Menangis Tanpa Suara

1074 Words
Raja memijat pelipisnya perlahan, rasa pusing dan kantuk menyatu menghampirinya. Hari yang melelahkan baginya, hari pertama bekerja di tempat yang baru, membuatnya harus mempelajari dan mencari tahu banyak hal termasuk kasus yang sedang berjalan. Meski lelah, Raja tidak bisa menolak ajakan sahabat dan orang-orang yang ingin menemuinya hari ini, setelah dia kembali menginjakkan kaki di Jakarta. Dan di sinilah Raja sekarang, di halaman sebuah rumah yang tidak terlalu luas, namun cukup terasa nyaman untuk menjadi tempat beristirahat melepas lelah. Sekitar jam satu dini hari, Raja baru tiba di rumah. Dia tidak masuk melalui pintu utama, melainkan melalui pintu di samping kanan yang menyatu dengan garasi, karena neneknya hanya memberi akses kunci di pintu itu untuknya. “Hobi kelayapan juga ternyata, gini kelakuannya yang dianggap nenek cewek baik-baik? gue nggak yakin.” lelaki itu menggerutu sendiri ketika dia tidak mendapati motor matic di garasi rumah, yang artinya Ratu belum tiba di rumah padahal waktu sudah hampir menjelang pagi. Nenek pasti tertipu dengan sikapnya yang sok baik, sok manis. Belum selesai umpatan Raja untuk Ratu, di dalam hati. Raja memasuki rumah, tak lupa dia kembali mengunci pintu. Sofa adalah benda pertama di rumah itu yang berhasil menarik perhatiannya. Raja berbaring di sana melepaskan lelahnya. Kalau dipikir-pikir, gue ngapain balik ke sini, sih? mending gue ke apart. Nenek juga nggak bakalan tau. Raja bergegas, konyol sekali rasanya dia harus menuruti permintaan sang nenek untuk berkenalan dan menjaga seorang gadis yang sudah menendangnya. “Anjir, apa itu?!” Raja mengumpat, kala mendengar samar suara tangisan seorang wanita yang begitu halus, namun terkadang kembali membesar dan suara itu semakin melengking. Feeling gue udah nggak enak dari awal. Rumah ini emang ada penunggunya. Bangunan udah ratusan tahun gini? mustahil kalau bersih. Tidak ada lagi keraguan di dalam dirinya untuk meninggalkan rumah ini. Untung saja dia belum sempat membongkar koper dan repot-repot menyusun pakaiannya di dalam lemari. Raja langsung mengambil barang-barangnya di kamar, memasukkan asal ke dalam koper, lalu bersiap meninggalkan rumah itu. “Tunggu, itu suara apa lagi?” Raja mendengar suara pintu yang seperti sengaja dibanting, membuatnya penasaran. Menepis rasa takut, dia keluar dari kamar. Dilihatnya sosok seorang wanita dengan penampilan kacau. Rambut berserakan. Wajahnya juga, make up yang kacau karena belum dihapus, apalagi di bagian mata. Mascara dan eyeliner yang luntur karena air mata, membuat penampilan Ratu semakin buruk. “Ternyata lo hantunya?!” Raja berdecak. Dia yakin itu adalah Ratu. “Tangisan lo mirip hantu tau nggak?” Sumpah, Ratu tidak ada tenaga dan mood untuk meladeni Raja. Dia keluar hanya untuk mengambil segelas air putih, dan ke kamar mandi. Lelah menangis, air matanya kering, juga tenggorokannya terasa sakit. Raja mengikuti gadis itu sampai ke dapur, melihat Ratu meneguk satu gelas besar air dingin dengan begitu cepat. “Gue kira penunggu rumah ini.” sambung Raja lagi. Masih belum menyerah mengajak Ratu berbicara, ada rasa iba melihat gadis itu meski tidak tahu apa penyebabnya Ratu menangis. “Mana ada hantu secantik saya, Pak?” balas Ratu dengan nada sewot. “Haha. Lo ternyata sepede itu, ya?” Raja malah menertawakannya. Ratu kembali mengabaikan Raja. Dia masuk ke dalam kamar mandi, tapi sialnya air matanya malah mengalir semakin deras. Kala dia sendirian, sedih akan patah hati itu terasa semakin menusuk dan seolah menguras air matanya. Hiks… hiks. Hu… hua… “Fix dia sakit jiwa.” Raja kembali mendengar tangisan di dalam kamar mandi pun, menggelengkan kepala seraya mengumpat. Tapi anehnya, setelah mengetahui jika tangisan itu bukan berasal dari mahluk dunia lain, Raja malah ingin mengurungkan niatnya untuk pergi ke apartemennya. “Kenapa lo nangis?” tidak bisa membiarkan rasa penasarannya, Raja bertanya tepat sesaat Ratu keluar dari sana. Gadis itu tidak menjawab, dia malah sibuk menyeka cairan yang keluar dari hidungnya yang memerah karena terus-terusan menangis. “Woy, kalau orang nanya tuh jawab. Tuli, ya?” Raja kesal merasa diabaikan. “Bukan urusan Anda,” sahut Ratu sembari menutup pintu kamarnya dengan keras. “Cih!” Raja berdecak. Baru kali ini dia merasa diabaikan oleh wanita. “Sok jual mahal. Lihat nanti kapan lo butuh gue.” Lelaki itu kembali menarik kopernya ke dalam kamar. Alasan terkuat lelaki itu tidak beranjak dari rumah neneknya adalah, lelah. Ya, dia lelah harus menyetir lagi menuju apartemen. Biarlah untuk malam ini saja, dia bermalam di sini. Semalam saja. Pikirnya. * Sudah lebih dari tiga jam Ratu menumpahkan tangis. Dia masih belum puas, kesedihannya semakin menjadi saat dia membuka galeri ponselnya, melihat foto-fotonya bersama Bian. Apalagi saat di ulang tahunnya yang ke tujuh belas, ada sebuah video saat lelaki itu memberikan surprise padanya di tengah malam. Bian membawa birthday cake, dan membelikan hadiah untuknya. “Happy birthday adikku. Semoga tambah cantik, dan cita-citanya tercapai.” Suara Bian terdengar amat lembut dan mesra di video itu. Bagaimana Ratu bisa move on jika seperti ini? “Ya Tuhan, gini banget sih patah hati.” Maksud hati, membuka video itu untuk menghapus semua kenangan, nyatanya Ratu tidak kuasa dan malah ingin menyimpannya. Lewat tengah malam, Ratu kembali menangis, terisak sedih. Hingga tangisnya berhenti ketika mendengar suara pintu yang digedor secara kasar berulang kali. “Woy berisik banget lo.” Ratu beranjak dari ranjangnya, dia sudah bersabar dan sangat bersabar sedari tadi sejak Raja mengusiknya. Tapi sepertinya kali ini, kesabarannya sudah mulai menipis, dia membuka pintu kamar dan melihat sosok lelaki tanpa busana di hadapannya. Raja hanya mengenakan celana panjang tanpa atasan apapun. Dia bertelanjang d**a. “Tolong ya Pak. Jangan ganggu saya. Sejak ada Bapak, saya jadi nggak punya privasi di rumah ini.” omel Ratu dengan nada tinggi. Raja sempat terkejut melihat penampilan Ratu yang ala kadarnya. Hanya dengan tanktop dan hot pants super pendek. Sebenarnya ini bukan hal baru bagi Raja yang cukup sering melihat teman-teman kuliahnya di Amerika, berpakaian seksi. Tapi dia heran dengan Ratu yang ternyata cukup berani berpenampilan sepert itu di hadapannya. “Lo yang ganggu gue, suara nangis lo itu ganggu banget, gue mau tidur. Lo tau nggak ini jam berapa?” tatapan Raja kian menajam pada Ratu. “Iya Pak, maaf. Saya nggak akan berisik lagi…” lirih Ratu sambil mengusap air matanya yang jatuh di pipi. Orang yang sedang bersedih, biasanya butuh pelukan untuk ditenangkan. Tapi yang Ratu dapatkan malah sebaliknya. “Sedih ya sedih aja, bisa kan nangis tanpa suara?” timpal Raja lagi. Ratu mengangguk pelan. Awalnya, dia ingin marah dan berkata kasar pada Raja. Tapi nyatanya dia malah terlihat lemah. Ratu kembali menutup pintu, dia berbaring telungkup di ranjangnya, menahan sesak di dadanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD