“Biar aku antar.” tangan Ratu ditahan oleh Bian, ketika wanita itu hendak melangkahkan kaki ke teras, setelah berpamitan dengan orang tua angkatnya. Rencananya buyar. Padahal, malam ini dia berharap bisa menginap semalam saja di rumah yang pernah menjadi tempatnya berteduh di masa remaja. Tapi, rencana itu Ratu urungkan lantaran patah hati dan sedih yang melanda, dia butuh ruang untuk menumpahkan kesedihannya.
“Nggak apa-apa Kak, aku udah pesan ojek,” katanya tanpa mau menoleh, dia tak kuasa menatap Bian.
“Kenapa ojek? nggak taksi aja? bahaya loh.”
“Udah biasa Kak, biasanya juga aku naik motor.” Sikap Ratu yang berubah mendadak, sangat disadari oleh Bian, terlebih wanita itu tidak mau menatapnya saat berbicara.
“Kamu kenapa sih? biasanya kamu yang selalu merengek minta aku antar jemput.” lelaki itu protes karena sikap Ratu yang berubah drastis.
“Kakak lagi ada tamu, masa sih mau ditinggal?” balas Ratu. “Aku pulang ya, Kak.” pamitnya dengan nada malas. Bahkan Ratu hanya menghabiskan beberapa sendok nasi saja di makan malamnya kali ini, padahal, masakan Bunda Della adalah salah satu favoritnya. Tapi dia tidak bernafsu untuk menikmati makanan itu.
“Bentar, paling nggak aku temanin sampai ojeknya datang—“
“Mas Bian, ternyata di sini?” hadir Raisa di tengah-tengah mereka. Wanita itu menatap Ratu dengan ujung mata. “Mau kemana, Mas?”
“Aku mau antar Ratu—“
“Itu Kak udah datang ojeknya, aku pulang ya.” Tidak ada alasan lagi bagi Ratu untuk menunggu terlalu lama di rumah ini, apalagi setelah Raisa datang dan menatapnya dengan tatapan tak suka.
Entah mengapa, Ratu berharap hari ini adalah pertemuan terakhirnya dengan Bian. Bukannya Ratu tidak bisa menerima takdir, hanya saja, jika masih berada di sekitar lelaki itu yang tak bisa dia miliki, lebih baik Ratu menghindar dari pada rasa sakit yang terus menusuk di relung hati. Sepanjang perjalanan, Ratu menangis tanpa suara. Dia sudah menutupi wajahnya dengan masker, serta tak lupa memakai helm yang difasilitasi oleh driver ojek. Berulang kali dia mengelus dadanya, berharap dia bisa menghadapi ini dengan hati yang tenang. Sekarang, Ratu tidak mau menggantung harapan lagi kepada siapapun. Sendiri, terus menjalani hidup dengan selamat dan baik, itulah tujuannya saat ini. Padahal Ratu berharap, Bian bisa menjadi pelindung untuknya, selamanya. Bukan sebatas saudara angkat, tapi teman hidup.
“Di sini aja, Pak.” ujar Ratu, meminta berhenti tepat di depan pagar rumah. “Makasih Pak.” Ratu langsung berlarian ke halaman rumah, bahkan saat membuka pintu dan memutar kunci, tangannya bergetar hinggi kunci terjatuh dan tangis Ratu semakin pecah. Dia bersyukur tidak ada Raja di rumah. Lelaki itu pasti belum pulang dan Ratu berharap lelaki itu tidak akan pernah kembali lagi. Gadis itu menenangkan diri dengan cara mandi, mengguyur tubuhnya di bawah shower, tentunya sambil menangis.
Andai gue ungkapin perasaan, kira-kira Kak Bian bakal nerima, nggak ya?
Sampai di sini, Ratu sendiri masih merasa janggal dengan kehadiran Raisa yang menurutnya terlalu tiba-tiba. Padahal, Bian tidak pernah bercerita tentang pacar padanya, apalagi calon istri. Bukankah ini terlalu mengada-ngada?
Tapi gue bisa apa?
Rasa sesak di dadanya masih tak mau pergi. Menangis, menjadi jalan satu-satunya bagi Ratu untuk meluapkan semuanya. Jika saja Nek Miftah ada di sini, wanita itu pasti akan menjadi tempat curhatnya, sayang sekali Nek Miftah sudah satu bulan lamanya pergi keluar kota, dan tidak mengabari apapun pada Ratu.
*
“Lo nggak pingin apa? punya kaya gini satuuu aja. Beneran bisa buat melepas lelah dan penat sepulang kerja.” salah satu sahabat Raja memperlihatkan sebuah foto yang menjadi background di posnselnya. Lelaki itu dengan bangga memamerkan foto bayinya pada Raja sebagai motivasi pada sahabatnya untuk segera menikah.
“Ya pingin, tapi nggak semudah itu, kan?” sahut Raja, kemudian menyesap minuman dalam gelas di genggamannya.
“Maksud gue, niat aja dulu. Cari calon emaknya, nikah, terus bikin deh sesering mungkin sampai jadi.” Yasa terkekeh melihat ekspresi Raja.
“Ya kali lo ngomong segampang itu. Lo nikah sama istri lo sampai punya anak kan juga butuh proses? lo pacaran sama istri lo udah lama, wajar kalau lo yakin buat nikahin dan jadi teman hidup.” Raja mengomel.
“Iya… iya. Gue cuma mau kasih motivasi aja buat lo. Kita udah tiga puluh, Ja. Bukan anak umur dua puluhan lagi. Emang nyokap lo nggak berisik apa nyuruh lo nikah?”
“Ada sih, bahkan nyokap mau jodohin gue sama anak temannya. Nenek gue juga mulai turun tangan, mau jodohin gue ke cewek yang jauh banget perbedaannya dengan cewek yang mau dijodohin nyokap. Dia lebih sederhana, cantiknya alami tapi sayang banget, tingkahnya kurang ajar.” Raja menggerutu lagi, mengingat hari pertama bertemu dengan perempuan yang dia maksud.
“Kurang ajar gimana? kok bisa lo nilai orang segampang itu?” tanya Yasa.
“Ya bisalah, masa hari pertama ketemu dia udah nendang anu gue—“
“Ntar dulu. Nggak mungkin ada asap kalau nggak ada api.” Yasa tidak menerima mentah-mentah pernyataan sahabatnya.
“Habis gue nyium bibirnya, gue langsung ditendang.” Aku Raja.
“Astaga! woy. Ini timur, bukan barat. Jangan samain Indo kayak di Amrik, bisa sembarangan nyium cewek. Pantes aja lo ditendang.” Yasa tertawa.
“Salah dia juga, kenapa mondar mandir depan gue cuma pake handuk minim.” gerutu Raja.
“Gue bingung, gimana ceritanya lo bisa ketemu tuh cewek pertama kali, langsung pakai handuk?” tanya Yasa.
Raja menceritakan semuanya, semua skenario yang sebenarnya diciptakan oleh neneknya yang menginginkan Raja mengenal lebih dekat seorang gadis yang menempati rumahnya. Setelah menyelesaikan pendidikan dan mencari pengalaman sebagai lawyer di Amerika, dan kembali ke Jakarta, Raja bisa saja tinggal di sebuah apartemen mewah, atau mungkin pulang ke rumah orang tuanya, tapi demi titah sang nenek yang menginginkan Raja segera menikah, dia penasaran tentang gadis yang diperlihatkan sang nenek melalui sebuah foto. Dan anehnya, foto itu tidak terlihat menarik sama sekali, karena gadis itu sedang mengunyah makanan. Nenek mengambil fotonya secara asal melalui kamera di ponselnya.
“Namanya Ratu. Gue baru tau namanya hari ini, sebelumnya nenek sama sekali nggak ngasih tau siapa namanya. Katanya gue harus cari tau sendiri.” sambung Raja setelah ceritanya selesai. “Dan kalau gue pingin kenal, gue harus mampir ke rumah itu, nenek juga nyaranin gue buat tinggal di sana aja. Dengan gampangnya nenek bilang, gue harus jagain dia, hanya karena dia anak yatim piatu, dan selama ini nggak punya siapa-siapa. Emangnya gue bodyguard apa?” lelaki itu curhat.
“Wah, Raja dan Ratu tinggal serumah, bisa gawat.” gumam Yasa.
“Lo mikir apa? gue nggak semurah itu ya, kalau mau nidurin cewek gue juga milih-milih,” protes Raja.
Dan Yasa hanya berdecak sebagai balasan kalimat itu. “Lo yakin?”
“Yakinlah. Buktinya sampai detik ini gue masih suci. Sorry, gue nggak nafsuan kayak lo. Gue ingat banget, gimana liciknya lo dulu sama pacar lo, selalu ngajakin check in. Untung aja lo nikahin.” Raja berbisik di telinga Yasa.
Tapi lelaki itu malah tertawa geli mendengarnya. “Tunggu aja karmanya, bro. Lo liat nanti gimana kalau lo udah nemu cewek yang benar-benar bikin lo nggak bisa berkutik.”