Bab 1: Welcome Back, Fay
Jakarta, 2025
Sudah bertahun-tahun Fayra Raespati hidup di New York, tapi Jakarta tetap sama: macet, kejam, dan selalu punya cara untuk menusuk tepat di bekas luka lama.
Fay menatap pantulan dirinya di kaca jendela bandara yang berdebu. Rambut bob hitam tajam setinggi rahang menggantikan rambut panjangnya yang dulu. Lima tahun kabur, dan yang tersisa hanyalah seorang wanita yang lelah berpura-pura bahagia di depan ribuan follower.
Welcome home, babe, batinnya pahit.
Di pintu kedatangan, mobil hitam mewah keluarga sudah menunggu. Pak Harun — sopir setia sejak ia berumur sepuluh tahun — berdiri tegak sambil memegang papan nama: Miss Fayra Raespati.
“Selamat datang kembali, Non,” sapa Pak Harun ramah. Namun, di matanya ada kilat yang tak bisa disembunyikan: Saya ingat semuanya.
Fay memaksakan senyum. “Terima kasih, Pak.”
Koper kecilnya langsung diambil. Sepanjang perjalanan ke parkiran, hening menggantung berat.
“Waduh, Non Shima makin hebat sekarang. Katanya lagi pegang klien besar,” ucap Pak Harun sambil menyalakan mesin.
Fay memutar bola mata. “Pantas tas Moynat-nya tiap bulan ganti.”
Pak Harun tertawa kecil. “Den Aria juga sering pulang malam. Katanya urusan bisnis, tapi…”
“Bisnis atau bikin masalah?” Fay menyeringai sinis. “Kak Aria emang juara bikin orang ketawa sambil dompetnya ilang.”
Mobil meluncur memasuki kemacetan Jakarta yang tak pernah reda. Fay menopang dagu di jendela, jantungnya berdegup tak karuan ketika Pak Harun membuka mulut lagi.
“Oh iya, Non. Kita mampir dulu ke Elise Bakery. Neng Shima nitip kue ulang tahun buat Bapak.”
Fay langsung menoleh. “Elise? Kenapa harus ke sana?”
Nama itu saja sudah membuat dadanya sesak.
Pak Harun tersenyum tipis. “Cuma Elise yang tahu takaran mentega favorit Tuan Sanjaya.”
Enver.
Pria yang dulu ia anggap kakak. Pria yang menyelamatkan Elise Bakery atas permintaan Papa. Pria yang lima tahun ini ia coba kubur dalam-dalam di hatinya.
Mobil berhenti di depan Elise Bakery yang masih elegan. Fay menghela napas panjang sebelum turun.
Ambil kue. Langsung keluar. Gampang.
Tapi takdir sepertinya punya rencana lain.
Begitu ia melangkah masuk, aroma vanila dan kopi segar menyergap. Ruangan penuh sosialita yang duduk seolah kue di piring mereka adalah investasi.
Kasir langsung tersenyum. “Pesanan atas nama Raespati sudah siap, Mbak.”
Fay mengangguk singkat, pura-pura sibuk dengan ponsel. Cepat. Ambil dan pergi.
Tapi suaranya rendah, dalam, dan masih mampu membuat lututnya lemas.
“Fayra Laksmi.”
Darah Fay seolah berhenti mengalir.
Ia menoleh terlalu cepat. Di sana berdiri Enver Faisal Tanjung. Linen putih lengan tergulung, tato hitam melingkar di lengan tegasnya, dan tatapan yang seolah membedah setiap luka lamanya.
Lima tahun.
Pria itu masih terlihat seperti rumah yang tak pernah ia lupakan. Enver tersenyum tipis, mata hazel-nya mengunci Fay tanpa ampun.
“Lama nggak ketemu, Mimi.”
Fay merasakan jantungnya berdegup kencang. “Ngapain kamu di sini?” Suaranya dingin, meski ia tahu jawabannya.
Enver tertawa pendek, ringan tapi menusuk. “Kamu lupa aku yang punya tempat ini? Kamu kok jutek banget? Aku cuma nyapa, kok, Mimi.”
Fay menatapnya tajam. “Aku nggak jutek. Dan stop panggil aku Mimi.”
“Itu kan namamu.” Enver mengangkat alis, senyum tipisnya muncul. “Kamu bilang begitu, tapi lihat dirimu sekarang… masih berdiri di depan aku dengan tatapan yang sama seperti dulu.”
Fay mendengus. “Kamu terlalu percaya diri. Tatapanku sekarang cuma kesal.”
“Terserah kamu mau sebut apa.” Enver menyandarkan tangan ke meja, membuat jarak di antara mereka semakin sempit. Suaranya turun setengah nada. “Tapi kamu tidak pernah benar-benar pergi dari aku, kan?”
Udara di antara mereka terasa panas, padahal AC ruangan sedang dingin-dinginnya. Fay merasa sesak. Untungnya, ponselnya berdering. Nama Shima muncul di layar.
“Angkat,” pinta Enver pelan, nyaris seperti perintah.
Fay memelototinya sebelum menjawab. “Apa, Kak?”
“Cepetan ya, Fay. Bawa kuenya sekarang. Jangan lama-lama. Semua orang sudah nungguin,” suara Shima terdengar jengkel.
Fay menutup telepon dengan kasar. Napasnya masih berat. Tangannya menggenggam ponsel erat-erat.
Enver menatapnya tanpa berkedip, lalu tersenyum tipis. “Berarti kita ketemu di pesta nanti.”
Fay menoleh tajam. “Maksudnya?”
“Aku diundang ke acara ulang tahun Papamu. Undangan dari beliau nggak bisa aku tolak, Mimi.” Enver merapikan lengan kemejanya santai. “Aku nggak cuma datang sebagai tamu.”
Fay merasa dunianya berputar. Ia buru-buru meraih kotak kue dan berbalik, tapi suara Enver menghentikannya lagi.
“Fay.”
Ia berhenti di pintu tanpa menoleh.
“Welcome home,” kata Enver pelan. “Semoga kali ini kamu nggak kabur lagi.”
Fay keluar dari Elise tanpa menjawab. Tapi di dalam d**a, sesuatu berdenyut nyeri.
Mobil melaju kembali menembus kemacetan. Fay menopang kepala di jendela, pikirannya kacau. Fay tidak merasa kemacetan Jakarta. Tahu-tahu saja dia sudah melihat penampakan gerbang hitam tinggi rumah keluarga Raespati.
***
Rumah itu masih berdiri angkuh seperti dulu. Pilar putih raksasa, jendela setinggi langit-langit, dan lampu kristal yang menyala terang. Sangat indah. Sangat mengintimidasi.
Fay berniat langsung ke guest house, tapi Pak Harun membawa mobil ke teras samping. Dari kejauhan, ia sudah melihat Shima duduk manis di kursi rotan bersama seorang pria berwajah Timur Tengah — rahang tegas, jenggot rapi, dan senyum yang terlalu sempurna.
Omar.
Pria itu menoleh saat Fay mendekat. Senyumnya lebar, tapi matanya langsung turun ke d**a Fay. No comment.
“Fay, akhirnya kamu sampai!” Shima bersuara riang berlebihan sambil menepuk lengan Omar.
Fay hanya mengangguk singkat. Ia sudah bisa mencium aroma masalah dari pria ini.
Shima langsung menyambar dengan nada manis yang memuakkan. “Jangan terlalu kagum, Omar. Adikku ini lima tahun di New York cuma buat foto-foto diri sendiri dan bilang itu karir.”
Fay tersenyum tipis yang tak sampai ke mata. “Setidaknya uang dari ‘narsisme’ itu bisa bayar apartemen di Manhattan tanpa harus menjilat kaki Papa tiap bulan, Kak.”
Suasana langsung tegang. Untung Aria muncul tepat waktu.
“Bro,” kata Aria santai sambil menatap Omar dari atas ke bawah, “lo beneran pacarnya Shima atau cuma model katalog parfum?”
Fay hampir tersenyum untuk pertama kalinya hari ini.
Shima mendecak. “Darling, jangan dengerin dia.”
Fay mengangkat koper kecilnya. “Aku ke guest house dulu.”
Ia berbalik cepat, tapi suara Shima menyusul di belakang. “Fay! Lama banget. Semua orang sudah nunggu!”
Fay memejamkan mata sejenak sebelum membuka pintu guest house-nya. Shima langsung menyapu penampilannya dengan tatapan kritis.
“Serius pakai dress itu? Kayak mau after party, bukan makan malam keluarga.”
Fay mendesah. “Aku cuma pakai baju, Kak.”
Shima menyilangkan tangan. “Kamu memang selalu harus beda.”
Fay menatap kakaknya datar. “Makanya aku pilih tinggal di guest house. Kalau di rumah utama, kita bakal begini setiap hari.”
Shima mengernyit, tapi sebelum ia sempat membalas, Mbak Dan muncul.
“Non Fayra? Tuan Sanjaya minta semua ke ruang makan sekarang.”
Mbak Dan tersenyum kecil. “Mas Enver sudah datang.”
Jari Fay mencengkeram clutch lebih erat.
Ia menarik napas dalam-dalam.
Hari pertama pulang, neraka sudah menyambutnya dengan pelukan paling hangat sekaligus paling menyakitkan.