Ditambah senyum terukir di wajahnya yang berseri-seri kemerahan. Membuat terpesona siapa saja yang melihat. Tak dipungkiri Fatah pun merasakannya, itu lah kenapa ia ingin cepat-cepat menjauh sebelum terjadi fitnah. Fatah mendesah. Gadis ini sungguh tidak bisa diajak bicara baik-baik. Disuruh ke luar malah bahas pernikahan dengan begitu entengnya. Mana menggoda begitu, bagaimana jika Fatah pria jahat? Sudah habis Ara diterkam. Apa dia pikir pernikahan itu seperti sinetron, begitu bicara "ayo nikah" langsung jadi suami istri. Bagi Fatah pernikahan itu hal sakral yang mengikat dua insan dalam hubungan halal. Itulah mengapa harus dipikir masak-masak dan mengenal pasangan dengan baik lewat jalan taaruf untuk mendapatkan calon terbaik. Tidak terlintas di pikirannya sedikit pun dapat istri model Ara. Aurat terbuka, tengil, tak tahu malu dan ... sangat gigih bahkan untuk sesuatu yang tak dibenarkan dalam Islam. "Oh, ayolah ... aku mulai bosan menunggu." Ara menyandar ke tempat duduk dengan malas. "Huft!" Fatah akhirnya bangkit membuka pintu mobil kembali dan ke luar dari sana. Tidak ingin lama-lama berkholwat dengan Ara pria itu turun, lalu membuka pintu belakang. Menelengkan kepala memberi perintah pada Ning Ugal-ugalan yang masuk ke mobilnya tanpa permisi untuk turun. "Silakan Ukhty, lain kali saja kita bicarakan." Tidak baik laki-laki dan perempuan berkhalwat seperti sekarang. Biar nanti ana bicara dengan Kiai Asmun." Ia sebut nama pengasuh pesantren agar Ara segera tenang dan turun dari mobilnya. "Benarkah? Kamu akan bicara pada abi?!" Ara berseru senang. Akhirnya ia bisa menghancurkan hati Alya. Jika pernikahan benar terjadi itu sangat tak masalah baginya, sejak awal faras tampan dan sikap lembut Fatah sudah memikat hati gadis itu. "Iya, sekarang ke luar lah." Fatah berusaha sabar. "No! Sebelum kamu tetapkan waktunya kapan ketemu abi." "Oh Ya Allah, kuatkan hamba." "Aku bukan gadis bodoh yang mudah dikibulin laki-laki." Ara memanyunkan bibirnya. "Apa? Dikibulin? Emangnya ana ngerayu anti? Dari kemarin-kemarin anti lah yang terus mengejar-ngejar ana dengan memuji diri sendiri dan sebagainya." Fatah mulai kesal. Harusnya dia lah yang bicara demikian pada Ara. Karena keributan itu, dua orang santri yang lewat menoleh ke arah Gus Fatah. Lalu melihat ada Ning Ara di dalam mobil. "Wah, ada yang ndak beres." Tentu saja keduanya bukan suami istri tapi tampak begitu dekat, di mana kondisi Fatah yang terlihat marah. Dua pemuda yang memakai sarung itu mendekat pada Fatah dan Ara tanpa komando. "Afwan, ada apa njeh, Gus?" Salah seorang santri bertanya. Fatah memijit keningnya yang sudah habis akal mengusir Ara dari mobilnya. "Tolong panggilkan Kiai Asmun." "Apa?! Sekarang?!" Mata Ara melebar senang. Tak menyangka calon suaminya sangat "gercep" menanggapi lamarannaya. Fatah geleng-geleng melihat kelakuan gadis itu. "Em, tapi afwan Gus. Kiai Asmun sedang tidak ada di tempat." Satu santri menjawab, sadang satu lainnya pergi meminta bantuan pada santriwati agar menjauhkan Ara dari Fatah. "Ohya betul juga. Abi sedang tidak di rumah." Ara mengucap lemah. "Ah, bagaimana kalau nanti biar aku dan abi datang ke rumah kamu, Gus?" usul Ara cepat. "Apa?!" Fatah dan santri yang bersama mereka mengucap bersamaan karena terkejut pada usul Ara. 'Duh, Gusti! Ning Ara begitu agresif! Mana ada perempuan datang pada laki-laki untuk bicara lamaran.' _____ Nur terkejut saat seorang ikhwan mengetuk, berdiri di depan pintu dapur. "Assalamualaikum. Afwan Mbak Nur!" "Waalaikumsalam." Nur menoleh. Hampir saja air panas yang dipegangnya tumpah. "Kenapa, panik begitu, Khi?" "Itu ... Ning Ara bikin masalah sama Gus Fatah. Bahaya ini! Kenapa ndak dijagain?" "Ya Allah!" Nur tepok jidat. "Ya, sudah. Biar ana ke sana bawa Ning Alya." Gadis yang auratnya tertutup sempurna itu melangkah ke dalam meninggalkan santri yang masih berdiri di ambang pintu. Sejak kedatangan Ara, dan sulitnya gadis itu menutup aurat, santriwan dilarang masuk ke rumah Kiai Asmun. Dan hanya boleh mentok sampai pintu. "Ning Alya! Afwan, itu ... gawat!" Nur berseru ketika memasuki kamar Alya yang terbuka. Gadis berusia kepala dua itu mengerutkan kening heran. Sepertinya terjadi sesuatu di luar sana. "Ada apa Mbak Nur?" "Itu Ning Ara, bikin ulah pada Gus Fatah." "Gus Fatah? Gus Fatah dari Ponpes Alfalah?" Nur mengangguk berkali-kali dengan mantap. Ia yakin yang dimaksud Gus Fatah adalah putra mahkota pesantren tersebut, karena tempo hari melihatnya di ruang tamu. Belum lagi santriwati yang heboh membicarakan kompetisi persahabatan dengan pesantren Alfalah. Jantung Alya berdebar-debar hanya dengan mendengar nama anak kiai itu. Begitu disebut oleh Nur, wajahnya seketika membayang sempurna di benak. Tidak butuh waktu lama, Alya dan Nur datang tergesa-gesa ke arah mereka. Sementara Ara masih juga duduk manis di mobil dan tak mau ke luar. "Ning, apa yang njenengan lakukan?" Nur yang datang langsung menarik paksa tangan Ara. "Ih, Mbak Nur ngapain sih, maksa orang?" Ara menghentakkan kaki setelah terseret oleh Nur dari mobil. "Ning Ara ndak boleh seperti ini!" Nur menekan ucapanya. "Kenapa lagi Mbak Nur? Aku kan udah nutup aurat, pake kerudung." Ara memegangi gamis dan khimarnya. "Apa lagi yang salah?" Semua menatap pada Ara heran. Ingin sekali Fatah meninggalkan keributan ini, tapi ia merasa bertanggung jawab karena menjadi penyebabnya. Walau bagaimana dia juga ceroboh, membiarkan Ara masuk dan duduk manis di mobilnya. "Ara! Cukup!" Alya mengeraskan suaranya. "Kamu harus bisa mengambil sikap! Harusnya sebagai orang baru kamu mengikuti aturan yang lebih dulu ada di tempat ini, bukan semau anti sendiri!" Suara Alya menekan. Antara kesal karena Ara sulit diatur dan berbuat semaunya sendiri, juga karena ia cemburu. Ara terlalu berani mendekati seorang pria, dan pria itu adalah Fatah, lelaki yang telah lama dikaguminya. Yang Alya sendiri selama ini hanya berani menatap dari jauh dan memanjatkan namanya dalam doa-doa. "Kok nge-Gas?! Kamu cemburu!" "Apa?!" Wajah Alya sontak merah padam antara marah juga malu. Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD