Eps 1

1445 Words

“Nenek udah suruh Jordi untuk daftarin kamu di KUA. Ijab kobul kalian seminggu lagi.”

Teresia Jusny Eldrax, anak pertama dari istri pertama keluarga Eldrax. Gadis dengan rambut curly itu melotot saking terkejutnya.

“Nek—“

“Kalo kamu nggak juga nikah, nenek akan serahin perusahaan ke Galih. Inget, Re, umur kamu udah 24 tahun. Kamu bukan lagi mereka yang belum punya banyak tanggung jawab. Nenek nggak mau kamu terlalu asik dengan pekerjaan, dan itu bikin kamu nggak mikirin masa depan.”

“Nek—“

“Kamu nggak punya pilihan selain nikah minggu depan. Kalo sampai kamu nggak datang di pernikahan masal itu, nenek pastikan, seluruh aset papamu, akan nenek balik nama jadi nama Galih.”

Tere menjatuhkan tubuh ke sandaran kursi yang menjadi kebanggaannya. Kepalanya berdenyut tiap kali nenek menyuruhnya untuk segera menikah. Umur 24 tahun, itu belum bisa dibilang telat nikah. Tapi karna ia hanya sendirian, tak ada yang mendampingi, nenek sangat mengkhawatirkan keselamatannya. Di tambah dia yang memimpin perusahaan besar, pasti akan ada banyak lawan bisnis yang main dibelakang.

Tok! Tok! Tok!

Ketukan pintu membuyarkan lamunannya. Detik kemudian Sally masuk membawa map, menyerahkan map itu tepat didepan Tere.

“Ini grafik pembangunan gudang yang dikota C.” Jelas Sally.

Tere hanya diam, fokus natap kedepan. Melihat atasannya melamun, Sally geleng kepala. Semenjak Tere putus dengan Bian, dia kerap menemukan atasannya ini melamun dan terlihat sangat sedih.

“Sal,” ucapnya tiba-tiba. Membuat Sally menaikkan alis.

“Napa?”

“Lo ada kenalan nggak? Yang bisa gue ajak nikah cepet?”

“Hah?!” terlihat sangat terkejut mendengar pertanyaan sahabat yang sekaligus menjadi atasannya. “Lo kira nikah kek orang berak apa! Heran deh. Semenjak putus dari Bian otak lo jadi sedeng gitu! Sinting lo jadi bulet, Re.”

Tere sembunyiin wajah dilipatan tangan yang ada dipinggir meja. “Gue pusing, Sal. Gue harus nikah seminggu lagi. Siapa yang mau gue ajakin nikah ya?” keluhnya dibalik persembunyian.

Sally bersedekap, ikutan bingung juga. Apa lagi tau Galih itu seperti apa. Bisa benar-benar bangkrut jika perusahaan ini ditangan pria pecinta dunia malam itu.

“Sal, gue ada ide.” Dengan bersemangat Tere menatap Sally mencurigakan.

Sally memicing. “Ide apa?”

“Gimana kalo lo pura-pura jadi cowok, Sal. Lalu nikah sama gue.”

Reflek Sally nonyor kepala Tere. “Gila ya lo! Ogah! Sekalipun gue beneran cowok, ogah gue nikah sama cewek sakit jiwa kek lo.”

Tere manyun, menopang dagu dengan kedua tangan. Wajahnya terlihat memelas. “Terus, gue mesti gimana coba?”

“Coba deh, gue tawarin ke anaknya pakde. Siapa tau dia minat.” Celetuk Sally.

Tere melirik sahabatnya itu kesal. “Lo pikir gue barang apa!”

Sally tertawa kecil. Duduk dikursi depan Tere. “Gimana kalo gue daftarin lo di biro jodo.”

Tere memutar bola mata, malas. “Ogah ah kalo pake dukun.”

“Astaga, Re, ini bukan dukun. Tapi aplikasi onlen.” Sahut Sally.

Tere melipat kening. “Ada ya, aplikasi kek gitu?”

“Pcck, ada lah. Elo kudet sih. Ntar malam gue daftarin ya.”

Tere kembali jatuhin tubuh ke sandaran kursi. Meraih map yang dibawa Sally tadi. “Serah deh. Tapi gue ogah ketemu sama orangnya.” Mulai membuka lembar per lembar.

Sally tersenyum. “Gampang itu. Biar gue yang ketemu sama orangnya. Lo mau yang umur berapa tahun? 35, 40 ato 50 tahun?”

Tere melotot tajam. “Lo kira gue nyari suami buat nenek gue!”

“Hahah ... Sans, Re. Ngeliriknya tajem bener. Merinding gue.” Sally melempar pena didepannya.

“Ngeselin sih lo! Ngebantuinnya nggak niat! Bangke!” umpatnya dengan kesal. “Gue maunya yang umurnya ada diatas gue. Sekitar 26 sampai 29 tahun. Gue pengen rambutnya lurus, jangan yang keriting. Terus, gue nggak mau kalo giginya mancung, cukup idung aja yang mancung. Tingginya jelas harus lebih tinggi dari gue, ya sekitar 180 senti lebih. Terakhir, gue mau yang kulit putih, sama ada lagi. Jangan yang perutnya buncit, gue nggak suka cowok perut buncit.”

Sally hembusin nafas kesal dengan memutar bola mata, males. “Keknya orang seperfect itu nggak mungkin nyari jodoh di aplikasi deh, Re.”

“Ya, cari yang mirip-mirip kek gitu. Ya kali, ntar suami gue giginya mancung. Bayanginnya aja udah ngeri, Sal.” Tere begidik sendiri.

“Serahin aja ke gue.” Sally tersenyum, meraih map yang udah dapat tanda tangan dari pimpinan perusahaan terbesar di Indonesia ini.

**

Dua hari berlalu, Sally menginformasikan jika sudah menemukan target yang mau menikah dalam waktu dekat. Dengan imbalan uang 60juta. Jumlah itu terbilang sedikit untuk Tere.

“Nih, fotonya.” Sally memberikan tablet.

Tere menepik tablet itu. Menyingkirkan dari hadapannya. “Suruh aja besok Rabu datang ke KUA kecamatan S pukul 11 siang. Ijab kobulnya dimuali jam 9 pagi.”

Sally kembali ngambil tabletnya. “Kenapa lo mintanya jam 11?”

“Karna antrian gue ada di nomor 14.”

Sally terlihat menahan tawa. Meraih kentang goreng yang ada diatas meja, lalu memakannya.

Tere yang tau jika sedang ditertawakan, melempar kentang yang ada ditangannya. “Teros aja lo ketawain! Anjir!”

“Ppfft ... Maaf, Re. Tapi gue miris banget lihat nasib lo. Apa sih kurangnya lo? Sampai-sampai nikah aja harus dipernikahan masal. Suaminya aja beli, di toko onlen pula. Ppfftt ... Hahah ....” susah payah Sally menahan tawa, tapi kelepasan juga.

“Anjim, emang! Bikin kesel lo, Sal!”

**

Dengan kebaya warna putih yang pas ditubuh, lalu rambut lurus Tere disanggul kecil. Menutupi kepala dengan selendang warna putih dengan hiasan payet mewah.

“Pacarmu kenapa enggak sowan dulu kesini?” tanya nenek yang dari awal penasaran sama pacar Tere.

“Dia baru pulang dari luar kota, nek.” Jawab Tere sekenanya.

Nenek membuang nafas berat. “Re, dia nggak manfaatin kamu kan? Dia benar-benar mencintai kamu tulus, kan? Bukan karna harta?”

Tere menatap neneknya. Menelan ludah dengan susah payah. Matanya memanas, ada bulir yang ingin keluar dari sana.

Yang nenek bicarakan adalah Bian, lelaki yang aku pacari selama dua tahun ini. Aku sudah menghabiskan banyak uang untuk menyenangkannya. Tak kusangka, dia hanya memanfaatkanku saja. Batin Tere.

“Re,” nenek menepuk pelan lengan Tere.

“Iya, nek. Pacarku ini baik. Enggak matre kok. Walau dia dari keluarga yang tak sama dengan kita, dia lelaki yang cukup baik.” Memaksakan senyumnya.

Nenek mengelus kepala Tere yang tertutup selendang. “Yasudah, ayo kita berangkat sekarang.”

Tere dan nenek jalan bareng keluar dari rumah megah berlantai dua itu. Mobil warna hitam sudah menantinya didepan rumah. Jordi, orang kepercayaan nenek membukakan pintu.

“Uum, nek. Aku naik mobilku aja.” Tolak Tere saat nenek menyuruhnya masuk kemobil lebih dulu.”

Nenek mengerutkan kening. “Kenapa?”

“Uumm, nanti aku pulang bareng ... Suamiku.” Jawabnya dengan sedikit senyum.

“Kan pakai mobil nenek juga muat, Re.”

Tere geleng kepala. “Nggak apa ya, Tere pakai mobil sendiri aja.” Pintanya mengiba.

Nenek hembusin nafas pasrah. “Yaudah. Cepet, ambil mobilmu sana.”

Senyum terbit dari bibirnya. Tere segera berjalan pelan menuju garasi. Naik kemobil warna merah dan segera keluar membuntuti mobil neneknya.

Selama perjalanan hatinya tak tenang, karna nomor pria yang akan menikahinya tak bisa dihubungi. Terlebih Sally yang tak bisa hadir karna harus menemani mamanya di rumah sakit.

“Sial!” Umpatnya dengan sangat kesal.

Hampir 70 kali pqnggilan ia lakukan, tapi nomor itu tak aktif. Kesal bukan main. Padahal pernikahan mereka sudah didepan mata. Kali ini Tere nggak bisa nemu ide apapun. Ikut memarkirkan mobil disamping mobil neneknya. Lalu keluar dari mobil dengan perasaan yang sangat tak tenang.

“Re, calonmu udah datang?” tanya nenek disela jalan masuk ke halaman KUA.

“Masih dijalan katanya, nek.” Alasan palsu dari Tere.

Nenek tersenyum tipis. “Semoga dia nggak ingkar janji ya.”

Tere ngangguk dengan sedikit senyuman. Mereka ikut duduk dikursi bareng orang-orang yang lainnya. Kembali Tere menatap layar ponsel, mencoba melakukan panggilan telfon lagi ke nomor orang yang bahkan dia tak tau namanya. Masih sama, nomornya nggak aktif.

Tere menarik nafas dalam, membuangnya pelan melalui mulut. Mencoba menstabilkan jantung yang sangat berdebar. Pernikahan yang sama sekali tak ia rencanakan ini cukup membuatnya merasa bahwa ini sakral.

Beberapa orang yang duduk memenuhi aula KUA pergi sedikit demi sedikit. Nenek ikutan celikukan menatap luar, dimana calon suami cucunya belum juga datang.

“Kamu udah coba hubungi, Re?” tanya nenek yang ikutan khawatir.

Tere ngangguk dengan wajah sangat khawatir. “Sekarang nomornya nggak aktif, nek.”

Nenek menatap Jordi yang sejak tadi berdiri disamping Tere.

“Apa yang bisa saya bantu, nyonya?” tanya Jordi.

“Kita tunggu dulu.”

“Silakan urutan ke empat belas. Atas nama Teresia Jusny Eldrax.” Suara microfon dari depan menginterupsi.

Free reading for new users
Scan code to download app
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeAdd