Menangis memang melelahkan, hingga Ratu tertidur lelap setelah puas menangis. Saking lelahnya, dia terlambat bangun lagi hari ini. Jika Desy tidak menelponnya berulang kali, mungkin saat ini Ratu masih betah memejamkan matanya yang bengkak karena menangis semalam. Kepalanya pening, rasa tubuhnya lelah sekali, seperti selesai melakukan pekerjaan yang berat. Lebih melelahkan daripada lembur-lembur yang diciptakan Pak Bun di masa itu.
“Ya ampun.” detik itu juga, rasanya Ratu ingin melompat dari tempat tidurnya. Jam menunjukkan pukul tujuh lewat empat puluh menit. Ratu sudah terlambat sepuluh menit sementara saat ini dirinya masih berada di rumah. Dia terlambat. Dulu, di masa ketua divisi lama, siapapun yang terlambat, akan dipotong bonusnya, juga diberikan hukuman berupa penampahan beban kerja. Tapi untuk atasan yang baru kali ini, Ratu tidak tahu seperti apa konsekunsinya jika terlambat.
“Ya Tuhan, gini banget sih.” Dia mengacak-acak rambutnya. Mengabaikan sepuluh panggilan tidak terjawab dari Desy, Ratu bergegas mengambil handuk, untuk ke kamar mandi. Entah bagaimana nasibnya hari ini, Ratu hanya sekadar mencoba peruntungan. Tetap hadir ke kantor walaupun terlambat, meski tidak tahu Raja akan bersikap seperti apa padanya nanti, mengingat kini lelaki itu adalah atasannya.
“Bagus.” suara bariton itu terdengar bersamaan dengan suara tepukan tangan sebanyak dua kali. Ratu yang sedang melilitkan handuk di lehernya reflek menoleh. Raja sedang duduk di kursi makan, sambil menatap Ratu dengan tajam. Lelaki itu tampak sudah rapi dengan setelan kemejanya. “Apa lo sering telat-telat gini ya kalau ke kantor?” sindir Raja.
“Maaf Pak. Dalam tahun ini, saya terlambat baru tiga kali, dan ini yang ketiga, tentu saya punya alasan kuat kenapa saya bisa terlambat dan saya siap dengan segala konsekuensinya,” jawab Ratu dengan tegas dan dengan kalimat yang cukup profesional. Lalu mengabaikan Raja karena dia harus segera masuk ke kamar mandi. Meladeni Raja, sungguh bukan pilihan tepat di saat sedang terburu-buru seperti ini.
itu orang kenapa belum pergi, sih?
Ratu memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Jika biasanya dia mandi bisa memakan waktu sampai lima belas menit, kali ini cukup lima menit saja.
“Ck.” dia berdecak, kala harus memakai pakaian di dalam kamar mandi, pikirannya masih waras, tidak mau membiarkan Raja melihat tubuhnya sebanyak dua kali hanya karena dia mengenakan handuk.
“Tadi gue bikin sandwich dua, dan gue cuma makan satu karena terlanjur kenyang. Jadi, satunya buat lo.”
Ratu tersenyum tipis. “Jadi, maksudnya Bapak kasih saya makanan sisa karena nggak habis?” balas Ratu.
“Sisa? bahkan yang ini belum gue sentuh sama sekali,” sahut Raja. “Anggap aja gantinya gue makan sarapan lo kemarin.”
“Iya makasih, Pak.” tak ingin memperpanjang perdebatan, Ratu merespon Raja dengan cukup baik.
“Cepat, lima menit lagi lo harus selesai!” titah Raja.
Lime menit? dia pikir cewek bisa dandan dan pakai baju dalam waktu sesingkat itu?
BUGH.
Tidak ada jawaban yang Raja dapatkan, dia justru mendengar suara pintu yang sengaja dibanting.
“Nenek benar-benar salah menilai sama nih cewek, udah nggak sopan, kasar, nggak disiplin lagi. Nggak ada sisi baiknya sama sekali.” Raja mengumpat sambil mengetuk-ngetukkan jemarinya di atas meja makan. Lelaki itu memilih bangun dan berniat meninggalkan rumah, dan tidak akan kembali lagi ke rumah ini, jika tidak diperlukan. Raja juga sudah menyiapkan kopernya sejak malam dan sudah berada di dalam mobil.
*
“Kang gojek pada kenapa ya? kenapa nggak ada yang nerima orderan gue?” Ratu mengeluh. Dan dengan heels tujuh sentinya, dia masih berdiri di depan rumah sembari terus menatap layar ponselnya yang sedang mencari driver gojek, tapi sejak lima belas menit yang lalu, tak kunjung ada driver yang menerima.
Ratu melangkah perlahan, menuju jalan utama untuk keluar dari gang ini. Siapa tahu di depan sana ada ojek pangkalan, atau taksi. Sial sekali, dia harus rela meninggalkan motornya di kantor, hanya demi bisa dibonceng oleh Bian-sang kakak angkat yang sudah membuat hatinya hancur berkeping.
TIN.
Gadis itu terperanjat mendengar suara klackson mobil tepat di belakangnya. Mobil berhenti di sebelahnya, dan si pengemudi dengan sengaja membuka kaca. “Hampir jam sembilan, dan lo belum juga nyampe di kantor?” sindir Raja. Ya, lelaki itu adalah Raja.
“Nggak dapat ojek,” sahut Ratu cuek, dia meneruskan langkah tanpa menoleh lagi. Sementara mobil di sebelahnya juga masih berjalan perlahan mengikutinya.
“Naik!” ucap Raja terdengar memerintah.
“Enggak usah Pak.” tolak Ratu. “Nggak apa-apa, nanti saya—“
“Naik!” titah lelaki itu lagi.
“Pak, tapi—“
“Gue bilang naik, ya naik! lo nggak ngerti bahasa Indonesia?!” sentak lelaki itu.
Ratu berdecak malas, dengan terpaksa dia menggerakkan tangannya untuk menarik handle pintu mobil, dan mendaratkan tubuhnya di jok berposisi tepat di sebelah Raja.
“Udah bikin kesalahan karena terlambat, disuruh naik malah jual mahal. Lo mau nyampe kantor jam berapa? jam makan siang?” omel lelaki itu.
Ratu diam saja, tubuhnya lemas seperti tak bertenaga. Bayang-bayang tentang patah hatinya masih terngiang sampai detik ini. Dan dia tidak memiliki kekuatan untuk beradu mulut dengan Raja.
“Loh Pak, kok putar balik?! terus dari tadi ternyata Bapak belum berangkat?” Ratu protes saat Raja menghentikan mobil di area lapangan basket lalu memutar arah kembali ke rumah. Dan dia sama sekali tidak menyangka jika Raja masih berada di sekitar sini, padahal Ratu sudah sengaja berlama-lama di kamar demi menghindarinya.
“Jam tangan gue ketinggalan,” sahut Raja dengan nada datar.
Saat Raja turun dari mobil untuk masuk ke dalam rumah, Ratu tetap tinggal dan duduk diam di sana. Dia bahkan sedang merenung. Hidupnya akan semakin berkurang kewarasannya jika terus seperti ini. Tinggal serumah dengan Raja, yang jelas-jelas sudah mengganggu ketentraman hidupnya. Dua hari lagi, dia akan menerima gaji dan saat itu juga Ratu akan mencari tempat tinggal baru.
Perjalanan terasa menegangkan. Tidak ada percakapan diantara mereka. Bahkan Ratu sendiri tidak berniat mencari topik obrolan dengan atasan barunya itu. Dia lebih banyak melamun, karena pikirannya masih berkelana entah kemana-mana.
“Pak, saya turun di sini aja.” pinta Ratu ketika mereka melewati perempatan jalan yang akan menuju gedung Firma Hukum.
“Lo kira gue sopir taksi yang bisa lo berhentikan sesuka lo,” sahut Raja dengan nada ketus.
“Saya nggak mau jadi bahan gosip, Pak.” Ratu benci itu, dulu dengan Pak Bun, dia juga sering menjadi bahan pembicaraan miring yang menyakitkan. Tapi bersyukur, seiring berjalannya waktu, semuanya memudar dan Pak Bun juga sudah pindah, membuatnya lega. Maka dengan atasan baru kali ini, Ratu benar-benar ingin menciptakan performa yang baik.
“Apa orang-orang di firma ini suka bergosip?” tanya Raja. “Apa mereka punya waktu untuk itu?”
Ratu diam saja. Percuma saja menjelaskan, Raja tidak akan mengerti.
“Oh iya, siang nanti lo harus ikut gue!” titah Raja.
“Kemana, Pak?”
“Bengkel. Biar lo tau berapa biaya pemulihan mobil gue yang lecet,” jelas lelaki itu.
“Loh Pak? bukannya kemarin kita udah deal kalau saya nggak ganti rugi, sebagai gantinya dari tanggung jawab Bapak udah nyium saya?!” untuk kali ini, Ratu tidak akan menyerah begitu saja. Perdebatan sempat terjadi di dalam mobil sebelum Ratu turun. “Nggak bisa gitu dong Pak.” Ratu akan berkeras jika sudah menyangkut masalah uang yang akan dia keluarkan. Ratu turun dari mobil dan Raja menyusulnya.
“Emangnya kemarin ada kata-kata deal? gue nggak bilang setuju dengan itu. Lo tetap harus ganti rugi. Gue tunggu lo di parkiran nanti jam dua belas siang.” tegas Raja.
“Pak Raja aneh, Bapak pikir, cuma Bapak yang rugi karena mobilnya lecet? saya juga rugi, udah Bapak cium sembarangan, nggak rugi secara materi, tapi secara mental.”
“Ya kalau gitu lo balas juga, lo cium gue aja, sama kayak yang gue lakuin kemarin, selesai, kan? gimana?”
“Terserah Bapak aja deh!” Ratu kalah. Tapi tentu dia tidak melakukan hal gila seperti yang Raja katakan, membalas dengan cium? oh tidak!
Dasar sinting! Serah lo aja deh. gerutunya dalam hati. Dan pada akhirnya Ratu tidak memiliki pilihan lain ketika dia harus turun dari mobil Raja di area parkir khusus para pejabat Firma. Tanpa melirik ke kiri dan kanan, Ratu berjalan secepat mungkin bahkan tidak ada ucapan terima kasih untuk orang yang sudah memberinya tumpangan, karena menurutnya tidak perlu.
“Mbak Ratu, saya pikir nggak masuk hari ini. Ini kunci motornya tadi malam dititpin sama Pak Kardi.” salah seorang satpam yang bertugas pagi itu menyerahkan kunci motornya yang Ratu titipkan hingga Ratu terpaksa berhenti.
“Makasih Pak,” ucap wanita itu kemudian melanjutkan langkah sembari melirik Raja yang sudah berjalan dengan gaya angkuh mendahuluinya.
Ratu sengaja memperlambat langkah agar mereka tidak menaiki elevator di waktu yang sama, tapi lihatlah apa yang dilakukan Raja. Lelaki itu sengaja berhenti dan membiarkan pintu elevator kembali terbuka. “Masuk nggak?” tanya Raja sambil memberi tatapan dingin.
“Duluan aja, Pak,” sahut Ratu. “Saya mau ke toilet.” Ratu berjalan cepat menuju toilet umum yang ada di loby. Dan interaksi mereka sempat dilihat oleh salah satu petugas resepsionis.
*
“Padahal kalau lo lebih cepat semeniiiiit aja, lo bakalan lebih dulu nyampe dari pada Pak Raja.” Desy langsung bersuara, melihat kehadiran Ratu. Dan dua menit yang lalu, Raja juga baru tiba di ruangan.
“Oh ya? berarti dia telat juga?” Ratu bertanya dengan tampang polosnya.
“Iya, kalau dia mah bebas. Lah elo?”
“Iya, iya.”
“Lo kenapa sih? mata lo bengkak banget?”
Ratu hanya menggeleng mendengar pertanyaan Desy. “Gue nggak apa-apa kok.”
“Ingat orang tua lo ya?” Desy menebak.
“Bukan, enggak kok.” Ratu merasa belum pantas menceritakannya saat ini sebab akan merusa mood dan menurunkan semangatnya. “Lain kali gue cerita, ya?”
“Hm, oke.”
“Eh tapi… Pak Raja dan Pak Bun beda jauh, ya? biasanya kalau ada yang telat, pasti langsung dipanggil ke ruangan.” Desy berkomentar seraya melirik ke ruangan di depan sana. Bersamaan dengan itu, terlihat Nindy si sekretaris memasuki ruangan atasan mereka.
Ya iyalah, orang dia juga telat. Sahut Ratu dalam hati.